LOGINKeesokan harinya di rumah Jade yang biasanya sepi, kini dipenuhi dengan wanita-wanita dari Keluarga Draxus yang membuat rumah itu terasa hidup.
Sementara Sydney dan Morgan memutuskan untuk menginap di rumah sakit supaya bisa menjaga Elias yang masih dalam masa pemulihan, meski kondisi adik bungsu mereka sudah jauh lebih baik. Pagi itu, meja makan di rumah Jade sangat ramai dengan suara percakapan ringan dan tawa sesekali. Ada Jane yang duduk palKeesokan harinya di rumah Jade yang biasanya sepi, kini dipenuhi dengan wanita-wanita dari Keluarga Draxus yang membuat rumah itu terasa hidup. Sementara Sydney dan Morgan memutuskan untuk menginap di rumah sakit supaya bisa menjaga Elias yang masih dalam masa pemulihan, meski kondisi adik bungsu mereka sudah jauh lebih baik. Pagi itu, meja makan di rumah Jade sangat ramai dengan suara percakapan ringan dan tawa sesekali. Ada Jane yang duduk paling ujung dengan secangkir kopi di tangan, Sereia yang sedang mengupas buah sambil berbicara dengan Zaleia yang duduk di sebelahnya. Jade adalah yang paling terakhir bergabung di meja makan yang juga sudah penuh dengan berbagai menu sarapan, mulai dari pancakes, telur orak-arik, bacon, roti panggang, salad buah, jus jeruk, hingga kopi panas. Jade sudah memakai setelan jas formal berwarna abu-abu gelap dengan kemeja putih, terlihat sangat profesional dan siap untuk
Namun nyatanya, Daisy masih ada di sana, terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan tidak sadarkan diri, bahkan setelah Vincent membuka pintu kamarnya kasar sambil memanggil namanya dengan keras.Vincent berdiri di ambang pintu sambil mengatur napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, campuran antara lega dan marah.Pria itu meremas rambutnya dengan frustrasi, lalu berbalik menatap dua anak buahnya yang juga melongok ke dalam dengan wajah pucat."Kalian akan mati malam ini!" ancam Vincent penuh penekanan.Belum sempat mereka merespons untuk memohon ampun atau memberikan penjelasan, ponsel mereka berdering nyaris bersamaan.Bunyi dering yang sangat tidak tepat waktu.Kedua anak buah itu melirik Vincent dengan ragu. Salah satu dari mereka mengangkat ponselnya sedikit, meminta izin untuk menerima panggilan itu lebih dulu.Vincent menghela napas kasar sambil melambaikan tang
"Aku akan melakukan apa pun untuk Daisy. Sama seperti Papi yang rela melakukan apa pun demi Mami." Jade menjawab dengan raut wajah datar. Pria itu menyembunyikan emosinya dengan baik. Morgan menatap Jade penuh selidik. Mata pria itu tidak berkedip, mengamati seberapa dalam dan kuat tekad putra sulungnya. Pria itu mencari tanda-tanda bahwa Jade hanya berbicara berdasarkan emosi sesaat. Namun yang Morgan lihat adalah mata yang sama seperti matanya sendiri puluhan tahun lalu. Mata seorang pria yang sudah mengambil keputusan bulat dan tidak akan mundur apa pun yang terjadi. "Vincent sudah membangunkan iblis di dalam tubuhku yang sudah aku paksa tidur selama puluhan tahun. Sekarang iblis itu bangun dan kelaparan. Setidaknya dengan izin Papi, aku bisa mengendalikan iblis itu," lanjut Jade penuh penekanan. Morgan mendesah panjang. Banyak yang harus Morgan pertimbangkan. Pria paru
“Aargh!” Sydney mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya, seolah kenyataan yang baru saja Jade ungkapkan menyakiti hatinya juga. Wajah wanita paruh baya itu memucat. Napas Sydney tercekat dan tangannya gemetar. Morgan dengan sigap melangkah mendekati Sydney dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Sydney dan Morgan adalah orang yang paling mengerti bagaimana hancurnya Daisy dan Jade saat ini. Mereka pernah merasakan hal yang sama, kehilangan dua anak dalam perjalanan mengarungi rumah tangga mereka yang penuh lika-liku. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya tertimbun oleh waktu. Jane yang biasanya selalu terlihat kuat dan tidak pernah menangis di depan orang lain, kini menitikkan air mata. Wanita itu ikut merasakan seperti apa hancur hati saudara kembarnya. Bahkan air mata Jane tidak berhenti mengalir, seolah Jane juga mewakili Jade un
Begitu Jade keluar dari kamar Daisy dan menutup pintu dengan pelan di belakangnya, ponsel pria itu berdering. Layar ponsel menampilkan nama Zaleia, salah satu adiknya. Kemungkinan besar kabar dari Elias. Jade segera mengangkat panggilan itu sambil kembali berjalan menuju basement. "Ya, Zaleia?" sapa Jade. "Elias sudah sadar, Kak!" ucap Zaleia di ujung telepon terdengar antusias. Satu kabar baik di tengah badai amarah dalam dada Jade. Terdengar seperti angin segar yang menyejukkan, walau hanya sejenak. Meski tidak bisa meredakan amarah Jade sepenuhnya terhadap Vincent, setidaknya satu dari dua orang yang paling berarti untuknya sudah pulih. "Aku akan segera ke rumah sakit. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan dengan Papi," jawab Jade. Setelah berganti kembali ke pakaian yang sebelumnya Jade pakai dan mengembalikan scrub medis serta kartu akses pada perawat yang me
"Tidak akan, Tuan. Jika Tuan pergi ke lantai dua, Tuan akan bertemu dengan seorang perawat berkacamata yang bersedia membantu kita." Primus menjawab sambil mengulurkan sebuah kartu akses rumah sakit, kartu putih dengan nama seorang dokter tertera di sana, yang tadi dia ambil diam-diam saat berkeliling.Jade mengangguk. Pria itu segera mengambil masker dari dashboard mobil dan memakainya.Dengan kartu akses di tangan, Jade keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk lewat pintu lift menuju lantai dua.Saat pintu lift terbuka di lantai dua, seorang perawat wanita berkacamata tebal berdiri di sana dengan raut wajah cemas. Matanya terus melirik ke kiri dan kanan.Jade melihatnya tanpa berbicara apa pun selama beberapa detik, memastikan dia orang yang dimaksud oleh Primus atau bukan.Sampai akhirnya perawat itu memberikan pakaian scrub medis berwarna hitam yang terlipat rapi pada Jade."Silakan ganti pakaian Anda dengan ini, Tuan. Rua







