MasukDaisy menelan ludah dengan susah payah.
Tenggorokan gadis itu terasa kering, seolah ada batu besar yang tersangkut di sana. Jantung Daisy berdegup tidak karuan.Dalam surel yang Jade kirimkan semalam, pria itu meminta Daisy untuk percaya kalau Vincent tidak akan membunuh Arthur karena Vincent masih membutuhkan Arthur untuk mengendalikan Daisy.Namun jelas-jelas Vincent barusan bilang, jika Daisy membuat ulah atau pergi bersama Jade, itu berarti Vincent sudah tidak bPrimus segera melajukan mobil menuju titik lokasi salah satu anting Daisy yang berada di rumah sakit kecil di luar kota tanpa banyak bertanya atau membuang waktu satu detik pun. Sementara mobil Jade sendiri yang tertinggal di depan rumah Vincent, akan diurus oleh jasa derek yang dipesan Primus lewat telepon singkat sambil menyetir. Jade menatap layar ponselnya yang masih menampilkan dua titik lokasi berbeda. Jari-jarinya menekan layar itu terlalu kuat, seperti ingin menggenggam Daisy langsung dari sana. "Daisy pasti kehilangan salah satu antingnya di rumah Vincent sebelum dibawa ke luar kota," gumam Jade menyimpulkan dengan suara pelan yang bergetar. "Pria bajingan!" Rumah sakit bukanlah tempat yang bagus. Terlebih lagi rumah sakit kecil di luar kota yang biasanya minim fasilitas dan dokter spesialis yang tidak lengkap. Lebih parah lagi, stok darah yang mungkin tidak mencukupi. J
Jade mengepalkan tangan dengan kuat di sisi tubuhnya. Urat di leher Jade menonjol. Napasnya terasa berat. Dia berusaha mengendalikan amarah yang sangat besar dengan susah payah agar tidak meledak di sini. "Kau terlalu percaya diri, Vincent," sahut Jade dengan penuh penekanan. "Perusahaan yang melejit dengan cepat, tahu apa soal bertahan? Poseidon Exports sudah berusia puluhan tahun dan selama itu, kami selalu memimpin perekonomian." Senyum Vincent memudar. Tipis, tetapi Jade melihatnya dengan jelas. Hyper Move memang masih sangat muda. Usianya belum sampai 10 tahun. Sebelumnya Vincent merasa bahwa perusahaannya bisa saja membalap keberhasilan Poseidon Exports yang sudah berakar kuat di industri ini. Namun saat Jade mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, jauh di dalam lubuk hatinya, Vincent merasakan kepercayaan dirinya jatuh. Jade menunjuk dada Vincent dengan ja
Beberapa mobil membunyikan klakson cukup panjang karena Jade mendadak memelankan pijakan pada pedal gas dan hampir menyebabkan kecelakaan beruntun.Mobil di belakang Jade harus menginjak rem mendadak. Mobil lain di belakangnya pun sama.Tok! Tok! Tok!Kaca pintu mobil Jade diketuk oleh seorang pria dengan wajah merah dan tatapan tajam.“Keluar kau! Lihat kekacauan yang kau buat dan tanggung jawablah!” teriak pria yang sepertinya merupakan salah satu pengemudi mobil di belakang Jade.Pria itu segera menepi ke bahu jalan. Dia mendengarkan keluhan para pengemudi lain dan bertanggung jawab.Masalah itu dengan mudah dapat Jade atasi. Yang sulit adalah menahan amarah menggebu di dada.Napas Jade tersengal dan saat kembali ke dalam mobil tangannya gemetar di atas kemudi.Jejak darah. Ranjang penuh darah. Daisy yang diseret.Pikiran-pikiran mengerikan itu terus berputar di kepala Jade seperti film horor yang ti
"Ya benar, Nona," jawab Primus sambil mengangguk sopan pada Jane.Jade menatap Primus dengan saksama, menantikan jawaban pria berusia sekitar 50-an itu yang juga menatapnya lurus tanpa ragu.Saat Jade masih kecil, Primus dipercayakan oleh Morgan untuk menjaga ibu dan adik-adiknya di Suri. Pria itu otomatis menjadi pelindung keluarga mereka di negara ini.Jade ingat beberapa kali Primus mengantar dan menjemputnya dari taman belajar untuk anak-anak.Pemandangan dari kursi belakang Jade yang berusia empat tahun adalah wajah serius Primus yang sedang mengendarai mobil hitam besar. Terkadang Primus juga dengan sabar menunggu di depan gerbang sambil membawa bekal yang disiapkan Sydney.Dengan tanggung jawab sebesar itu, menjaga istri dan anak-anak majikannya sendirian di negara yang jauh, Primus bekerja sendiri di Suri selama berbulan-bulan. Dan Morgan sangat mempercayainya hingga detik ini.Jade akhirnya berkata sambil meraih ponselny
Morgan menaruh tangannya di bahu Jade, memberikan kekuatan sekaligus dukungan. "Tidak perlu, Jade,” tolak Morgan tanpa membuat Jade berkecil hati. “Kami bisa menjenguk Elias setelah dia dipindahkan ke kamar rawat inap. Elias harus pulih dulu sebelum kami menemuinya.” “Benar, Mami juga belum bisa mengontrol emosi jika melihat Elias sekarang,” tambah Sydney, matanya sudah kembali berkaca-kaca. “Kami tidak akan bisa melakukan atau membicarakan sesuatu juga, jika Elias belum sadar.” Kini Sereia ikut mengemukakan pendapatnya. “Setuju.” Zaleia mengiyakan pendapat kembarannya. “Hitung-hitung, kami bisa beristirahat sejenak.” Jade mengangguk. Pria itu tahu orang tua serta adik-adiknya tidak ingin membebani Elias dengan kehadiran seluruh keluarga saat kondisi Elias masih sangat lemah. "Apa boleh aku pulang dulu untuk mandi dan istirahat?" tanya Jade sambil menatap ayahnya. "Aku juga perlu memanggi
Operasi Elias baru saja selesai. Walaupun pria itu masih harus menjalani pemantauan ketat dan masuk ke ICU, setidaknya operasinya berjalan dengan lancar tanpa komplikasi serius. Jade sendiri sudah mengganti pakaian dari baju operasi hijau muda kembali ke pakaiannya sebelumnya, kemeja putih yang sedikit kusut dan celana panjang hitam. Di kursi ruang tunggu yang paling dekat dengan ICU, Jade mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka aplikasi surel. Pria itu menggerakan jarinya dengan cepatn saat mengetik pesan untuk Daisy. "Maaf, rencanaku untuk membawamu pergi harus tertunda. Elias kecelakaan dan dia butuh donor darah dariku secepatnya. Maafkan aku, Daisy, karena aku membiarkanmu bertunangan dengan Vincent. Tapi, Daisy, selama aku masih bernapas, aku akan terus mengusahakanmu. Aku janji." Jade mengirim surel itu sambil berharap bahwa Daisy masih mau membaca dan membalas pesannya segera. Namun hingga matahari sudah mulai muncul di ufuk timur dan cahayanya menerobos jendela ru







