MasukDi rumah Vincent, setelah acara pertunangan selesai dan para tamu sudah pulang, Daisy, Vincent, Andien, Claudia, dan pelayannya masuk kembali ke dalam rumah.
Suasana di luar masih ramai dengan suara para petugas yang membereskan dekorasi pesta, tetapi di dalam rumah terasa sunyi dan mencekam."Bawa Mama ke kamar, kunci pintunya, dan jangan sampai Mama keluar kamar setidaknya sampai besok pagi. Ini sudah waktunya Mama tidur." Vincent langsung memerintah pelayan Claudia.<Beberapa mobil membunyikan klakson cukup panjang karena Jade mendadak memelankan pijakan pada pedal gas dan hampir menyebabkan kecelakaan beruntun.Mobil di belakang Jade harus menginjak rem mendadak. Mobil lain di belakangnya pun sama.Tok! Tok! Tok!Kaca pintu mobil Jade diketuk oleh seorang pria dengan wajah merah dan tatapan tajam.“Keluar kau! Lihat kekacauan yang kau buat dan tanggung jawablah!” teriak pria yang sepertinya merupakan salah satu pengemudi mobil di belakang Jade.Pria itu segera menepi ke bahu jalan. Dia mendengarkan keluhan para pengemudi lain dan bertanggung jawab.Masalah itu dengan mudah dapat Jade atasi. Yang sulit adalah menahan amarah menggebu di dada.Napas Jade tersengal dan saat kembali ke dalam mobil tangannya gemetar di atas kemudi.Jejak darah. Ranjang penuh darah. Daisy yang diseret.Pikiran-pikiran mengerikan itu terus berputar di kepala Jade seperti film horor yang ti
"Ya benar, Nona," jawab Primus sambil mengangguk sopan pada Jane.Jade menatap Primus dengan saksama, menantikan jawaban pria berusia sekitar 50-an itu yang juga menatapnya lurus tanpa ragu.Saat Jade masih kecil, Primus dipercayakan oleh Morgan untuk menjaga ibu dan adik-adiknya di Suri. Pria itu otomatis menjadi pelindung keluarga mereka di negara ini.Jade ingat beberapa kali Primus mengantar dan menjemputnya dari taman belajar untuk anak-anak.Pemandangan dari kursi belakang Jade yang berusia empat tahun adalah wajah serius Primus yang sedang mengendarai mobil hitam besar. Terkadang Primus juga dengan sabar menunggu di depan gerbang sambil membawa bekal yang disiapkan Sydney.Dengan tanggung jawab sebesar itu, menjaga istri dan anak-anak majikannya sendirian di negara yang jauh, Primus bekerja sendiri di Suri selama berbulan-bulan. Dan Morgan sangat mempercayainya hingga detik ini.Jade akhirnya berkata sambil meraih ponselny
Morgan menaruh tangannya di bahu Jade, memberikan kekuatan sekaligus dukungan. "Tidak perlu, Jade,” tolak Morgan tanpa membuat Jade berkecil hati. “Kami bisa menjenguk Elias setelah dia dipindahkan ke kamar rawat inap. Elias harus pulih dulu sebelum kami menemuinya.” “Benar, Mami juga belum bisa mengontrol emosi jika melihat Elias sekarang,” tambah Sydney, matanya sudah kembali berkaca-kaca. “Kami tidak akan bisa melakukan atau membicarakan sesuatu juga, jika Elias belum sadar.” Kini Sereia ikut mengemukakan pendapatnya. “Setuju.” Zaleia mengiyakan pendapat kembarannya. “Hitung-hitung, kami bisa beristirahat sejenak.” Jade mengangguk. Pria itu tahu orang tua serta adik-adiknya tidak ingin membebani Elias dengan kehadiran seluruh keluarga saat kondisi Elias masih sangat lemah. "Apa boleh aku pulang dulu untuk mandi dan istirahat?" tanya Jade sambil menatap ayahnya. "Aku juga perlu memanggi
Operasi Elias baru saja selesai. Walaupun pria itu masih harus menjalani pemantauan ketat dan masuk ke ICU, setidaknya operasinya berjalan dengan lancar tanpa komplikasi serius. Jade sendiri sudah mengganti pakaian dari baju operasi hijau muda kembali ke pakaiannya sebelumnya, kemeja putih yang sedikit kusut dan celana panjang hitam. Di kursi ruang tunggu yang paling dekat dengan ICU, Jade mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka aplikasi surel. Pria itu menggerakan jarinya dengan cepatn saat mengetik pesan untuk Daisy. "Maaf, rencanaku untuk membawamu pergi harus tertunda. Elias kecelakaan dan dia butuh donor darah dariku secepatnya. Maafkan aku, Daisy, karena aku membiarkanmu bertunangan dengan Vincent. Tapi, Daisy, selama aku masih bernapas, aku akan terus mengusahakanmu. Aku janji." Jade mengirim surel itu sambil berharap bahwa Daisy masih mau membaca dan membalas pesannya segera. Namun hingga matahari sudah mulai muncul di ufuk timur dan cahayanya menerobos jendela ru
Pertanyaan Vincent membuat Andien menatap punggung pria itu dengan tatapan tidak percaya.Bagaimana bisa Vincent mempertanyakan hal sensitif sefrontal itu?Perawat melirik canggung ke arah Andien, sebelum kembali menatap Vincent dan menjawab dengan hati-hati, "Keadaan Nona Daisy saat sampai di sini sudah sangat kritis, jadi bayi Nona Daisy tidak bisa diselamatkan, Tuan."Vincent tersenyum tipis."Apa golongan darah Daisy?" tanya Vincent."Golongan darah O dengan rhesus positif," jawab perawat setelah menghela napas pendek.Vincent mengangguk dengan lega."Itu bukan golongan darah yang langka. Aku akan menyuruh salah satu anak buahku ke sini. Lanjutkan saja kuretasenya dan selamatkan tunanganku,” ucap Vincent dengan nada memerintah.Perawat mengangguk sopan dan kembali masuk ke ruangan.Jari manis Daisy boleh terpasang cincin berlian berkilauan yang sangat mahal dan indah, tetapi pada kenyataannya gadis
Vincent menyugar rambutnya dengan frustasi."Periksa apakah di luar masih banyak orang atau tidak. Jika masih, usir mereka!" perintah Vincent pada anak buahnya lewat panggilan telepon.Ini belum ada setengah jam sejak pesta pertunangan mereka usai. Mungkin masih ada beberapa tamu yang saling bercengkerama di halaman, entah apa yang mereka bicarakan."Aku tidak ingin ada orang lain yang melihatku membawa Daisy ke luar. Satu menit, kau hanya punya satu menit untuk mengusir mereka!" Vincent melanjutkan, suaranya naik satu oktaf."Baik, Tuan," jawab anak buah Vincent di ujung telepon tanpa banyak bertanya.Vincent segera menutup panggilan. Pria itu kembali ke ruangan dan mengangkat tubuh Daisy yang lemas dengan hati-hati. Satu tangan Vincent ada di bawah lutut Daisy, satu lagi di punggungnya.Vincent mengabaikan darah Daisy yang menetes sepanjang perjalanan mereka dari ruangan ke pintu depan rumah.Tetesan merah itu meningga







