LOGINDaisy melangkah mondar-mandir di dalam kamar, telapak kakinya menapak karpet dengan cepat dan tidak beraturan. Ketukan di pintu barusan masih menggema di kepala Daisy.
Tanpa berpikir panjang, Daisy meraih selimut tebal dari atas ranjang, menariknya dengan kasar, lalu membawanya ke arah sofa. Jade mengernyitkan dahi, menatap Daisy dan selimut di tangannya secara bergantian. “Kau baru saja membentak atasanmu, Daisy,” komentar Jade santai, meski sorot matanya jelas menahan tanya. Daisy tidak peduli. Gadis itu mengibaskan selimut itu dan menyelubungi seluruh tubuh Jade yang duduk di sofa hingga pria itu lenyap dari pandangan, hanya menyisakan gundukan aneh yang mencurigakan. Daisy lalu mencondongkan tubuh dan berbisik penuh penekanan. “Tuan diam saja di sini!” Dari balik selimut, gundukan itu bergerak kecil. Jade mengangguk patuh. Daisy menarik napas lega, lalu melangkah cepat ke pintu. Begitu pintu dibuka,Pukul tujuh malam, angin sore yang mulai dingin menerobos sela-sela area drop-off gedung apartemen itu. Lampu-lampu halaman telah menyala, memantulkan cahaya kuning hangat pada lantai keramik yang masih sedikit basah karena hujan gerimis sebelumnya.July dan Gea baru tiba. Rambut keduanya sudah lebih rapi dan mereka tampak bersemangat, meski masing-masing memeluk kantong belanja kecil berisi makanan dan minuman untuk Daisy.“Kita tanya satpam dulu,” ucap July sambil menoleh mencari pos keamanan.Namun langkah July terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Pintu depan sebelah kanan terbuka, dan sosok Daisy turun dengan rambut terikat rendah dan jaket di pundaknya. Wajahnya terlihat segar.July hampir berteriak memanggil. “Dais–”Mulutnya langsung tertutup telapak tangan Gea.“Diam,” bisik Gea panik sambil menyeret July ke belakang sebuah tiang. “Jangan panggil dia dulu!”July mengerutkan dahi keras. “Apa?! Kenapa?!”Gea tidak men
Daisy dan Jade datang terlambat hari itu. Bukan karena macet atau karena ada urusan mendadak. Namun karena setelah keluar dari apartemen Daisy dan sebelum sampai di kantor, gadis itu itu memaksa untuk pergi ke butik pria guna membeli kemeja dan jas baru untuk Jade kenakan. "Tuan, kita sudah terlambat," protes Daisy sambil melirik jam di dashboard mobil. “Siapa yang berani menegur saya?” tanya Jade tidak peduli sambil mengangkat salah satu alisnya. Daisy hanya bisa menghela napas. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari mobil yang sama di basement kantor. Jade berjalan di depan dengan jas baru berwarna abu-abu gelap, sementara Daisy mengikuti di belakang dengan tas kerja di bahu dan tablet di tangannya. Begitu mereka masuk ke dalam lift eksklusif, bisik-bisik mulai terdengar dari karyawan lain yang melihat mereka melewati lobi. Daisy dan Jade tidak menyad
Daisy menyewa jasa pindahan malam itu juga untuk mengangkut barang-barangnya dari kamar di kediaman Keluarga Lulla ke unit apartemen yang baru dia sewa. Pekerja pindahan bergerak cekatan, mengangkut kardus-kardus berisi pakaian, buku, dan beberapa barang pribadi Daisy. Tidak banyak. Hanya cukup untuk memenuhi satu mobil boks kecil. Saat menatap kamar yang dia tempati kini kosong, Daisy berdiri di ambang pintu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada lagi kasur dengan sprei lusuh. Tidak ada lagi lemari kecil di sudut. Tidak ada lagi meja belajar tempat dia sering menangis diam-diam. Hanya ruang kosong dengan dinding pucat yang pernah menyaksikan semua kesedihannya. Daisy tersenyum pahit. "Bu," gumam Daisy lirih, seolah berbicara pada sosok yang tidak terlihat. "Aku pindah ke tempat tinggal baru. Jangan datang ke sini lagi." Kemudian Daisy menutup pintu kamar itu untuk terakhir kalinya. Saat Daisy melangkah
Olga mengangguk antusias, matanya berbinar seolah sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak. "Karena bagi pria seperti mereka, muda dan polos adalah dua kata kunci yang terdengar seperti harta karun tersembunyi. Mereka menikahinya hanya untuk memuaskan hasrat. Setelah itu, Daisy bisa dibuang kapan saja." Neil menambahkan sambil menikmati sarapannya dengan tenang. Bianca membuka mulutnya tanpa sadar, terkejut sekaligus terhibur. “Astaga.” Bianca menutup mulut dengan telapak tangan lalu terkekeh. “Calon suami yang sangat tepat untuk Daisy.” Bianca memiringkan tubuh, dagunya bertumpu pada punggung tangan. “Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?” Olga melepas napas panjang, tetapi wajahnya tetap penuh semangat bercerita. “Desas-desus tentang kami yang sedang mencari suami untuk Daisy cepat menyebar luas di sana. Sampai akhirnya …” Olga mencondongkan tubuh ke depan, suaranya memelan seperti tengah membocorkan rahasia
Olga mengangkat tangannya. Plak! Tamparan mendarat di pipi Daisy. Kepala Daisy sedikit terpuntir ke samping oleh hantaman telapak tangan Olga. Tidak sekeras tamparan Bianca biasanya, tetapi cukup untuk membuat suara kecil keluar dari bibir Daisy dan meninggalkan rasa panas yang menggigit di pipinya. "Kalau memang kamu merasa kamu sudah tidak butuh keluarga ini, pergi kamu dari rumah kami!" hardik Olga sambil menunjuk pintu keluar dengan jari yang gemetar. "Anak tidak tahu diuntung! Bukannya berterima kasih dan tumbuh menjadi orang baik, kau justru menjadi angkuh hanya karena mendapat pekerjaan!" Untuk beberapa detik, hanya suara napas Olga yang terdengar. Daisy tidak menjawab apa pun. Gadis itu hanya memandangi lantai dengan tatapan kosong sebelum akhirnya perlahan menunduk dan berjongkok. Daisy mengumpulkan barang-barang dari dalam tasnya yang berserakan di lantai. Buku catatan tertekuk, pulpen berguling jauh hingga dekat
Awalnya Daisy mengira Jade tidak akan mengizinkannya. Akhir-akhir ini pria itu menjadi sangat posesif padanya. Jangankan dengan manusia, Jade bahkan cemburu pada Rex yang seekor kucing. Daisy yakin Jade tidak akan suka jika dia tinggal satu lantai dengan Elias. Namun Jade justru memberi tanggapan yang mengejutkan. "Saya pikir lebih baik kau juga tinggal di dekat orang yang kau kenal, seperti Elias," ucap Jade sambil bersandar di sofa dan merentangkan kedua tangannya ke samping. "Daripada kau harus tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu." Daisy menatap Jade dengan tatapan tidak percaya. Mata gadis itu menyipit, mencoba membaca apakah Jade bersungguh-sungguh atau tidak. "Dengar, Daisy? Kak Jade setuju!" Elias tersenyum lebar. “Zaman sekarang, orang-orang aneh semakin banyak. Dan hari sial, tidak ada dalam kalender. Ada baiknya kita selalu bertindak preventif.” Daisy menghela napas. "Biar saya pikirkan dulu." "Jangan terlalu lama b







