MasukDi ruang makan.
“Pi.” Jade menarik kursi dan duduk dengan tenang, seolah tidak ada apa pun yang mengganjal di benaknya. Suara kursi yang sedikit bergeser memecah keheningan ruang makan yang masih lengang. Di meja panjang itu, baru ada Sydney dan Morgan. Morgan Draxus mengangkat pandangan dari piringnya. Pria paruh baya itu mengangguk tipis. Rupa Morgan hampir serupa dengan Jade. Mulai dari rambut, warna manik mata, hingga bagaimana bahasa tubuh mereka berbicara. Tubuh Morgan pun masih sangat bugar. Tato-tato yang mengintip di balik jasnya, menambah kesan mengerikan pada Morgan. Dan penuaan yang mulai datang, sama sekali tidak berpengaruh banyak pada pria itu. “Bagaimana kabarmu?” tanya Morgan singkat. Di seberang meja, Sydney menyipitkan mata. Tatapannya tidak lepas dari arah Jade datang. Putra sulungnya itu datang dari arah sayap timur, lorong yang mengarah ke kamar Daisy. Jade menangkap itu, tetapi mem“Bianca,” panggil Jade datar. “Kita bicara di luar.” Daisy menggigit bibir mendengar itu. Entah mengapa dia merasa sedikit kecewa Jade lebih memilih bicara terpisah dengan Bianca. Seolah dia tidak cukup penting untuk dipertahankan di hadapan semua orang. Bianca mendengkus pelan, menghempaskan tangan yang masih digenggam Jade. “Apalagi yang perlu dibicarakan?” serang Bianca. “Kau sudah tertangkap basah tidur dengan adikku. Tidak mungkin kau melakukan pekerjaan di dalam sana!” July dan Gea saling melirik, sementara Elias hanya berdiri tanpa tahu bagaimana harus menangani apa yang terjadi di depannya saat ini. Jade menatap Bianca tanpa bergetar sedikit pun di wajahnya. Tatapannya lalu beralih pelan ke July, ke Gea, ke Elias, sebelum akhirnya kembali ke Daisy. Tidak ada kata-kata yang Jade ucapkan. Hanya observasi, tetapi cukup membuat ruangan itu terasa lebih tegang. Saat kem
Daisy menatap Jade. Jemari Daisy menyentuh dada bidang pria itu, merasakan detak jantung yang sama cepat dengan miliknya. "Saya …" Daisy menggigit bibir bawahnya. "Saya tidak tahu." Jade menarik napas dalam. Tangannya mengusap pipi Daisy dengan lembut. "Daisy," panggil Jade pelan. "Saya tidak akan memaksamu. Tapi saya juga tidak yakin saya bisa menahan diri saya lebih lama, jika kau ada di dekat saya." Daisy menatap mata Jade. Di sana ada hasrat, tetapi juga ada kelembutan. Ada keinginan yang kuat, tetapi juga ada kesabaran. Akhirnya, Daisy menarik Jade lebih dekat. "Jangan berhenti," bisik Daisy di telinga Jade. Suara napas tertahan dan helaan panjang memenuhi kamar Daisy. Di atas ranjang, Jade memimpin ritmenya perlahan, sementara Daisy mengikuti gerakannya seperti sebuah tarian yang hanya mereka berdua yang mampu memahami temponya. Sentuh
Pukul tujuh malam, angin sore yang mulai dingin menerobos sela-sela area drop-off gedung apartemen itu. Lampu-lampu halaman telah menyala, memantulkan cahaya kuning hangat pada lantai keramik yang masih sedikit basah karena hujan gerimis sebelumnya.July dan Gea baru tiba. Rambut keduanya sudah lebih rapi dan mereka tampak bersemangat, meski masing-masing memeluk kantong belanja kecil berisi makanan dan minuman untuk Daisy.“Kita tanya satpam dulu,” ucap July sambil menoleh mencari pos keamanan.Namun langkah July terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Pintu depan sebelah kanan terbuka, dan sosok Daisy turun dengan rambut terikat rendah dan jaket di pundaknya. Wajahnya terlihat segar.July hampir berteriak memanggil. “Dais–”Mulutnya langsung tertutup telapak tangan Gea.“Diam,” bisik Gea panik sambil menyeret July ke belakang sebuah tiang. “Jangan panggil dia dulu!”July mengerutkan dahi keras. “Apa?! Kenapa?!”Gea tidak men
Daisy dan Jade datang terlambat hari itu. Bukan karena macet atau karena ada urusan mendadak. Namun karena setelah keluar dari apartemen Daisy dan sebelum sampai di kantor, gadis itu itu memaksa untuk pergi ke butik pria guna membeli kemeja dan jas baru untuk Jade kenakan. "Tuan, kita sudah terlambat," protes Daisy sambil melirik jam di dashboard mobil. “Siapa yang berani menegur saya?” tanya Jade tidak peduli sambil mengangkat salah satu alisnya. Daisy hanya bisa menghela napas. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari mobil yang sama di basement kantor. Jade berjalan di depan dengan jas baru berwarna abu-abu gelap, sementara Daisy mengikuti di belakang dengan tas kerja di bahu dan tablet di tangannya. Begitu mereka masuk ke dalam lift eksklusif, bisik-bisik mulai terdengar dari karyawan lain yang melihat mereka melewati lobi. Daisy dan Jade tidak menyad
Daisy menyewa jasa pindahan malam itu juga untuk mengangkut barang-barangnya dari kamar di kediaman Keluarga Lulla ke unit apartemen yang baru dia sewa. Pekerja pindahan bergerak cekatan, mengangkut kardus-kardus berisi pakaian, buku, dan beberapa barang pribadi Daisy. Tidak banyak. Hanya cukup untuk memenuhi satu mobil boks kecil. Saat menatap kamar yang dia tempati kini kosong, Daisy berdiri di ambang pintu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada lagi kasur dengan sprei lusuh. Tidak ada lagi lemari kecil di sudut. Tidak ada lagi meja belajar tempat dia sering menangis diam-diam. Hanya ruang kosong dengan dinding pucat yang pernah menyaksikan semua kesedihannya. Daisy tersenyum pahit. "Bu," gumam Daisy lirih, seolah berbicara pada sosok yang tidak terlihat. "Aku pindah ke tempat tinggal baru. Jangan datang ke sini lagi." Kemudian Daisy menutup pintu kamar itu untuk terakhir kalinya. Saat Daisy melangkah
Olga mengangguk antusias, matanya berbinar seolah sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak. "Karena bagi pria seperti mereka, muda dan polos adalah dua kata kunci yang terdengar seperti harta karun tersembunyi. Mereka menikahinya hanya untuk memuaskan hasrat. Setelah itu, Daisy bisa dibuang kapan saja." Neil menambahkan sambil menikmati sarapannya dengan tenang. Bianca membuka mulutnya tanpa sadar, terkejut sekaligus terhibur. “Astaga.” Bianca menutup mulut dengan telapak tangan lalu terkekeh. “Calon suami yang sangat tepat untuk Daisy.” Bianca memiringkan tubuh, dagunya bertumpu pada punggung tangan. “Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?” Olga melepas napas panjang, tetapi wajahnya tetap penuh semangat bercerita. “Desas-desus tentang kami yang sedang mencari suami untuk Daisy cepat menyebar luas di sana. Sampai akhirnya …” Olga mencondongkan tubuh ke depan, suaranya memelan seperti tengah membocorkan rahasia







