Share

(S2) 112. Salah alamat

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2025-08-07 13:00:11

"Kenzie bilang ... untuk sementara dia ingin mengajak kamu dan Gala tinggal di rumah Papa."

"Kok jadi Kak Kenzie yang mengajakku tinggal di sini sih, Pa?" Zea tampak bingung, alisnya berkerut dalam, merasa ada sesuatu yang janggal.

"Iya, katanya kalau kalian tinggal di rumah Kenzie ... dia nggak bisa nyewa pembantu atau babysitter. Dia juga cerita kalau almarhum kakeknya suka gangguin orang-orang yang ada di rumah, memangnya bener ya, Zea?" Papa Bahri menatap Zea dengan tatapan menyelidik, mencari jawaban yang jujur di matanya.

"Kalau sama aku sih nggak ganggu, tapi kalau sama pembantunya yang dulu iya, Pa. Sama mantan istrinya juga," jawab Zea, teringat pengalaman-pengalaman aneh yang pernah dia alami di rumah Kenzie.

"Oh gitu. Syukurlah kalau sama kamu enggak. Tapi nanti kamu bicara sama Kenzie, kalau dia nggak perlu sewa babysitter untuk Gala, ya?" Papa Bahri melanjutkan, nadanya terdengar sedikit mendesak.

"Memangnya kenapa, Pa?" Zea
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 116. Untuk jaga-jaga

    "Papa sama Mama serius, Zea. Kamu ini kok kayak nggak percaya gitu sih?" tanya Papa Bahri yang heran dengan reaksi Zea. Namun, dari sikapnya yang malu-malu kucing, jelas terlihat bahwa putrinya itu tengah salah tingkah."Ya aku nggak percaya aja, soalnya selama ini Kak Kenzie nggak pernah begitu sama aku," Zea perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya yang merona, lalu berjalan mendekat ke arah Mama Eva."Namanya manusia pasti ada berubahnya, Zea. Tapi baguslah kalau memang berubahnya itu ke arah yang lebih baik," Papa Bahri menghela napas lega, membayangkan bahwa rumah tangga putrinya akan semakin harmonis."Tapi Papa yang ngomong sama Kak Kenzie, ya, tentang niat Papa ingin aku dan dia tidur terpisah. Karena kalau nantinya aku yang ngomong... bisa panjang urusannya, bisa-bisa dia mengira aku memang nggak mau tidur dengannya," pinta Zea dengan nada khawatir."Tenang, nanti Papa kasih tau setelah kita makan malam," janji Papa Bahri, berusaha menenangkan kegelisahan putrinya.***"

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 115. Tergila-gila

    Tiba-tiba, kamar mandi terasa panas membara.Dengan gerakan tergesa, Kenzie membuka kancing demi kancing kemeja Zea. Kain itu jatuh, memperlihatkan kulit seputih susu berada di hadapannya.Jantung Zea berdebar tak karuan. Ada gejolak ingin menolak, namun tubuhnya seolah menyerah pada sentuhan-sentuhan yang menggelitik saat bibir Kenzie mulai menjelajahi lehernya. Setiap kecupan seolah menjadi bisikan rayu yang membangkitkan hasratnya."Kaaakkkk, geliii!" Zea terkikik, namun tak ada upaya untuk menghentikan Kenzie. Tangannya justru melingkar di leher pria itu, seolah memberi izin untuk melanjutkan.Kenzie tak menjawab. Bibirnya semakin gencar memberikan kecupan-kecupan panas di leher dan bahu Zea, menciptakan sensasi merinding yang nikmat.'Wangi dan lembut, sepertinya Zea sudah mandi. Apa dia sengaja, karena ingin menyambutku pulang kerja?' batin Kenzie senang.Dengan lembut, Kenzie menuntun Zea untuk duduk di tepi bathtub yang sudah terisi air hangat. Uapnya mengepul, menambah kesan

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 114. Pelit amat

    Kenzie membuka chat dari Heru dan membaca isinya dalam hati dengan dahi berkerut. [Kenzie, aku dengar kamu sudah menjadi Ayah, ya? Selamat, ya, Ken. Aku ikut senang. Oh ya... nanti malam kamu ada waktu nggak? Apa kita bisa ketemu? Aku mau berikan hadiah untuk anakmu.] Sebaris kalimat itu membuatnya semakin curiga. Dengan berat hati, Kenzie membalas chat itu, meskipun sebenarnya dia sangat malas berurusan dengan masa lalunya. [Terima kasih, Her. Tapi maaf... nanti malam aku sibuk.] Jawabnya singkat, padat, dan jelas. Tidak butuh waktu lama, Heru kembali mengirim chat. [Kalau besok bagaimana, Ken? Sekalian kita makan siang bareng?] Kenzie menghela napas. Heru benar-benar tidak menyerah. [Besok juga aku sibuk, banyak meeting di kantor. Lain kali saja ya, Her.] Balasnya. Ini bukan sekadar alasan, karena kenyataannya jadwalnya memang padat dengan berbagai pertemuan penting. [Oh ya sudah, nggak apa-apa. Nanti kabari aku kalau kamu sudah ada waktu, ya? Maaf aku udah nganggu.]

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 113. Pasti ada hubungannya

    "Pengirimnya atas nama Jamal, Pak. Dan sudah dibayar juga lewat aplikasi," jawab kurir itu, menunjuk nama pengirim yang tertera di layar ponselnya."E-eh, Mas Jamal??" Zea terkejut, suaranya tercekat.Selain nama yang disebutkan oleh kurir itu, dia juga merasa heran mengapa Jamal bisa tahu alamat rumah ini. Zea saja tidak tahu alamat lengkap rumah orang tuanya."Kamu kenal Jamal, Zea?" tanya Papa Bahri semakin penasaran, matanya mengamati ekspresi wajah anaknya yang masih dipenuhi keterkejutan."Dia mantan pacarku, Pa.""Lho, kok bisa mantan pacarmu ngirim paket ke sini segala? Kenapa kamu izinkan, Zea?" Papa Bahri bertanya dengan nada heran dan sedikit khawatir. Dia tidak suka dengan situasi yang tidak jelas ini."Aku nggak izinkan kok, Pa," Zea menggeleng cepat, lalu menjelaskan dengan cepat karena khawatir Papanya salah paham. "Aku malah nggak tau apa-apa. Aku juga nggak pernah kontak-kontakan sama dia, Pa. Sudah berbul

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 112. Salah alamat

    "Kenzie bilang ... untuk sementara dia ingin mengajak kamu dan Gala tinggal di rumah Papa.""Kok jadi Kak Kenzie yang mengajakku tinggal di sini sih, Pa?" Zea tampak bingung, alisnya berkerut dalam, merasa ada sesuatu yang janggal."Iya, katanya kalau kalian tinggal di rumah Kenzie ... dia nggak bisa nyewa pembantu atau babysitter. Dia juga cerita kalau almarhum kakeknya suka gangguin orang-orang yang ada di rumah, memangnya bener ya, Zea?" Papa Bahri menatap Zea dengan tatapan menyelidik, mencari jawaban yang jujur di matanya."Kalau sama aku sih nggak ganggu, tapi kalau sama pembantunya yang dulu iya, Pa. Sama mantan istrinya juga," jawab Zea, teringat pengalaman-pengalaman aneh yang pernah dia alami di rumah Kenzie."Oh gitu. Syukurlah kalau sama kamu enggak. Tapi nanti kamu bicara sama Kenzie, kalau dia nggak perlu sewa babysitter untuk Gala, ya?" Papa Bahri melanjutkan, nadanya terdengar sedikit mendesak."Memangnya kenapa, Pa?" Zea

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 111. Aku sudah melupakannya

    "Kenapa jadi tiba-tiba bahas Helen? Dia sudah menjadi masa laluku, Zea." Suara Kenzie terdengar berat, namun berusaha terdengar tenang, mencoba meyakinkan Zea sekaligus dirinya sendiri."Tapi Kakak 'kan sangat mencintainya." "Iya. Tapi itu dulu, saat dia masih menjadi istriku. Setelah berpisah... aku sudah melupakannya." Kenzie menjawab dengan suara yang sedikit lebih tegas, mencoba untuk meyakinkan Zea."Benarkah?" Zea tampak tidak percaya, keraguan masih terpancar dari sorot matanya. Kenangan tentang cinta Kenzie kepada Helen masih begitu kuat terpatri dalam ingatannya. Dia tahu betul, bagaimana dulunya Kenzie yang begitu mencintai Helen, cinta yang begitu besar dan mendalam."Benar dong." Jawab Kenzie dengan suara mantap. "Ngapain juga sih aku masih cinta sama dia, sementara dia sudah berkhianat. Lagian ... aku juga sudah punya kamu dan Gala." Dia menambahkan kalimat terakhir dengan nada yang lebih lembut, mencoba untuk menenangkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status