Se connecter"Udah?"Nara mengangguk dengan senyum lebar dan penuh semangat, tas di pundaknya sudah terpasang sempurna dengan jaket yang ada di genggaman tangan. Sudah pergantian shift dan dia sudah diperbolehkan pulang. Wilson segera bangkit, mengulurkan tangan ke depan muka Nara. "Kunci mobil?"Tanpa banyak bicara, Nara segera menyerahkan kunci mobilnya. Begitu kunci dalam genggaman, Wilson segera melangkah pergi dari ruang tunggu, namun sebelum itu, ia meraih tangan Nara dengan satu tangannya yang lain, membawa serta Nara melangkah di sisinya.Mereka menapaki jalanan depan rumah sakit menuju parkiran tanpa banyak bicara. Suasananya cukup sunyi dan temaram meskipun ada beberapa lampu di sana. Nara sendiri membisu, dengan jantung berdebar yang selalu dia rasakan tiap tangan Wilson menggenggam tangannya seperti ini. Rasa hangat itu menjalar hingga ke relung hati terdalam Nara, menimbulkan rasa nyaman dan aman ketika sedang bersama suaminya seperti ini. "Besok masuk pagi?" tanya Wilson memecah k
"Tahu gini dari kemarin kita desak bunda buat ngaku Pak." cerutu Rifai sembari membawa mobil pergi dari halaman panti. "Sudahlah, yang penting kita dapat tambahan info. Bunda tahu lebih banyak dan ini menguntungkan kita." ucap Wilson tenang dan sabar. Rifai melirik sekilas, pandangannya kembali fokus pada jalanan. "Bapak mau diantar pulang ke mana?"Tentu Rifai harus tanya ini, pasalnya semenjak menikah, Wilson memboyong Nara tinggal di unit apartemen daripada ikut tinggal di rumah orang tuanya. Jadi perlu dia tanyakan kemana bosnya ini ingin pulang. "Nara pulang jam sebelas malam nanti, Fai. Antar ke rumah sakit saja, setelah itu kamu bisa pulang."Rifai membelalak, nampak wajah itu begitu terkejut. Bukan apa-apa, ini masih pukul tujuh malam! Dan rentang waktu dari jam tujuh sampai sebelas, apa yang mau dilakukan bosnya ini di rumah sakit? "Bapak serius?" tanya Rifai memastikan. "Saya bisa antar Bapak nanti kalau Bapak mau, bagaimana kalau ki--""Nggak, Fai! Antar saya kesana se
"Masih balik koas? Kupikir udah enggak."Nara baru saja masuk ke kamar jaga koas, dan sosok itu sudah menantinya dengan tangan terlipat di dada. Nara hanya tersenyum menatapnya, ia tentu ingat, orang tua gadis ini turut hadir di pesta pernikahannya kemarin."Kenapa enggak? Aku masih pantas di sini." balas Nara tenang. Scarleta tersenyum sinis, maju selangkah hingga mereka cukup dekat saat ini. Matanya menyipit, nampak memperhatikan ujung kepala sampai ujung kaki Nara dengan tatapan menyelidik setengah mengejek. "Heran ya aku, apa bagusnya kamu sampai anak dokter Rina mau sama kamu? Sampai bang Elvan tergila-gila sama kamu?" Kembali Nara tersenyum dan membalas tatapan itu dengan sangat tenang. Dia tidak butuh menang untuk berdebat dengan perempuan ini, bisa sukses membuatnya kesal saja itu sudah sangat memuaskan bagi Nara. "Terserah apa katamu." balasnya sembari menatap mata itu dengan saksama. "Yang jelas, dibanding kamu, aku yang katamu nggak ada bagus-bagusnya ini jadi selera la
Samar-samar, ditengah rasa lelah, kantuk dan lemas yang menguasai Nara, ia merasakan ada sesuatu yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan kepala yang sudah tidak dapat lagi berdiri tegak. Rasanya hangat dan nyaman. Nara terlalu lelah sampai tidak mampu lagi membuka mata.Entah berapa lama mereka melakukannya tadi, Nara tidak menghitung. Ia bahkan lupa berapa kali dibuat Wilson memekik memohon ampun tadi, yang jelas, ketika cairan hangat itu menyembur dan memenuhi rahimnya, Nara sudah berdaya lagi. Kembali Nara merasakan ada benda kenyal, setengah basah mengecup dahinya, ada pula usapan lembut di dahi dan kepala Nara, membuat Nara benar-benar terbuai dan hanyut dalam mimpinya. Sementara itu, laki-laki yang beberapa saat yang lalu menguasai dan begitu mendominasi tubuh Nara, nampak duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari wajah Nara. Meskipun wajah itu sama lelahnya, namun seringai puas itu tergambar di sana. Senyumnya merekah, akhirnya setelah cukup l
"Ah!"Nara terkejut bukan main, ketika sosok itu membelakanginya yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi. Tangan Nara langsung mencengkram bathrope yang membungkus tubuhnya yang masih setengah basah. Tanpa membuang waktu, tubuh itu memutar, berdiri membalas tatapan terkejut yang Nara lemparkan ke padanya. Nampak ia tersenyum sinis, menatap tajam ke arah Nara dengan tatapan ganjil, sebuah tatapan yang makin membuat Nara mempererat cengkeramannya pada bathrope. "Tidak lupa kalau kita sudah menikah, kan? Kita tidur sama-sama mulai malam ini!" nampak ia membuka kancing di pergelangan tangan, sementara kancingnya yang lain, sudah terbuka dari atas sampai bawah, memperlihatkan dada dan permukaan perut lelaki itu yang tercetak sempurna. Tidur sama-sama. Mendadak Nara merinding mendengar kalimat itu, terlebih langkah kaki Wilson mulai terayun mendekatinya. Mampus!Wajah itu masih menyunggingkan senyum ganjil, dengan sorot mata tajam bercampur kilatan cahaya yang membuat otak Nara
Gaun ini .... Pantulan cermin membuat Nara terkesiap. Bukan hanya karena gaun yang dia kenakan, gaun yang Wilson minta tambahan lace sebagai penutup dada hingga tangan Nara, gaun yang akhirnya Wilson beli, tak peduli harganya puluhan juta. Makeup ala douyin yang viral itu, menjadi pilihan Nara untuk menyempurnakan penampilan di hari besarnya ini. Dilengkapi soflen warna grey berdiameter besar yang membuat Nara jadi macam boneka hidup."Jeje cantik sekali, Sayang!"Nara menoleh, Fatima hari ini juga menjelma bak bidadari, ya sejatinya dia memang ibu peri. Kebaikan hatinya dan keikhlasan merawat puluhan anak-anak yang bukan darah dagingnya menjadi kecantikan yang tidak bisa ditemui pada setiap orang. Senyum Nara merekah, sejenak matanya memanas. Fatima menggeleng cepat, meraih tangan Nara dan meremasnya lembut. "Jangan nangis! Nggak boleh!" tegas Fatima cepat. "Untuk hari ini, nggak boleh ada air mata. Ini momen seumur hidup kamu, Je, jadi harus senyum, gembira dan bahagia. Oke?"Na







