ログイン"Siap?"Nara hanya mengangguk, jujur ia sedikit kesulitan melangkah, namun ada Wilson yang tak pernah melepaskan tangan darinya, membuat Nara akhirnya yakin dan tidak lagi mempermasalahkan geraknya yang sedikit terhambat ukuran perut yang mulai membukit ini. Ia menapaki tanah yang mengering, untung musim kemarau, Nara tidak membayangkan bagaimana jika ia datang di musim penghujan. Berbeda dengan makam papanya, makam mamanya terletak jauh ditempat lain, cukup masuk ke dalam dan tidak diistimewakan seperti makam papa dan leluhur Nara dari pihak mereka. Mata Nara memanas, sehina ini ibunya di mata mereka sampai ketika sudah tak bernyawapun, mereka memisahkan mereka cukup jauh. "Jangan khawatir, makam mama kondisinya sudah lebih baik. Orang suruhan Fai selalu datang buat bersihin makam mama." ucap Wilson sembari terus memperhatikan langkahnya, memastikan langkah Nara tetap seimbang. "Terimakasih banyak ya, Mas. Makasih udah lakuin semua buat aku." ucap Nara dengan hati menghangat. "
Nirina segera memburu sosok itu ketika ia melihat ada yang tidak beres padanya. Mata Nirina menangkap dengan jelas gestur tubuh sang menantu yang setengah terburu melesat masuk sembari menutupi mulut dengan tangan. Benar saja! Begitu Nirina masuk ke toilet, ia mendapati Nara tengah jongkok di depan kloset sembari menumpahkan semua isi perut di sana. "Astaga, Je! Kamu kenapa?" Nirina panik, berusaha membantu Nara yang muntah-muntah hebat sepagi ini. "To-tolong, Ma." pinta suara itu lirih. "Sini-sini! Pelan, ya?" dengan hati-hati Nirina membantu Nara bangkit. Wajah itu pucat pasi, dengan keringat membanjiri wajah. Tanpa banyak bicara, Nirina segera membantu Nara membersihkan diri, membawanya perlahan keluar dari toilet dan mendudukkan Nara di kursi tak jauh dari sana. "Telat berapa minggu, Je?" tanya Nirina lalu ikut duduk. Nara terkesiap mendengar pertanyaan itu. Matanya membulat dengan tatapan terkejut. "Udah kamu cek?" kejar Nirina tak peduli Nara belum menjawab pertanyaanny
"Nih, Pak!" Rifai menyodorkan koper itu ketika mengantarkan dokumen yang diminta ke unit apartment Wilson. Entah berapa ronde lelaki ini semalam, hari ini Wilson bilang ingin urus semua pekerjaan dari unit apartemennya. "Saya nggak nyenyak tidur ada dia di kamar, Pak. Takut dirampok orang." lanjut Rifai dengan wajah kecut. Wilson yang masih terbungkus bathrope dan nampak baru selesai mandi, hanya terkekeh sembari membawa koper itu masuk ke dalam kamar. Rifai mencebik, dasar bucin! Cerah sekali wajah bosnya itu pagi ini? Ah namanya juga mengulang momen malam pertama. Rifai menarik napas panjang, matanya melirik ke sekeliling unit. Sepi. Apakah Nara sudah pergi ke rumah sakit? Tapi itu bukan urusan Rifai, biarkan aja apapun yang hendak dilakukan keduanya, tugas Rifai hanya semua yang berhubungan dengan urusan kantor. "Sudah sarapan, Fai?" Rifai terkejut, Wilson sudah kembali muncul, kali ini ia nampak santai dengan celana selutut dan kaos warna putih bersih. "Baru
Rifai menatap gemas layar ponsel, sambungan telepon sudah terputus, menyisakan rasa dongkol bercampur geli yang akhirnya membuat Rifai terkekeh sembari geleng-geleng kepala. "Bucin kali bos-bos!" gerutu Rifai sembari merogoh rokok yang ada di saku celana. Bosnya itu sedang berada di sebuah hotel sekarang. Untuk apa? Tidak perlu dijelaskan, Rifai sudah tahu apa agenda sepasang suami-istri itu.Memang apa yang akan mereka lakukan setelah pengakuan cinta itu sukses dan mendapat jawaban yang sesuai dengan harapan Wilson? Ia melirik koper yang kini teronggok di samping dipan kamar kostnya itu. Kenapa rasanya horor sekali menatap koper yang beratnya setara tubuh anak belasan tahun itu? Meskipun isinya bukan tubuh anak-anak, tapi berat kepingan logam mulia itu sama! "Bau-baunya habis ini ada yang bakalan honeymoon." desis Rifai sembari membuka jendela lebar-lebar. Sejenak ia menatap langit gelap yang menggantung, suasana sekitar yang hening, membuat otak Rifai terlepas dari segala penat
"Gelato?"Wilson menyodorkan cup berisi gelato rasa strawberry ke depan Nara, ia segera menerima cup itu, mencolek sedikit gelato dengan sendok kecil yang sudah satu paket pembelian. Mereka pergi ke sebuah kedai gelato di tengah kota, duduk di salah satu meja dengan gelato milik masing-masing. "Ketemu sama pak Bandi lagi tadi, Na?" tanya Wilson sembari menikmati gelato mix berries pilihannya. Nara mengangguk, ia mengigit sendok itu sembari menatap sang suami. "Dapat info apa lagi dari beliau?""Beliau bilang setelah mas Anggara pulih, berencana pulang dan menetap di Malaysia, Mas." jawab Nara apa adanya sesuai dengan apa yang tadi mereka bicarakan ketika Nara berkunjung ke sana. "Oh ya? Kenapa?"Nara tersenyum, menjeda beberapa detik untuk menelan gelato yang memenuhi mulutnya. "Pak Bandi males, nggak mau kalau harus ketemu lagi sama keluarga papa. Beliau juga pesan agar saya jangan sampai ketemu sama mereka."Wilson terdiam, meskipun begitu, Nara melihat raut serius itu menyel
"Non?"Nara tersenyum, merangsak masuk ke dalam dengan plastik di tangan. Nara meletakkan bungkusan itu di atas meja sofa, lalu mengulurkan tangan ke hadapan Subandi. "Kok malah ngerepotin gini, Non?" nampak mata Subandi berkaca-kaca, ia menerima uluran tangan itu dengan hati menghangat. "Repot apa sih, Pak? Bapak saya repotin belasan tahun malah."Bandi mempersilahkan Nara duduk, Nara melirik Anggara sekilas, nampak lelaki itu tengah pulas tertidur. "Itu amanat, Non. Bukan hal yang merepotkan sama sekali." Bandi menatap Nara dengan saksama, seulas senyum itu diikuti air mata yang menitik dari pelupuk mata. "Non bener-bener mirip bapak wajahnya!" desis Bandi lalu terisak lirih. Mata Nara memanas, ia ikut menitikkan air mata. Kenapa ia merasa iri pada Subandi? Lelaki ini dulu banyak menghabiskan waktu bersama ayahnya, sedangkan Nara? "Bapak punya banyak kenangan sama papa, ya?" ucap Nara lirih. "Saya malah kehilangan semua kenangan itu, Pak. Saya coba gali lagi, hanya samar-samar







