Share

Ch. 7 Tidur dengan Siapa?

last update Last Updated: 2025-10-01 14:58:20

Sherly tertegun, ia menatap nanar wajah yang menatapnya dengan pandangan menyalahkan tersebut.

Air mata Sherly menitik, hatinya teramat sakit. Luka dari kebohongan dan ucapan sang ibu tadi belum sembuh, tapi sudah ditimpa rasa sakit lain.

"Pak, selama ini, Sherly nggak pernah ngerepotin Bapak atau Ibu soal biaya sekolah,” ucap Sherly dengan suara bergetar. “Pun, setelah praktek, Sherly selalu kirim uang ke Bapak Ibu. Kenapa kuliah Sony sekarang jadi tanggungan Sherly? Memangnya Sony sendiri minat kuliah?”

Sang ayah menghela napas berat. “Sher, Sony itu anak laki-laki di keluarga kita. Tentunya dia harus sarjana,” jelas Darmono pada sang putri seakan-akan Sherly tidak bisa memahami hal sederhana itu. “Dia bantu tumpuan kita di masa depan.”

“Lalu Sherly ini apa, Pak?” balas Sherly. “Kalau Sony memang niat kuliah, dia nggak bakal main game sehari-hari gitu, Pak. Paling nggak belajar, atau cari uang selama ambil gap year. Bukan bergantung sama Sherly.”

“Sher, kamu ini anak pertama kami,” sahut Pak Darmono. “Kamu memang lebih cepat dewasa. Sher, adikmu itu masih kecil. Kamu seharusnya ngerti. Jangan egois jadi kakak.”

Sherly tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Setiap bulan, sepanjang tahun, ia mengirimi uang ke rumah untuk membantu keperluan. Bahkan jika sewaktu-waktu orang tuanya butuh dana darurat pun, Sherly tidak akan bertanya macam-macam dan mengirimkan uang.

Ia selalu menomorsekiankan kebutuhan dirinya sendiri demi mereka semua.

Namun, ini yang dia dapat?

Lelucon macam apa ini?

“Maaf, Pak. Kali ini, Sherly ingin jadi egois, meski cuma sekali,” ucap Sherly tegas. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi. 

“Nak, tunggu dulu. Kalau kamu nggak ada pemasukan, misal Ibu atau Bapak butuh uang gimana? Sherly!”

Tiba-tiba, tangan sang ayah mencekalnya saat dirinya baru beberapa langkah jauhnya dari rumah.

Namun, bersamaan dengan itu, rasa mual mendadak menyerang Sherly. Begitu mual membuat Sherly mengibaskan tangan Darmono dan tergesa-gesa menuju selokan tak jauh dari mereka. 

Lagi, Sherly muntah-muntah hebat. 

Perut Sherly seperti diaduk, keringat dingin mengucur, saat Sherly beres menumpahkan semua isi perutnya. Mendadak kepala Sherly terasa begitu berat, sementara tubuhnya berbanding terbalik, terasa begitu ringan dan perlahan pandangannya menggelap. 

“Sherly! Astaga, Sher!”

Di saat-saat terakhir kesadarannya masih tersisa, Sherly mendengar suara itu, suara riuh lain selain suara ayahnya, suara yang makin lama makin samar dan mendadak semuanya sunyi. 

***

Sherly mengerjapkan mata, perlahan-lahan ia mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Mata Sherly mulai terbuka, mengerjap dan menatap sekeliling dengan susah payah. Lampu terang yang ada di langit-langit sama sekali tidak membantu.

Ini … di mana? 

Tunggu! Bukankah tadi ia pingsan? 

Masih Sherly rasakan kepalanya begitu berat, tapi ia berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum penuh terkumpul dengan bangkit untuk duduk. 

Sreeek!

Tirai pemisah itu ditarik keras sebelum suara ibunya terdengar.

"Bagus! Sudah sadar kamu?" tanya suara itu ketus dan penuh kemarahan. 

Kening Sherly berkerut. Apa ibunya masih marah padanya karena perdebatan mereka tadi? 

Tiba-tiba–

PLAK! 

Belum sempat Sherly menanggapi, tamparan keras itu mendarat di pipi, dilayangkan oleh ibunya sendiri.

Di hadapan Sherly, Sari menatapnya dengan penuh murka. 

"Kamu bilang susah payah berjuang buat banggain orang tua? Ini yang kamu maksud banggain orang tua?" maki Sari membuat Sherly makin bingung. “Sekarang Ibu jadi ragu kamu ngapain aja di kota. Benar kamu kerja!? Bukan jual diri?”

Sepasang mata Sherly membelalak. “Bu! Kenapa–”

“Kalau bukan begitu, kenapa kamu bisa hamil!?” bentak Sari. “Dokter bilang kalau kamu lagi hamil! Sama siapa kamu hamil, hah!? Jawab!"

Tubuh Sherly menegang. Mulutnya ternganga karena informasi tersebut.

“Nggak,” gumam Sherly. Tubuhnya limbung mengingat malam panas dengan Gerrard itu. “Nggak mungkin … ini pasti salah.”

“Nih!” Sari melemparkan hasil pemeriksaan berikut foto USG dengan keterangan janin berusia 7 minggu. “Mau menyangkal gimana lagi kamu?”

Sherly mengambil berkas itu dan memeriksanya, sementara kepalanya terasa penuh.

Gerrard. Pasti malam panas dengan pria itu yang membuat Sherly hamil. Itu adalah kali pertama serta satu-satunya waktu ketika Sherly membiarkan dirinya disentuh sejauh itu. Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu pada orang tuanya, bukan?

Ia malu. Kesalahan ini adalah karena dirinya yang ceroboh dan patah hati. Namun–

Tiba-tiba Sari merebut berkas itu dari tangan Sherly.

“Jawab pertanyaan Ibu tadi, Sher. Kamu hamil dengan siapa?” kata Sari kemudian. 

Sherly menggeleng. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia tidur dengan konsulennya sendiri.

“Kamu nggak mau bilang apa nggak bisa bilang?” Sari berucap lagi. “Apa jangan-jangan kamu sudah tidur dengan terlalu banyak pria? Atau dengan suami orang, iya!?”

“Bu!” Sherly akhirnya bereaksi. Ia sudah nyaris menangis mendengar tuduhan ibunya.

“Bu, tenang dulu, Bu.” Darmono yang ada di sebelah Sari mencoba meredakan emosi sang istri. Sementara pada Sherly, beliau berkata, “Sher, jangan diam saja. Jawab ibumu. Jangan buat kami kecewa lebih jauh.”

Ucapan sang ayah lebih menohok Sherly dibanding hujatan sang ibu. Apakah … kedua orang tuanya benar-benar berpikir ia gadis seliar itu?

“Pak, aku benar-benar nggak bisa bilang,” ucap Sherly, nyaris menangis sekarang. “Tapi Sherly akan tanggung jawab. Ini kesalahan Sherly sendiri. Biar Sherly–”

“Memalukan!”

Tangan sang ibu kembali terangkat, membuat Sherly langsung memejamkan mata.

Namun, tidak ada suara tamparan yang terdengar.

Saat Sherly membuka mata, di sanalah pria itu. Berdiri di hadapannya, seakan tengah melindungi Sherly dari amukan ayah dan ibunya. Tatapan mata hitam itu tampak tajam dan tegas, sementara rahangnya mengeras. 

Suara pria itu terdengar dingin saat mengatakan, “Sekali lagi Anda menyentuhnya, saya bisa pastikan Anda akan menyesal.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Wahyu Ratna
penasaran...
goodnovel comment avatar
Rheia
kayanya Gerald ngikutin deh, ydh nikah aja lgsg bw sherly dr kelg toxic
goodnovel comment avatar
Janni Qq
ayok kak up yg banyak......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 222 Foreplay (21+++)

    Evelyn baru saja membuka pintu, namun ia sudah dibuat terkejut dengan Bastian yang berdiri sembari bersandar tepat di samping pintu. Melihat Evelyn keluar dari kamar, senyum di wajah itu melebar. Ia segera beranjak dari tembok, mengulurkan tangannya ke depan Evelyn. "Siap pulang dan memulai hidup baru bersamaku?" tanyanya tanpa melepas senyum. Senyum itu begitu lepas, manis dan menawan! Evelyn ikut tersenyum, menerima uluran tangan suaminya dan mengangguk dengan mantap. "Ya! Tentu!" jawabnya cepat. Bastian segera mengamit tangan itu, membawanya menyusuri lorong yang akan membawa mereka menuju halaman parkir. Tidak ada percakapan, namun genggaman tangan itu seolah menjelaskan semuanya, tentang rona bahagia di sorot mata sejoli itu dan ucapan rasa syukur yang tidak terucap dari mereka. Dengan sigap, Bastian membuka pintu mobil, mempersilakan permaisurinya masuk ke dalam. Sebenarnya adegan itu bukan sekali-dua kali mereka lakukan, hanya saja kali ini mereka melakukan adegan itu deng

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 221 Pesta Usai

    Rumah joglo demi outdoor itu sudah sepi, hari sudah menjelang sore. Sebuah pertanda bahwa acara sakral dan intim Evelyn dan Bastian purna sudah. Jika beberapa saat yang lalu Tjipto berpamitan setelah menejejalkan sebuah amplop cokelat cukup besar ke tangan Evelyn, kini Aji beserta Gerrard sekeluarga yang hendak berpamitan. Aji benar-benar tidak mampu berkata-kata lagi, ia terus terisak, membuat Evelyn ikut menangis. Padahal beberapa saat sebelumnya, ia sibuk tertawa bersama keluarga yang lain, saling berswafoto dan bercengkrama karena memang sudah lama tidak bersua."Pa, ngomong gitu lah. Masa nangis mulu!" tegur Gerrard gemas. Aji menyeka air mata, melirik kesal ke arah Gerrard yang seperti tengah meledeknya itu. "Papa tunggu kamu nikahin anak perempuan kamu besok, Ge!" ucap Aji setelah bungkam sejak tadi. Gerrard terkekeh, keisengannya makin menjadi. "Dibikin aja belum, Papa udah main ancam aja." balas Gerrard yang langsung mendapat gebukan dari Sherly. Tidak sopan sekali sua

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 220 Dilema Di Tengah Bahagia

    Bastian segera menarik tubuh itu hingga jatuh ke dalam pelukannya, tangisnya pecah. Bastian benar-benar menangis sembari mendekap tubuh itu erat-erat, tak peduli dengan sorak-sorai keluarga dan tepuk tangan meriah yang segera menggema memenuhi ruangan. Dada Bastian rasanya seperti ingin pecah, ia begitu bahagia. Sangat bahagia sampai-sampai dia kehilangan semua kata-kata.Semua prosesi suci itu telah usai, kini tidak ada lagi sekat yang membatasi mereka. Mereka sudah menjadi satu, disatukan bukan hanya oleh cinta, tetapi juga janji suci di depan Tuhan untuk terus selalu bersama."Mulai detik ini, aku yang ambil semua tanggungjawab papa atas kamu, Lyn." Bisik Bastian lirih, ia melepaskan pelukan itu, menatap Evelyn yang matanya memerah, mereka sama-sama menangis. "Siap untuk arungi semua deras kehidupan bersamaku, kan?"Evelyn menyeka air matanya dengan hati-hati dan perlahan. Ia balas menatap wajah itu, mengabaikan semua tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar mereka."Kalau ak

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 219 Ini Jadi Nikah?

    Suasana kamar itu sedikit riuh, suara derap langkah terdengar lalu-lalang. Bau semerbak dari bebungaan menguar, membuat Evelyn cukup rileks tak peduli sejak tadi tangannya berkeringat. Ia duduk di depan cermin tanpa banyak bicara, patuh dengan apapun yang laki-laki kemayu itu perintahkan kepadanya. Lapis demi lapis kosmetik mulai ditempelkan pada kulit wajah, dipulas dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Beberapa kali Evelyn menarik napas panjang, sembari meremas-remas tangannya sendiri yang terasa dingin. Kebaya dengan nuansa putih gading terpasang pada manekin. Cukup sederhana namun 'sakral'. Lengkap dengan sepatu warna senada dan tak lupa kain jarik bernuansa cokelat tanah yang gelap. "Tegang banget sih, Dok?" goda si perias sembari nyengir lebar. Evelyn tersenyum, melirik lelaki berkulit bersih itu sekilas. "Panggil Evelyn aja, Kak. Kan lagi nggak di rumah sakit." ucap Evelyn kembali fokus pada pantulan cermin. "Oke deh oke! Rileks dulu ya, jangan tegang. Habis ini mau bere

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 218 Sakit Kepala!

    "Kamu ini niat nikah nggak sih, Bas? Besok loh nikah, ini masih kerja kamu?"Bukan sambutan hangat yang Bastian terima di apartemennya, melainkan omelan dari Jihan yang sudah memasang wajah masam. Melihat sang ibu sudah dalam posisi begitu, Bastian hanya tersenyum. Merangkul ibunya dan membawanya duduk di sofa. "Kan besok cuma peresmian sama intimate party, Ma. Lagian semua udah diurus sama WO, kita cuma tinggal ikuti instruksi mereka dan selesai."Jihan mendengus, ia melirik ke arah Bastian dengan gemas. "Udah kamu pastiin semua oke?" Bastian merogoh ponsel, membuka kunci layar dan menunjukkan room chat itu pada sang ibu. Ada beberapa foto, video di sana, nampak Jihan menatap layar ponsel dengan saksama. "Sebelum pulang, Bas udah mampir ke sana dan cek semuanya, Ma. Udah nggak ada yang perlu dikhawatirkan." jawabnya dengan nada serius. "WO ini terpercaya, langganan artis papan atas, nggak mungkin nipu kayak yang viral kemarin."Jihan masih sibuk menyimak percakapan yang ada di sa

  • Malam Panas Tak Terlupakan dengan Konsulenku   Ch. 217 Sebelum Esok Hari

    "Kenapa kamu nggak bilang kalau yang mau kamu nikahin itu adeknya si Ge, Bas!" omel suara itu dari seberang telepon. "Apa pentingnya aku harus lapor ke kamu siapa perempuan yang mau aku nikahi? Kamu bukan ibuku!" sahut Bastian enteng. "Tapi setidaknya biarkan aku tahu!"Bastian tersenyum sinis, ia menatap jadwal operasi yang tertempel di kamar istirahat para dokter yang ada di dalam OK. Bahkan besok menikahpun, Bastian masih harus bekerja, benar-benar totalitas tanpa batas! "Itu bukan ranahmu, Cy. Sudah aku tekankan berkali-kali, jangan campuri urusan pribadiku!" tegas Bastian dengan nada tak suka. "Kita sekarang cuma partner rawat Albert sama-sama, tidak ada hal lain lagi."Hening. Hanya helaan napas panjang berkali-kali yang Bastian dengar. Bastian sudah jemu, ia hendak menutup sambungan telepon ketika suara itu kembali menyapanya. "Lupakan permintaanku kemarin, Bas. Anggap saja aku tidak pernah meminta sesuatu kepadamu." ucap suara itu lirih. "Dia tidak tahu tentang ini, kan?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status