Share

Bab 107

Penulis: Dewiluna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-24 23:03:30

“Mereka sudah tau.” Rafael menjawab tak peduli.

Pria itu menjauhkan sendok setelahnya. Suasana jadi berubah tak nyaman.

Tania menghela pelan. Makanan yang sebelumnya lezat, berubah hambar. Ini salahnya.

“Maaf, aku harusnya tidak merusak selera makanmu.” Tania ikut menjauhkan piring.

Sekarang, makanan mereka jadi bersisa. Rafael terdiam sesaat. Pria itu terlihat sedang memendam kesalnya.

Namun, tak lama tangan Rafael kembali bergerak. Pria itu menghabiskan sisa makanan di piringnya.

“Tidak perlu pedulikan orang tuaku. Aku sudah cukup dewasa untuk mengurus hidupku sendiri,” tutur Rafael.

“Aku yakin aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali!” Sikap sinis Rafael kembali.

Sepertinya, topik orang tua adalah hal yang tidak disukai Rafael. Namun, Tania tak bisa berhenti membicarakannya.

“Enggak boleh marahan sama orang tua, nanti jadi anak durhaka gimana?” Tania mencoba menasihati.

Rafael tidak menjawab. Pria itu memilih beranjak dari kursi dan kembali ke sofa.

Tania melihat Rafael y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 31

    Tangan Tania bergerak panik. Ia melarikan pandangan kesana-kemari untuk mencari alasan. Namun, di dalam ruangan VIP di mana hanya ada mereka bertiga, tak ada apa pun selain makanan. “Aku tadi mau keluar cari obat, tapi ternyata sudah baikan.” Suara Tania bergetar saat ia berbohong. Tania tak bisa memikirkan alasan lain. Ia cuma bisa melihat piring di hadapannya, lalu teringat tentang rasa sakit di perutnya sehabis minum kemarin. “Aku udah enggak apa-apa sekarang,” sambung Tania dengan suara yang lebih tenang. Di samping Tania, Bryan berusaha menahan senyum. Pria itu sama sekali tidak memiliki empati. Padahal Bryan yang membuat Tania tersudut begini!“Mungkin Pak Rafael perlu mengantar Bu Tania ke dokter. Saya tidak masalah sama sekali,” ujar Bryan sok pahlawan. Tania mencibir tanpa suara. Ia menyumpah Bryan dalam hatinya. “Kita bisa makan bersama lain kali. Atau … Pak Rafael boleh mengundang saya secara pribadi di

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 30

    Di dalam ruang VIP restoran ini, Tania hanya bisa meringis. Sial sekali. Rafael meminta semua asisten beristirahat, jadi hanya tersisa mereka bertiga di dalam ruangan. Tak ada yang bisa melihat bagaimana tangan Bryan begitu aktif mengelus kedua paha Tania. “Cabernet Sauvignon yang Mr. Ziv bawa sangat luar biasa. Saya belum pernah mendapati wine yang seharum itu.” Rafael masih terus memuji penuh takjub. Pria itu tidak sadar jika istrinya sedang digoda di depannya. “Jangan lupakan Pinot Noir, Pak Rafael. Itu juga istimewa,” sahut Bryan. Kedua pria itu sibuk bicara dengan Tania yang ada di tengah mereka. Sedangkan Tania, hanya terduduk kaku. Ia memegangi ujung rok sambil sesekali mendelik sinis pada Bryan. Kesabaran Tania hanya berlangsung selama lima menit. Ia berdiri saat tangan Bryan menyentuh area privasinya di bawah sana. “Maaf!” ujar Tania menyela. Ia meminta izin ke toilet. Mendengar u

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 29

    “Siang, Pak Rafael. Saya juga baru datang,” jawab Bryan santai. Tania memicing untuk melihat noda lipstik di bibir Bryan, tapi tak ada sama sekali. Mereka beruntung. “Saya baru saja membahas kontrak dengan Bu Tania,” sambungnya. Tania mendelik saat melihat Bryan yang menahan senyum padanya. Pria gila itu benar-benar sudah membuat Tania lemas. Kedua lututnya terasa seperti jelly karena panik. Dan Bryan melihatnya. “Ada apa? Apa Bu Tania lelah?” Bryan malah membuat Tania menjadi pusat perhatian. “Tidak, lututku sedikit gatal,” elak Tania cepat. Ingin sekali Tania mencolok kedua mata Bryan yang menatapnya mengejek. Pria itu benar-benar ingin mempermalukannya. Tania sempat mendelik kesal pada Bryan sebelum Rafael menegurnya. Perhatian sang suami lah yang membuat Tania teralih. “Ayo kita duduk saja,” ajak Rafael seraya menggandeng Tania ke sofa. Seketika raut wajah Bryan berubah, yang sebelumnya me

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 28

    “Apa kamu rindu padaku?” Bryan langsung memepet Tania di dalam ruang kerjanya di Grand Velora. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Tania sudah merapat ke dinding. “Jangan macam-macam di sini, Bryan,” ujar Tania mengingatkan. Bryan terkekeh. Pria itu tidak menganggap peringatan Tania. Sekarang, tangan Bryan malah sibuk membelai pinggang Tania manja. “Kenapa? Asistenmu sudah pergi,” sahut Bryan. Pria itu dengan lihainya meminta Farah membuatkan kopi agar tidak mengganggu mereka. Sementara asisten Bryan, Erik, berpura-pura tidak melihat apa yang mereka lakukan sambil berjaga di depan pintu masuk. “Jangan!” Tania masih mencoba menolak, tapi Bryan jelas tidak mendengar. Sebuah kecupan hinggap di bibir Tania tanpa peringatan. Senyum terukir lebar di wajah Bryan. “Melihat kamu yang baik-baik saja, artinya malam itu kamu sukses memberikan alasan. Apa yang kamu katakan pada suamimu?”Tania melotot. Ia lang

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 27

    “Ini. Minumlah dulu.” Rafael menyodorkan segelas teh madu hangat pada Tania. “Aku sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi sampai.”Seketika, Tania kembali merasakan perih di ulu hati. Perhatian Rafael kali ini bukan membuatnya senang, malah malu. “Aku mau ke kamar mandi.” Tania melarikan diri. Teh yang dibuat oleh Rafael sama sekali tidak disentuh olehnya. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya di sana. Sungguh, Tania merasa kotor. Otaknya mulai memuat ingatan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bryan. Saat pria itu memeluknya, mengecupnya, menjamahnya. Rasa bersalah menusuk Tania, membuatnya berdarah tanpa luka. Kran air sengaja Tania buka untuk menutupi tangis. Tangannya gemetar. Kedua matanya menatap kosong ke arah bathtub yang perlahan terisi. Gemericik air membuat Tania tersadar dari lamunan. Ia melangkah masuk saat air sudah meluap. Air dingin itu menusuk, m

  • Malam Penuh Gairah Bersamamu   S2 Bab 26

    “Sudah bangun?” Tania membuka mata dan mendapati wajah Bryan di depannya. Kaget, Tania langsung bangun. Namun, tubuhnya limbung ke sisi sofa. Tubuh Tania hampir menabrak lantai yang dingin jika Bryan tak cepat bergerak. “Tidak perlu sampai seperti ini kalau kamu mau dipeluk,” ejek Bryan. Tak ada balasan. Tania hanya mendengus pelan. Ia belum bisa merespon apapun karena masih sibuk dengan rasa sakit di kepalanya. “Apa yang terjadi?” Tania mulai bertanya saat ia sudah bisa melihat dengan jelas. Pemandangan di depannya masih sama. Tania dan Bryan masih ada di ruang VIP di dalam klub. Mereka berbincang tentang kontrak, lalu Bryan memberikan syarat. Tania minum banyak, dan setelahnya….“Ini jam berapa?!” Kesadaran Tania yang kembali, langsung membuatnya panik. Ingatan sebelum mabuk mulai menerjang Tania bagai air bah. Ia keluar rumah di saat malam telah larut. Dan Tania sudah tak tahu sudah berapa lama dirinya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status