Mag-log in“Kamu kenapa?” Fera menyapa Tania yang baru datang.
Bibir Tania cemberut. Wajahnya masam karena kesal. Apalagi alasannya kalau bukan Rafael.Rafael belum juga membalas pesannya sampai sekarang. Sudah lima hari berlalu, dan pesannya terbaca tanpa dibalas!“Enggak apa-apa,” sahut Tania tak bersemangat.Ia menanyakan Tasya kemudian, untuk sekedar mengalihkan pembicaraan. Tania tak mau Fera bertanya lebih banyak.“Tasya shift siang,” jawab Fera singkat.Tidak ada pembicaraan lagi karena Nico datang tak lama kemudian. Manajer itu memberitahukan reservasi grup untuk besok.“Pastikan kalian melayani dengan baik karena mereka adalah tamu-tamu VIP,” ujar Nico.Tania dan Fera mengangguk bersamaan. Tania mengucap syukur dalam hati. Romi memintanya datang ke pengadilan hari ini. Kalau jadwalnya besok, mungkin Tania harus mengucapkan maaf pada pria itu.Tak lama setelah Tania menyebutkan nama Romi dalam hati“Apa kamu rindu padaku?” Bryan langsung memepet Tania di dalam ruang kerjanya di Grand Velora. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Tania sudah merapat ke dinding. “Jangan macam-macam di sini, Bryan,” ujar Tania mengingatkan. Bryan terkekeh. Pria itu tidak menganggap peringatan Tania. Sekarang, tangan Bryan malah sibuk membelai pinggang Tania manja. “Kenapa? Asistenmu sudah pergi,” sahut Bryan. Pria itu dengan lihainya meminta Farah membuatkan kopi agar tidak mengganggu mereka. Sementara asisten Bryan, Erik, berpura-pura tidak melihat apa yang mereka lakukan sambil berjaga di depan pintu masuk. “Jangan!” Tania masih mencoba menolak, tapi Bryan jelas tidak mendengar. Sebuah kecupan hinggap di bibir Tania tanpa peringatan. Senyum terukir lebar di wajah Bryan. “Melihat kamu yang baik-baik saja, artinya malam itu kamu sukses memberikan alasan. Apa yang kamu katakan pada suamimu?”Tania melotot. Ia lang
“Ini. Minumlah dulu.” Rafael menyodorkan segelas teh madu hangat pada Tania. “Aku sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi sampai.”Seketika, Tania kembali merasakan perih di ulu hati. Perhatian Rafael kali ini bukan membuatnya senang, malah malu. “Aku mau ke kamar mandi.” Tania melarikan diri. Teh yang dibuat oleh Rafael sama sekali tidak disentuh olehnya. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya di sana. Sungguh, Tania merasa kotor. Otaknya mulai memuat ingatan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bryan. Saat pria itu memeluknya, mengecupnya, menjamahnya. Rasa bersalah menusuk Tania, membuatnya berdarah tanpa luka. Kran air sengaja Tania buka untuk menutupi tangis. Tangannya gemetar. Kedua matanya menatap kosong ke arah bathtub yang perlahan terisi. Gemericik air membuat Tania tersadar dari lamunan. Ia melangkah masuk saat air sudah meluap. Air dingin itu menusuk, m
“Sudah bangun?” Tania membuka mata dan mendapati wajah Bryan di depannya. Kaget, Tania langsung bangun. Namun, tubuhnya limbung ke sisi sofa. Tubuh Tania hampir menabrak lantai yang dingin jika Bryan tak cepat bergerak. “Tidak perlu sampai seperti ini kalau kamu mau dipeluk,” ejek Bryan. Tak ada balasan. Tania hanya mendengus pelan. Ia belum bisa merespon apapun karena masih sibuk dengan rasa sakit di kepalanya. “Apa yang terjadi?” Tania mulai bertanya saat ia sudah bisa melihat dengan jelas. Pemandangan di depannya masih sama. Tania dan Bryan masih ada di ruang VIP di dalam klub. Mereka berbincang tentang kontrak, lalu Bryan memberikan syarat. Tania minum banyak, dan setelahnya….“Ini jam berapa?!” Kesadaran Tania yang kembali, langsung membuatnya panik. Ingatan sebelum mabuk mulai menerjang Tania bagai air bah. Ia keluar rumah di saat malam telah larut. Dan Tania sudah tak tahu sudah berapa lama dirinya
Kepala Tania terhuyung ke belakang, dan Bryan menangkapnya dengan sigap. Ia menarik Tania ke dalam pelukan, membuat wanita itu bersandar padanya. “Kenapa harus mabuk begini?”Bryan melihat wajah Tania yang memerah sempurna. Ia mendengar wanita itu meracau, menggunakan kalimat yang tidak jelas. Kepala Tania terus bergerak, sampai akhirnya berhenti di pangkuan Bryan. Melihat bibir ranum Tania, Bryan tak bisa menahan diri. Perlahan, Bryan menunduk. Ia mendaratkan kecupannya di bibir Tania. Tak puas, Bryan membaringkan tubuh Tania di sofa. Kepalanya semakin panas akan gairah. Tak berniat menunggu, Bryan menindih Tania. Dari atas, ia mengulum senyum kemenangan. “Hhh…. Berhenti….”Napas Tania menderu saat tangan Bryan sibuk bergerilya. Pakaian Tania sudah berantakan. “Jangan suruh aku berhenti,” bisik Bryan tepat di telinga Tania. “Aku sudah memberikan apa yang kamu mau.” Di atas meja, ada map yang ber
“Hanya menemani.” Tania mendorong dada bidang Bryan. Kedua mata Bryan memicing. Pria itu tampak tak suka dengan apa yang Tania ucapkan. Namun, Bryan sama sekali tidak membantah. Detik berikutnya, Tania malah mendengar suara tawa dari Bryan. Tangan Bryan terulur, menyusuri rambut Tania, membelainya lembut. “Ada banyak cara untuk menemani, kan?” ucap Bryan menggoda. “Tanda tangani kontraknya dulu,” sahut Tania. Ia tak mau mengalah. Jelas Tania tak ingin rugi. Sangat banyak resiko yang harus Tania hadapi. Jadi ia ingin memastikan semuanya dibayar pantas. “Aku sudah ada di sini. Kamu tak punya alasan untuk menolak, Bryan,” tegas Tania.“Siapa yang bilang aku akan menolaknya?” Bryan mengambil map yang Tania sodorkan, tanpa membuka isinya. Map itu dilemparkan ke sudut meja. Sementara Bryan sibuk menarik Tania ke dalam pelukan. Tania mencebik saat tubuhnya dibawa ke atas pangkuan Bryan. “Bryan!” Tania
“Apa aku harus membiarkannya masuk ke dalam rumah? Ia bisa dianggap sebagai tamu?” Kedua kaki Tania tak berhenti bergerak sejak tadi. Ia memutari kamarnya sendiri, seolah hal itu mampu memberikannya jalan keluar. “Enggak. Bryan enggak akan menandatangani kontrak kalau aku ragu seperti ini. Ia sedang mengujiku.”Tania sangat ingin Bryan menyetujui kontrak mereka. Ia mau pria itu memberikan semua hak eksklusif untuk minumannya, andai bisa. “Harus bisa. Akan aku lakukan.” Tanpa menunggu, Tania mengganti pakaian. Ia mengenakan kaos polos dan celana kulot. Tania menyempatkan diri mengecek Rafael, dan ia bisa mendengar suara Rafael dari kejauhan.Dalam langkah yang pelan, Tania berjalan keluar. Ia berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan, tapi juga tetap berhati-hati. Di luar pagar, Tania mengecek handphone. Layarnya menyala. Bryan menghubunginya. “Kita berjodoh,” ucap suara dari seberang. Tania







