LOGINAku sudah di depan rumahmu. Otak Tania seketika kosong. Ia mengangkat wajah, memandang Agus yang masih menatapnya penuh amarah. Sudah satu jam berlalu dan ia telah diceramahi habis-habisan oleh Anggi. Meski itu lebih baik daripada sang ayah yang hanya menatapnya tajam. Kebisuan Agus membuat Tania sesak. “Setelah pria itu datang, langsung selesaikan dengannya,” ucap Anggi untuk kesekian kali. Ibunya itu masih membujuk dengan lembut, meski Tania tahu jika Anggi sangat marah dan kecewa. Tidak seperti sang ayah, yang hanya terus berteriak padanya. Tania tahu jika dirinya salah. Tapi, memangnya manusia mana yang tak pernah berbuat kesalahan?“Dia sudah datang,” ucap Tania pada akhirnya. Ia tak bisa terus membiarkan Bryan menunggu. Sendirian di malam hari, di depan rumah orang lain, Bryan bisa saja dituduh sebagai pencuri. “Bagus. Cepat bawa dia ke hadapanku.” Agus menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sadar jika sang ayah sedang mencoba mengeluarkan aura superiornya, Tania tak m
Tania tidak bisa. Ia tak mau memanggil Bryan. Jika Bryan sampai datang, kedua orang tuanya pasti akan langsung memaki Bryan. Bahkan mungkin menyakitinya. “A-ayah,” panggil Tania dengan suara bergetar. Ia masih takut, tapi memilih untuk terus bicara. “Enggak perlu libatkan orang lain. Cukup hukum aku saja.”Bingkai foto yang ada di atas nakas tiba-tiba melayang di udara. Untuk sedetik kemudian beradu dengan lantai menjadi serpihan.Tania menjerit kaget. Pecahan kaca itu menggores pipinya. “JANGAN MEMBUATKU BICARA DUA KALI!” Teriakan Agus membuat Rafael menarik Tania mundur. Darah mengalir di pipi Tania, tapi Tania malah sama sekali tak peduli. Tania membiarkan Rafael mengusap wajahnya lembut, membersihkan luka yang menempel dengan sehelai tisu di tangan. “Kamu enggak apa-apa?”Tak ada respon untuk pertanyaan Rafael. Tania masih mematung, memandang Agus tanpa berkedip. “Lakukan, Tania. Sekarang!” Bentakan Agus membuat Tania meluruh ke lantai. Ia biarkan pecahan kaca itu menusuk
“A-ayah?” Suara gagap dan panik Tyo membuat seisi ruangan menoleh. Di lorong, ada Agus yang berdiri dengan Zayne dalam gendongannya. Seluruh tubuh Tania membeku. Ia langsung menunduk, takut. Kedua tangannya mengepal erat dengan buku-buku jari yang memutih dan kuku yang menancap tajam. “Sejak kapan Ayah di sini?” Pertanyaan Tyo membuat Tania gemetar hebat. Membayangkan jika Agus sudah mendengar semua percakapan mereka cukup untuk membuat Tania tercekat, kehabisan napas. Jantungnya bertalu keras. Getaran tubuhnya semakin hebat. Kedua kaki Tania mendadak lemas. Susah payah ia menahan agar dirinya tidak limbung ke sisi. “Jangan khawatir,” ucap Rafael seraya mengulurkan tangan. Suara Rafael yang tenang bagaikan angin sejuk untuk Tania. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Tania akui, ia memang wanita tak tahu malu. Ia akan membiarkan Rafael membelanya. Tania tak bisa berkutik di hadapan Agus. Ia tak berani mencoba. “Temani Zayne.” Agus menyerahkan Zayne pada Tyo. Sem
“Maaf,” cicit Tania. Kepalanya menunduk dalam. Ia terlalu malu untuk menatap Anggi. Tania mengira semua akan baik-baik saja asalkan ia bahagia, tapi kenapa sekarang ia merasa begitu sesak? “Kenapa minta maaf ke Ibu?” Anggi menyahut dingin. Rasa kecewa terdengar dalam suara Anggi yang bergetar. Andai Tania mendongak, ia bisa melihat wajah penuh kecewa Anggi. “Kamu tau kan, harus melakukan apa?” Lidah Tania kelu sekarang. Ia tahu maksud Anggi. Tania harus meminta maaf ke Rafael, tapi itu artinya hubungannya dengan Bryan juga harus berakhir. Tania tak ingin berpisah dari Bryan. Ia tidak mau kehilangan satu-satunya matahari, yang mampu membuat harinya hangat. Tania tak bisa. Ia tak ingin. Perlahan, kepala Tania bergerak. Ia memberanikan diri menatap Anggi. Kedua tangannya terkepal erat. Tania menarik napas perlahan. Ia … akan bicara. “Tania bisa minta maaf ke Rafael, tapi Tania mau tetap bersama Bryan, Bu–” “Tania!” Bentakan Anggi membuat Tania menutup mulut seketika. Di depanny
“Tania, Ibu mau bicara sama kamu.” Tubuh Tania menegang seketika. Ia baru datang, hendak menjemput Zayne bersama Rafael. Harusnya tinggal langsung berpamitan dan pulang, tapi kenapa Anggi mengajaknya bicara? “Bicara apa, Bu?” Tania sudah was-was. Seluruh kemungkinan berkelebat dalam otaknya. Wajah Anggi yang muram membuat Tania berpikir keras. Kira-kira kesalahan apa yang ia lakukan? Tak mungkin, kan?“Biar Zayne bermain dengan Rafael sebentar. Kamu ikut Ibu ke kamar.” Tania menautkan kedua tangan, lalu meremasnya lembut. Ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, berusaha keras agar tidak terlihat mencurigakan. “Kenapa enggak bicara langsung aja di sini?” Tania melirik ke arah Rafael, juga adik dan ayahnya yang masih ada di ruang tamu. Ketiganya sedang bermain bersama Zayne. “Enggak. Kamu aja. Ini masalah … perempuan.” Anggi mencoba memberi alasan.Jawaban Anggi terdengar sangat mencurigakan di telinga Tania, dan tentu ia ingin menolak. Namun, Anggi terus saja berbic
“Mommy? Kenapa marah?” Wajah Zayne bingung, membuat Tyo seketika tahu jika ia mungkin harus mengganti pertanyaannya. Mungkin tidak bisa langsung ke inti masalah. “Enggak, Mommy enggak marah,” ralat Tyo. Anggi menyela Tyo dengan memberikan satu cubitan di perut putra bungsunya. Tyo mengaduh panjang, tapi pelototan Anggi membuatnya ciut sendiri. “Tanya yang benar!” Anggi misuh-misuh. Tyo jelas kalah menghadapi sang ibu. Ia pasrah saja dimarahi, tak menyahuti omelan Anggi sama sekali. Ia malah sibuk memutar otak, menyusun pertanyaan. “Itu … Om mau tau, kalau kemarin-kemarin Zayne di rumah main apa?”Pertanyaan yang tidak berkaitan itu membuat Tyo mendapatkan tatapan tajam dari Anggi, tapi ia langsung menenangkan Anggi. Tyo punya rencana. “Main mobil-mobilan, kereta, terus baca buku,” sahut Zayne lancar. Tyo menganggukkan kepala puas. Zayne sudah masuk ke dalam alur yang ia buat. Sekarang, tinggal melanjutkannya. “Kayaknya seru, ya!” ujar Tyo dengan suara yang dibuat riang. “Zayn
“Persiapan The Crown Level sudah 50 persen, Pak Rafael. Setelah ini kita bisa fokus ke SOP, staf, dan inventory.” Dika memegang map laporan di tangannya. Di depan Dika, ada Rafael yang berpangku tangan. Rafael duduk di kursi kebesaran dalam ruang kerjanya di Grand Velora. Rafa
“Zayne sudah tidur?” Tania menoleh. Ia melihat Rafael di depan pintu kamar Zayne. Ternyata suaminya itu masih menunggu. Padahal, Tania sengaja berlama-lama di kamar Zayne. Sudah sejak tadi anak kecil itu tertidur. Tania hanya tak ingin keluar dan menghadapi Rafael. Ia takut ditanya. Tania tak ing
“Bryan, hentikan!” Tania memekik marah. Mereka masih ada di dalam mobil, tepat di tempat parkir perusahaan Bryan. Harusnya mereka janjian di cafe, tapi Bryan malah menarik Tania masuk ke dalam mobilnya. “Bryan!” Tania mencoba menahan tangan Bryan yang sibuk meraih kancing bajunya. Wajah Bryan me
“Sama sekali tidak masalah, Mr. Ziv. Kebetulan itu memang terkadang datang tiba-tiba,” ujar Tania seraya melebarkan senyumnya. Ia berusaha bicara setenang mungkin. Di depan tamu-tamu acara soft launch The Crown Level, Tania tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Lagipula, acara ini bukan hanya







