Share

Bab 3

Author: Star Harvest
Riko sibuk mencari barang di dekat pintu dengan terburu-buru, tetapi matanya sesekali melirik ke arah tempat tidur.

Meskipun posisi tidur miringku saat ini menutupi keberadaan Toni, jika Riko berjalan mendekat, dia pasti akan menyadari ada yang tidak beres.

Sebuah sensasi mendebarkan yang tak terlukiskan, membuat seluruh tubuhku terangsang.

Ini terlalu memicu adrenalin! Benar-benar sangat memicu adrenalin!

Aku bisa merasakan wajahku pasti sudah semerah tomat. Jangan sampai Riko melihatnya.

Dalam ketakutan itu, saat aku hendak mendorong Toni, aku merasakan salah satu tangannya yang tadi meremas dadaku ditarik kembali.

Tepat saat aku merasa lega, tangan yang ditarik itu malah mencengkeram gaun tidurku.

Dia perlahan menyingkap gaun tidurku ke atas.

Apa yang ingin dia lakukan?

Tangan hangatnya menyapu lembut kulit pahaku seiring gerakannya, seolah membawa aliran listrik. Kedua kakiku mulai gemetar tanpa kendali.

Bocah nakal ini, beraninya dia menindasku di depan suamiku sendiri.

Sialnya, aku tidak berani bersuara untuk menghentikannya.

Mungkin karena merasakan getaran tubuhku, Toni menjadi lebih berani. Tangan besarnya merayap menuju area di antara pangkal pahaku.

Aku menggigit bibir kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara.

Mendengar suara gemeresik dari arah Riko, seperti sedang menggeledah kantong plastik dengan suara yang cukup keras, aku segera menunduk dan berbisik pelan pada Toni, "Cepat lepaskan aku! Toni ... kalau kamu terus begini, Aku bisa kehilangan kehormatanku. Aku ... aku nggak mau selingkuh. Riko masih di sini, jangan ... jangan ...."

Jika Toni terus melanjutkan ini, aku takut aku tidak akan bisa menahannya lagi.

Namun, bukannya berhenti, kata-kataku justru membuat Toni semakin bersemangat.

Toni menatapku dengan tatapan penuh pemujaan.

"Kakakku sayang, sekarang aku sudah nggak bisa berhenti lagi. Lihat bagian bawahku ini. Aku hanya mau Kak Riko cepat pergi. Kalau terus begini, aku bisa meledak!"

Napas Toni menjadi semakin berat.

Aku melirik ke bawah dan mataku langsung terbelalak.

Bocah ini benar-benar perkasa!

Brak!

Tepat saat itu, Riko menemukan barang yang dicarinya. Dia bahkan tidak menoleh lagi padaku, seolah-olah aku adalah sesuatu yang beracun. Dia menutup pintu dan pergi begitu saja.

Hatiku merasa sangat terhina. Sejak awal hingga akhir, Riko sama sekali tidak memperhatikanku.

Padahal kalau saja dia mau mendekat dan melihatku sebentar saja, aku tidak akan merasa seputus asa ini.

Namun sekarang, dia malah tampak sangat takut padaku, seolah sebisa mungkin menghindari kontak denganku.

Karena dia begitu jijik padaku dan tidak mau melayaniku dengan baik, lebih baik aku bersama Toni saja.

Begitu pikiran itu muncul, bayangan tubuh Toni yang perkasa melintas di benakku. Aku merasa diriku sangat tidak tahu malu.

Begitu mendengar Riko sudah pergi, Toni tidak tahan lagi.

Dia merangsek naik dari balik selimut, merobek gaun tidurku hingga terbuka sepenuhnya, dan menindih tubuhku dengan erat.

Bagaikan binatang buas yang sedang mengamuk, kedua tangan besarnya meremas sekujur tubuhku. Sementara wajahnya terbenam di dadaku, menciumi dan menggigitnya dengan liar.

"Jangan begini ... lepaskan aku ...!"

Meski otakku sudah memiliki niat buruk terhadap Toni, tapi ketika benar-benar akan melakukannya, aku masih merasa ragu.

Bagaimanapun juga, ada beberapa hal yang jika sudah dilakukan, tidak akan bisa ditarik kembali.

Aku menggeliat, berusaha melepaskan diri. Namun, Toni menahanku dengan kuat hingga aku tak bisa bergerak.

"Kak, dia sudah pergi. Malam ini kamu pasti kesepian sekali. Biarkan malam ini aku yang memelukmu saat tidur, ya? Aku akan bersikap manis, kok."

Toni berkata begitu, tapi tatapannya membara penuh nafsu, dan tangannya sudah mulai lancang menyentuh pakaian dalamku.

"Kak, tenang saja. Aku cuma mau gesek-gesek saja, kok, nggak akan masuk. Sini, aku bantu lepaskan pakaian dalammu dulu."

Tanpa menunggu persetujuanku, Toni merobek pakaian dalamku, dan menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 9

    Melihat pemandangan itu, mata Riko memerah. Dia berteriak histeris ingin melawan, tetapi salah satu dari mereka segera menyumpal mulutnya dengan kain. Riko menatapku dengan sorot mata yang penuh keputusasaan.Saat itulah aku menyadari sesuatu. Video yang ditunjukkan Toni tadi terasa ganjil. Wajah Riko di video itu tampak sangat merah merona. Jangan-jangan, itu adalah igauan Riko saat dia sedang mabuk berat?Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Toni sudah menempel rapat di belakangku. Ini adalah kejahatan! Ini adalah tindak kriminal!...Dua jam kemudian, pria-pria itu tampak puas. Mereka duduk di sudut ruangan sambil merokok dan bermain kartu. Ruangan menjadi pengap oleh asap rokok. Aku gemetar hebat di atas tempat tidur, menatap mereka dengan gigi gemeletuk, ingin melakukan sesuatu untuk membalas dendam.Namun, Riko memberi isyarat padaku dengan menggelengkan kepalanya dengan cemas. Dia tidak ingin aku melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawaku. Aku menggigit bibir, setetes

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 8

    "Ckck, nggak salah lagi, istri Riko memang sangat putih. Tubuh berlekuk ini benar-benar menggoda. Toni, bagaimana rasanya tadi? Enak, nggak?" "Sekarang giliran kami. Cantik, suamimu itu memang bukan manusia. Dia berutang banyak pada kami di meja judi, jadi sekarang saatnya kami menagih bunganya.""Kudengar kamu ini sangat liar dan gairahmu nggak pernah terpuaskan. Hari ini ada kami di sini, dijamin kamu akan merasa 'kenyang' sekenyang-kenyangnya!"Sambil melontarkan kata-kata kotor itu, tangan-tangan mereka mulai menjamahku. Tangan-tangan besar yang panas itu kini hinggap di sekujur tubuhku. Aku berada dalam kondisi nyaris tanpa busana, menghadapi tatapan liar pria-pria yang haus seperti serigala."Kalian, apa yang kalian lakukan? Cepat pergi, atau aku akan lapor polisi! Aku akan lapor polisi!" teriakku histeris, berusaha melepaskan diri dan menakut-nakuti mereka."Haha, lapor polisi? Lebih baik simpan tenagamu. Tadi kamu melakukannya dengan Toni atas dasar suka sama suka, ‘kan? Lag

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 7

    Aku sempat mengira Toni akan segera meledak dalam nafsu, menghempaskanku ke tempat tidur, dan merobek pakaianku untuk menyatukan tubuh lembutku dengan tubuhnya yang keras. Namun, di luar dugaan, dia justru mulai menjelaskan sesuatu.Saat aku masih dalam kebingungan, Toni menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mataku. Di sana terlihat rekaman video sebuah ruangan tempat orang-orang sedang bermain kartu. Di dalam video itu, suamiku tampak baru saja kalah, wajahnya penuh kegundahan.Dia membanting kartu di tangannya ke lantai dengan kasar."Sudah! Aku nggak mau main lagi!""Enak saja mau pergi! Mana ada urusan semudah itu? Paling nggak, bayar dulu uang saat kamu kalah itu!" sahut orang-orang dalam video yang mulai mengeroyok suamiku dengan teriakan. Sepertinya, suamiku berutang lagi.Mengingat suamiku yang berkali-kali kembali ke kamar, bahkan sampai membangunkanku demi meminta transfer uang jutaan, jantungku seakan meledak. Toni menggelengkan kepalanya pelan."Kak, semua ini kare

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 6

    Riko pergi dengan terburu-buru. Pintu tertutup dengan suara dentuman keras.Tepat saat aku merasa tidak akan bisa lolos kali ini dan akan semakin terperosok ke dalam lembah dosa, Toni keluar dari lemari. Namun, dia tidak langsung menerjangku. Dia malah mengerutkan kening sambil menggertakkan gigi."Kak, perutku tiba-tiba sakit sekali. Aku ke kamar mandi sebentar, tunggu aku di sini dan jangan coba-coba pergi. Kak, aku sudah menargetkanmu, aku harus benar-benar masuk! Hehe."Dia terkekeh, meski keningnya makin berkerut menahan sakit. Melihatnya masuk ke kamar mandi, aku tahu ini adalah kesempatan emas untuk kabur dari Toni. Aku segera melompat dari tempat tidur, menanggalkan gaun tidurku, berganti pakaian biasa, dan langsung melesat keluar.Ini kesempatan langka. Setelah logikaku kembali, aku sadar tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati suamiku.Setelah menutup pintu kamar, aku baru bisa bernapas lega. Aku berjalan menyusuri koridor kapal pesiar itu selangkah demi selangkah.

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 5

    Namun, aku tidak bisa berpikir terlalu jauh karena di koridor sana, selain terjadi keributan, orang-orang itu mulai menyeret Riko. "Sudahlah Riko, kita semua sudah saling tahu. Mau main-main apa lagi? Kurang berapa, tinggal bayar saja. Kamu nggak mau minta uang pada istrimu, apa ini tandanya kamu memang sengaja nggak mau bayar?"Mendengar hal itu, Riko mendengus marah. "Pendi si Muka Bopeng! Kalau kamu berani bicara kotor lagi soal istriku, aku nggak akan melepaskanmu!""Oke. Biarkan aku masuk sendiri, kalian tunggu di pintu. Aku ini rekan kerja kalian, mau lari ke mana memangnya?"Orang-orang itu tidak berkata apa-apa lagi.Saat Riko berbicara, Toni yang tadi kudorong, segera mengubah ekspresinya menjadi manis dan menatapku."Kak, tenang saja. Aku sudah bilang, aku cuma mau memuaskan kesepianmu. Aku nggak akan mengganggu rumah tanggamu. Sekarang aku akan sembunyi."Dia berkata sambil tersenyum nakal, matanya memandangi lekuk tubuhku yang menonjol. Dia sempat meraba dan bergesekan di

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 4

    Dia memang bilang hanya ingin bergesek-gesek tanpa masuk, tetapi aku bisa merasakan begitu tubuh Toni menempel, dia langsung melancarkan aksinya. Dia seperti pria yang sudah lama menahan dahaga, mustahil baginya untuk menahan diri.Benar saja, tenaganya sangat besar. Seolah-olah dia ingin meremukkan dan menyatukan seluruh tubuhku ke dalam pelukannya."Ka-kamu sedang apa? Toni, bukannya kamu bilang ... kamu nggak akan melakukan hal itu padaku? Kamu bilang hanya ingin bergesek-gesek saja, ‘kan?"Aku sendiri tidak tahu, apakah dalam hatiku ini benar-benar ada gairah yang mendamba atau justru rasa takut. Namun, rangsangan itu nyata adanya. Saat mengucapkan kata-kata itu, tubuhku malah meliuk-liuk gelisah. Seolah-olah aku pun tidak ingin Toni hanya berhenti pada tahap "bergesekan" saja.Mendengar ucapanku, Toni menahanku dan membantah."Kak, sungguh, aku serius. Aku cuma mau gesek-gesek saja, nggak akan kumasukkan.""Kamu ... kamu bohong. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"Jelas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status