Masuk
Meilin tersentak bangun dengan napas tercekat, seolah-olah baru saja ditarik paksa dari dasar mimpi buruk yang pekat. Kepalanya terasa luar biasa berat dan berdenyut nyeri. Saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi, ingatan tentang semalam berputar samar, terputus-putus seperti potongan pita seluloid yang rusak.
Hal terakhir yang terekam di otaknya hanyalah dirinya yang kelelahan dan tertidur di sofa setelah semalaman menjaga Lee Hanzhen. Pria itu adalah atasan dari sahabatnya, Yiran, yang mendadak tumbang di hotel ini karena demam tinggi.
Namun, begitu matanya menyapu sekeliling ruangan, tubuh Meilin langsung membeku seketika.
Ranjang King Size di tengah suite room mewah itu sudah kosong. Seprai sutranya berantakan, dan pria yang dijaganya semalam telah tiada.
"Syukurlah..." Meilin mengembuskan napas lega yang panjang, meremas dadanya yang berdegup kencang. Ia benar-benar tidak ingin bertemu pria itu dalam keadaan sadar. Membayangkan tatapan pria itu saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang.
Di dunia bisnis, semua orang memuja Lee Hanzhen dengan julukan "Putra Mahkota". Sebuah gelar yang terdengar berkilau, namun bagi Meilin, pria itu tak ubahnya seekor iblis berwajah tampan yang mengenakan setelan mahal buatan Paris. Dingin, kejam, dan menindas.
Meilin melirik jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Saat meraih gawainya, sebuah pesan singkat dari Yiran langsung menyala di layar:
‘Meilin, terima kasih banyak ya sudah bersedia menjaga Direktur Lee Hanzhen semalam.’
Meilin memijat pelipisnya. Ia teringat kembali bagaimana Yiran memohon-mohon padanya semalam karena ada urusan mendesak.
"Dia kenapa sebenarnya sampai harus dijaga seketat ini?" tanya Meilin waktu itu melalui sambungan telepon.
"Hanya demam karena kecapekan," jawab Yiran menenangkan. "Yichen sudah memeriksanya dan memberinya obat tidur dosis ringan. Dia tidak akan merepotkanmu, Meilin. Tolong ya?"
Karena Yichen adalah seorang dokter profesional—dan juga kekasih Yiran—Meilin tidak menaruh curiga sedikit pun semalam. Namun sekarang, setelah terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa aneh dan ingatan yang bolong-bolong, firasat buruk mulai merayap di dadanya.
"Aku harus pergi sebelum dia kembali," gumam Meilin panik.
Ia segera bangkit, merapikan pakaian kremnya yang sedikit kusut dan rambut panjangnya yang berantakan dengan jari, lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun, begitu daun pintu suite itu terbuka, langkah Meilin terhenti total. Seluruh darah di tubuhnya seolah lolos begitu saja.
Di ruang tengah suite room luas yang disulap menjadi ruang rapat darurat itu, beberapa pria berpakaian formal tampak berdiri tegap. Dan di tengah-tengah mereka, Lee Hanzhen sedang duduk santai di sofa kulit sambil menjepit sebatang rokok yang menyala di antara jemarinya. Kakinya disilangkan dengan elegan, memancarkan aura dominasi yang pekat.
Namun, yang membuat wajah Meilin mendadak pucat pasi hingga menyerupai mayat bukanlah Hanzhen. Melainkan sosok pria tegap yang berdiri tepat di samping sofa sang Direktur.
Gu Junhao. Kakak kandungnya sendiri.
"Oh, tidak..." Suara Meilin tercekat di tenggorokan.
Dalam sekejap, seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh serempak ke arahnya. Keheningan yang mencekam langsung merayap. Seorang wanita keluar dari kamar pribadi sang Direktur di pagi buta, dengan pakaian kusut dan rambut berantakan. Tanpa perlu penjelasan apa pun, pemandangan itu sudah lebih dari cukup untuk menyulut skandal kotor di kepala semua orang.
Jantung Meilin berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging hebat. Di seberang meja, rahang Gu Junhao tampak mengeras rapat, menatap Meilin dengan kilat kemarahan dan kekecewaan yang teramat mendalam.
Anehnya, Hanzhen justru tetap tenang. Seolah-olah kehadiran Meilin yang berantakan di sana tidak lebih dari sebutir debu yang lewat.
"Lalu, bagaimana perkembangan proyek di distrik barat?" Hanzhen memecah keheningan dengan nada suara yang teramat datar dan dingin. Ia mengembuskan asap rokoknya perlahan, sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
Sikap tak acuh Hanzhen berhasil menarik kembali perhatian para staf profesional itu kepada urusan pekerjaan. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Meilin. Dengan gerakan kilat, ia mundur selangkah lalu membanting pintu kamar dari dalam.
BRAK!
Napas Meilin langsung memburu kacau. Ia bersandar pada pintu yang tertutup rapat, memegangi dadanya yang naik-turun hebat.
"Gila... aku benar-benar mati kali ini," bisiknya frustrasi sambil meremas rambutnya sendiri.
Jika Junhao sudah melihatnya di sini, maka tidak butuh waktu lama bagi seluruh keluarga besarnya yang kolot untuk mendengar kabar ini. Hidupnya yang tenang akan benar-benar tamat dihancurkan oleh isu tak sedap.
"Apa aku harus lompat dari lantai dua belas saja?" Meilin terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.
Tepat saat Meilin berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya untuk mencari jalan keluar, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu tempatnya bersandar. Pelan, berirama, namun terasa begitu mengintimidasi.
Tok. Tok. Tok.
Meilin menahan napas, tidak berani bergerak satu milimeter pun.
Dari balik pintu, suara berat dan dingin yang sangat ia takuti akhirnya terdengar, memanggil namanya dengan nada rendah yang mutlak.
"Buka pintunya, Meilin. Kita perlu bicara tentang apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam."
Meilin seolah menemukan kembali sumbu semangat hidupnya yang sempat padam. Ia mencoba mengikuti saran praktis dari kakaknya untuk menyibukkan diri di dalam rumah. Pagi-pagi sekali, ketika embun masih membasahi dedaunan, sosok mungilnya sudah menyibukkan diri di area dapur bersih yang luas dan bernuansa modern. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah menyiapkan menu sarapan khusus untuk Hanzhen sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Kali ini, ia memilih untuk memasak semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan cakwe renyah dan irisan daun bawang yang segar.Para pelayan rumah tangga pun perlahan-lahan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan baru semenjak kehadiran Meilin. Rumah besar yang dulunya terasa sangat kaku, formal, dan senyap laksana hotel berbintang, kini perlahan-lahan mulai terasa jauh lebih hidup dan hangat. Area dapur utama hampir setiap hari selalu dipenuhi oleh aroma harum masakan yang menggugah selera, berpadu apik dengan suara langkah-langkah kecil M
Meilin menyampaikan kepada salah satu kepala pelayan di rumah bahwa ia ingin disiapkan sopir siang ini, dengan alasan ingin keluar mencari makan siang bersama kakak kandungnya, Yuwen. Namun, Meilin tahu betul bahwa permintaan sederhana itu bukan sekadar instruksi operasional biasa di rumah ini. Secara tidak langsung, ia sadar dirinya sedang meminta izin tertulis kepada Hanzhen. Ia sangat yakin bahwa para pelayan yang bekerja di sini pasti akan segera melaporkan setiap gerak-gerik dan langkah kakinya kepada pria itu melalui Sekretaris Chen.Dan benar saja dugaan Meilin, tidak lama setelah pesan itu disampaikan, sebuah sedan hitam mewah beserta sopir pribadi sudah bersiap rapi di area lobi depan mansion. Artinya, Hanzhen memberikan izin baginya untuk keluar rumah siang ini. Entah kenapa, hal kecil yang transaksional itu justru membuat hati Meilin yang sempat didera kepanikan luar biasa terasa sedikit lebih lega. Paling tidak, Hanzhen tidak benar-benar berniat mengurungnya laksana seor
Pada dasarnya, rumah sakit pusat tempat Meilin mengabdi selama ini memang bukan instansi medis biasa. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu aset besar milik keluarga besar dari pihak ibunya. Hampir seluruh anggota keluarga besarnya berkecimpung di dunia medis; ada yang menjadi dokter spesialis bedah ternama, profesor kedokteran, hingga menduduki kursi jajaran direksi. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki saham kepemilikan yang cukup besar di sana, termasuk ibu Meilin sendiri.Karena latar belakang itulah, ketika Hanzhen menjatuhkan titah mutlak untuk melarang Meilin bekerja, keputusan itu dieksekusi dengan sangat rapi tanpa celah sedikit pun. Pria itu langsung menggunakan seluruh jaringan pengaruhnya untuk berkoordinasi dengan Direktur Utama rumah sakit, yang tidak lain adalah paman kandung Meilin sendiri.Pagi itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Meilin saat ia baru saja mendudukkan diri di tepi ranjang dengan benak yang masih teramat kusut pascakonfrontasi dini hari.—Mei
Jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka sebelas malam ketika sedan hitam mewah itu akhirnya memasuki pelataran halaman rumah utama keluarga Lee. Suasana di sekitar rumah besar itu tampak sunyi senyap, diselimuti oleh kegelapan malam yang teramat pekat dan dingin.Begitu roda mobil berhenti sempurna di area carport, Hanzhen langsung membuka pintu, turun dengan gerakan cepat, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sekretaris Chen yang berada di belakangnya. Langkah kakinya yang berat dan dipenuhi gelora amarah yang terpendam berdentum berat di sepanjang lantai marmer koridor, langsung menuju ke arah tangga lantai dua.Brak!Pintu kayu mahoni kamar utama didorong terbuka lebar dengan satu sentakan kasar, seketika mengejutkan Meilin yang saat itu sedang tertidur lelap. Wanita itu langsung terduduk tegap di atas ranjang dengan jantung yang berdebar kencang akibat serangan kepanikan instan yang menyerang sistem sarafnya. Di bawah pendar temaram lampu tidur yang kuning redup, ia
Lorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen







