Home / Romansa / Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin / Bab 1: Terjebak dalam Jerat Sang Iblis

Share

Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin
Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin
Author: Denami

Bab 1: Terjebak dalam Jerat Sang Iblis

Author: Denami
last update publish date: 2026-05-03 04:48:00

Meilin tersentak bangun dengan napas tercekat, seolah-olah baru saja ditarik paksa dari dasar mimpi buruk yang pekat. Kepalanya terasa luar biasa berat dan berdenyut nyeri. Saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi, ingatan tentang semalam berputar samar, terputus-putus seperti potongan pita seluloid yang rusak. 

Hal terakhir yang terekam di otaknya hanyalah dirinya yang kelelahan dan tertidur di sofa setelah semalaman menjaga Lee Hanzhen. Pria itu adalah atasan dari sahabatnya, Yiran, yang mendadak tumbang di hotel ini karena demam tinggi.

Namun, begitu matanya menyapu sekeliling ruangan, tubuh Meilin langsung membeku seketika.

Ranjang King Size di tengah suite room mewah itu sudah kosong. Seprai sutranya berantakan, dan pria yang dijaganya semalam telah tiada.

"Syukurlah..." Meilin mengembuskan napas lega yang panjang, meremas dadanya yang berdegup kencang. Ia benar-benar tidak ingin bertemu pria itu dalam keadaan sadar. Membayangkan tatapan pria itu saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang.  

Di dunia bisnis, semua orang memuja Lee Hanzhen dengan julukan "Putra Mahkota". Sebuah gelar yang terdengar berkilau, namun bagi Meilin, pria itu tak ubahnya seekor iblis berwajah tampan yang mengenakan setelan mahal buatan Paris. Dingin, kejam, dan menindas.  

Meilin melirik jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Saat meraih gawainya, sebuah pesan singkat dari Yiran langsung menyala di layar:  

‘Meilin, terima kasih banyak ya sudah bersedia menjaga Direktur Lee Hanzhen semalam.’  

Meilin memijat pelipisnya. Ia teringat kembali bagaimana Yiran memohon-mohon padanya semalam karena ada urusan mendesak.  

"Dia kenapa sebenarnya sampai harus dijaga seketat ini?" tanya Meilin waktu itu melalui sambungan telepon.  

"Hanya demam karena kecapekan," jawab Yiran menenangkan. "Yichen sudah memeriksanya dan memberinya obat tidur dosis ringan. Dia tidak akan merepotkanmu, Meilin. Tolong ya?"  

Karena Yichen adalah seorang dokter profesional—dan juga kekasih Yiran—Meilin tidak menaruh curiga sedikit pun semalam. Namun sekarang, setelah terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa aneh dan ingatan yang bolong-bolong, firasat buruk mulai merayap di dadanya. 

"Aku harus pergi sebelum dia kembali," gumam Meilin panik. 

Ia segera bangkit, merapikan pakaian kremnya yang sedikit kusut dan rambut panjangnya yang berantakan dengan jari, lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun, begitu daun pintu suite itu terbuka, langkah Meilin terhenti total. Seluruh darah di tubuhnya seolah lolos begitu saja. 

Di ruang tengah suite room luas yang disulap menjadi ruang rapat darurat itu, beberapa pria berpakaian formal tampak berdiri tegap. Dan di tengah-tengah mereka, Lee Hanzhen sedang duduk santai di sofa kulit sambil menjepit sebatang rokok yang menyala di antara jemarinya. Kakinya disilangkan dengan elegan, memancarkan aura dominasi yang pekat. 

Namun, yang membuat wajah Meilin mendadak pucat pasi hingga menyerupai mayat bukanlah Hanzhen. Melainkan sosok pria tegap yang berdiri tepat di samping sofa sang Direktur. 

Gu Junhao. Kakak kandungnya sendiri. 

"Oh, tidak..." Suara Meilin tercekat di tenggorokan. 

Dalam sekejap, seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh serempak ke arahnya. Keheningan yang mencekam langsung merayap. Seorang wanita keluar dari kamar pribadi sang Direktur di pagi buta, dengan pakaian kusut dan rambut berantakan. Tanpa perlu penjelasan apa pun, pemandangan itu sudah lebih dari cukup untuk menyulut skandal kotor di kepala semua orang.

Jantung Meilin berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging hebat. Di seberang meja, rahang Gu Junhao tampak mengeras rapat, menatap Meilin dengan kilat kemarahan dan kekecewaan yang teramat mendalam.

Anehnya, Hanzhen justru tetap tenang. Seolah-olah kehadiran Meilin yang berantakan di sana tidak lebih dari sebutir debu yang lewat. 

"Lalu, bagaimana perkembangan proyek di distrik barat?" Hanzhen memecah keheningan dengan nada suara yang teramat datar dan dingin. Ia mengembuskan asap rokoknya perlahan, sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

Sikap tak acuh Hanzhen berhasil menarik kembali perhatian para staf profesional itu kepada urusan pekerjaan. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Meilin. Dengan gerakan kilat, ia mundur selangkah lalu membanting pintu kamar dari dalam. 

BRAK!

Napas Meilin langsung memburu kacau. Ia bersandar pada pintu yang tertutup rapat, memegangi dadanya yang naik-turun hebat. 

"Gila... aku benar-benar mati kali ini," bisiknya frustrasi sambil meremas rambutnya sendiri. 

Jika Junhao sudah melihatnya di sini, maka tidak butuh waktu lama bagi seluruh keluarga besarnya yang kolot untuk mendengar kabar ini. Hidupnya yang tenang akan benar-benar tamat dihancurkan oleh isu tak sedap. 

"Apa aku harus lompat dari lantai dua belas saja?" Meilin terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya dengan tubuh gemetar. 

Tepat saat Meilin berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya untuk mencari jalan keluar, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu tempatnya bersandar. Pelan, berirama, namun terasa begitu mengintimidasi. 

Tok. Tok. Tok. 

Meilin menahan napas, tidak berani bergerak satu milimeter pun. 

Dari balik pintu, suara berat dan dingin yang sangat ia takuti akhirnya terdengar, memanggil namanya dengan nada rendah yang mutlak. 

"Buka pintunya, Meilin. Kita perlu bicara tentang apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 70 : Kegelisahan Pagi Hari

    Pagi itu, suasana restoran utama di Bay Resort terasa cukup ramai dan bising oleh hilir mudik orang-orang. Beberapa tamu hotel sudah memenuhi area prasmanan yang luas, sembari menikmati panorama laut lepas yang biru jernih dari balik jendela kaca besar berukuran raksasa. Namun, di salah satu sudut ruangan yang agak terisolasi oleh tanaman hias, atmosfernya justru terasa jauh lebih tenang, kaku, dan formal. Hanzhen duduk tegap di samping Meilin, sesekali menyesap kopi hitam pekatnya tanpa gula sembari fokus membaca beberapa dokumen kerja penting di layar tablet pribadi.Melihat suaminya yang terlampau sibuk dan mengabaikan asupan gizinya sendiri sejak subuh, Meilin dengan telaten mengambilkan beberapa hidangan sehat ke atas piring porselen pria itu. Beberapa manajer eksekutif hotel sebenarnya sempat mencoba melangkah mendekat untuk memberikan laporan keuangan dadakan, namun Sekretaris Chen yang berdiri siaga tidak jauh dari sana langsung menghadang pergerakan mereka dengan sangat halu

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 69 : Kepanikan di Tepi Pantai

    Meilin hanya menatap garis matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala laut dengan tatapan kosong. Langit sore di Bay Resort itu begitu memukau; perpaduan gradasi warna jingga, merah muda, dan keemasan memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Namun, sangat kontras dengan keindahan alam yang disuguhkan tersebut, isi pikiran Meilin justru terasa kian penuh, kalut, dan menyesakkan dada. Untaian kalimat manipulatif dan beracun dari Yiran tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak di dalam kepalanya, melahirkan riak kegelisahan baru yang tak kunjung surut. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat melingkar pelan di sekeliling pinggang mungilnya. Hanzhen memeluknya erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut Meilin. Seperti biasa, pria itu melakukan kontak fisik yang intim itu tanpa banyak bicara, tanpa ada rentetan pertanyaan interogasi yang melelahkan. Ia hanya diam mendekap tubuh mungil Meilin sembari ikut melempar pandang ke arah matah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 68 : Jejak yang Tertinggal

    Untaian kalimat manipulatif dari Yiran saat sarapan pagi tadi terus bergaung bising di kepala Meilin. Setiap untai katanya sengaja ditinggalkan untuk mengusik ketenangannya selama berada di Bay Resort ini. “Semakin posesif seorang pria, semakin rapi pula caranya menyembunyikan sesuatu di belakangmu.” Kalimat beracun itu sukses melahirkan riak kegelisahan yang membuat ulu hati Meilin terasa teramat tidak nyaman sepanjang hari. Di belahan tempat lain, Lee Hanzhen sendiri baru menyadari satu hal yang luput dari pengawasannya selama ini. Yiran ternyata telah dipindahkan ke divisi pemasaran Bay Resort semenjak beberapa minggu lalu atas rekomendasi manajer regional. Dan hal yang jauh lebih mengejutkannya lagi, wanita itulah yang memimpin presentasi utama untuk proyek besar pengembangan kawasan resort hari itu. Hanzhen duduk tegap di ruang rapat eksekutif dengan tatapan datar yang dingin, memperhatikan layar proyektor besar di depan. Yiran berdiri anggun dalam balutan setelan formal merah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 67 : Racun Keraguan

    “Boleh aku duduk di sini?” tanya Yiran sembari mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri. “Tentu,” jawab Meilin pelan, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh canggung dan tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dadanya. Yiran pun mendudukkan diri dengan gerakan yang teramat anggun di kursi kosong sebelah meja mereka. Aroma parfum mewahnya yang berwangi lembut namun pekat seketika tercium samar, mengusik atmosfer hangat meja sarapan mereka pagi ini. Di kejauhan, beberapa dokter residen muda di meja lain tampak diam-diam mulai melirik ke arah mereka dengan raut penuh rasa penasaran yang besar. “Aku baru tahu kamu dimutasi ke kantor cabang resort ini,” kata Yuwen sembari menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, menatap tajam ke arah wajah Yiran dengan pandangan yang teramat datar. “Iya,” Yiran mengangguk santai, merapikan letak setelan kantor merah tuanya yang tampak mahal. “Kata pihak pimpinan kami di kantor pusat, peluang karier di kawasan resort Selatan ini jauh l

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 66 : Tamu di Meja Sarapan

    Semenjak Meilin mulai sering menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen, Sekretaris Chen menyadari satu perubahan yang sangat mencolok pada diri atasannya. Suasana hati sang CEO kini jauh lebih stabil. Setidaknya sekarang, jajaran manajer tidak lagi keluar dari ruang rapat dengan wajah pucat pasi hanya karena salah mencetak ukuran huruf proposal atau keliru menyusun urutan presentasi. Hanzhen memang tetaplah pria yang dingin, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang bisa membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap dalam hitungan detik. Namun, emosinya kini jauh lebih terkendali. Bagi Chen, Hanzhen mulai terlihat lebih "manusiawi". Bahkan, kebutuhan pribadi sang CEO tidak lagi serumit dan se-melelahkan dulu. Jika dulu memilih kopi saja bisa berubah menjadi perdebatan kecil karena rasa yang dianggap kurang konsisten, sekarang Hanzhen selalu menghabiskan kopi yang disiapkan langsung oleh Meilin tanpa banyak komentar. Keluhan vertigonya pun mulai jarang terdengar karena Hanzhen mula

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   bab 65 : Riak di Bay Resort

    Meilin yang mulai terbiasa menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen juga mulai menikmati peran barunya tersebut dengan hati yang jauh lebih lapang. Awalnya, ia sering kali didera rasa kewalahan yang luar biasa setiap kali mendampingi pria itu di lapangan. Setiap kali Hanzhen menapakkan kaki di lobi gedung perusahaan, jajaran manajer senior dan eksekutif papan atas sudah berbaris rapi menunggunya hanya untuk menyerahkan tumpukan dokumen, memberikan laporan darurat, atau sekadar berjalan beriringan meminta tanda tangan persetujuan. Langkah kaki Hanzhen yang selalu cepat, panjang, dan tegas, membuat Meilin di awal kebiasaan baru mereka hampir harus setengah berlari hingga napasnya terengah-engah hanya untuk menyamai ritme jalan suaminya.Namun lama-kelamaan, Hanzhen mulai menyadari keterbatasan fisik sang istri dan secara sadar menyesuaikan diri dengan keberadaan wanita itu di sisinya. Pria itu akan sengaja memperlambat tempo langkahnya, atau bahkan berhenti bergerak sejenak dan menol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status