LOGIN"Buka pintunya, Meilin. Kita perlu bicara tentang apa yang terjadi semalam."
Suara berat dan dingin milik Lee Hanzhen dari balik pintu hotel itu terus terngiang, bergaung di kepala Meilin bahkan ketika waktu sudah berganti. Penawaran—atau lebih tepatnya ancaman—pernikahan kontrak yang dilontarkan pria itu benar-benar menjungkirbalikkan hidupnya dalam semalam.
Sambil melangkah gontai di koridor rumah sakit tempatnya bekerja sebagai psikolog, Meilin menatap nanar ke arah luar jendela besar lantai tiga. Langit siang itu terlihat begitu cerah, berbanding terbalik dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Angin sejuk berembus lembut membuat pepohonan di taman bergoyang pelan, mengiringi gelak tawa anak-anak pasien yang sedang merayakan hari jadi rumah sakit.
Namun, atmosfer hangat itu justru membuat Meilin merasa semakin kosong. Pikiran wanita itu mendadak melayang pada kejadian beberapa hari lalu, tepat sebelum malam jahanam di hotel itu menghancurkan segalanya.
Hari itu, Meilin sedang bersandaran lemah di kursi kerjanya sambil memutar pena dengan jenuh. Bonus tahunannya akan segera cair, dan ia sudah menyusun daftar rencana menyenangkan: pergi ke salon dan memborong beberapa gaun mahal yang sedang viral. Namun, semua rencana itu buyar saat wajah Yiran, sahabatnya sejak SMA, melintas di pikiran.
Beberapa hari lalu, Yiran menunjukkan foto tas kerja branded yang sangat ia inginkan. Harganya hampir setara dengan satu bulan gaji Meilin. Meilin menghela napas panjang, menatap langit-langit ruangan. "Persahabatan lebih penting daripada uang," gumamnya menghibur diri, meski hatinya tetap saja perih membayangkan saldo rekeningnya yang akan terkuras habis demi kado Yiran.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya hari itu. Daun pintu terbuka, menampilkan sosok pria dengan jas dokter putih yang melekat rapi di tubuh tegapnya.
"Hai, kau belum makan siang?" tanya pria itu.
Suara bariton yang familier itu seketika membuat wajah Meilin yang lesu menjadi cerah. Lu Yichen. Wajah tampan dokter muda itu selalu terlihat hangat, dan senyum kecil di bibirnya selalu berhasil membuat jantung Meilin berdetak dua kali lebih cepat.
Sayangnya, pria itu bukan miliknya. Yichen adalah kekasih Yiran. Sebuah fakta yang bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, masih terasa seperti duri yang menusuk dalam di hati Meilin. Ia sudah menyukai Yichen sejak bangku sekolah, namun sebelum ia sempat menyatakan cinta, Yiran sudah lebih dulu masuk ke hidup pria itu. Sejak saat itu, Meilin hanya bisa memasang topeng persahabatan.
"Kau mau makan apa?" tanya Meilin hari itu sambil berdiri merapikan mejanya.
"Kantin saja. Aku hampir mati kelaparan karena jadwal operasi tadi," sahut Yichen ramah.
Berjalan berdampingan di koridor bersama Yichen selalu terasa seperti kencan curian yang sangat berharga bagi Meilin—sekaligus sebuah kesalahan yang tidak seharusnya ia nikmati. Saat berdiri di depan lift yang tak kunjung datang, Meilin mencoba membuka obrolan santai. "Sebentar lagi Yiran ulang tahun. Kalian ada rencana untuk merayakannya?"
Ekspresi Yichen langsung melembut. Tatapan matanya dipenuhi kehangatan yang mendalam begitu nama Yiran disebut. Dan pemandangan itu, lagi-lagi, seperti pisau kecil yang menyayat dada Meilin.
"Kami berencana mengambil liburan singkat ke luar kota," jawab Yichen tersenyum simpul. "Sudah lama kami tidak benar-benar punya waktu berdua. Pekerjaan barunya akhir-akhir ini terlalu menyita waktu."
Meilin memaksakan sebuah senyuman tipis. "Baguslah kalau begitu. Dia pasti senang sekali."
Ting!
Pintu lift terbuka, dan dalam sekejap, kehangatan itu menguap. Di dalam lift sudah berdiri dua orang wanita. Salah satunya adalah seorang wanita tua di atas kursi roda, dan wanita yang berdiri di sampingnya adalah ibu Meilin sendiri. Ibunya, seorang dokter senior yang dingin, langsung membawa aura kaku ke dalam lift.
"Dokter Gu," sapa Yichen sambil membungkuk sopan. Meilin pun ikut menundukkan kepalanya sedikit. Namun, ibunya hanya memberikan anggukan tipis yang teramat acuh.
Suasana di dalam lift mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Meilin tahu betul alasannya. Dulu, ibunya sangat menyukai Yichen dan menganggapnya sebagai calon menantu ideal. Namun, sejak Yichen resmi berpacaran dengan Yiran, sikap ibunya berubah drastis. Ibunya terang-terangan menunjukkan kekecewaan karena putrinya dianggap gagal mendapatkan pria sesempurna Yichen.
Ting!
Lift berhenti di lantai dasar. Begitu pintu terbuka, Yichen hendak melangkah keluar terlebih dahulu. Namun, suara dingin dan tajam milik ibunya menghentikan pergerakan Meilin yang hendak menyusul.
"Kau mau ke mana, Meilin?" tanya ibunya tanpa menoleh.
Tubuh Meilin langsung menegang kaku. "Makan siang di kantin," jawabnya pelan.
"Batalkan. Makan bersama Ibu hari ini," sahut sang ibu tanpa memberikan ruang penolakan. "Ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan denganmu."
Yichen sempat menoleh sekilas, menatap iba pada situasi Meilin. "Habis ini hubungi aku lagi ya, Mei," ucap Yichen setengah berbisik sebelum melangkah pergi meninggalkan area lift.
Pintu lift perlahan menutup kembali, memutuskan pandangan Meilin dari punggung Yichen yang semakin menjauh. Dadanya terasa kosong seketika. Kencan curiannya hari itu resmi berakhir sebelum sempat dimulai, digantikan oleh interogasi dingin dari ibunya sendiri.
Meilin tidak pernah menduga bahwa obrolan makan siang bersama ibunya hari itu justru menjadi awal dari jebakan besar yang membawanya masuk ke dalam jerat pernikahan kontrak bersama Lee Hanzhen.
Pagi itu, suasana restoran utama di Bay Resort terasa cukup ramai dan bising oleh hilir mudik orang-orang. Beberapa tamu hotel sudah memenuhi area prasmanan yang luas, sembari menikmati panorama laut lepas yang biru jernih dari balik jendela kaca besar berukuran raksasa. Namun, di salah satu sudut ruangan yang agak terisolasi oleh tanaman hias, atmosfernya justru terasa jauh lebih tenang, kaku, dan formal. Hanzhen duduk tegap di samping Meilin, sesekali menyesap kopi hitam pekatnya tanpa gula sembari fokus membaca beberapa dokumen kerja penting di layar tablet pribadi.Melihat suaminya yang terlampau sibuk dan mengabaikan asupan gizinya sendiri sejak subuh, Meilin dengan telaten mengambilkan beberapa hidangan sehat ke atas piring porselen pria itu. Beberapa manajer eksekutif hotel sebenarnya sempat mencoba melangkah mendekat untuk memberikan laporan keuangan dadakan, namun Sekretaris Chen yang berdiri siaga tidak jauh dari sana langsung menghadang pergerakan mereka dengan sangat halu
Meilin hanya menatap garis matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala laut dengan tatapan kosong. Langit sore di Bay Resort itu begitu memukau; perpaduan gradasi warna jingga, merah muda, dan keemasan memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Namun, sangat kontras dengan keindahan alam yang disuguhkan tersebut, isi pikiran Meilin justru terasa kian penuh, kalut, dan menyesakkan dada. Untaian kalimat manipulatif dan beracun dari Yiran tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak di dalam kepalanya, melahirkan riak kegelisahan baru yang tak kunjung surut. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat melingkar pelan di sekeliling pinggang mungilnya. Hanzhen memeluknya erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut Meilin. Seperti biasa, pria itu melakukan kontak fisik yang intim itu tanpa banyak bicara, tanpa ada rentetan pertanyaan interogasi yang melelahkan. Ia hanya diam mendekap tubuh mungil Meilin sembari ikut melempar pandang ke arah matah
Untaian kalimat manipulatif dari Yiran saat sarapan pagi tadi terus bergaung bising di kepala Meilin. Setiap untai katanya sengaja ditinggalkan untuk mengusik ketenangannya selama berada di Bay Resort ini. “Semakin posesif seorang pria, semakin rapi pula caranya menyembunyikan sesuatu di belakangmu.” Kalimat beracun itu sukses melahirkan riak kegelisahan yang membuat ulu hati Meilin terasa teramat tidak nyaman sepanjang hari. Di belahan tempat lain, Lee Hanzhen sendiri baru menyadari satu hal yang luput dari pengawasannya selama ini. Yiran ternyata telah dipindahkan ke divisi pemasaran Bay Resort semenjak beberapa minggu lalu atas rekomendasi manajer regional. Dan hal yang jauh lebih mengejutkannya lagi, wanita itulah yang memimpin presentasi utama untuk proyek besar pengembangan kawasan resort hari itu. Hanzhen duduk tegap di ruang rapat eksekutif dengan tatapan datar yang dingin, memperhatikan layar proyektor besar di depan. Yiran berdiri anggun dalam balutan setelan formal merah
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Yiran sembari mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri. “Tentu,” jawab Meilin pelan, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh canggung dan tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dadanya. Yiran pun mendudukkan diri dengan gerakan yang teramat anggun di kursi kosong sebelah meja mereka. Aroma parfum mewahnya yang berwangi lembut namun pekat seketika tercium samar, mengusik atmosfer hangat meja sarapan mereka pagi ini. Di kejauhan, beberapa dokter residen muda di meja lain tampak diam-diam mulai melirik ke arah mereka dengan raut penuh rasa penasaran yang besar. “Aku baru tahu kamu dimutasi ke kantor cabang resort ini,” kata Yuwen sembari menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, menatap tajam ke arah wajah Yiran dengan pandangan yang teramat datar. “Iya,” Yiran mengangguk santai, merapikan letak setelan kantor merah tuanya yang tampak mahal. “Kata pihak pimpinan kami di kantor pusat, peluang karier di kawasan resort Selatan ini jauh l
Semenjak Meilin mulai sering menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen, Sekretaris Chen menyadari satu perubahan yang sangat mencolok pada diri atasannya. Suasana hati sang CEO kini jauh lebih stabil. Setidaknya sekarang, jajaran manajer tidak lagi keluar dari ruang rapat dengan wajah pucat pasi hanya karena salah mencetak ukuran huruf proposal atau keliru menyusun urutan presentasi. Hanzhen memang tetaplah pria yang dingin, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang bisa membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap dalam hitungan detik. Namun, emosinya kini jauh lebih terkendali. Bagi Chen, Hanzhen mulai terlihat lebih "manusiawi". Bahkan, kebutuhan pribadi sang CEO tidak lagi serumit dan se-melelahkan dulu. Jika dulu memilih kopi saja bisa berubah menjadi perdebatan kecil karena rasa yang dianggap kurang konsisten, sekarang Hanzhen selalu menghabiskan kopi yang disiapkan langsung oleh Meilin tanpa banyak komentar. Keluhan vertigonya pun mulai jarang terdengar karena Hanzhen mula
Meilin yang mulai terbiasa menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen juga mulai menikmati peran barunya tersebut dengan hati yang jauh lebih lapang. Awalnya, ia sering kali didera rasa kewalahan yang luar biasa setiap kali mendampingi pria itu di lapangan. Setiap kali Hanzhen menapakkan kaki di lobi gedung perusahaan, jajaran manajer senior dan eksekutif papan atas sudah berbaris rapi menunggunya hanya untuk menyerahkan tumpukan dokumen, memberikan laporan darurat, atau sekadar berjalan beriringan meminta tanda tangan persetujuan. Langkah kaki Hanzhen yang selalu cepat, panjang, dan tegas, membuat Meilin di awal kebiasaan baru mereka hampir harus setengah berlari hingga napasnya terengah-engah hanya untuk menyamai ritme jalan suaminya.Namun lama-kelamaan, Hanzhen mulai menyadari keterbatasan fisik sang istri dan secara sadar menyesuaikan diri dengan keberadaan wanita itu di sisinya. Pria itu akan sengaja memperlambat tempo langkahnya, atau bahkan berhenti bergerak sejenak dan menol







