Share

Bab 12 Pertanyaan Hati

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-09-30 23:19:30

Pagi yang tenang di rumah mungil yang Lidia sewa di Utara kota Jakarta. Atmosfernya begitu damai, kontras dengan hiruk-pikuk profesinya sebagai dokter. Ia sedang asyik menyirami koleksi tanaman bunganya yang beraneka warna, sesekali memberikan pupuk khusus agar tumbuh subur. Rumah ini memang tak seberapa besar, tapi Lidia berhasil menyulap pekarangan depannya jadi oase kecil yang asri, penuh dengan kembang sepatu, bougenville, dan mawar-mawar mini. Ia merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya, mendekap erat dari belakang. Lidia tersenyum. Bi... belum sempat ia menyelesaikan panggilannya, Lidia tersadar sentuhan ini berbeda. Ini bukan sentuhan Bima. Wanginya juga beda.

Lidia langsung kaget setengah mati, ia menegang. Pria di belakangnya mendekap lebih erat, suaranya parau. "Kenapa kau pindah nggak bilang padaku? Apa kau benar-benar ingin meninggalkan aku, Lidia?"

Kevin. Suara itu, sentuhan itu, Lidia hafal betul. Perasaan cemas bercampur kesal menyerbu hatinya. Kevin! Kok dia bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 226: Jarak yang Tak Terjangkau

    Pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat siang itu cukup ramai, hiruk-pikuk suara langkah kaki dan obrolan menyatu dalam orkestra kota yang tak pernah tidur. Namun, di sudut baby shop yang tenang, dikelilingi warna-warna pastel yang menenangkan, Lidya sedang asyik memilih pakaian bayi dengan sentuhan netral. Sebuah setelan berbahan katun lembut berwarna krem dengan bordiran beruang kecil menarik perhatiannya. Tangannya meraba halus kain itu, sesekali membayangkan seperti apa rasanya jika suatu hari nanti, jemari mungil anaknya akan menggenggamnya. Tanpa Bima yang sedang berjibaku dengan restrukturisasi besar-besaran di Cendikia Medika, Lidya mencoba menikmati waktunya sendiri—sebuah pelarian kecil yang langka dari ketegangan rumah tangga yang belum juga usai, dan hiruk-pikuk rumah sakit yang selalu terasa melelahkan. Dia hanya ingin fokus pada sesuatu yang sederhana, yang penuh harapan.Sementara itu, di sebuah kafe butik yang letaknya persis berseberangan dengan toko perlengkapan bayi ter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 225: Aliansi Para Pembangkang

    Darren Wisesa bukan tipe yang mudah terpancing emosi, apalagi sampai meledak-ledak di depan umum seperti yang dulu sering Kevin lakukan. Kevin itu terlalu frontal, terlalu gampang ditebak. Sementara Darren? Ia lebih suka jadi pemangsa yang bersembunyi di kegelapan, mengamati setiap celah dan kelemahan sebelum melancarkan serangan mematikan. Sekarang, walaupun resminya ia menduduki kursi Direktur Operasional Lapangan Cendikia Medika, ia tahu persis kalau tanpa sekutu yang kuat di tingkat staf eksekutif, posisinya itu cuma pajangan. Selembar sertifikat fancy di tengah kepungan orang-orangnya Bima Adnyana. Omong kosong namanya.Sore itu, aroma kopi Arabika menyeruak dari sebuah kafe tersembunyi, jauh dari hingar-bingar pusat Cendikia Medika yang penuh intrik. Tempatnya remang-remang, pas untuk percakapan yang sebaiknya tidak didengar orang lain. Darren duduk tenang di salah satu sudut, matanya memicing menatap dua sosok di hadapannya: Surya Baskara Hardiwan, kepala komite medis

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 224: Amputasi Kekuasaan

    Ruang rapat utama Cendikia Medika Pusat pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah disetel standar. Aura persaingan begitu kental, seperti pisau tajam yang diselipkan di balik jas-jas rapi. Di satu sisi meja besar berbahan kayu jati yang dipoles mengkilap, Gabriel Wisesa duduk dengan ekspresi kaku, ditemani oleh Rudolf Susanto. Rudolf ini tampak percaya diri luar biasa, dengan tumpukan dokumen tebal di depannya seolah dia sudah memegang semua kartu. Sementara itu, di sisi lain meja, Bima dan Alvin duduk berdampingan, rileks tapi waspada, dikawal oleh pengacara handal mereka, Bramantyo, seorang pria dengan kacamata bingkai tipis dan senyum sopan yang bisa menyembunyikan rencana sebrilian penemuan roda.Bima, dengan tenang seorang ahli bedah yang sudah terbiasa memegang nyawa di ujung pisau, membuka persidangan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu. Setelah basa-basi formalitas dan penyesuaian agenda yang diucapkannya seperti melafalka

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 223: Catur Kekuasaan dan Hati

    Perjalanan pulang dari Purwokerto menuju Jakarta terasa seperti medan perang batin bagi Bima. Di satu sisi, tawaran "damai" dari Gabriel Wisesa via telepon barusan memang terdengar menarik, laporannya terkait penganiayaan Kevin akan dicabut, kasus selesai. Tapi di sisi lain, tawaran itu datang dengan harga yang setara: ia harus membiarkan Darren Wisesa, anak sulung Gabriel yang ia tahu persis betapa liciknya, masuk ke jantung pertahanan Cendikia Medika. Itu seperti menyerahkan kunci lemari besi pada seorang maling potensial. Bima memegang kemudi mobil, sementara Lidya tertidur lelap di kursi penumpang, napasnya teratur dan damai, kontras sekali dengan gejolak dalam benak Bima. Ini semua untuk Cendikia Medika, ini semua untuk Lidya, gumamnya dalam hati.Setibanya di Jakarta, Bima sama sekali tidak memutar kemudi ke arah kompleks perumahan Adnyana. Waktu mereka sudah terlalu mepet, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tinggal sehari lagi, dan masih banyak yang perlu dimatangkan. Ia

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 222 Luka di Meja Tawar Wisesa

    Di kediaman megah keluarga Wisesa, udara seolah memadat, penuh dengan ketegangan dan strategi tersembunyi. Cahaya dari lampu gantung kristal yang mewah justru terasa dingin, menyorot kemewahan yang tak lagi mampu menyamarkan suasana hati. Kevin Abimanyu Wisesa, dengan kompres es yang membungkus sebagian wajahnya, menyandar lesu di sofa berlapis kulit. Sebelah pipinya masih bengkak dan keunguan, kontras dengan kemeja sutra mahal yang ia kenakan. Tiga sahabat setianya—Vito, Gerald, dan Kaiden—duduk mengelilinginya, wajah mereka tak kalah masam. Kevin terlihat seperti banteng yang terluka, siap mengamuk."Sudah berapa kali kukatakan, Pa? Mereka harus dapat balasan!" Kevin berujar, suaranya tercekat dan terasa serak. Setiap kata membuat luka di wajahnya berdenyut. "Aku dipukuli begini sampai tidak bisa melihat gara-gara dua berandal itu, dan Bapak malah diam saja?"Gabriel Wisesa, sang kepala keluarga, duduk santai di seberangnya, tak sedikit pun menunjukkan empati yang diinginkan putrany

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 221: Sakramen di Kamar SMA

    Lidya menggeliat pelan. Helaian rambutnya yang agak lepek menempel di pipi saat cahaya matahari pagi mulai menyelinap di sela-sela gorden lusuh paviliun samping rumah mertuanya. Kamar yang dulu jadi 'benteng' remajanya, tempat ia menghabiskan masa-masa SMA penuh drama dan ambisi, kini kembali jadi saksi bisu. Ada seringai puas yang tak bisa ia sembunyikan di sudut bibirnya, semacam kemenangan kecil, sebuah perasaan ringan yang sudah lama hilang sejak badai NIPT itu menghantam tanpa ampun. Sejujurnya, malam yang baru saja lewat adalah malam terbaik mereka dalam beberapa bulan terakhir. Seperti dua orang asing yang menemukan lagi jalan pulang. Napas Bima masih terasa panas dan teratur di tengkuknya, mendekap erat seolah tak ingin ia lepas, memberikan rasa aman yang semu namun sangat Lidya butuhkan, seolah dunia di luar sana bisa ia tunda sejenak.Bima merasakan pergerakan Lidya, tubuhnya otomatis merespons. Alih-alih melepaskan, pria itu justru menarik tubuh mungil istrinya ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status