LOGINRuang rapat utama Cendikia Medika Pusat pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah disetel standar. Aura persaingan begitu kental, seperti pisau tajam yang diselipkan di balik jas-jas rapi. Di satu sisi meja besar berbahan kayu jati yang dipoles mengkilap, Gabriel Wisesa duduk dengan ekspresi kaku, ditemani oleh Rudolf Susanto. Rudolf ini tampak percaya diri luar biasa, dengan tumpukan dokumen tebal di depannya seolah dia sudah memegang semua kartu. Sementara itu, di sisi lain meja, Bima dan Alvin duduk berdampingan, rileks tapi waspada, dikawal oleh pengacara handal mereka, Bramantyo, seorang pria dengan kacamata bingkai tipis dan senyum sopan yang bisa menyembunyikan rencana sebrilian penemuan roda.Bima, dengan tenang seorang ahli bedah yang sudah terbiasa memegang nyawa di ujung pisau, membuka persidangan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu. Setelah basa-basi formalitas dan penyesuaian agenda yang diucapkannya seperti melafalka
Perjalanan pulang dari Purwokerto menuju Jakarta terasa seperti medan perang batin bagi Bima. Di satu sisi, tawaran "damai" dari Gabriel Wisesa via telepon barusan memang terdengar menarik, laporannya terkait penganiayaan Kevin akan dicabut, kasus selesai. Tapi di sisi lain, tawaran itu datang dengan harga yang setara: ia harus membiarkan Darren Wisesa, anak sulung Gabriel yang ia tahu persis betapa liciknya, masuk ke jantung pertahanan Cendikia Medika. Itu seperti menyerahkan kunci lemari besi pada seorang maling potensial. Bima memegang kemudi mobil, sementara Lidya tertidur lelap di kursi penumpang, napasnya teratur dan damai, kontras sekali dengan gejolak dalam benak Bima. Ini semua untuk Cendikia Medika, ini semua untuk Lidya, gumamnya dalam hati.Setibanya di Jakarta, Bima sama sekali tidak memutar kemudi ke arah kompleks perumahan Adnyana. Waktu mereka sudah terlalu mepet, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tinggal sehari lagi, dan masih banyak yang perlu dimatangkan. Ia
Di kediaman megah keluarga Wisesa, udara seolah memadat, penuh dengan ketegangan dan strategi tersembunyi. Cahaya dari lampu gantung kristal yang mewah justru terasa dingin, menyorot kemewahan yang tak lagi mampu menyamarkan suasana hati. Kevin Abimanyu Wisesa, dengan kompres es yang membungkus sebagian wajahnya, menyandar lesu di sofa berlapis kulit. Sebelah pipinya masih bengkak dan keunguan, kontras dengan kemeja sutra mahal yang ia kenakan. Tiga sahabat setianya—Vito, Gerald, dan Kaiden—duduk mengelilinginya, wajah mereka tak kalah masam. Kevin terlihat seperti banteng yang terluka, siap mengamuk."Sudah berapa kali kukatakan, Pa? Mereka harus dapat balasan!" Kevin berujar, suaranya tercekat dan terasa serak. Setiap kata membuat luka di wajahnya berdenyut. "Aku dipukuli begini sampai tidak bisa melihat gara-gara dua berandal itu, dan Bapak malah diam saja?"Gabriel Wisesa, sang kepala keluarga, duduk santai di seberangnya, tak sedikit pun menunjukkan empati yang diinginkan putrany
Lidya menggeliat pelan. Helaian rambutnya yang agak lepek menempel di pipi saat cahaya matahari pagi mulai menyelinap di sela-sela gorden lusuh paviliun samping rumah mertuanya. Kamar yang dulu jadi 'benteng' remajanya, tempat ia menghabiskan masa-masa SMA penuh drama dan ambisi, kini kembali jadi saksi bisu. Ada seringai puas yang tak bisa ia sembunyikan di sudut bibirnya, semacam kemenangan kecil, sebuah perasaan ringan yang sudah lama hilang sejak badai NIPT itu menghantam tanpa ampun. Sejujurnya, malam yang baru saja lewat adalah malam terbaik mereka dalam beberapa bulan terakhir. Seperti dua orang asing yang menemukan lagi jalan pulang. Napas Bima masih terasa panas dan teratur di tengkuknya, mendekap erat seolah tak ingin ia lepas, memberikan rasa aman yang semu namun sangat Lidya butuhkan, seolah dunia di luar sana bisa ia tunda sejenak.Bima merasakan pergerakan Lidya, tubuhnya otomatis merespons. Alih-alih melepaskan, pria itu justru menarik tubuh mungil istrinya ke
Keheningan melayang berat di paviliun samping rumah setelah Tuan Handoko dan Ibu Endah Astuti undur diri, meninggalkan Bima dan Lidya dalam atmosfir yang jauh dari kata nyaman. Paviliun itu adalah kamar Lidya dulu, ruangan yang menyimpan begitu banyak kenangan masa remajanya. Dindingnya masih dicat warna krem lembut, meja belajar kayu jati usang yang setia menemani perjuangannya di bangku sekolah masih ada di sana, bahkan koleksi novel-novel roman klasik dan beberapa komik kesayangannya juga berjejer rapi di rak buku kecil. Seharusnya, tempat ini menjadi oase ketenangan, sebuah benteng aman. Namun kini, di bawah atap yang familier itu, keberadaan Bima justru membuatnya terasa sesak, sempit, bahkan mencekam.Bima tak membuang waktu. Dengan santai, seolah Lidya tak ada di sana, ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Gerakannya tenang, terkontrol, tapi entah mengapa terasa seperti sebuah deklarasi. Lidya bisa melihat jelas bagaimana otot-otot di lengan dan dadanya ber
Ruang makan itu mendadak sunyi, heningnya sampai suara sendok bergesekan piring di meja tetangga pun terdengar begitu jelas. Rasanya seperti ada lembaran tipis es yang menyelimuti suasana hangat makan malam yang tadinya penuh tawa dan canda. Pak Handoko, yang tadi santai-santai saja menyuap bakso, kini menatap Bima dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam. Alisnya berkerut, menuntut penjelasan lebih dari sekadar "akan menyerahkan anak" kepada siapa pun. Di sebelahnya, Ibu Endah Astuti tampak gelisah, tangannya saling meremas di bawah meja seolah berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia mengedarkan pandangan cemas antara Lidya dan Bima.Lidya, sebaliknya, masih diam, rahangnya mengeras. Ia tidak menyesali apa yang baru saja ia katakan. Bagi Lidya, itu adalah kebenaran, tak peduli betapa pahitnya.Bima, dengan ketenangan yang luar biasa, meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak langsung bereaksi. Meneguk air putih sedikit dari gelasnya,







