LOGINPerjalanan dari Ruang Residen menuju kantin terasa lebih panjang dari rute ke toilet darurat saat diare mendadak bagi Kevin dan Vito. Atmosfer ganjil menggantung di antara mereka, berbanding terbalik dengan aura ceria matahari pagi yang menembus jendela rumah sakit. Kaiden ikut bergabung di tengah perjalanan, langkahnya yang santai menyembunyikan agenda tersembunyi seperti seorang detektif menyamar sebagai penonton pertandingan gulat. Kevin merasa lebih diperiksa ketimbang ditemani.
"Gini, Kev," Kaiden memulai lagi, memecah keheningan sembari pura-pura menyimak daftar menu di ponselnya yang gelap. Jelas tidak ada daftar menu, hanya bayangan wajah cemas Kevin di layar hitam. "Kenapa Lidya itu tiba-tiba ghosting? Aku juga lama sekali tidak melihat dia di shift malam. Padahal dia anak didik kesayangan Bima, harusnya intensif. Ini malah kayak program magang siluman."
Kevin menghela napas, napas pasrah seorang penderita maag kronis yang baru saja makan makanan pedas. "Mana
Di kediaman megah keluarga Wisesa, udara seolah memadat, penuh dengan ketegangan dan strategi tersembunyi. Cahaya dari lampu gantung kristal yang mewah justru terasa dingin, menyorot kemewahan yang tak lagi mampu menyamarkan suasana hati. Kevin Abimanyu Wisesa, dengan kompres es yang membungkus sebagian wajahnya, menyandar lesu di sofa berlapis kulit. Sebelah pipinya masih bengkak dan keunguan, kontras dengan kemeja sutra mahal yang ia kenakan. Tiga sahabat setianya—Vito, Gerald, dan Kaiden—duduk mengelilinginya, wajah mereka tak kalah masam. Kevin terlihat seperti banteng yang terluka, siap mengamuk."Sudah berapa kali kukatakan, Pa? Mereka harus dapat balasan!" Kevin berujar, suaranya tercekat dan terasa serak. Setiap kata membuat luka di wajahnya berdenyut. "Aku dipukuli begini sampai tidak bisa melihat gara-gara dua berandal itu, dan Bapak malah diam saja?"Gabriel Wisesa, sang kepala keluarga, duduk santai di seberangnya, tak sedikit pun menunjukkan empati yang diinginkan putrany
Lidya menggeliat pelan. Helaian rambutnya yang agak lepek menempel di pipi saat cahaya matahari pagi mulai menyelinap di sela-sela gorden lusuh paviliun samping rumah mertuanya. Kamar yang dulu jadi 'benteng' remajanya, tempat ia menghabiskan masa-masa SMA penuh drama dan ambisi, kini kembali jadi saksi bisu. Ada seringai puas yang tak bisa ia sembunyikan di sudut bibirnya, semacam kemenangan kecil, sebuah perasaan ringan yang sudah lama hilang sejak badai NIPT itu menghantam tanpa ampun. Sejujurnya, malam yang baru saja lewat adalah malam terbaik mereka dalam beberapa bulan terakhir. Seperti dua orang asing yang menemukan lagi jalan pulang. Napas Bima masih terasa panas dan teratur di tengkuknya, mendekap erat seolah tak ingin ia lepas, memberikan rasa aman yang semu namun sangat Lidya butuhkan, seolah dunia di luar sana bisa ia tunda sejenak.Bima merasakan pergerakan Lidya, tubuhnya otomatis merespons. Alih-alih melepaskan, pria itu justru menarik tubuh mungil istrinya ke
Keheningan melayang berat di paviliun samping rumah setelah Tuan Handoko dan Ibu Endah Astuti undur diri, meninggalkan Bima dan Lidya dalam atmosfir yang jauh dari kata nyaman. Paviliun itu adalah kamar Lidya dulu, ruangan yang menyimpan begitu banyak kenangan masa remajanya. Dindingnya masih dicat warna krem lembut, meja belajar kayu jati usang yang setia menemani perjuangannya di bangku sekolah masih ada di sana, bahkan koleksi novel-novel roman klasik dan beberapa komik kesayangannya juga berjejer rapi di rak buku kecil. Seharusnya, tempat ini menjadi oase ketenangan, sebuah benteng aman. Namun kini, di bawah atap yang familier itu, keberadaan Bima justru membuatnya terasa sesak, sempit, bahkan mencekam.Bima tak membuang waktu. Dengan santai, seolah Lidya tak ada di sana, ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Gerakannya tenang, terkontrol, tapi entah mengapa terasa seperti sebuah deklarasi. Lidya bisa melihat jelas bagaimana otot-otot di lengan dan dadanya ber
Ruang makan itu mendadak sunyi, heningnya sampai suara sendok bergesekan piring di meja tetangga pun terdengar begitu jelas. Rasanya seperti ada lembaran tipis es yang menyelimuti suasana hangat makan malam yang tadinya penuh tawa dan canda. Pak Handoko, yang tadi santai-santai saja menyuap bakso, kini menatap Bima dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam. Alisnya berkerut, menuntut penjelasan lebih dari sekadar "akan menyerahkan anak" kepada siapa pun. Di sebelahnya, Ibu Endah Astuti tampak gelisah, tangannya saling meremas di bawah meja seolah berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia mengedarkan pandangan cemas antara Lidya dan Bima.Lidya, sebaliknya, masih diam, rahangnya mengeras. Ia tidak menyesali apa yang baru saja ia katakan. Bagi Lidya, itu adalah kebenaran, tak peduli betapa pahitnya.Bima, dengan ketenangan yang luar biasa, meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak langsung bereaksi. Meneguk air putih sedikit dari gelasnya,
Suasana ruang makan keluarga Wardhana malam itu, sejujurnya, agak janggal. Aroma gurih soto ayam buatan Ibu Endah Astuti dan tempe goreng renyah seolah berusaha menutupi ganjalan tak kasatmata yang memenuhi ruangan. Ibu Endah sendiri, wanita paruh baya dengan senyum yang biasanya hangat, terlihat sedikit gelisah. Sesekali ia melirik Lidya, putrinya, dengan ekspresi cemas."Ayo, makan yang banyak, Bima. Kamu pasti lelah sekali menyetir sejauh itu," ujar Ibu Endah lembut, berusaha mati-matian mencairkan suasana. Tangannya sibuk menata piring-piring, porsi nasi Bima yang disendoknya lumayan menggunung.Bima tersenyum sopan. Sebuah senyum tipis yang entah mengapa terlihat seperti topeng di mata Lidya. "Terima kasih banyak, Bu Endah. Masakan Ibu ini selalu sukses membuat saya kangen dan rasanya jauh lebih enak dibanding masakan restoran mana pun," katanya sambil menyendok nasi dengan tenang. Matanya sempat melirik Lidya, lalu kembali fokus pada piringnya, seolah tidak ada b
Bima berada dalam hiruk pikuk emosi. Dunia di luar Bugatti Chiron yang membelah aspal Tol Trans Jawa tampak samar, tak berarti. Yang ia rasakan hanyalah amarah membara dan ketakutan dingin yang mencengkeram hatinya. Beberapa menit lalu, sebuah panggilan dari Lidya, entah dari Purwokerto atau mana, telah mengempaskan semua kenyamanannya.Lidya, dengan suara setenang danau pagi, bilang ia ingin cerai. Cerai? Dengan Bima? Ini lelucon! Belum reda guncangan itu, Bramantyo sudah ia hubungi, menginstruksikan agar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ditunda dengan alasan darurat keluarga. Bagi Bima, kehilangan Cendikia Medika adalah bencana besar, tapi kehilangan Lidya, apalagi dengan permintaannya yang terang-terangan di depan publik dan keluarganya, adalah kehinaan yang tak bisa ia terima. Tidak akan pernah.Jarum jam menunjuk angka sebelas lewat. Bima berhasil memangkas jarak antara Jakarta-Purwokerto dalam waktu yang—bila tak ilegal—patut diacungi jempol. Deru mesin Bugatti y







