Share

Bab 8 Sebuah Ancaman

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-26 12:35:43

“Bukannya hubungan sejawat itu dilarang karena melanggar asas profesionalitas yang Anda tetapkan, Mas Bima? Apa saya benar?” Lidia meletakkan sendoknya pelan nyaris tak bersuara. Suasana di ruang makan rumah  itu mendadak jadi tegang. Dari rumah Bima yang terletak di sisi utara yang berbukit, lampu-lampu kota yang kelap-kelip terasa begitu ironis dengan perasaan Lidia yang ingin sekali menjerit.

Bima mengelap mulutnya pelan, bibirnya tersungging senyum licik yang familier. Senyum yang selalu muncul ketika dia merasa memegang kendali. “Apa aku mengambil tindakan pada kau dan pacarmu Kevin? Tidak, bukan? Lebih tepatnya… belum.” Kata Bima, tatapannya menyapu wajah Lidia. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar peringatan di matanya, semacam janji atau ancaman yang tak terucap.

Lidia tersentak, terbatuk pelan, berusaha mengendalikan gejolak dalam dadanya. Kalimat itu langsung mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan lalu. Dia masih ingat jelas bagaimana dokter Surya begitu kesalnya saat dokter Bima dan dewan etik menjatuhi sanksi skorsing. Kasusnya sama, kedapatan menjalin kasih dengan Perawat Debby, juniornya. Parahnya, Perawat Debby langsung diberhentikan dari Rumah Sakit tanpa basa-basi, tanpa ruang negosiasi, seolah dia hanyalah barang buangan. Keduanya profesional, berpendidikan, tapi Bima punya aturan main sendiri, yang anehnya hanya berlaku selektif. Surya memang tidak sampai dipecat, tapi reputasinya hancur lebur di mata sejawat dan pasiennya. Sanksi yang terasa begitu sepihak dan tidak adil.

“Dengar, Mas Bima, saya mengerti sekali konsekuensinya.” Lidia akhirnya memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah Bima. "Baiklah, dokter Kevin sangat dibutuhkan di rumah sakit Anda. Kevin adalah aset penting. Tapi saya bisa mundur dari internship saya sekaligus mundur sebagai staf di bawah supervisi Anda.” Lidia berkata, wajahnya menegang, setiap kata diucapkan dengan berat tapi tegas. Ini adalah kartu AS-nya, satu-satunya cara dia melihat untuk melindungi Kevin. Mungkin ia bodoh mengorbankan karier impiannya, tapi entah kenapa rasa cintanya pada Kevin terasa lebih mendesak.

Bima tergelak kecil, tawa remehnya memenuhi ruang. “Tidak perlu begitu, Lidia. Pengorbanan apa itu? Terlalu dramatis.” Dia melambaikan tangan, seolah tawaran Lidia hanya angin lalu. “Cinta memang butuh pengorbanan, aku setuju. Tapi kau terlalu sentimentil menghadapi kasus yang menimpa Dokter Surya, bukan? Aku hanya menegakkan disiplin.” Bima menghela napas, seolah ia adalah korban salah paham di sini. “Tapi kita bisa bermain cantik. Tanpa kau harus mengorbankan internshipmu.” Sebuah senyum tipis, lebih ke seringai, tersungging di bibirnya. “Anggap saja… asistensi personal dan rahasia.”

Jantung Lidia berdebar keras. Asistensi personal dan rahasia? Pikirannya berpacu, mengaitkan potongan-potongan perkataan dan sorot mata Bima yang intens sejak awal pertemuan mereka malam itu. Ada getaran aneh yang tak ia pahami, namun firasatnya mengatakan itu bukanlah hal yang baik sama sekali. Dia tahu maksudnya, dan ia tidak suka. Sama sekali tidak suka.

“Tidak, terima kasih.” Lidia berucap cepat, tangannya mengepal erat di bawah meja. Ia merasa sesak dan kotor hanya dengan memikirkan kemungkinannya. Dengan gerakan tegas, ia beranjak dari kursinya, niatnya untuk meninggalkan tempat itu sejelas gerak tubuhnya.

Bima meraih pergelangan tangannya, menghentikannya. Genggamannya lembut namun kuat, tidak ada celah untuknya melepaskan diri. “Jangan terlalu emosional, Lidia. Pikirkan lagi. Jika kau gagal internship, kau tahu konsekuensinya.” Bima menarik Lidia sedikit lebih dekat, tatapan mengintimidasinya membuat bulu kuduk Lidia meremang. “Dan aku… aku punya cukup banyak suara di organisasi yang mengatur segalanya. Apa kau puas hanya jadi sarjana kedokteran dan bukan menjadi dokter klinis yang sebenarnya? Itu hal yang sia-sia, bukan?” Tekanan Bima makin menyesakkan dadanya, merampas oksigen dari paru-parunya. Ancaman itu terasa lebih mengerikan daripada apa pun. Dia tahu Bima tidak main-main.

Lidia menarik paksa tangannya, sedikit goyah namun tetap berusaha berdiri tegak. Dia melangkah mundur, menghindari sentuhan Bima, dan bergerak menuju ruang tamu Bima yang mungil tapi mewah, berukuran studio dengan pemandangan kota. Ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, gerimis yang membasahi kaca membentuk gurat air yang memantulkan bayangan samar dirinya dengan jas putih, seragam yang baru beberapa minggu lalu dengan bangga ia kenakan.

Hening sejenak. Hanya suara gerimis yang menampar kaca. Tiba-tiba, sebuah pelukan melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum Bima yang tajam menusuk hidungnya. Jantung Lidia berdetak tak keruan. Tubuhnya kaku, menegang di dalam dekapan Bima.

“Mungkin… kau mabuk malam itu, Lidia. Dan itu… itu pelanggaran etika berat untuk seorang dokter,” Bima berbisik di telinga Lidia, suaranya berat, menciptakan sensasi panas di kulitnya. Sebuah kalimat yang janggal, anehnya terasa asing tapi sekaligus mengerikan. Malam itu? Malam apa? Pikir Lidia.

“Anda juga,” jawab Lidia refleks, meski dalam hati ia tak mengerti persis apa yang Bima bicarakan. Tangan Bima yang bebas perlahan menyusup di antara jemari Lidia, menggenggamnya erat. Jemari itu dingin dan kasar, berbeda sekali dengan Kevin.

“Aku tidak mabuk, Lidia,” bisiknya lagi, makin intens, bibirnya menyentuh telinga Lidia, "Aku sadar sepenuhnya." Dia menekan Lidia lebih rapat ke tubuhnya. “Karena itu aku ingat… setiap getar yang kau tinggalkan di tubuhku.” Katanya, lembut namun penuh ancaman, dingin, menghantarkan sengatan aneh ke seluruh tubuh Lidia.

Wajah Lidia memucat. Matanya melebar penuh horor. Otaknya tiba-tiba bekerja sangat cepat, menyusun puzzle-puzzle kosong. Getar apa? Kapan? Dia terperanjat. Sesuatu yang tak bisa ia ingat atau tak ingin diingatnya lagi… Sesuatu yang begitu penting telah terjadi. Sesuatu yang bodoh. 

“Apa??” gumam Lidia, lebih terdengar seperti erangan, otaknya berhenti bekerja, membeku di tempat. Rasa takut dan kebingungan bercampur menjadi satu. Dia tak mengerti. Dia tidak ingat apa-apa. Atau jangan-jangan, dia tidak mau mengingatnya dan menganggap itu semua hanya halusinasinya saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 321: Di Antara Reruntuhan Ego

    Angin malam di Semarang Atas terasa lebih menggigit daripada biasanya, menerpa melalui celah jendela kamar Kevin yang terbuka sebagian. Aroma melati dari kebun tetangga bercampur dengan hembusan udara dingin, seolah turut menyampaikan pertanda buruk. Kevin menekan tombol merah pada ponselnya, memutuskan sambungan telepon dengan dahi berkerut dalam. Berita yang baru saja ia terima, mengalir melalui kanal internal medis yang biasanya steril dari hiruk-pikuk skandal, sungguh mengguncang jiwanya.Penangkapan Kanaya Mahawira di sebuah vila mewah di Puncak, atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan kemunculan tiba-tiba kakeknya, Rafael Irwanto, di hadapan publik Jakarta, sudah menjadi tajuk utama yang paling mencolok. Informasi tersebut menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, berpotensi meruntuhkan pilar-pilar Cendekia Medika yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Kevin menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh beban informasi yang harus segera ia sampaikan. Ia harus memberit

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 320: Perisai Hukum dan Luka Lama

    Berita penangkapan Kanaya Mahawira di Puncak menyebar laksana kobaran api di atas bensin, melalap fondasi yang rapuh. Pagi yang muram itu, bursa saham Jakarta terguncang hebat; nilai saham Mahawira Group di Cendekia Medika anjlok mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir. Di koridor-koridor rumah sakit yang dulunya megah, bisik-bisik mengenai status "anak haram" Alvin Mahawira mulai menjadi konsumsi publik, meruntuhkan martabat luhur yang selama ini dijunjung tinggi oleh dinasti Mahawira. Gelombang desas-desus itu, bagaikan racun yang perlahan menggerogoti, mulai meresapi setiap sendi operasional, mengancam kestabilan institusi medis kebanggaan itu.Di ruang rapat utama Cendekia Medika, atmosfer tegang mencengkeram. Aura kekuasaan berbenturan dengan duka dan kemarahan. Bima Adnyana berdiri tegak di ujung meja marmer panjang, dengan wajah yang mengeras, urat di pelipisnya menonjol pertanda emosi yang memuncak. Di sampingnya, dr. Asri, dengan tatapan kosong dan mata sembab, men

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 319: Tragedi di Balik Kabut Puncak

    Puncak adalah lokasi yang dipilih oleh mereka yang mendambakan ketenangan, sebuah oasis terpencil yang berjanji melepaskan hiruk pikuk kehidupan kota. Namun, malam itu, kemegahan ilusi tersebut runtuh di salah satu vila megah tertinggi, di balik kabut tebal yang menyelimuti kediaman tua milik keluarga Mahawira. Udara dingin, pekat, menusuk hingga ke relung tulang, seolah menjadi prelud dari ketegangan yang menyesakkan di dalamnya. Jam dinding kuno yang berdiri tegak di sudut ruang tamu berdenting lemah, memecah kesunyian yang membeku.Kanaya Mahawira duduk anggun namun dengan aura yang mencekam di hadapan dr. Raditya, sosok yang wajahnya tersenyum tipis namun penuh perhitungan. Cahaya temaram dari lampu gantung bergaya klasik di langit-langit seolah tak cukup untuk mengusir bayangan-bayangan gelap yang menari di sudut ruangan. Sebuah botol anggur Burgundy nan mahal, terukir indah dengan detail rumit, serta dua gelas kristal nan jernih telah tersaji rapi di atas meja marmer, mencermink

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 318 Rencana Lain Kanaya

    Sementara itu di belahan kota Jakarta yang berbeda, dalam keheningan mencekam kediaman megah keluarga Mahawira, Kanaya Mahawira berdiri terpaku di balik jendela kamarnya. Kaca temaram memantulkan bayangan samar dirinya yang gelisah. Malam telah merayap, menelan cahaya senja, dan kegelapan di luar terasa makin pekat. Ia menatap lekat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang utama rumahnya. Tiga jam sudah mobil itu bergeming di sana, seperti predator yang sabar menanti mangsanya."Mereka sudah di sini," bisik Kanaya, jemarinya mencengkeram erat gorden beludru, buku-buku jarinya memutih. Tangannya gemetar hebat, sebuah tanda ketakutan yang kian mendalam. "Itu... pasti orang-orang Bima."Matanya memicing, berusaha menembus kegelapan, seolah dapat melihat sosok-sosok yang bersembunyi di balik kaca gelap mobil tersebut. "Dia... dia sudah mulai mengawasiku. Raditya pasti sudah berbicara dengannya, atau Bima sudah berhasil menemukan jejak di Semarang, melacak transaksi an

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 317: Syarat Sang Kakak dan Langkah Nekat Kanaya

    Darren Wisesa menatap adiknya dengan tatapan yang dingin membeku, serupa kepingan es di puncak pegunungan. Ruangan kantor pribadinya yang biasanya megah terasa kian menyesakkan, terpenuhi oleh beratnya rahasia yang baru saja tersingkap, mengancam untuk menodai kehormatan trah Wisesa. Sebagai nahkoda yang kini memimpin bahtera keluarga Wisesa, Darren memahami betul dilema pelik yang tengah ia hadapi.Dendam kesumat terhadap Surya Baskara, yang dahulu pernah mencoba menjatuhkan imperiumnya, adalah kepuasan pribadi yang tak terlukiskan. Namun, membiarkan garis keturunan mereka terpuruk dalam jurang skandal pembunuhan, dengan tudingan yang dilekatkan pada anggota keluarga, adalah tindakan bunuh diri bagi citra dan kelangsungan bisnis mereka. Keputusan harus diambil, dan konsekuensinya terasa berat."Baik, Kevin. Aku akan menggunakan seluruh jaringan hukum keluarga Wisesa yang kita miliki untuk melunakkan posisi Surya Baskara," ucap Darren, suaranya berat, serupa racun pahit yang terpaksa

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 315: Pengakuan Berdarah dan Jejak yang Tertinggal

    Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi dr. Darren Wisesa yang didesain untuk menyerap segala bentuk kebisingan eksternal, namun kini justru dipenuhi oleh bisikan mengerikan dari kebenaran yang tak terduga, suasana terasa begitu mencekam.Meja kerja mahogani nan mewah itu, tempat ia biasa menyelesaikan transaksi-transaksi bernilai jutaan dolar dengan ketenangan absolut, kini menjadi saksi bisu atas goncangan batin yang tengah melandanya. Darren menatap adiknya, Kevin, dengan tatapan tajam dan penuh ketidaksenangan. Di atas meja, Kevin baru saja meletakkan salinan dokumen yang ia dapatkan dari Raditya, sebuah salinan yang bobotnya kini terasa jauh lebih berat daripada lembaran-lembaran kertas finansial."Kau memintaku untuk membantu Surya Baskara? Kau gila, Kevin?" desis Darren, suaranya rendah namun dipenuhi amarah yang membara. "Pria itu sudah hampir menghancurkan kita di Budapest. Dia pantas membusuk di penjara selamanya atas apa yang ia lakukan. Dan sekarang kau dengan lancang memi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status