Share

Bab 7 Jerat yang dipasang

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-24 12:24:45

Dia memarkirkan mobil di pinggir jalan yang sepi, lalu melangkah ke pintu gerbang, memencet bel pintu yang besar itu. Beberapa detik berlalu, terasa seperti keabadian. Lalu pintu terbuka perlahan. Sosok Dokter Bima berdiri di ambang pintu, hanya memakai kaos abu-abu santai dan celana training, tanpa jubah putih kebanggaannya yang biasanya menyelimutinya di rumah sakit. Penampilannya sungguh jauh berbeda dari biasanya. Bahkan, ada senyum tipis di bibirnya yang nyaris tak pernah terlihat di rumah sakit. Itu bukan senyum lebar atau ramah, tapi senyum kecil yang terlihat lebih seperti kelegaan atau mungkin... sebuah sambutan yang sungguh mengejutkan?

"Masuklah," kata Bima, mempersilakan dengan gerakan kepala.

Lidia terkesiap. Sebenarnya ia masih bingung, mengapa orang ini menyuruhnya ke rumah. Di tangannya ada flash disk berisi laporannya. Lidia berniat langsung menyerahkannya agar cepat pulang.

"Kamu sudah makan?" tanya Bima lagi, nadanya sedikit lebih hangat daripada di rumah sakit.

Lidia menggelengkan kepala. Jujur, ia sudah sangat lapar, tapi pikirannya hanya ingin menyerahkan flash disk itu secepatnya lalu pulang, bersembunyi di balik selimut nyamannya dan melupakan hari yang panjang ini.

"Ayo temani aku makan," kata Bima, suaranya terdengar tidak menerima penolakan. Dia berbalik menuju dapur yang terlihat modern dan rapi, dan Lidia merasa tak punya pilihan selain mengikutinya dengan canggung.

"Tapi, Dokter…" Lidia mencoba protes, "saya cuma mau menyerahkan laporan…"

Belum sempat Lidia menyelesaikan kalimatnya, Bima memotong. "Panggil 'Mas Bima' saja saat tak sedang di kantor atau rumah sakit. Ini rumahku. Duduklah, ada ayam panggang, salad, dan menu lainnya. Pilih yang kau suka." Bima berbicara dengan intonasi yang jauh lebih santai, seperti orang yang jauh berbeda dengan sosok jaim-nya yang dingin di rumah sakit. Ini Bima yang beda 180 derajat.

Lidia termangu, sedikit terkejut dengan perubahan sikap dr. Bima yang drastis itu. Setelah mencuci tangan dengan air hangat di wastafel dapur Bima, ia duduk di salah satu kursi di meja makan. Bima kemudian menaruh piring dan gelas kosong di hadapannya, mengisi gelas dengan air putih segar.

"Aku senang kau menemaniku makan," kata Bima, menyodorkan piring berisi potongan ayam panggang ke tengah meja. Aromanya menggoda. "Bagaimana, ada yang kau suka?"

Lidia mengamati hidangan yang disajikan Bima. Terlihat sederhana tapi berkualitas dan segar. Ia mengambil beberapa lembar salad hijau segar dan mulai memakannya pelan-pelan. Bima tidak melepaskan pandangannya dari Lidia, sebuah tatapan yang terasa begitu intens. Tatapan itu membuat Lidia merasa semakin terintimidasi. Apakah ia telah melakukan kesalahan lagi? Atau... apa maunya orang ini sebenarnya? Lidia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah dia harus melanjutkan makan, atau berbicara untuk meredakan ketegangan aneh ini?

Lidia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang sudah dari tadi konser maraton. Bagaimana tidak, baru kemarin insiden memalukan yang nyaris membuatnya 'terjatuh', eh, sekarang dia sudah diundang makan malam oleh Bima di rumahnya. Sebuah rumah yang megah, terlalu megah untuknya. Mereka berdua duduk di meja makan dengan hidangan mewah yang segan ia sentuh. "Laporannya sudah saya email tadi pagi, mas. Dan sekarang saya membawa flash disk" kata Lidia, mencoba memecah keheningan yang semakin membuatnya gugup, dan yang terpenting, mengalihkan fokus dari aura Bima.

"Oh, laporan ya?" Bima terkekeh pelan, suaranya seperti untaian musik klasik yang mendalam. "Itu mah bisa menunggu, Lidia." Dia menyesap anggurnya, pandangannya mengunci mata Lidia, tajam tapi tenang. "Lagipula, laporan bukan prioritas utama sekarang, kan?" Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Prioritas saya? Tentu saja rindu. Tapi, Rindu ini tidak bisa menunggu, Lidia."

Rindu? Lidia nyaris tersedak salad yang baru saja masuk ke mulutnya. Kalau saja tidak sedang berusaha mati-matian menjaga etiket. Jantungnya bukan lagi berkejaran, tapi seolah terlempar dari rusuknya. Mendadak, nafsu makannya amblas tak berbekas. Perutnya bergolak mual, punggungnya serasa ditusuk es tapi wajahnya membara panas. Oh Tuhanku, jeritnya dalam hati, aku masuk ke rumah yang salah. Harusnya dia kabur saja tadi! Seharusnya dia tahu ini jebakan.

Bima kembali terkekeh, seolah bisa membaca pikirannya. "Jangan tegang gitu, Lidia. Kamu kelihatan makin cantik kalau panik. Apalagi, aura misteriusmu itu." Dia maju sedikit, tatapannya kini terasa mengikis. "Aku jujur kangen banget lho ngobrol santai kayak malam itu. Jarang-jarang aku bisa ketemu orang sefrekuensi, yang punya sisi kelam tapi terbungkus rapi banget di balik kepolosan..." Dia menyunggingkan senyum yang manis namun sukses bikin Lidia merinding. "Sungguh, bikin penasaran setengah mati."

Lidia semakin kicep, tak mampu berucap sepatah kata pun. Semua yang ada di otaknya menguap begitu saja.

"Jadi begini Lidia," Bima menatapnya lekat. "Aku sungguh tak bisa melupakan malam itu. Sama sekali. Bayanganmu terus saja menghantuiku." Dia meletakkan gelas anggurnya. "Maka dari itu, aku sengaja mengundangmu ke sini. Tentu saja, untuk membahas malam itu. Agar jelas."

Tangan tak kasat mata seolah menjerat lehernya. Lidia menunduk dalam, bibirnya kelu dan kering. Dia tak berani sama sekali mendongak dan menatap wajah atasannya yang kini berubah, serasa jauh lebih menyeramkan dari apa pun di dunia ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 321: Di Antara Reruntuhan Ego

    Angin malam di Semarang Atas terasa lebih menggigit daripada biasanya, menerpa melalui celah jendela kamar Kevin yang terbuka sebagian. Aroma melati dari kebun tetangga bercampur dengan hembusan udara dingin, seolah turut menyampaikan pertanda buruk. Kevin menekan tombol merah pada ponselnya, memutuskan sambungan telepon dengan dahi berkerut dalam. Berita yang baru saja ia terima, mengalir melalui kanal internal medis yang biasanya steril dari hiruk-pikuk skandal, sungguh mengguncang jiwanya.Penangkapan Kanaya Mahawira di sebuah vila mewah di Puncak, atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan kemunculan tiba-tiba kakeknya, Rafael Irwanto, di hadapan publik Jakarta, sudah menjadi tajuk utama yang paling mencolok. Informasi tersebut menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, berpotensi meruntuhkan pilar-pilar Cendekia Medika yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Kevin menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh beban informasi yang harus segera ia sampaikan. Ia harus memberit

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 320: Perisai Hukum dan Luka Lama

    Berita penangkapan Kanaya Mahawira di Puncak menyebar laksana kobaran api di atas bensin, melalap fondasi yang rapuh. Pagi yang muram itu, bursa saham Jakarta terguncang hebat; nilai saham Mahawira Group di Cendekia Medika anjlok mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir. Di koridor-koridor rumah sakit yang dulunya megah, bisik-bisik mengenai status "anak haram" Alvin Mahawira mulai menjadi konsumsi publik, meruntuhkan martabat luhur yang selama ini dijunjung tinggi oleh dinasti Mahawira. Gelombang desas-desus itu, bagaikan racun yang perlahan menggerogoti, mulai meresapi setiap sendi operasional, mengancam kestabilan institusi medis kebanggaan itu.Di ruang rapat utama Cendekia Medika, atmosfer tegang mencengkeram. Aura kekuasaan berbenturan dengan duka dan kemarahan. Bima Adnyana berdiri tegak di ujung meja marmer panjang, dengan wajah yang mengeras, urat di pelipisnya menonjol pertanda emosi yang memuncak. Di sampingnya, dr. Asri, dengan tatapan kosong dan mata sembab, men

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 319: Tragedi di Balik Kabut Puncak

    Puncak adalah lokasi yang dipilih oleh mereka yang mendambakan ketenangan, sebuah oasis terpencil yang berjanji melepaskan hiruk pikuk kehidupan kota. Namun, malam itu, kemegahan ilusi tersebut runtuh di salah satu vila megah tertinggi, di balik kabut tebal yang menyelimuti kediaman tua milik keluarga Mahawira. Udara dingin, pekat, menusuk hingga ke relung tulang, seolah menjadi prelud dari ketegangan yang menyesakkan di dalamnya. Jam dinding kuno yang berdiri tegak di sudut ruang tamu berdenting lemah, memecah kesunyian yang membeku.Kanaya Mahawira duduk anggun namun dengan aura yang mencekam di hadapan dr. Raditya, sosok yang wajahnya tersenyum tipis namun penuh perhitungan. Cahaya temaram dari lampu gantung bergaya klasik di langit-langit seolah tak cukup untuk mengusir bayangan-bayangan gelap yang menari di sudut ruangan. Sebuah botol anggur Burgundy nan mahal, terukir indah dengan detail rumit, serta dua gelas kristal nan jernih telah tersaji rapi di atas meja marmer, mencermink

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 318 Rencana Lain Kanaya

    Sementara itu di belahan kota Jakarta yang berbeda, dalam keheningan mencekam kediaman megah keluarga Mahawira, Kanaya Mahawira berdiri terpaku di balik jendela kamarnya. Kaca temaram memantulkan bayangan samar dirinya yang gelisah. Malam telah merayap, menelan cahaya senja, dan kegelapan di luar terasa makin pekat. Ia menatap lekat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang utama rumahnya. Tiga jam sudah mobil itu bergeming di sana, seperti predator yang sabar menanti mangsanya."Mereka sudah di sini," bisik Kanaya, jemarinya mencengkeram erat gorden beludru, buku-buku jarinya memutih. Tangannya gemetar hebat, sebuah tanda ketakutan yang kian mendalam. "Itu... pasti orang-orang Bima."Matanya memicing, berusaha menembus kegelapan, seolah dapat melihat sosok-sosok yang bersembunyi di balik kaca gelap mobil tersebut. "Dia... dia sudah mulai mengawasiku. Raditya pasti sudah berbicara dengannya, atau Bima sudah berhasil menemukan jejak di Semarang, melacak transaksi an

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 317: Syarat Sang Kakak dan Langkah Nekat Kanaya

    Darren Wisesa menatap adiknya dengan tatapan yang dingin membeku, serupa kepingan es di puncak pegunungan. Ruangan kantor pribadinya yang biasanya megah terasa kian menyesakkan, terpenuhi oleh beratnya rahasia yang baru saja tersingkap, mengancam untuk menodai kehormatan trah Wisesa. Sebagai nahkoda yang kini memimpin bahtera keluarga Wisesa, Darren memahami betul dilema pelik yang tengah ia hadapi.Dendam kesumat terhadap Surya Baskara, yang dahulu pernah mencoba menjatuhkan imperiumnya, adalah kepuasan pribadi yang tak terlukiskan. Namun, membiarkan garis keturunan mereka terpuruk dalam jurang skandal pembunuhan, dengan tudingan yang dilekatkan pada anggota keluarga, adalah tindakan bunuh diri bagi citra dan kelangsungan bisnis mereka. Keputusan harus diambil, dan konsekuensinya terasa berat."Baik, Kevin. Aku akan menggunakan seluruh jaringan hukum keluarga Wisesa yang kita miliki untuk melunakkan posisi Surya Baskara," ucap Darren, suaranya berat, serupa racun pahit yang terpaksa

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 315: Pengakuan Berdarah dan Jejak yang Tertinggal

    Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi dr. Darren Wisesa yang didesain untuk menyerap segala bentuk kebisingan eksternal, namun kini justru dipenuhi oleh bisikan mengerikan dari kebenaran yang tak terduga, suasana terasa begitu mencekam.Meja kerja mahogani nan mewah itu, tempat ia biasa menyelesaikan transaksi-transaksi bernilai jutaan dolar dengan ketenangan absolut, kini menjadi saksi bisu atas goncangan batin yang tengah melandanya. Darren menatap adiknya, Kevin, dengan tatapan tajam dan penuh ketidaksenangan. Di atas meja, Kevin baru saja meletakkan salinan dokumen yang ia dapatkan dari Raditya, sebuah salinan yang bobotnya kini terasa jauh lebih berat daripada lembaran-lembaran kertas finansial."Kau memintaku untuk membantu Surya Baskara? Kau gila, Kevin?" desis Darren, suaranya rendah namun dipenuhi amarah yang membara. "Pria itu sudah hampir menghancurkan kita di Budapest. Dia pantas membusuk di penjara selamanya atas apa yang ia lakukan. Dan sekarang kau dengan lancang memi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status