Masuk"Bejo. Kamu pernah dengar suara adikmu dari luar kandang?""Pernah.""Berarti dindingnya tipis. Berarti bisa dimasuki dari belakang.""Tapi ada orang jaga!""Aku nggak bilang kita masuk diam-diam.""Jadi?""Aku mau bertamu."Bejo membuka mulut lebar. "Bertamu? Malam-malam?""Orang desa biasanya senang kalau ada tamu." Maman menepuk punggungnya. "Kamu pulang ke rumah. Tidur. Besok pagi kamu ke Pustu, cari aku.""Tapi adikku...""Aku janji. Aku nggak akan biarkan adikmu dibawa ke mana pun." Maman menatap mata anak itu. "Kamu percaya?"Bejo ragu. Lalu ia mengangguk."Bagus. Sekarang pulang."Bejo berlari ke arah gubuk-gubuk desa. Maman berdiri sendirian di tengah jalan, menghela napas, lalu menengadah menatap langit."Ya sudah, Eyang. Aku nggak punya rajah. Aku nggak punya Rudi. Tapi aku punya topi dan lutut yang bunyi."Tidak ada jawaban. Hanya angin malam dan suara jangkrik. Maman tersenyum tipis, lalu mulai melangkah menuju rumah Juragan Darsono.Rumah besar itu menyambut dengan lampu
"Wening?" bisik Laksmi.Wanita berseragam bidan itu tersenyum. Bayi di gendongannya menggeliat pelan, lalu tertidur lagi."Betul. Saya Wening." Suaranya datar, seperti membaca teks. "Mbak Laksmi pasti capek. Silakan istirahat.""Mbak baik-baik saja?""Saya sangat baik.""Sebelas bulan nggak ada kabar. Mbok Jum bilang Mbak hilang.""Saya tidak hilang. Saya bekerja."Juragan Darsono mengetukkan tongkatnya ke tanah dengan lembut. "Cukup, Wening. Biarkan tamu kita bernapas."Wening mengangguk patuh dan berbalik ke dalam kandang. Laksmi memandangnya sampai hilang di antara boks-boks bayi. Hatinya mencelos. Mata wanita itu tidak pernah berkedip."Bu Bidan," kata Juragan Darsono ramah. "Saya tidak berniat menyakiti siapa pun. Mari, kita bicara di pendopo. Saya sudah siapkan teh.""Saya nggak mau teh.""Wedang jahe?""Juga nggak.""Kalau begitu, tidak ada pilihan lain." Senyumnya tetap hangat. "Pak Karyo."Dari balik pohon pisang muncul dua pria bertubuh kekar memakai baju hitam. Mereka berdi
Mereka pergi. Begitu langkah mereka menjauh, Laksmi memegang dadanya. Jantungnya berdebar kencang. "Neng, kamu gila!" bisik Mbok Jum. "Kenapa tanya begitu?" "Aku nggak sengaja." "Itu jelas sengaja!" "Aku cuma kebawa." Bejo merangkak keluar dari kolong tempat tidur. "Bu Bidan berani sekali." "Itu bodoh, Jo. Jangan ditiru." "Tapi keren." "Itu juga jangan." Danu masuk dan mengunci pintu. Wajahnya tegang. "Mbak. Mereka sudah curiga." "Aku tahu." "Kita nggak punya waktu. Bulan purnama tiga hari lagi." "Memangnya kenapa?" Danu menelan ludah. "Tiap purnama, ada satu bayi yang diambil dari kandang. Kata orang-orang, dibawa ke ruang bawah rumah Juragan. Setelah itu, nggak pernah terdengar lagi." "Siapa yang bilang?" "Kakakku. Dulu dia sering ikut membersihkan kandang." "Kakakmu?" "Ratri. Dia melahirkan setahun lalu. Bayinya laki-laki. Namanya Gilang." Danu menunduk. Suaranya pecah. "Katanya mati. Tapi aku yakin masih hidup. Waktu itu aku ikut ngubur peti kosong." Laksmi meme
Laksmi menarik Bejo masuk ke ruang periksa dan menutup pintu pelan-pelan. Ia menyalakan lampu kecil di meja, lalu berjongkok supaya sejajar dengan mata anak itu."Pelan-pelan. Ceritakan dari awal.""Aku takut, Bu Bidan.""Ibu juga takut. Tapi kita cerita bareng, ya."Bejo mengusap hidungnya dengan punggung tangan. "Ibuku namanya Wati. Tiga minggu lalu dia melahirkan adikku di rumah. Yang bantu Bu Lurah.""Bu Lurah itu bidan?""Bukan. Dia istri Pak Lurah. Tapi semua ibu hamil di sini lahirannya dibantu dia.""Terus?""Waktu adikku lahir, aku disuruh keluar. Nggak lama, Bu Lurah bilang adikku meninggal. Ibuku nangis, tapi nggak boleh lihat jenazahnya. Bu Lurah bilang sudah dikubur sama Pak Juragan.""Dikubur di mana?""Nggak ada yang tahu."Laksmi mengernyit. Ia ingat kuburan desa yang tadi dilewatinya. Tidak ada satu pun nisan kecil."Terus kamu dengar adikmu menangis?""Iya. Kemarin malam aku ikut ibuku diam-diam ke rumah Juragan. Ibuku bilang mau pengajian, tapi dia nggak bawa mukena
SEASON 4"Mbak, turun di sini ya. Jalannya tidak bisa dilewati mobil."Laksmi melongok dari kaca angkot. Di depannya terbentang jalan tanah berlumpur, diapit sawah dan pohon kelapa. Tidak ada rumah, tidak ada warung, hanya sebuah gapura kayu lapuk bertuliskan: SELAMAT DATANG DI DESA KEDUNG REJO."Tinggal berapa kilo lagi, Pak?""Dua. Tapi ojek biasanya nunggu di sini.""Biasanya?""Ya kalau hari ini nggak lagi ada kenduri."Laksmi menghela napas, membayar ongkos, lalu turun sambil menenteng koper dan tas berisi peralatan medis. Umurnya dua puluh tujuh tahun, berambut sebahu, mengenakan blus putih sederhana dan celana kain. Di dadanya tersemat tanda pengenal: Bidan Laksmi Kusumawati, Puskesmas Pembantu Kedung Rejo.Angkot itu langsung melaju pergi, seolah sopirnya tidak mau lama-lama di sana."Ramah sekali," gumam Laksmi.Dari balik rimbun bambu, terdengar suara knalpot motor yang lemah. Seorang pemuda berkaos oblong dan sarung muncul, mengendarai motor bebek tua yang catnya mengelupas
"Kabar baiknya duluan!" Riuh memanjat keluar dari lubang sambil membawa sepasang stik drum dari tulang ikan. "Aku bebas! Kabar buruknya, aku lapar!""Kamu bisa lapar?" tanya Sunyi dengan wajah bingung."Nggak tahu. Tapi rasanya begitu."Rudi langsung berdiri dari batu tempat ia duduk. "Itu urusanku! Ikut aku, Dik!""Rud, dia penghuni pintu ketujuh," bisik Lisa."Penghuni atau bukan, kalau lapar ya makan."Riuh menatap Rudi dengan mata berbinar. "Kamu yang ngomong bakso tadi?""Iya.""Aku suka kamu.""Wah. Pelanggan pertama dari dunia lain."Maman menghela napas panjang. "Riuh. Sebelum makan, jawab satu pertanyaan.""Silakan, Om.""Aku bukan Om.""Kakek?""Maman saja.""Baik, Maman." Riuh duduk bersila di tanah dengan sikap sopan yang dibuat-buat. "Tanya apa?""Siapa yang membisiki Jati dan Hartono? Suara dingin tanpa nada itu."Riuh berhenti tersenyum. Ia melirik kakaknya sebentar, lalu menunduk. "Itu bukan orang.""Maksudnya?""Itu sisa Kak Sunyi."Semua menoleh pada Sunyi. Wajahnya







