LOGIN“Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!"
Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di keramaian, apalagi dikerubungin fans kayak tadi. Pake lo buang lagi obatnya. Dasar tolol!” “Udah selesai ngocehnya?” Rajen bersandar di sofa. “Telinga gue berdarah dengar lo ngomong terus.” “Siapa juga yang mau lama-lama di sini sama lo?” Gina berdiri sambil meraih tasnya. “Gue juga ada janji habis ini. Kalau lo ada apa-apa, hubungin gue. Mumpung seminggu ini lo free sebelum mulai syuting, jaga kesehatan, makan teratur, olahraga juga.” Belum sempat Rajen menjawab, Gina sudah lebih dulu keluar dan menutup pintu. Rajen hanya mendengus kesal. Anehnya, apartemen yang biasanya terasa tenang justru mendadak terasa terlalu sepi. --- Gina memanfaatkan waktu luangnya untuk menemui Elang. Sepupunya itu sedang menjalani latihan intensif sebagai atlet taekwondo nasional untuk pertandingan bulan depan. Karena jadwal latihan yang padat, Elang lebih sering tinggal di asrama dan mereka jarang bertemu. “Kak Gina!” “Elaaang!” Keduanya berlari dan langsung berpelukan. “Kak Gina kelihatan kurus sekarang. Jangan-jangan gara-gara dia?” “Gue baik-baik aja.” Gina menjitak kepalanya. “Orang itu memang masih nyebelin, tapi gue udah mulai terbiasa.” “Yang penting jangan sampai Kak Gina jatuh cinta sama dia. Gue nggak mau punya kakak ipar dengan attitude buruk kayak dia.” “Emang gue mau punya suami kayak dia? Ogah!” Elang terkekeh. “Kalau dia ngebabuin Kak Gina lagi, bilang sama gue. Gue remukin badannya sampai jadi remah-remah biskuit Khong Guan.” Gina langsung tertawa. “Tenang. Gue bisa ngurus dia sendiri.” “Terus minggu depan Kak Gina ikut dia syuting?” “Iya. Lokasinya pelosok banget. Katanya harus menginap beberapa hari.” “Wah, bisa sekalian kasih pelajaran tuh orang.” “Justru itu rencana gue.” Mereka kembali tertawa. Namun, suara dering ponsel tiba-tiba memotong percakapan keduanya. Dengan malas, Gina melihat layar ponselnya. Rajensinting is calling... “Siapa?” Elang langsung memasang wajah tidak suka. “Dia lagi?” Gina mengangguk dan meminta izin pada Elang untuk mengangkat telepon sebentar. Ia pun menjauh beberapa langkah sebelum mengangkat telepon. “Gina, lo ada di mana?” “Kenapa tanya-tanya? Kangen lo?" “Gue tadi ke apartemen lo, tapi lo nggak ada.” “Kan gue udah bilang ada janji.” “Janji sama siapa? Emangnya lebih penting dari gue?” Gina mengerutkan kening. “Lo butuh apa?” “Gue lapar.” “Ya makan, lah!” “Titip beliin.” “Lo nggak bisa pesan makanan sendiri?” “Gue maunya lo yang beliin.” Gina mengepalkan tangan. Belum sempat ia menjawab, Elang tiba-tiba mengambil ponselnya. “Gina-nya lagi sama gue. Nggak bisa diganggu!” Klik. Telepon diputus. Gina menatap Elang dengan mata membulat. “Elang!” “Dia kayak anak kecil. Masa beli makanan aja nggak bisa?” Gina menghela napas. “Iya, memang.” Namun, sepanjang perjalanan menuju food court hingga makanan datang, wajah Gina justru terlihat gelisah. “Kak Gina?” “Hm?” “Lo kepikiran dia, ya? Makanannya sampai cuma ditatap.” Gina menatap makanan di depannya. “Iya, soalnya tadu anxiety-nya kambuh.” Elang menghela napas. “Bungkus aja makanannya. Sekalian buat dia. Gue yang bayar.” Gina terdiam. “Serius?” Elang mengangguk. "Gue masih bisa ketemu Kak Gina lain kali. Tapi kalau Kak Gina terus kepikiran, nanti makannya juga nggak enak.” Gina tersenyum kecil. “Makasih, Lang.” --- Sesampainya di apartemen Rajen, Gina menekan bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Ia menelepon, namun ponsel Rajen tidak aktif. Jantung Gina mulai berdegup tidak tenang. “Jangan-jangan, dia kenapa-kenapa...” Dengan kode pintu yang sudah ia ketahui, Gina masuk. Namun apartemen tersebut kosong, Rajen tidak ada. Gina pun langsung panik. Ia berlari keluar, lalu tiba-tiba teringat sesuatu: apartemennya. Tanpa membuang waktu, Gina turun dari lantai tujuh menuju lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung berlari menyusuri koridor. Di depan pintu apartemennya, seorang pria sedang berjongkok sambil bersandar pada dinding. Lelaki itu mengangkat kepala begitu mendengar langkah Gina. “Lo ngapain ada di sini, sih?! Kayak gembel tahu, nggak!” Rajen sama sekali tidak tersinggung. Ia justru berdiri perlahan, lalu menatap Gina dengan wajah murung. “Gue nungguin lo balik.” Gina menghela napas. “Lo tuh ya... ngeselin banget.” Rajen tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada kantong makanan di tangan Gina. “Lo beliin gue makanan, kan?” Gina kembali menghela napas panjang. “Iya.” Rajen masih enggan mengambil makanan yang dibawa Gina, ia justru menatap Gina dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Gue kira lo bakal ninggalin gue setelah tadi.” Jantung Gina berdegup sedikit lebih cepat. Sebelum ia sempat menjawab, Rajen tiba-tiba berkata pelan, “Gina... malam ini gue boleh tidur di apartemen lo, nggak? Gue lagi gak pengen sendirian.”Rajen menatap Gina dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan refleks menyentuh bagian belakang kepalanya yang sejak tadi terasa nyeri. "Lo semalam mukul gue?! Gila lo!" Gina menundukkan wajahnya sedikit. Ia merasa bersalah, tetapi tetap berusaha menjelaskan kejadian tersebut. "Ya. Lo ngetuk-ngetuk pintu apartemen gue kayak hantu." Nada suaranya mengecil. "Gue juga takutnya ada orang cabul, psikopat, atau pembunuh. Ya udah, gue bawa wajan aja buat alat perlindungan diri." Gina menggaruk pelipisnya. "Untung gue nggak bawa pisau. Kalau pisau yang gue bawa, lo pasti udah gue tusuk." Rajen terdiam. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Sialan! Pantes kepala gue sakit banget." Gina hanya meringis kecil. "Sorry, namanya juga refleks." Untuk beberapa saat, suasana kembali hening. Gina memperhatikan Rajen yang kembali menyantap supnya. Wajah lelaki itu masih terlihat lelah, tetapi kali ini ekspresinya tidak sekaku biasanya. "Lo beneran lagi nggak ada masalah, kan?" t
Rajen mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kedua matanya karena sayup-sayup terdengar suara lagu yang diputar sangat keras."Ini gue masih di bar? Kayaknya gue mabuk banget sampai nggak ingat apa-apa", batinnya bingung.Rajen perlahan bangkit dari karpet bulu yang menjadi alas tidurnya sejak semalam. Ia mengucek kedua matanya sembari berusaha mengingat kejadian setelah dirinya mabuk. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru terasa semakin pusing. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rajen berusaha berdiri sambil berpegangan pada sofa. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung mencari toilet karena rasa mual di perutnya semakin menjadi."Oh, lo udah sadar?" tanya Gina santai dari tempat duduknya. Ia melirik Rajen yang berjalan seperti orang kehilangan arah. "Mau muntah? Itu toiletnya ada di ujung."Rajen yang belum mampu berpikir jernih hanya mengangguk. Ia segera mempercepat langkahnya menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin memunta
Gina membelalakkan matanya, tak menyangka Rajen akan mengatakan sesuatu yang sangat frontal. "Hah? Lo mau nginep di apartemen gue? Lo gak lagi kesambet, kan?" "Gue masih sadar kok ini. Gimana, boleh?" "Stress! Ini makanan lo, terus lo balik ke apartemen lo lagi sebelum gue digrebek fans lo." Ia menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya. Namun Rajen hanya diam, membuat Gina kehilangan kesabaran. Bungkusan itu pun dilempar begitu saja ke arah Rajen. Rajen tersentak dan hampir saja memarahi Gina. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu apartemennya. Rajen memandang pintu tersebut cukup lama. “Cuma lo yang berani bersikap kayak gini ke gue.” Ia membungkuk mengambil bungkusan makanan tadi. “Gue kira lo sama kayak wanita lainnya di luar sana... ternyata lo beda.” Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Rajen terlihat sedikit melunak sebelum ia kembali ke apartemennya. Di dalam kamar, Gina justru merasa bersalah. Ia memang kesal kepada Rajen, tetapi buk
“Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!" Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di kerama
“Gina?” Juna membuka suara, memanfaatkan waktu senggang sebelum press conference benar-benar selesai. “Hm?” “Lo betah gitu kerja sama dia?” Gina yang sejak tadi menopang dagu hanya mengangkat bahu. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan kota dari rooftop agensi. “Emang kenapa?” Juna menghela napas. Angin sore menerpa rambut mereka, membawa suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ekspresi Juna justru tampak serius. “Gue tahu dari awal lo dibabuin terus sama dia.” Gina terkekeh kecil. “Mau gimana lagi? Gue juga udah mulai terbiasa sama sikap dia.” “Kalau gitu mending lo resign.” Gina menoleh. “Terus?” “Daftar jadi pendamping hidup gue aja.” Gina langsung tertawa terbahak-bahak. Juna memasang wajah sebal. “Kok lo malah ketawa?” “Lo lucu banget, sumpah. Lo baru jadi aktor, masa mau secepat itu nikah?” “Kalau nikahnya sama lo, gue nggak masalah ngelepas karier gue.” Tawa Gina perlahan menghilang. Tatapan Juna kali ini berbeda. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada ber
New Variety Show Title: The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village Cast: 1. Rajendra Bimasena — Actor 2. Javas Maheswara — Idol “Harmonix” 3. Dimas Dewananda — Singer — Solois --- Rajen mengacak rambutnya dengan frustrasi begitu tiba di apartemen. Hari itu menjadi pertama kalinya Gina menginjakkan kaki di tempat tinggalnya. Namun, bukannya menikmati kesempatan tersebut, Gina justru duduk santai di sofa empuk sambil memperhatikan Rajen yang tengah merobek proposal variety show di hadapannya. Gina sama sekali tidak panik. Ia sudah menyimpan soft file proposal tersebut, jadi tinggal mencetak ulang saja. "Kenapa lo mulai seenaknya begini? Kenapa nggak bilang dulu sama gue?" Rajen berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat kesal, tetapi Gina sudah terlalu terbiasa melihat ekspresi itu untuk merasa gentar. "Sebagai manajer yang baik, gue cuma mau bantu karier lo berkembang." Gina menaikkan kedua alisnya. "Mumpung Pak Sony suka sama lo, kenapa nggak diambil?







