Share

Gangguan Kecemasan

Author: Justjeha
last update publish date: 2026-09-22 14:51:41

“Gina?” Juna membuka suara, memanfaatkan waktu senggang sebelum press conference benar-benar selesai.

“Hm?”

“Lo betah gitu kerja sama dia?”

Gina yang sejak tadi menopang dagu hanya mengangkat bahu. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan kota dari rooftop agensi. “Emang kenapa?”

Juna menghela napas. Angin sore menerpa rambut mereka, membawa suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ekspresi Juna justru tampak serius. “Gue tahu dari awal lo dibabuin terus sama dia.”

Gina terkekeh kecil. “Mau gimana lagi? Gue juga udah mulai terbiasa sama sikap dia.”

“Kalau gitu mending lo resign.”

Gina menoleh. “Terus?”

“Daftar jadi pendamping hidup gue aja.”

Gina langsung tertawa terbahak-bahak.

Juna memasang wajah sebal. “Kok lo malah ketawa?”

“Lo lucu banget, sumpah. Lo baru jadi aktor, masa mau secepat itu nikah?”

“Kalau nikahnya sama lo, gue nggak masalah ngelepas karier gue.”

Tawa Gina perlahan menghilang.

Tatapan Juna kali ini berbeda. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada bercanda. “Gue serius, Gin.”

Gina terdiam. Untuk beberapa detik, hanya suara angin yang terdengar. “Udah, ah. Gue balik aja. Kalau Rajen tahu gue ngilang, dia pasti ngamuk.”

Gina baru saja berbalik ketika Juna tiba-tiba menahan lengannya. “Gina.”

Gina menoleh.

“Gue pengen lo kasih gue kesempatan.” Suaranya terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat Gina mengerti bahwa kali ini Juna benar-benar serius.

Gina menarik napas panjang. “Lo itu udah ada di hati gue, Jun. Lo sahabat terbaik yang gue punya.”

“Tapi gue pengennya lebih dari sahabat.” Juna menatapnya penuh harap. “Apa jangan-jangan lo suka sama Rajen?”

Gina langsung melotot. “Apaan, sih?” Ia segera menarik lengannya dan menjaga jarak. “Kayaknya obrolan panjangnya ditunda lain waktu. Gue nggak mau ada orang yang salah paham lihat kita berdua di sini.”

Juna menunduk lesu. “Kalau lo udah nggak kuat menghadapi tingkah dia, datang aja ke gue. Gue bakal selalu ada buat lo.”

Gina hanya berdeham pelan sebelum meninggalkan rooftop.

Juna tetap berdiri di sana. “Padahal rasa sayang gue ke lo tulus banget, Gina.”

---

Ketika Gina kembali ke aula, press conference ternyata sudah selesai. Para wartawan satu per satu meninggalkan ruangan.

Gina terlihat panik dan langsung mencari keberadaan Rajen. “Mampus. Bakal kena omel lagi gue.” Ia mengacak rambut frustrasi, lalu mencoba menghubungi nomor Rajen. Sayangnya tidak diangkat. Ia mencoba meneleponnya beberapa kali, namun tetap tidak ada jawaban.

“Ke mana, sih, orang ini?”

“Dari mana aja lo?”

Gina tersentak. Ia perlahan menoleh. Rajen berdiri beberapa meter di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, membuat Gina spontan menelan ludah.

“Jawab.”

“Ehm... gue habis dari toilet.”

“Bohong.” Satu kata itu meluncur begitu dingin hingga Gina merasa tengkuknya meremang.

Namun, sesaat kemudian suara lain terdengar. “Oh, Rajen! Kamu masih di sini rupanya.”

Pak Sony muncul dari lorong. Dalam sekejap, ekspresi Rajen berubah total. Senyum ramah menghiasi wajahnya. Lesung pipinya bahkan terlihat jelas. “Ada yang perlu dibahas, Pak?”

Gina hampir mendengus. Rajen terlihat seperti memiliki kepribadian ganda.

Pak Sony mengingatkan mereka mengenai jadwal syuting minggu depan. “Lokasinya cukup jauh. Kita kemungkinan menginap beberapa hari. Jangan lupa bawa pakaian dan jaga kesehatan.”

“Baik, Pak. Saya pasti datang tepat waktu.”

Setelah Pak Sony pergi, senyum Rajen lenyap. Ia kembali menatap Gina. “Sekarang jawab. Lo tadi dari mana sama aktor bau kencur itu?”

Gina mendengus. “Lo tahu gue sama Juna?”

“Tinggal jawab apa susahnya, sih.”

“Iya! Gue habis ngobrol sama Juna di rooftop. Puas?”

Rajen mengembuskan napas panjang. “Gue nggak suka lo terlalu dekat sama dia.”

Gina menatapnya tak percaya. “Kenapa? Ada hak apa lo ngatur hidup gue?”

Rajen terdiam. Ia sendiri tidak punya jawaban yang masuk akal. Satu hal yang ia tahu, melihat Gina bersama Juna membuat dadanya terasa tidak nyaman.

“Gue cuma—”

“Udah! Gue capek.” Gina berbalik pergi.

“Gina! Lo harus nganter gue pulang!"

“Pulang sendiri!”

Rajen menghela napas. “Dasar keras kepala.”

---

Gina mempercepat langkah menuju luar gedung. Namun, suara teriakan dari belakang membuatnya berhenti.

“Hei! Itu Rajendra!”

“Rajen!”

“Rajen, boleh foto?”

Dalam hitungan detik, kerumunan penggemar mengelilingi Rajen. Wajahnya yang semula santai perlahan berubah. “Permisi...” suaranya terdengar kecil.

Tidak ada yang mendengar. Ponsel dan kamera terus diarahkan kepadanya. Suara teriakan semakin keras.

Gina yang hendak masuk ke Lachata Cafe langsung menoleh. Matanya menangkap tangan Rajen yang mencengkeram pundaknya sendiri. Anxiety-nya kambuh.

“Permisi, Kak. Rajen ada meeting setelah ini. Foto dan tanda tangan nanti saja, ya!” Gina menerobos kerumunan.

Begitu sampai di sisi Rajen, lelaki itu langsung mencengkeram pundaknya. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin pun membasahi pelipisnya.

“Gue di sini,” bisik Gina. “Tenang.”

Gina segera membantunya keluar dari kerumunan dan membawanya menuju basement. Begitu pintu mobil tertutup, Rajen terduduk lemas. Gina baru hendak berpindah ke kursi pengemudi ketika tangannya ditahan. “Jangan pergi.”

Gina menoleh. Rajen menariknya mendekat. Gina kehilangan keseimbangan hingga tanpa sengaja tubuhnya jatuh ke arah Rajen. Detak jantung lelaki itu terdengar begitu cepat.

“Gue izin peluk lo sebentar,” bisik Rajen. “Dada gue sakit.”

“Obat lo mana?”

“Udah gue buang.”

“Hah? Gila lo?”

“Gue kira gue udah nggak butuh.”

Gina menghela napas panjang. Ia menatap wajah Rajen yang biasanya selalu terlihat sempurna di depan kamera. Sekarang, lelaki itu justru tampak begitu rapuh.

Namun, sebelum Gina sempat berkata apa-apa, Rajen tiba-tiba membuka mata. Tatapannya berubah.

“Gina.”

“Hm?”

“Gue kayaknya tahu kenapa gue selalu merasa lebih tenang kalau ada lo.”

Gina membeku. Jantungnya tiba-tiba saja ikut berdebar.

Rajen menatapnya lama. “Karena sebenarnya... Gue takut kehilangan lo.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Sisi yang Tak Terlihat

    Rajen menatap Gina dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan refleks menyentuh bagian belakang kepalanya yang sejak tadi terasa nyeri. "Lo semalam mukul gue?! Gila lo!" Gina menundukkan wajahnya sedikit. Ia merasa bersalah, tetapi tetap berusaha menjelaskan kejadian tersebut. "Ya. Lo ngetuk-ngetuk pintu apartemen gue kayak hantu." Nada suaranya mengecil. "Gue juga takutnya ada orang cabul, psikopat, atau pembunuh. Ya udah, gue bawa wajan aja buat alat perlindungan diri." Gina menggaruk pelipisnya. "Untung gue nggak bawa pisau. Kalau pisau yang gue bawa, lo pasti udah gue tusuk." Rajen terdiam. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Sialan! Pantes kepala gue sakit banget." Gina hanya meringis kecil. "Sorry, namanya juga refleks." Untuk beberapa saat, suasana kembali hening. Gina memperhatikan Rajen yang kembali menyantap supnya. Wajah lelaki itu masih terlihat lelah, tetapi kali ini ekspresinya tidak sekaku biasanya. "Lo beneran lagi nggak ada masalah, kan?" t

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Kesalahpahaman

    Rajen mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kedua matanya karena sayup-sayup terdengar suara lagu yang diputar sangat keras."Ini gue masih di bar? Kayaknya gue mabuk banget sampai nggak ingat apa-apa", batinnya bingung.Rajen perlahan bangkit dari karpet bulu yang menjadi alas tidurnya sejak semalam. Ia mengucek kedua matanya sembari berusaha mengingat kejadian setelah dirinya mabuk. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru terasa semakin pusing. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rajen berusaha berdiri sambil berpegangan pada sofa. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung mencari toilet karena rasa mual di perutnya semakin menjadi."Oh, lo udah sadar?" tanya Gina santai dari tempat duduknya. Ia melirik Rajen yang berjalan seperti orang kehilangan arah. "Mau muntah? Itu toiletnya ada di ujung."Rajen yang belum mampu berpikir jernih hanya mengangguk. Ia segera mempercepat langkahnya menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin memunta

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Bukan Hantu ataupun Maling

    Gina membelalakkan matanya, tak menyangka Rajen akan mengatakan sesuatu yang sangat frontal. "Hah? Lo mau nginep di apartemen gue? Lo gak lagi kesambet, kan?" "Gue masih sadar kok ini. Gimana, boleh?" "Stress! Ini makanan lo, terus lo balik ke apartemen lo lagi sebelum gue digrebek fans lo." Ia menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya. Namun Rajen hanya diam, membuat Gina kehilangan kesabaran. Bungkusan itu pun dilempar begitu saja ke arah Rajen. Rajen tersentak dan hampir saja memarahi Gina. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu apartemennya. Rajen memandang pintu tersebut cukup lama. “Cuma lo yang berani bersikap kayak gini ke gue.” Ia membungkuk mengambil bungkusan makanan tadi. “Gue kira lo sama kayak wanita lainnya di luar sana... ternyata lo beda.” Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Rajen terlihat sedikit melunak sebelum ia kembali ke apartemennya. Di dalam kamar, Gina justru merasa bersalah. Ia memang kesal kepada Rajen, tetapi buk

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Rajensinting

    “Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!" Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di kerama

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Gangguan Kecemasan

    “Gina?” Juna membuka suara, memanfaatkan waktu senggang sebelum press conference benar-benar selesai. “Hm?” “Lo betah gitu kerja sama dia?” Gina yang sejak tadi menopang dagu hanya mengangkat bahu. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan kota dari rooftop agensi. “Emang kenapa?” Juna menghela napas. Angin sore menerpa rambut mereka, membawa suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ekspresi Juna justru tampak serius. “Gue tahu dari awal lo dibabuin terus sama dia.” Gina terkekeh kecil. “Mau gimana lagi? Gue juga udah mulai terbiasa sama sikap dia.” “Kalau gitu mending lo resign.” Gina menoleh. “Terus?” “Daftar jadi pendamping hidup gue aja.” Gina langsung tertawa terbahak-bahak. Juna memasang wajah sebal. “Kok lo malah ketawa?” “Lo lucu banget, sumpah. Lo baru jadi aktor, masa mau secepat itu nikah?” “Kalau nikahnya sama lo, gue nggak masalah ngelepas karier gue.” Tawa Gina perlahan menghilang. Tatapan Juna kali ini berbeda. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada ber

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Press Conference

    New Variety Show Title: The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village Cast: 1. Rajendra Bimasena — Actor 2. Javas Maheswara — Idol “Harmonix” 3. Dimas Dewananda — Singer — Solois --- Rajen mengacak rambutnya dengan frustrasi begitu tiba di apartemen. Hari itu menjadi pertama kalinya Gina menginjakkan kaki di tempat tinggalnya. Namun, bukannya menikmati kesempatan tersebut, Gina justru duduk santai di sofa empuk sambil memperhatikan Rajen yang tengah merobek proposal variety show di hadapannya. Gina sama sekali tidak panik. Ia sudah menyimpan soft file proposal tersebut, jadi tinggal mencetak ulang saja. "Kenapa lo mulai seenaknya begini? Kenapa nggak bilang dulu sama gue?" Rajen berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat kesal, tetapi Gina sudah terlalu terbiasa melihat ekspresi itu untuk merasa gentar. "Sebagai manajer yang baik, gue cuma mau bantu karier lo berkembang." Gina menaikkan kedua alisnya. "Mumpung Pak Sony suka sama lo, kenapa nggak diambil?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status