Share

Ulang Tahun Rajen

Author: Justjeha
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-06 05:57:27

“Happy birthday, Rajen! Happy birthday, Rajen! Happy birthday, happy birthday! Happy birthday, Rajen!”

Suara nyanyian Gina, Janu, dan Bram menggema di antara hamparan ilalang yang tinggi. Di hadapan mereka, Rajen tersenyum lebar sambil menatap kue tart kecil yang dihiasi lilin berbentuk angka tujuh belas.

“Make a wish dulu, ya, Mas Rajen. Setelah itu baru tiup lilinnya. Berdoanya yang lama, mumpung sudah sweet seventeen,” ujar Gina bersemangat.

Rajen mengangguk. Ia memejamkan mata selama
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Kebenaran yang Tertimbun

    Suasana di belakang rumah itu terasa begitu mencekam. Janu dan Dimas baru saja selesai menguburkan jasad ayah Rajen. Tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa tenang setelah apa yang mereka lakukan. Janu berdiri beberapa saat di dekat tanah yang baru saja mereka timbun. Wajahnya kosong, sementara kedua tangannya masih gemetar. Lelaki yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketakutan dalam hidupnya kini telah tiada. Dimas sendiri masih diliputi kebingungan. Ia tahu tindakan mereka merupakan pelanggaran hukum. Ia bahkan merasa bersalah karena hanya diam ketika Janu melakukan semuanya. Namun, setiap kali mengingat kondisi Rajen dan penderitaan yang dialami kedua bersaudara itu, ia sulit menemukan alasan untuk menyesali kematian lelaki tersebut. Akhirnya, Dimas mengembuskan napas panjang. “Kita harus segera pergi. Rajen membutuhkan pertolongan medis.” Janu langsung menoleh. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Dengan segera, Janu memimpin perjalanan menuju desa. Beber

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Ulang Tahun Rajen

    “Happy birthday, Rajen! Happy birthday, Rajen! Happy birthday, happy birthday! Happy birthday, Rajen!” Suara nyanyian Gina, Janu, dan Bram menggema di antara hamparan ilalang yang tinggi. Di hadapan mereka, Rajen tersenyum lebar sambil menatap kue tart kecil yang dihiasi lilin berbentuk angka tujuh belas. “Make a wish dulu, ya, Mas Rajen. Setelah itu baru tiup lilinnya. Berdoanya yang lama, mumpung sudah sweet seventeen,” ujar Gina bersemangat. Rajen mengangguk. Ia memejamkan mata selama beberapa saat, merangkai doa dalam hati sebelum akhirnya meniup lilin di atas kuenya. Tepuk tangan langsung terdengar begitu api kecil itu padam. “Terima kasih, Gina, Bram, dan Janu.” Rajen tersenyum tulus. “Terima kasih karena aku bisa merayakan ulang tahunku bersama kalian.” Hari itu terasa begitu istimewa baginya. Ia memang baru mengenal Gina beberapa waktu lalu, ketika gadis itu sedang berlibur di rumah kakek dan neneknya. Namun, entah mengapa, kehadiran Gina membuat hari-harinya terasa

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Sebelum Terlambat

    Di sisi lain rumah, Gina sudah berusaha membuka gembok gudang belakang dengan sebongkah batu yang ditemukannya. Berkali-kali ia menghantamkan batu itu ke gembok, tetapi benda tersebut tetap tidak mau terbuka. “Kenapa susah banget, sih!” gerutunya frustrasi. “Biar gue coba,” ujar Yuda. Lelaki itu segera mengamati lubang kunci, kemudian mencari sesuatu di sekitar gudang. Tak lama kemudian, ia menemukan seutas kawat besi yang cukup tipis. Dengan penuh konsentrasi, Yuda memasukkan kawat tersebut ke lubang kunci dan mulai mengutak-atik mekanismenya. Javas yang berdiri di belakang mereka justru menyeringai. “Wah, Bang Yuda cocok juga jadi maling. Apalagi wajahnya mendukung banget.” Yuda meliriknya tajam. “Mulut lo bisa diam sebentar nggak?” “Bisa, Bang. Tapi nanti kalau diam terus, takutnya kemampuan komunikasi Javas menurun.” “Gue sumpal mulut lo pakai kawat ini, ya?” Belum sempat Javas membalas, terdengar bunyi klik dari gembok. Yuda langsung menarik kawatnya. Gina tidak

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Darah yang Sama

    Malam berganti pagi. Suara ayam berkokok menjadi alarm manual bagi para pahlawan yang hari ini akan bertarung di medan perang. Tentu saja, medan perang yang dimaksud bukanlah medan pertempuran sungguhan. Mereka hanya akan memasuki hutan untuk menyelamatkan Rajen dari tangan manusia yang lebih pantas disebut monster daripada seorang ayah. Pagi-pagi sekali, seluruh anggota kelompok sudah bangun dan sibuk mempersiapkan perlengkapan masing-masing. Gina memasukkan beberapa bungkus makanan ringan, roti, dan botol air mineral ke dalam ranselnya. Ia juga membawa pisau kecil untuk berjaga-jaga apabila mereka menghadapi situasi berbahaya. Meski hatinya dipenuhi kekhawatiran, ia berusaha tetap berpikir jernih. Mereka tidak boleh datang ke sana tanpa persiapan. Dimas hanya melakukan pemanasan singkat untuk memastikan tubuhnya siap menghadapi kemungkinan perkelahian. Sementara Janu, Arsa, dan Yuda membawa benda tajam sebagai perlindungan diri. Berbeda dengan yang lain, Javas justru sibuk mema

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Hadiah dari Sang Ayah

    “Sudah merasa sakit?” Ayah Rajen menghentikan ayunan ikat pinggangnya. Ia tampak puas melihat anaknya yang kini hanya bisa terisak di atas kursi. “Padahal ayah belum bermain-main dengan pisau di tubuhmu.” Laki-laki itu kemudian berjongkok di hadapan Rajen. Jemarinya menyusuri bekas jahitan yang menghiasi tubuh anaknya, seolah sedang mengagumi sebuah karya seni. “Bekas jahitan ini ternyata tidak buruk juga.” Rajen menggigil. Sentuhan itu membuatnya merasa jauh lebih tidak nyaman daripada cambukan sebelumnya. Ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan ayahnya, tetapi setiap gerakan jemari laki-laki itu terasa begitu mengancam. Ayah Rajen memang bukan orang yang memiliki pekerjaan tetap. Dahulu, ia kerap berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa pernah benar-benar menetap. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang teman yang ternyata merupakan anggota sindikat penjualan organ manusia. Tergiur oleh iming-iming uang dan kekayaan, ia menerima tawaran tersebut. Tanpa sepen

  • Manager Kesayangan Sang Aktor   Luka yang Kembali Terbuka

    “Oh, sudah bangun? Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak?” Suara itu menjadi hal pertama yang didengar Rajen ketika kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya terasa berat. Seluruh tubuhnya seperti kehilangan tenaga, sementara rasa nyeri samar menjalar dari tengkuk hingga punggungnya. Ia mencoba menggerakkan kedua tangan, tetapi sesuatu menahannya dengan kuat. Rajen terdiam. Ia tidak bisa melihat apa pun. Sebuah kain hitam melilit kedua matanya, membuat dunianya hanya dipenuhi kegelapan. Ketika mencoba menggerakkan tubuh, ia baru menyadari bahwa kedua tangannya terikat pada sandaran kursi. “Di mana ini?” tanyanya dengan suara serak. “Kenapa mataku ditutup? Kenapa aku diikat seperti ini?” Ia mulai memberontak. Kursi yang didudukinya sedikit bergeser akibat gerakannya, tetapi ikatan di pergelangan tangannya sama sekali tidak mengendur. “Hati-hati. Jangan terlalu banyak bergerak." Suara laki-laki tua itu terdengar begitu santai, seolah-olah mereka sedang berbincang di ruang keluarga, bukan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status