MasukDetik berikutnya, terdengar ketukan di pintu ruang kerja.
"Masuk," ujar Tuan Sinclair tanpa mengalihkan pandangannya dari Isabella. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Theodore yang berdiri dengan ekspresi tenang. "Ada apa?" tanya Tuan Sinclair. "Pa, Shela ada di depan. Dia ingin mengajak Isabella jalan-jalan," jawab Theodore. Mendengar itu, Isabella tersenyum kecil. Ia segera membalikkan tubuhnya menghadap Tuan Sinclair, menatap pria itu dengan ekspresi tenang. "Om Dion, bolehkah aku keluar?" tanyanya dengan lembut. Tuan Sinclair menyipitkan matanya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Keluarga Wijaya termasuk keluarga terpandang di kota Lithen. Sangat bagus jika kita tetap menjaga hubungan baik dengan mereka." Isabella menahan kelegaan yang muncul di hatinya. Dengan senyum manis, ia berkata, "Terima kasih, Om Dion." Namun, sebelum ia bisa berbalik, suara dingin Tuan Sinclair kembali terdengar. "Tapi ingat, hanya dua jam. Jika lewat dari itu, pengawalku akan menjemputmu." Isabella menggenggam ujung bajunya erat, tapi tetap tersenyum. "Tentu, Om Dion." Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berjalan keluar bersama Theodore. Begitu melewati pintu, napasnya terasa lebih lega. Di luar, Shela Wijaya sudah menunggu di depan rumah dengan mobil hitam mengilapnya. Begitu melihat Isabella keluar, Shela tersenyum lebar dan melambaikan tangan. "Ayo cepat! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" serunya penuh semangat. Isabella tersenyum samar dan mempercepat langkahnya menuju mobil. Sebelum masuk Theodore berkata "Shela apa perlu aku yang mengantar kalian berdua?" Shela langsung mengerutkan keningnya "Apa? tidak perlu, Tuan Muda Sinclair sebaiknya memperhatikan kondisi Hilda saja. Khawatirnya stok tisu di kota Lithen besok menipis, karena dia menangis sepanjang hari. Untuk Bella jangan khawatir, aku akan menjaganya" Theodore menatap Isabella dengan serius memperingatkan "Bella, ingat waktumu hanya dua jam". Namun Isabella tidak menanggapi. Setelah menutup pintu mobil, mobil perlahan melaju menjauhi rumah keluarga Sinclair. Shela menyandarkan punggungnya, lalu melirik Isabella dengan ekspresi kesal "Ingat, waktumu cuma dua jam." Ia mendesah dramatis. "Dasar Theo, selalu menyebalkan! Seolah-olah kamu ini anak kecil yang perlu diawasi setiap saat. Mereka bahkan tidak seperti itu terhadap Hilda. Bella, bersyukurlah kamu memiliki aku sebagai sahabat, jika tidak tidak tahu alasan apa yang akan kamu katakan kepada mereka jika ingin keluar" Tiba-tiba, ekspresinya berubah penuh antusias. "Oh iya, Bella! Bagaimana kondisi Hilda sekarang?" tanyanya dengan mata berbinar, jelas sekali ia penasaran. Isabella tersenyum tipis, mengingat kejadian tadi. Dengan nada ringan, ia menjawab, "Dia diceraikan." Shela terperanjat. "Apa? Serius?" Kemudian, ia menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak. "Kalau ini sampai tersebar, dia pasti tidak akan punya muka untuk muncul di hadapan orang banyak!" Isabella hanya tersenyum tanpa menanggapi lebih jauh. "Oh iya, Bella, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?" tanya Shela sambil menoleh ke arah Isabella. "Pergi ke bandara," jawab Isabella singkat. Shela mengerutkan kening, lalu menatap Isabella dengan terkejut. "Kamu ingin kabur?" tanyanya cepat. Isabella menghela napas, lalu menatap Shela sebelum menjawab dengan tenang, "Aku akan pergi ke London. Aku ingin melanjutkan studiku untuk gelar S2." Shela membelalakkan mata. "Bella, kamu serius?" tanyanya lagi, masih sulit mempercayai keputusan itu. Kemudian, seolah baru menyadari sesuatu, ia menambahkan, "Tapi bagaimana dengan nenekmu? Kamu belum bertemu dengannya, kan?" Mendengar itu, senyum Isabella memudar. Ingatannya melayang ke kejadian dua hari lalu. Flashback on Di halaman belakang rumah keluarga Sinclair—tempat di mana Nenek Sinclair tinggal. Namun, menyebutnya tempat tinggal mungkin terlalu berlebihan. Itu lebih menyerupai penjara daripada rumah. Sejak dulu, neneknya selalu dikurung di sana, dijauhkan dari dunia luar, dan Isabella dilarang keras untuk menemuinya. Dua hari yang lalu, Isabella memberanikan diri untuk pergi ke halaman belakang. Namun, belum sempat ia mencapai tempat itu, seorang penjaga yang bertugas segera menghadangnya. "Aku ingin menemui nenek," ucap Isabella dengan tegas. Penjaga itu tidak menunjukkan reaksi selain menatapnya tanpa ekspresi. "Nona dilarang menemui Nenek tanpa persetujuan dari Tuan Sinclair," jawabnya dengan nada datar. Isabella mengepalkan tangannya, menolak menerima jawaban itu. "Aku cucunya! Aku berhak menemui nenekku!" katanya, lalu melangkah maju. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, lima orang pengawal lain muncul dari berbagai arah, membentuk barikade di hadapannya. Isabella menatap mereka satu per satu, mencoba mencari celah untuk lolos. Tapi ia tahu—ia benar-benar tidak punya kesempatan melawan mereka. Flashback off Isabella menghela napas panjang, kembali ke kenyataan. Ia menatap Shela dan tersenyum kecil, meskipun ada kesedihan yang terselip di matanya. "Aku akan mencari cara lain," katanya lirih. "Tapi aku tidak bisa terus terkurung di sini, Shela. Jika aku tetap tinggal, aku tidak akan pernah bisa bebas. Aku tidak bisa membuang-buang waktuku lagi" Shela terdiam sejenak, lalu meraih tangan Isabella dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, aku akan membantumu," katanya mantap. "Apa pun rencanamu, kamu tidak akan sendirian." "Bella, di kampus mana kamu akan kuliah?" tanya Shela penasaran. "Akademi Royal," jawab Isabella singkat. Shela membelalakkan mata, jelas terkejut. "Wow! Itu akademi seni terbaik di dunia!" serunya kagum. "Aku dengar hanya orang-orang berbakat luar biasa yang bisa masuk ke sana. Bella, kamu memang keren!" Isabella tersenyum kecil, tapi sebelum ia bisa menanggapi, Shela tiba-tiba melirik keluar jendela. "Wow, Bella cepat lihat konvoi mobil itu. Bukankah itu mobil anti peluru? keren banget" Matanya menatap 5 mobil yang berjalan berlawanan arah. "Apa mereka dari kota Lithen?" Tanya Isabella. "Bukan, kamu tidak tahu karena jarang keluar. Mereka dari kota Tanra. Pemimpinnya adalah Tuan Muda dari keluarga top di Kota Tanra." "Keluarga top di Tanra?" Tanya Isabella. Shela mengangguk "Iya, Keluarga itu dibagi menjadi dua kubu. Yang satu kubu hitam dan yang satu kubu putih. Mereka saling bermusuhan satu sama lain. Dan yang punya konvoi ini dari kubu hitam. Aku dengar pemimpin mereka adalah orang yang berdarah dingin. Bisnisnya dimana-mana. Julukannya adalah The Black Tycoon. Kalau tidak salah nama keluarganya Foster" *** Di sisi lain, Regan menatap Leo dengan kesal. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke kota Tanra, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang. "Bagaimana bisa kamu belum menemukan gadis itu? Aku sudah bilang, dia hadir di pernikahan itu!" Regan menggerutu sambil melipat tangannya. Leo menghela napas, lalu melirik Regan dari kursi kemudi. "Kak Regan, kamu yakin dia benar-benar datang ke pernikahan itu? Kamu nggak mabuk, kan?" tanyanya setengah bercanda. Regan mendengus sebal. "Aku tidak mabuk! Aku jelas-jelas melihatnya. Dia mengenakan pakaian tradisional berwarna lavender, riasannya tipis, tapi wajahnya..." ia berhenti sejenak, lalu mendesah. "Cantik. Jauh lebih cantik dari artis mana pun. Bahkan, kamu sendiri sempat memujinya!" Leo mengernyit, berusaha mengingat. "Pakaian lavender? Riasan tipis? Cantik?" gumamnya pelan. "Ahh aku tidak bisa mengingatnya. Kak Regan, ada 500 tamu disana. Bagaimana mungkin aku bisa mengingatnya". "Pokoknya aku mau kamu temukan dia secepatnya" Leo mendesah "Ahhh aku hanya kenal Kakek Oriza di pernikahan itu, aku datang juga karena merasa berterimakasih kepadanya, karena telah menyelamatkan aku 2 tahun lalu. Aku tidak yakin dia masih bisa melihat dengan jelas, bahkan jika aku punya foto wanita itu" "Apakah kamu bodoh? Mencari satu orang di kota sekecil Lithen ini saja tidak bisa? Aku baru tahu hanya segitu kemampuanmu" Tanya Regan dengan tatapan tajam. Leo menelan ludahnya, tidak berani mengeluh lagi. "Baik aku akan cari lagi kak Regan" Jawab Leo.Kemudian Tuan Sinclair pergi membawa tas bersisi dokumen kerja, meninggalkan Hilda sendirian di ruang kerja. “Mama…” suara Hilda parau, nyaris pecah ketika melihat Nyonya Sinclair di ruang tamu.Nyonya Sinclair mengangkat wajahnya pelan, kedua alisnya terangkat tipis melihat kondisi putrinya. “Apa lagi yang membuatmu marah, Hilda?” tanyanya tenang, tapi sorot matanya penuh selidik.“Papa… papa tidak pernah mau percaya padaku!” Hilda hampir berteriak, air matanya bergetar di ujung mata. “Aku sudah bilang kalau Isabella itu menyembunyikan sesuatu! Aku melihatnya sendiri bersama seorang pria hari ini berciuman. Tapi Papa… Papa tidak pernah mau percaya. Sebenarnya siapa anak kandungnya, aku atau si jalang itu sih!”Nyonya Sinclair menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di sampingnya. Dia juga sangat membenci gadis itu. Dia tau persis kenapa suaminya bersikap seperti itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Semenjak Isabella berumur 9 tahun, dan d
"Hilda, apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukan kepada kami?" Tanya salah seorang teman sosialitanya."Aku melihatnya bersama seorang pria berciuman di dalam sini tadi. Aku tidak berbohong." Ucap Hilda membela diri."Tapi tidak ada pria dari tadi di sini." Shela menjawab dengan ketus. Kemudian mengusir mereka semua "Sudah pergi sana, jangan mengganggu kami" Para sosialita itu pun akhirnya pergi dengan berbisik-bisik "Membuang-buang waktu saja""Aku rasa karena dia diceraikan dia menjadi sedikit tidak waras""Kenapa kita masih berteman dengannya?. Hapus saja dia dari group kita"Hilda berdiri terpaku di depan pintu ruangan itu, wajahnya panas bukan hanya karena malu. Suara mereka bagai jarum kecil yang menusuk hatinya satu per satu.“Diceraikan… tidak waras… hapus dari grup…” kalimat-kalimat itu terus bergema di telinganya.Tangannya mengepal begitu kuat sampai ruas-ruas jarinya memutih. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh dengan kebencian.Tapi dia masih melotot ke arah Isabell
Hilda menggertakkan giginya, matanya penuh dengan kemarahan. Darahnya terasa mendidih saat membayangkan bagaimana Isabella dengan sengaja berlari dekat vas kesayangan Tuan Sinclair tadi. Dulu, Isabella selalu patuh, dan keluarga mereka tampak baik-baik saja. Namun, seiring beranjaknya usia mereka, perhatian ayahnya selalu tercurah lebih banyak pada Isabella daripada padanya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, siapa yang tidak merasa marah dan cemburu? Di luar juga reputasinya tidak terlalu baik. Semenjak Isabella hadir di pesta sosialita kelas atas kota Lithen. Banyak grup-grup yang membicarakannya. Perhatian. yang dulu ia dapatkan, sekarang harus di bagi dua dengan Isabella. Ia benar-benar harus mengusir Isabella secepatnya. dari rumah ini. "Aku harus membuat Isabella hancur. Bagaimana dengan besok? Sepertinya aku sangat luang?" ucap Hilda dengan dirinya sendiri. Bibirnya terangkat keatas, ia memiliki rencana buruk, yang dapat orang lihat hanya dari matanya. Tanpa ia
Keesokan harinya, Isabella kembali menghabiskan waktunya di kamar, larut dalam lukisan yang belum rampung. Jemarinya yang memegang kuas bergerak pelan, membaurkan warna dengan penuh perasaan. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan keras. Hilda masuk dengan wajah murka, menggenggam cambuk di tangannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung mencambuk Isabella. "Aku ingin kau jujur, Isabella," seru Hilda. Isabella menahan rasa sakit sambil menatap Hilda dengan tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan rekaman CCTV itu? Karena sepanjang pesta, aku berada di ruangan itu dan tak sekalipun melihat kehadiranmu." Jelas Hilda. “Kemarin kau dipukuli, dan sekarang begitu bersemangat membawa cambuk dan menyerangku. Sudah pulih rupanya?” tanya Isabella dengan nada sinis, senyum mengejek terukir di wajahnya. “Kau masih berani tanya?, itu bukan urusanmu!” bentak Hilda tajam. “Kau pasti yang merekayasa rekaman CCTV itu! Sebelum Papa pulang, aku akan menghabisimu!” Begitu tubuhnya mu
Di ruang kerja keluarga Sinclair... Hilda masih meringkuk di sudut ruangan. Tangisannya tak kunjung reda, tubuhnya bergetar, dan matanya merah membengkak. Nyonya Sinclair berdiri tak jauh dari putrinya. Di belakangnya, Theo berdiri kaku, rahangnya mengeras, mencoba menyembunyikan amarah yang membara. "Dion, Hilda sudah tau salah. Berhenti mencambuknya" Teriak Nyonya Sinclair. Suara cambuk berhenti seketika. Seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan mata tajam berdiri beberapa langkah dari Hilda. Di tangannya masih tergenggam cambuk kulit yang kini menggantung lemas di sisi tubuhnya. Nafas Tuan Sinclair masih berat, dadanya naik-turun, menahan amarah yang belum sepenuhnya padam. “Anak ini perlu pelajaran” serunya pada Nyonya Sinclair. “Kau selalu membelanya, dan lihat apa akibatnya? Dia tidak pernah benar-benar belajar bertanggung jawab!” "Tidak ada hal buruk yang menimpa Isabella, dan dirimu sudah memberi pelajaran kepada Hilda. Sekarang sudah cukup Dion" Hilda mend
"Theo, ayo ke ruang kerja. Lihat keadaan adikmu," kata Nyonya Sinclair sambil melangkah pergi. Isabella tetap berdiri di tempat, memperhatikan dua sosok itu menghilang di balik lorong. Jeritan Hilda dari ruang kerja terdengar jelas ke seluruh penjuru rumah. Tapi kali ini, Isabella tak lagi menunjukkan ketakutan. Bibirnya justru membentuk senyum tipis, penuh kepuasan. “Merdu sekali... teruslah berteriak, Hilda. Ini baru permulaannya saja,” gumamnya. “Selama ini, setiap kau berbuat salah, Theodore selalu jadi tamengmu dan aku yang dikorbankan.” Tiba-tiba, ia merasakan getaran halus dari ponsel di saku bajunya. Tanpa banyak bicara, Isabella masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel pemberian Regan dan mendapat pesan darinya Regan: “Kamu masih bangun?” Isabella menatap pesan singkat itu sejenak sebelum mulai mengetik balasan. Isabella: “Masih. Ada apa?” Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Regan: “CCTV-nya sudah kuubah sesuai dengan yang kamu minta.” Isabella







