Home / Romansa / Manjakan Aku, Kak! / BAB 10 Mainan Bocah Tengil

Share

BAB 10 Mainan Bocah Tengil

last update publish date: 2026-09-13 21:07:20

"Aku akan coba batasi interaksi dengannya. Apa dia akan jujur padaku siapa dirinya?" gumam Clara memandang dirinya di cermin sebelum keluar dari kamar.

Sret...

Suara langkah kaki yang menyeret terdengar dari arah belakang. Clara tahu itu Gavin. Ia bisa merasakan kehadiran pemuda itu tanpa perlu menoleh. Bau antiseptik bercampur aroma maskulinnya mulai memenuhi dapur.

Clara tetap fokus membalik telur di wajan, pura-pura tidak menyadari kehadirannya.

"Selamat pagi, malaikat penyelamatku," sapa Ga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 29 Nggak Bisa Lepas darinya

    "Kenapa harus nutupin perceraian Kakak? Sandy beberapa kali cari Kakak di Panti. Kenapa Kakak bohongin Nicky? Bohongin Bunda? Katakan Kak, sekarang Kakak tinggal di mana? Jaket laki-laki di kamar di layar tadi punya siapa?" Nicky menyerbu Clarissa dengan pertanyaan tanpa jeda.Lima menit.Baru lima menit keduanya melepaskan rindu setelah tujuh tahun tidak bersua, tetapi Nicky sudah membuka satu demi satu luka yang selama ini mati-matian Clarissa tutup rapat.Hatinya bahkan sudah hancur sebelum bertemu dengan adik pantinya itu.Clarissa sempat berharap pertemuan ini akan menjadi sesuatu yang menenangkan. Pelukan dari seseorang yang mengenalnya sebelum kehidupan membuatnya kehilangan dirinya sendiri. Tawa yang mungkin bisa membalut luka dari tujuh tahun pernikahan yang berakhir dengan perceraian.Namun, ternyata pertemuan ini justru terasa seperti air garam yang dituangkan ke atas luka terbuka.Dadanya semakin nyeri.Napasnya tercekat."Nick ... maaf."Hanya dua kata itu yang mampu lolo

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 28 Mengubur Dalam-dalam

    "Kakak udah di mana?"Suara Nicky langsung menggema dari speaker ketika Clarissa baru saja menempelkan ponselnya ke telinga."Iya, masih di taksi. Udah hampir sampai kok. Maaf tadi sempat beberapa kali ditolak sama driver, Sayang."Clarissa berbohong.Tidak ada taksi.Tidak ada perjalanan menuju tempat Nicky.Perempuan itu masih berada di kamar Gavin, duduk meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Inhaler tergenggam erat di salah satu tangannya.Basah di wajahnya akibat air mata bahkan belum sepenuhnya mengering. Jejaknya membentuk aliran tipis dari sudut mata, melewati pipi hingga ke leher.Hampir tiga puluh menit dia kumat.Bukan hanya karena asmanya.Tangis yang sejak tadi ditahannya justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Tiga bubble chat dari Gavin terus bergema di kepalanya.Sudah baca emailnya, Kak?Besok pagi jangan sampai terlambat datang. Saya tidak suka bawahan yang tidak disiplin di hari pertamanya.Selamat KakKata bawahan itu seperti terus berputar

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 27 Aku di Atas Kamu di Bawah

    "Kak, kita jadi ketemuan di mana?"Pesan dari Nicky baru saja dibaca Clarissa begitu ia keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya meneteskan air ke kaus putih yang dikenakannya.Ia langsung mengetuk ikon panggilan video, lalu meletakkan ponselnya di stand holder di atas meja rias kamar Gavin.Tidak ada yang berubah dari kamar pemuda itu. Hanya kini salah satu sisi lemari telah dipenuhi pakaian Clarissa, lengkap dengan meja rias kecil dan beberapa skincare miliknya. Sekilas, kamar itu tampak seperti milik sepasang suami istri.Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.Mereka hanya tinggal di bawah satu atap."Kakak lagi ngapain sih? Lama banget balesnya. Aku udah di jalan, nih, tapi bingung ketemuan di mana?" Suara cempreng khas gadis manja langsung menggema memenuhi kamar bernuansa abu-abu dan hitam itu."Kakak baru selesai mandi, Sayang ... belum sempat pegang HP habis masak trus sarapan."Clarissa menjawab sambil berdiri di antara dua pintu lemari yang ter

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 26 Hanya Sekedar Adik

    Pagi itu, aroma mentega dan telur memenuhi dapur apartemen kecil mereka. Clarissa berdiri di depan kompor, fokus membalik omelette hingga permukaannya berubah keemasan."Masak apa, Kak?"Suara Gavin tiba-tiba terdengar dari belakangnya.Ada yang berbeda dari sikap pemuda itu. Biasanya, tanpa permisi ia akan memeluk Clarissa dari belakang. Namun kali ini ia hanya berdiri beberapa langkah jauhnya, seolah mulai menyadari bahwa kebiasaan itu mungkin membuat perempuan tersebut merasa tidak nyaman."Tumben jam segini udah bangun?" sindir Clarissa tanpa menoleh. Tangannya tetap lincah membalik telur di atas wajan.Gavin membuka kulkas, mengambil sebotol susu, lalu bersandar santai di pintunya."HRD belum kirim email, Kak?""Bosnya aja udah nolak, mana mungkin HRD berani interupsi keputusan si bos."Jawabannya dingin. Ketus. Jelas masih menyimpan kesal.Gavin meneguk susu, lalu terkekeh pelan."Iya maaf... Clarissa Sayang... nanti aku suruh—""Gavin!"Clarissa berbalik seketika. Spatula di ta

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 25 Kapan Kau Panggil Aku Sayang?

    "Angkat aja kalo kamu benar-benar ingin tahu!" tantang Clarissa sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Punggungnya bersandar santai pada pintu kamar.Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Bahkan intimidasi Gavin beberapa detik lalu di dapur seolah tidak meninggalkan bekas sedikit pun.Sebaliknya, perempuan itu justru tampak menikmati kegelisahan yang perlahan menguasai pemuda di hadapannya.Gavin mengepalkan tangan yang bebas. Rahangnya mengeras sebelum ibu jarinya menggeser tombol merah di layar ponsel.Panggilan itu kembali ditolak."Kenapa? Takut aku berpaling?" Clarissa semakin berani mempermainkan rasa cemburu Gavin.Dia bahkan sempat mengerlingkan sebelah mata, membuat Gavin menatapnya dengan sorot mata semakin tajam.Clarissa hendak melangkah keluar kamar. Tenggorokannya terasa kering dan dia ingin mengambil minum setelah makan malam tadi.Namun, baru beberapa langkah, ponsel yang masih berada di tangan Gavin kembali berdering.Suara dering itu membuat langka

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 24 Minggir Bocah!

    "Gimana aktingku hari ini, Kak?" Gavin menaik-turunkan alisnya tepat di depan wajah Clarissa yang sedang sibuk menata makan malam di dapur apartemennya.Clarissa hanya menggeser piring di atas meja makan tanpa sedikit pun mengangkat wajah. Tangannya tetap sibuk merapikan makanan seolah keberadaan Gavin di hadapannya sama sekali tidak menarik perhatian."Emm ... lumayan," jawabnya datar bahkan sama sekali tidak melirik Gavin.Alis Gavin terangkat. Senyum jahil yang semula menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi memelas."Kak ... kau marah langsung kutolak tadi?" rengek pemuda itu persis anak kecil yang sedang merayu ibunya.Kali ini Clarissa hanya menghela napas pendek."Ayo makan, keburu dingin!"Dia duduk di kursi lalu menarik piring dan mulai menyuapkan makanannya sendiri. Gerakannya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dibuat kesal.Gavin tidak langsung menyentuh makanannya.Pemuda itu justru duduk diam sambil menatap Clarissa semakin intens. Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status