LOGIN“Kenapa kamu terlihat panik begitu?” tanya Bos Dominic.“Tidak ada apa-apa, Bos.”Jantungku berdebar kencang. Aku hanya berharap Leonard tidak mengenaliku tadi.Tak lama kemudian, Aria muncul dan kami bergegas masuk ke lift berikutnya.“Maaf sudah membuat kalian menunggu,” kata Aria.“Tidak masalah,” jawab Dominic.Sesampainya di rumah, aku segera turun dari mobil Bos Dominic.“Terima kasih, Bos. Maaf sudah merepotkan Anda.”“Kalau kepalamu masih pusing, tidak apa-apa jika besok kamu tidak masuk latihan,” ujar Bos Dominic dengan senyum tulus.“Baik, Bos. Terima kasih sekali lagi.”“Sama-sama.”“Sampai jumpa, Isla,” sahut Aria.“Ya. Hati-hati di jalan.”Setelah mobil Bos Dominic melaju pergi, aku berjalan melewati gerbang rumah. Mobil Leonard sudah terparkir di halaman. Itu berarti dia tiba lebih dulu dariku.Begitu memasuki rumah, aku terkejut mendapati ibu mertuaku masih terjaga. Wajahnya terlihat sangat marah.“Ya Tuhan! Kenapa kamu baru pulang selarut ini? Dari mana saja kamu? Dan
“Isla, malam ini Bos Dominic mengadakan pesta ulang tahun di sebuah tempat karaoke VIP. Kamu juga diundang,” kata Aria setelah aku menyelesaikan sesi latihan.“Aku lelah sekali. Latihan hari ini jauh lebih berat daripada kemarin. Bukan cuma latihan vokal, kami juga harus mempelajari koreografi tari,” keluhku sambil menyeka keringat di leher dan dahiku.Dulu, saat masih bersekolah, aku hanya mempelajari teknik vokal dan memainkan beberapa alat musik. Sementara itu, menari adalah sesuatu yang benar-benar baru bagiku. Aku bahkan harus memulai semuanya dari nol.“Semua tamunya orang-orang penting. Bukan cuma pengusaha, tetapi juga aktor dan penyanyi terkenal. Semakin banyak koneksi yang kamu miliki, semakin besar pula kesempatanmu untuk mendapatkan pengalaman,” bujuk Aria sambil mengedipkan sebelah mata.Benar juga. Kapan lagi aku mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang-orang penting seperti mereka?“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu untuk berganti pakaian,” jawabku p
Saat aku dan suamiku sedang terlibat dalam ketegangan, terdengar ketukan dari luar kamar.“Leonard, kamu di dalam? Cepatlah, kita harus makan malam. Setelah itu, kita masih punya acara!” seru Serra dari luar.Aku langsung mencibir.“Dengar, selingkuhanmu sudah memanggil. Sekarang lepaskan aku!” sindirku tajam.“Kamu cemburu?” Leonard menggoda sambil menatapku lekat-lekat.“Mungkin dulu aku pernah cemburu, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya ingin kamu segera menceraikanku. Setelah itu, aku akan mendoakan kebahagiaanmu bersama Serra!” balasku sembari mendorongnya menjauh dari kamar mandi.“Jangan pernah berpikir tentang perceraian sebelum kamu melunasi utang ayahmu!” bentak Leonard dengan nada penuh amarah.“Baik! Akan kulunasi utang itu!” sahutku sungguh-sungguh.Tok! Tok! Tok!Serra kembali mengetuk pintu, kali ini jauh lebih keras.“Leonard, kenapa lama sekali?”“Aku sedang mandi sebentar!” jawab Leonard dari dalam kamar mandi.Aku mendengus kesal. Serra selalu bersikap seolah-olah
Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu
Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi
Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan







