FAZER LOGINSaat aku dan suamiku sedang terlibat dalam ketegangan, terdengar ketukan dari luar kamar.
“Leonard, kamu di dalam? Cepatlah, kita harus makan malam. Setelah itu, kita masih punya acara!” seru Serra dari luar. Aku langsung mencibir. “Dengar, selingkuhanmu sudah memanggil. Sekarang lepaskan aku!” sindirku tajam. “Kamu cemburu?” Leonard menggoda sambil menatapku lekat-lekat. “Mungkin dulu aku pernah cemburu, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya ingin kamu segera menceraikanku. Setelah itu, aku akan mendoakan kebahagiaanmu bersama Serra!” balasku sembari mendorongnya menjauh dari kamar mandi. “Jangan pernah berpikir tentang perceraian sebelum kamu melunasi utang ayahmu!” bentak Leonard dengan nada penuh amarah. “Baik! Akan kulunasi utang itu!” sahutku sungguh-sungguh. Tok! Tok! Tok! Serra kembali mengetuk pintu, kali ini jauh lebih keras. “Leonard, kenapa lama sekali?” “Aku sedang mandi sebentar!” jawab Leonard dari dalam kamar mandi. Aku mendengus kesal. Serra selalu bersikap seolah-olah dialah menantu perempuan di rumah ini. Yang paling menjengkelkan, Leonard selalu menuruti keinginannya. Tiba-tiba, Leonard kembali masuk ke kamar mandi. “Apa lagi yang kamu inginkan?” tanyaku ketus, semakin kehilangan kesabaran. “Aku sedang terburu-buru. Aku mau mandi duluan,” katanya. “Aku yang akan mandi duluan. Kalau tidak sabar, mandilah di ruang tamu!” tolakku, kali ini tidak mau mengalah lagi. Leonard menatapku tajam. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. “Kalau begitu, kita mandi bersama saja!” Dia berdiri telanjang di hadapanku tanpa sedikit pun merasa malu. Aku spontan melangkah keluar dari kamar mandi. Rupanya, demi Serra, Leonard bahkan rela mengesampingkan harga dirinya yang biasanya begitu tinggi. Setelah selesai mandi, Leonard keluar dan menatapku. “Ambilkan aku pakaian!” “Ambil sendiri! Aku juga sedang terburu-buru ingin mandi!” balasku, menirukan nada dinginnya. “Kenapa sekarang kamu mulai berani membangkang?” bentak Leonard tidak sabar. Aku malas meladeninya. Segera kumasuki kamar mandi, lalu kukunci pintunya dari dalam. Malam ini, aku ingin berendam air hangat untuk meredakan stres. Aku sama sekali tidak berniat duduk semeja dengan mereka jika Serra ikut makan malam. Aku melakukan semua ini demi melindungi diriku sendiri. Jika ikut makan bersama mereka, ibu mertua dan saudara perempuan Leonard pasti akan kembali membanding-bandingkanku dengan Serra. Namun, keputusan itu harus kubayar dengan rasa lapar yang menyiksa. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi Leonard belum juga pulang. Menurut gosip yang beredar, Leonard dan Serra menghadiri sebuah acara bersama. Kedekatan mereka bahkan mulai dianggap sebagai hubungan resmi antara sepasang calon suami istri. Meskipun sudah bertekad melupakan Leonard, kenyataannya hatiku masih terasa sakit. Seandainya aku tahu bahwa mencintai seseorang yang tidak membalas perasaanku akan sesakit ini, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan dengan Leonard. Seharusnya aku melarikan diri dari rumah sejak awal. Aku masih membutuhkan waktu untuk keluar dari jurang gelap yang menelanku. Untuk saat ini, aku hanya bisa bersabar sambil belajar berdamai dengan luka yang kutanggung. Karena tidak tahan lagi menahan lapar, aku keluar dari kamar dan menuju dapur. Sayangnya, tidak ada makanan yang tersisa. Aku pun membuka lemari es dan menemukan beberapa buah yang masih tersedia. Setidaknya, ada apel dan pisang yang bisa kumakan. Aku mengambil sebuah apel dan beberapa buah pisang, lalu berjalan menuju tangga. Namun, saat hendak naik, aku berpapasan dengan Leonard yang baru saja pulang. Bau alkohol yang menyengat langsung tercium dari tubuhnya. “Kamu belum tidur?” tanyanya. Aku hanya mengangguk singkat. “Kamu lapar?” tanyanya lagi. Aku memilih tidak menjawab. Leonard kemudian tersenyum tipis. Aku sampai bertanya-tanya dalam hati, kenapa akhir-akhir ini dia banyak bicara kepadaku? Biasanya, setiap kali kami berpapasan, dia hanya melirikku sekilas sebelum kembali bersikap dingin seperti biasa. “Kalau lapar, bilang saja. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” tawarnya. “Kamu mabuk? Coba lihat baik-baik siapa yang sedang kamu ajak bicara!” balasku ketus. Aku yakin Leonard bahkan tidak menyadari bahwa dia sedang berbicara denganku. Mungkin dia mengira aku adalah mantan kekasihnya, atau bahkan Serra. Bagaimanapun, tidak mungkin Leonard tiba-tiba bersikap baik sampai bersedia memasakkan makanan untukku. Aku meninggalkannya begitu saja dan memilih makan buah di balkon sambil menikmati udara malam untuk menenangkan pikiran. Namun, tak lama kemudian, Leonard menyusulku dengan langkah sedikit sempoyongan. “Di luar dingin. Kenapa kamu di sini?” tanyanya lembut. Sesaat, kelembutan suaranya membuatku terlena, terlebih ketika wajah tampannya mendekat. Tidak bisa dimungkiri, Leonard memang sangat memikat. Dia memiliki wajah rupawan sekaligus tubuh yang nyaris sempurna. Namun, suasana lembut itu seketika lenyap saat mataku menangkap bekas lipstik di leher suamiku. “Pergi mandi! Bau alkoholmu menyengat! Lehermu juga penuh bekas lipstik!” bentakku. “Kenapa kamu memasang wajah seperti itu? Cemburu?” balas Leonard. “Tidak. Aku hanya merasa jijik kepadamu,” jawabku sebelum berbalik dan masuk ke kamar. Aku segera merebahkan diri di tempat tidur. Di balik selimut yang hangat, air mataku mulai menggenang. Aku benar-benar lelah menjadi istri yang tidak pernah dihargai. Sementara itu, Leonard pergi mandi sebelum akhirnya berbaring di sampingku. Dia merangkul tubuhku, tetapi aku berusaha melepaskan diri. Bukannya melepaskanku, dia justru semakin mengeratkan pelukannya. “Leonard, lepaskan! Aku gerah kalau kamu terus menempel seperti ini!” protesku sambil bergeser ke tepi ranjang. “Mana mungkin kamu gerah? Pendingin ruangan sudah menyala,” sahutnya seolah tidak percaya. Aku akhirnya bangkit dan memutuskan tidur di sofa. “Apa masalahmu sebenarnya?” tanyanya dingin. “Tidak ada. Aku hanya lelah dan ingin tidur. Kamu menggangguku,” jawabku ketus. “Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi mudah marah seperti ini?” Leonard bertanya dengan wajah bingung. “Karena aku sudah muak!” “Muak dengan apa?” tanyanya, masih tidak mengerti. “Intinya, aku lelah terus-menerus dipermainkan olehmu. Begitu aku berhasil mengumpulkan sembilan miliar, kita akan bercerai!” Mendengar perkataanku, amarah Leonard langsung tersulut. Dia melangkah mendekat dengan tatapan tajam, lalu mencengkeram kepalaku dan menariknya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Kenapa kamu terus membicarakan perceraian, Isla Grace? Kamu sudah hidup enak sebagai istriku! Kamu menikmati kemewahan rumah ini dan tetap melayaniku seperti biasa. Apa lagi yang kurang, hah? Tidak sembarang perempuan bisa dengan mudah menjadi istriku!” bentaknya. Aku menepis tangannya dan mendorongnya menjauh. “Status apa yang kamu banggakan? Seluruh dunia menganggapmu sebagai calon suami Serra! Dulu aku membiarkanmu menyentuhku karena kupikir kamu pria yang tahu bagaimana menjaga sikap. Namun, setelah melihat semua bekas lipstik di lehermu tadi, aku sadar bahwa kamu hanyalah pria murahan!” Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tidak lagi mampu menahan emosi. “Jadi, mulai sekarang jangan pernah menyentuhku lagi! Aku tidak mau tertular penyakit menular seksual darimu!” Leonard yang masih setengah mabuk hanya berdiri terpaku. Aku tidak lagi memedulikannya. Aku kembali berbaring, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Aku melewatkan sarapan bersama keluarga dan meninggalkan rumah sebelum siapa pun sempat menghentikanku. Aku melangkah keluar dari rumah yang selama ini terasa seperti penjara bagi tubuh dan jiwaku. Namun, baru saja sampai di gerbang, aku melihat mobil Serra memasuki halaman. “Leonard sudah bangun?” tanya Serra dari balik kemudi. “Belum. Bangunkan saja sendiri!” jawabku santai. “Hah? Kamu mengizinkanku masuk ke kamar kalian?” tanyanya dengan nada terkejut. “Ya. Masuk saja,” jawabku ringan. Silakan, Serra. Aku akan memberi kalian jalan selebar mungkin untuk bersama. Dengan begitu, aku dan Leonard bisa segera bercerai.“Kenapa kamu terlihat panik begitu?” tanya Bos Dominic.“Tidak ada apa-apa, Bos.”Jantungku berdebar kencang. Aku hanya berharap Leonard tidak mengenaliku tadi.Tak lama kemudian, Aria muncul dan kami bergegas masuk ke lift berikutnya.“Maaf sudah membuat kalian menunggu,” kata Aria.“Tidak masalah,” jawab Dominic.Sesampainya di rumah, aku segera turun dari mobil Bos Dominic.“Terima kasih, Bos. Maaf sudah merepotkan Anda.”“Kalau kepalamu masih pusing, tidak apa-apa jika besok kamu tidak masuk latihan,” ujar Bos Dominic dengan senyum tulus.“Baik, Bos. Terima kasih sekali lagi.”“Sama-sama.”“Sampai jumpa, Isla,” sahut Aria.“Ya. Hati-hati di jalan.”Setelah mobil Bos Dominic melaju pergi, aku berjalan melewati gerbang rumah. Mobil Leonard sudah terparkir di halaman. Itu berarti dia tiba lebih dulu dariku.Begitu memasuki rumah, aku terkejut mendapati ibu mertuaku masih terjaga. Wajahnya terlihat sangat marah.“Ya Tuhan! Kenapa kamu baru pulang selarut ini? Dari mana saja kamu? Dan
“Isla, malam ini Bos Dominic mengadakan pesta ulang tahun di sebuah tempat karaoke VIP. Kamu juga diundang,” kata Aria setelah aku menyelesaikan sesi latihan.“Aku lelah sekali. Latihan hari ini jauh lebih berat daripada kemarin. Bukan cuma latihan vokal, kami juga harus mempelajari koreografi tari,” keluhku sambil menyeka keringat di leher dan dahiku.Dulu, saat masih bersekolah, aku hanya mempelajari teknik vokal dan memainkan beberapa alat musik. Sementara itu, menari adalah sesuatu yang benar-benar baru bagiku. Aku bahkan harus memulai semuanya dari nol.“Semua tamunya orang-orang penting. Bukan cuma pengusaha, tetapi juga aktor dan penyanyi terkenal. Semakin banyak koneksi yang kamu miliki, semakin besar pula kesempatanmu untuk mendapatkan pengalaman,” bujuk Aria sambil mengedipkan sebelah mata.Benar juga. Kapan lagi aku mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang-orang penting seperti mereka?“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu untuk berganti pakaian,” jawabku p
Saat aku dan suamiku sedang terlibat dalam ketegangan, terdengar ketukan dari luar kamar.“Leonard, kamu di dalam? Cepatlah, kita harus makan malam. Setelah itu, kita masih punya acara!” seru Serra dari luar.Aku langsung mencibir.“Dengar, selingkuhanmu sudah memanggil. Sekarang lepaskan aku!” sindirku tajam.“Kamu cemburu?” Leonard menggoda sambil menatapku lekat-lekat.“Mungkin dulu aku pernah cemburu, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya ingin kamu segera menceraikanku. Setelah itu, aku akan mendoakan kebahagiaanmu bersama Serra!” balasku sembari mendorongnya menjauh dari kamar mandi.“Jangan pernah berpikir tentang perceraian sebelum kamu melunasi utang ayahmu!” bentak Leonard dengan nada penuh amarah.“Baik! Akan kulunasi utang itu!” sahutku sungguh-sungguh.Tok! Tok! Tok!Serra kembali mengetuk pintu, kali ini jauh lebih keras.“Leonard, kenapa lama sekali?”“Aku sedang mandi sebentar!” jawab Leonard dari dalam kamar mandi.Aku mendengus kesal. Serra selalu bersikap seolah-olah
Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu
Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi
Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan







