ANMELDEN“Kok nggak bisa ditelpon, sih?” Dastan berguman, sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Barusan masih ada nada sambung, bahkan sempat satu kali berdering. Lalu tiba-tiba... klik! Terputus begitu saja.Ia pun berinisiatif mencoba menelepon Reyhan lagi. Namun setelah tiga kali, masih saja tidak aktif.Dastan mendengus pelan, lalu memasukkan ponsel ke saku mantel tebalnya dan menghela napas panjang. Sudahlah. Mungkin Reyhan sedang sibuk. Atau ponselnya jatuh ke got. Atau diculik oleh cewek cantik dan disekap di dalam kamarnya. Biar si Reyhan nggak jomblo lagi. Siapa tahu saja, kan? Perandaiannya bisa jadi doa, begitulah yang dipikirkan oleh Dastan, tanpa sadar jika feeling-nya benar-benar tepat.Swiss di pagi itu terlalu indah. Pegunungan Alpen berdiri megah dengan puncak berselimut salju, langit biru bersih tanpa noda, dan udara dingin yang menggigit tapi menyegarkan. Mereka sedang berada di salah satu destinasi wisata paling terkenal di Swiss. Sebuah desa kecil nan r
Saat ini, Reyhan sedang menatap orang tua Ara yang berdiri tegak di depan mereka. Wajah ayah dan ibunya terkejut melihat putri mereka datang bersama seorang pria jangkung dengan mengenakan jas yang rapi. Reyhan menatap balik dengan santai, mencoba mengumpulkan kesan ‘tenang dan sopan’ meski jantungnya berdegup nggak karuan. “Ibu, ayah… kenalin ini Reyhan, pacarku,” ucap Ara cepat. Ibu Ara menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. “Oh. Sudah berapa lama kalian bersama?” tanyanya dalam nada penuh rasa ingin tahu tapi juga terlihat skeptis. “Seminggu," jawab Ara. “Sebulan," jawab Reyhan bersamaan. Ibu Ara pun menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “Eh? Gimana ceritanya bisa berbeda? Seminggu atau sebulan?” Dengan gaya sok tenang, Reyhan meraih tangan Ara, lalu mengecup jemarinya pelan sebelum berkata dengan suara yang lembut tapi sedikit dramatis. “Sebulan, adalah waktu yang saya butuhkan untuk mendekati Ara. Dan seminggu, adalah persisnya wak
“Ck.” Ara mencebik sambil menatap pria jangkung berpenampilan terlalu rapi di depannya. Apa ada Deputy CEO yang modelannya culun begini? Setelan jas Reyhan terlalu licin, kemejanya dikancing sampai atas, rambutnya disisir sangat rapi. Tapi Ara sudah berada di titik pasrah sekarang. Entah Reyhan jujur atau tidak soal jabatannya, yang jelas ia sudah terlanjur menyeret pria itu sampai akhirnya mereka pun berada di depan gerbang kompleks pemakaman. Ara berhenti mendadak, lalu menarik tangan Reyhan dengan kuat hingga Reyhan hampir saja menabraknya. “Bentar,” ucap Ara singkat. “Aku permak dikit penampilan kamu, biar nggak kelihatan kayak musang gembel nyasar ke acara duka.” “Apa?” Reyhan refleks meletakkan satu tangan di dada. "Saya ini pejabat perusahaan, ada etika berpenampilan yang harus ditaati." Tapi Ara tidak peduli. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengacak rambut Reyhan yang tadinya terlalu patuh pada hukum gravitasi. Ara sedikit membuatnya berantakan, kasual y
Ara membanting pintu rumahnya dengan keras lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa. Dengan kesal, ia melepas kacamata hitam sebelum mengacak rambutnya sendiri. “Gila,” gumannya. “GILA!” Jadi Mas Dastan sudah menikah? Apa iya?? Apa perkataan pria culun ngeselin bernama Reyhan itu bisa dioercaya??! Ara pun mondar-mandir di ruang tamu seperti kucing yang ekornya terinjak. Tangannya mengepal dan napasnya berat. “Deputy CEO my ass,” dengusnya. "Paling-paling si cowok culun itu cuma bluffing." Ia pun berhenti di depan cermin besar di ruang tamu untuk menatap refleksinya sendiri. Gaun hitam sederhana masih membingkai tubuhnya yang berlekuk sempurna. Rambutnya rapi. Wajahnya flawless. Ara menyentuh pipinya sendiri untuk menilai penampilannya. Tidak ada yang salah. Ia tetap cantik. Tetap fashionable. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya ia seperti kalah sebelum bertanding. “Cih. Menikah mendadak,” gerutunya pelan. “Siapa sih orang yang mau menikah mendadak, hah?” Namun jawab
Di sebuah kamar hotel yang menghadap langsung ke pegunungan Swiss, pagi terasa jauh lebih pelan. Salju tipis masih menggantung di luar jendela besar, sementara cahaya matahari memantul lembut ke dalam ruangan Dastan bangun lebih dulu, sebuah refleks baru untuk memastikan bhawa orang di sampingnya tetap aman, merasa hangat, dan... masih ada. Marvella tidur membelakangi jendela hotel Swiss yang terbuka setengah, rambut coklat gelapnya yang panjang sedikit berantakan di atas bantal putih. Napasnya teratur dan wajahnya terlihat rileks. Dastan memiringkan tubuhnya dan sedikit bergeser agar lebih dekat. Tangannya bergerak pelan penuh perhitungan sebelum menyentuh punggung Marvella, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membangunkan istrinya. Tapi begitu jemarinya menyentuh kulit lembut dan hangat itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang langsung bernapas lega. Marvella masih di sini, dan masih miliknya. Dastan menunduk untuk mencium tengkuk Marvella dengan sangat ringan k
Reyhan berdiri di depan rumah nomor 12 Green Residence, sambil menatap pagar besi hitam yang menjulang dengan ekspresi lelah bercampur pasrah. Perumahan elit ini terlalu tenang untuk kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa menit lalu, pesan dari Dastan masuk tanpa banyak basa-basi. Dastan: (Rey. Aku lupa Board Resolution Addendum yang sudah ditandatangani. Ada di ruang kerja. Laci kiri meja) Reyhan membaca pesan itu tiga kali, lalu menatap langit. “Addendum,” gumannya. “Tentu saja, addendum.” Ia merogoh saku jas untuk mengeluarkan kunci cadangan yang selama ini hanya ia anggap simbol kepercayaan, dan hari ini berubah fungsi menjadi alat penyelamat hidup. Namun saat ia mulai membuka gembok pagar, suara langkah cepat bersepatu heels terdengar dari arah samping. “Permisi.” Nada suara perempuan yang dingin, sedikit angkuh dan menilai tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Reyhan pun seketika menoleh. Ia melihat seorang gadis berdiri di trotoar, mengen







