Se connecterNadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan
Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,
Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar
Dua hari tanpa Maya, dan rumah ini terasa beda. Bukan sepi. Bu Wulan masih mondar-mandir di dapur, dua pelayan muda masih sibuk di taman. Tapi ada yang hilang. Langkah kaki paling pagi. Suara yang selalu menyapa sebelum siapa pun sempat bangun. Maya. Aku berdiri di depan jendela kamar, menatap taman yang masih basah. Dan yang bikin sesak bukan kehilangannya. Tapi caranya pergi. Mengakui segalanya, menaruh kartu akses di meja dan barang lainnya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Tanpa diusir. Tanpa pernah terlihat kalah. Seolah dia sendiri yang memutuskan kapan cerita ini selesai. Bukan kami. Aku menghela napas, berbalik, lalu keluar kamar. Di ruang utama, Bu Wulan sudah berdiri tegak, mengarahkan dua pelayan muda menata vas bunga. "Selamat pagi, Mbak Alia," sapanya begitu melihatku, sedikit membungkuk yang dii
Kehadiran kami berdua di depan pintu mansion membuat Revan dan Farel sama-sama terdiam, keduanya menatap Maya dengan campuran kaget dan tidak percaya. "Aku dateng sendiri," kata Maya, suaranya tenang, tidak ada sedikit pun getar di dalamnya. "Buat ngakhirin semua yang udah aku mulai." Revan menatapnya lama, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya berkata pelan, "Ruang kerja. Sekarang." Kami berempat berdiri di ruangan itu, suasana jauh lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Revan duduk di kursinya, meraih kertas dan pena seperti kebiasaannya setiap kali menyusun sesuatu yang penting, meski tangannya sempat berhenti sejenak sebelum benar-benar menulis. Farel berdiri di sudut, masih setengah tidak percaya melihat Maya kembali dengan kemauannya sendiri, wajahnya bergantian antara syok dan curiga. Maya berdiri tegak di tengah, tidak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk membela d
Aku menyelinap keluar mansion lewat pintu samping, mengendap-endap melewati taman belakang yang gelap, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti langkahku. Jantungku berdebar kencang sepanjang perjalanan menuju lokasi yang dikirim Maya, campuran antara takut dan tekad yang sudah bulat. Kafe kecil itu sepi, lampunya temaram, hanya beberapa meja yang terisi. Aku menemukan Maya duduk di sudut, jauh dari jendela, seolah sudah lama menunggu, wajahnya tenang seperti biasa. "Duduk," katanya, tanpa basa-basi, menunjuk kursi di depannya. Aku duduk, menjaga jarak seperlunya, mengamati wajahnya yang tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah atau gugup. "Kamu berani juga," katanya akhirnya, "datang sendirian kayak gini." "Kamu bilang aku harus datang sendiri," jawabku, mencoba terdengar tegas meski tanganku di







