แชร์

Farel dan Masa Lalu

ผู้เขียน: KathYa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 07:55:29

"Farel ini beda banget sama Revan," lanjut ibunya, menyesap air putih sebelum kembali bicara.

"Revan dari kecil udah keliatan bakatnya, ngikutin jejak ayahnya. Rajin, disiplin. Farel mah... maunya bebas aja gitu. Waktu kuliah juga begitu. Padahal kalau mau, bisa aja dia masuk firma keluarga."

Ayahnya hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Cukup untuk menunjukkan dia sependapat dengan kekecewaan istrinya.

Aku mengangguk sopan, memaksa diri fokus pada obrolan. Tapi di ujung meja, aku bisa merasakan tatapan Farel menempel di wajahku, diam-diam.

Aku tidak berani menoleh balik. Tidak perlu. Aku hafal betul rasanya ditatap seperti itu.

Dulu, di kos sempit yang hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar, dia sering menatapku persis seperti ini sebelum akhirnya mendekat, menyentuh rambutku, membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa sampai lupa segalanya.

Sekarang tatapan yang sama duduk di seberang meja, dan aku hanya bisa berpura-pura sibuk memotong daging di piringku yang sama sekali tidak ingin kumakan.

Sendokku bergetar sedikit di tanganku.

Kenapa harus begini?

Pertanyaan itu terus berkecamuk di kepalaku, semakin lama semakin runyam, seolah dengungan itu tidak bisa kumatikan.

Dari miliaran manusia yang hidup di bumi ini, kenapa harus Farel yang jadi darah daging dari pria yang sedang memegang tanganku sekarang?

"Alia."

Aku tersentak. Revan menatapku, alisnya sedikit terangkat, tangannya sudah menggenggam punggung tanganku di atas meja.

"Kamu diem dari tadi. Nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa," jawabku cepat, terlalu cepat, dan aku bisa mendengar sendiri betapa dipaksakannya nada suaraku.

"Cuma... capek aja hari ini."

Revan menatapku sebentar lebih lama dari biasanya, seolah sedang menimbang jawabanku.

Lalu segera dia beralih ke ayahnya, mengangkat topik tentang kasus korupsi yang sedang ramai di media, suaranya berubah tegas dan penuh percaya diri.

Ayahnya langsung tertarik, mulai membalas dengan analisis tajam soal celah hukum yang bisa dimanfaatkan.

Seluruh perhatian meja itu bergeser total ke arah Revan.

Aku menghela napas nyaris tidak terdengar, memanfaatkan momen itu untuk sedikit bernapas lega.

Tapi lega itu hanya sebentar. Karena di seberang meja, Farel tiba-tiba berdiri, kursinya berderit pelan di lantai marmer.

"Aku ke toilet dulu," katanya singkat, tanpa menatap siapa pun secara khusus.

Dia melangkah pergi. Tapi tepat sebelum tubuhnya menghilang di balik lorong restoran, dia berhenti. Berbalik.

Matanya langsung mencari mataku di antara semua orang di meja itu, seolah dia sudah tahu persis aku akan melihat ke arah sana.

Dia mengangguk. Sekali. Pelan.

Bukan anggukan sopan santun seperti tadi saat berkenalan. Ini berbeda, lebih dalam, lebih personal, kode yang hanya kami berdua yang mengerti bahasanya.

Jantungku berdegup keras, begitu keras sampai aku takut orang lain bisa mendengarnya.

Aku menunggu, menghitung detik, memastikan Revan masih tenggelam dalam perdebatan hukum dengan ayahnya.

Lalu aku membungkuk pelan ke arahnya, berbisik, "Aku ke toilet dulu ya."

Revan hanya mengangguk singkat tanpa benar-benar menoleh, tangannya masih sibuk menggerakkan pisau makan sambil menjelaskan sesuatu.

Ibunya tersenyum kecil sambil menyesap winenya, tidak curiga sama sekali.

Aku bangkit, kakiku terasa aneh, terlalu ringan dan terlalu berat di saat bersamaan.

Kemudian aku melangkah menyusuri lorong restoran yang temaram, satu-satunya suara yang terdengar hanya langkah sepatuku di lantai marmer dan detak jantungku sendiri yang menggema di telinga.

Farel sudah bersandar di dinding dekat pintu toilet, satu kaki ditekuk menyentuh tembok, tangan dimasukkan dalam saku celana.

Lampu dinding di atasnya membuat wajahnya setengah tersorot, setengah bayangan.

Dia mendongak begitu langkahku mendekat.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya suara musik piano samar dari ruang makan yang menembus dinding, dan napas kami berdua yang entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya.

"Hai," bisikku, suaraku nyaris hilang.

"Hai," balasnya, pelan, seperti kata itu menyangkut di tenggorokannya sendiri.

Satu tahun. Satu tahun sejak dia menghilang dari hidupku tanpa penjelasan yang cukup, tanpa satu kata perpisahan yang layak, hanya pesan singkat yang membuatku menangis semalaman di kos yang tiba-tiba terasa terlalu luas untuk satu orang.

Dan sekarang dia berdiri di depanku lagi, lebih dekat dari yang seharusnya, matanya menatapku seolah waktu tidak pernah berlalu sama sekali.

"Dari miliaran wanita di dunia ini," katanya akhirnya, suaranya rendah, bergetar di ujungnya, "kenapa harus kamu, Alia? Kenapa harus kamu yang jadi pacar kakakku?"

Tenggorokanku tercekat. "Aku juga nggak pernah nyangka bakal begini, Farel."

"Tiga tahun," lanjutnya, matanya tidak lepas dariku. "Tiga tahun kita bareng. Terus abis wisuda aku ninggalin kamu gitu aja. Nggak ada penjelasan yang bener. Cuma pesan pendek dan aku ilang."

"Aku nunggu kamu jelasin," suaraku bergetar, semua luka lama yang selama ini kutahan tiba-tiba mendesak keluar.

"Aku nunggu berbulan-bulan, Farel. Nggak ada apa-apa."

Rahangnya mengeras. "Aku tahu. Aku bodoh. Aku tahu aku bodoh banget udah ninggalin kamu kayak gitu."

Dia menelan ludah, matanya berkilat menahan sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan. "Tapi aku nggak bisa jelasin alasan sebenarnya. Nggak sekarang. Mungkin nggak akan pernah bisa."

"Kenapa?" desakku, langkahku maju setengah tanpa sadar.

"Kenapa kamu nggak bisa cerita, Farel? Kita udah tiga tahun bareng, terus kamu ninggalin aku kayak aku ini nggak pernah berarti apa-apa—"

"Kamu berarti segalanya," potongnya cepat, terlalu cepat, seolah kata-kata itu sudah lama tertahan dan akhirnya keluar begitu saja.

"Itu masalahnya."

Jarak di antara kami semakin menipis. Aku bisa mencium samar aroma parfumnya yang masih sama seperti dulu, aroma yang dulu selalu membuatku merasa aman setiap kali dia memelukku pulang begadang mengerjakan tugas kuliah, di kos yang hampir tidak pernah sepi dari deadline dan kopi dingin.

Tangannya terangkat perlahan, ragu-ragu, jemarinya bergerak mendekati tanganku yang menggantung kaku di samping tubuh.

Aku tahu aku harus mundur. Aku tahu setiap detik aku berdiri di sini adalah pengkhianatan kecil terhadap orang yang sedang duduk beberapa meter dari kami, orang yang baru saja menyelamatkan keluargaku dari kehancuran.

Tapi kakiku membeku. Napasku tertahan. Jemarinya semakin dekat, hampir menyentuh kulitku...

"Alia?"

Suara Revan menggema di ujung lorong.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 41 - Tidak Setara

    Makan siang kedua dengan Nadia. Kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi ia tidak tertawa hari ini. Ia makan pelan. Memandangku seperti memutuskan sesuatu."Al," katanya akhirnya. Meletakkan sendok. "Boleh jujur?""Sejak kapan kamu izin buat jujur?"Ia tidak tersenyum. "Kamu sama Pak Revan. Gimana ceritanya? Asisten pribadi sekaligus... itu. Gimana awalnya?"Aku menjawab dengan versi resmi. Butuh pekerjaan. Ditawari posisi. Kompeten. Profesional. Semua kata yang benar. Semua kata yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri sampai terdengar benar.Nadia mendengarkan. Tidak menyela. Lalu berkata, pelan, tanpa tertawa, tanpa basa-basi:"Alia. Keadaan itu tidak setara. Bukan salahmu. Tapi jangan bilang itu setara."Sendokku berhenti di udara."Kamu baru dua hari di sini,"

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 40 - Nadia dari Surabaya

    Senin pagi, pantry yang sunyi pecah oleh tawa keras.Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di depan mesin kopi dengan koper di samping kakinya. Rambut diikat asal. Blazer sedikit kusut. Tertawa seolah pantry itu ruang tamu rumahnya sendiri.Semua orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia menoleh balik ke semua orang dan melambai."Pagi! Nadia! Mutasi dari Surabaya! Kalau butuh apa-apa jangan tanya saya, saya juga baru!" Tawa lagi. Pecah.Aku langsung suka padanya. Dan langsung waspada pada diriku yang langsung suka. Orang yang terlalu cepat disukai biasanya terlalu cepat dipercaya. Aku belajar itu dari Maya.Siang itu bencana kecil terjadi di ruang arsip. Suara pecah. Gaduh. Aku berlari ke sana.Nadia berdiri di tengah genangan teh. Teko pecah di kakinya. Berkas-berkas basah di tangannya. Wajahnya merah. Tapi ia tertawa.

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 39 - Nama di Daftar

    Berkas keempat datang Kamis pagi. Lebih tebal dari tiga sebelumnya. Bu Wulan meletakkannya tanpa komentar. Tapi ia mengetuk sampulnya dua kali dengan jari. Kode kami yang baru. Artinya: hati-hati.Aku membuka. Undangan pengadaan lain. Daftar peserta lain. Kota lain. Tahun lalu.Tanganku bekerja otomatis. Kuning untuk tanggal. Pink untuk nama. Hijau untuk angka.Lalu stabilo pink-ku berhenti di satu baris.Cipta Dharma Persada.Aku menatap nama itu. Mencoba mengingat di mana pernah melihatnya. Berkas pertama. Ya. Daftar peserta berkas pertama. Nama yang sama. Perusahaan yang sama. Dua berkas berbeda.Tanganku melingkari nama itu. Lingkaran pink yang rapi. Lalu aku menulis di pinggirnya: berkas-1 juga ada.Siang itu di pantry, aku bertanya santai pada staf senior. Pak Bambang. Umurnya lima p

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Nadia

    Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Sayang

    Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Kasus

    Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status