Share

Telepon Laras

Author: KathYa
last update publish date: 2026-07-24 19:30:30

Kami berjalan menyusuri lorong menuju meja makan, tapi pikiranku masih tertinggal di belakang, pada wajah Revan yang berubah tanpa alasan jelas saat mendengar nama Haji Rasyid dari mulut Farel.

Dari mana dia tahu? Dan kenapa Revan terlihat seperti itu?

Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku, mengaburkan segalanya di sekitarku, sampai aku tidak sadar kakiku sudah membawaku duduk kembali di kursi meja makan.

"Alia? Kok bengong?" Ibunya Revan menyentuh lenganku p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Telepon Laras

    Kami berjalan menyusuri lorong menuju meja makan, tapi pikiranku masih tertinggal di belakang, pada wajah Revan yang berubah tanpa alasan jelas saat mendengar nama Haji Rasyid dari mulut Farel.Dari mana dia tahu? Dan kenapa Revan terlihat seperti itu?Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku, mengaburkan segalanya di sekitarku, sampai aku tidak sadar kakiku sudah membawaku duduk kembali di kursi meja makan."Alia? Kok bengong?" Ibunya Revan menyentuh lenganku pelan, alisnya sedikit terangkat khawatir.Aku tersentak. "Eh, nggak apa-apa, Tante. Maaf."Revan ikut menoleh, matanya menatapku lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca apa yang sedang berkecamuk di kepalaku. "Kamu kenapa? Masih pusing?""Nggak, cuma... capek aja," jawabku cepat, menghindari tatapannya."Jangan dipaksain kalau capek, Nak," kata ibunya lagi, lalu tanpa aku sadari tangannya sudah menggenggam tanganku di atas meja. "Jangan panggil Tante

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Lambaian Tangan Farel

    "Alia?" Suara Revan menggema di ujung lorong, membuat Farel menarik tangannya secepat kilat. Dan aku ikut mundur setengah langkah. Aku baru sadar, punggungku sudah menyentuh dinding dan jarakku dengan Farel begitu dekat. Jantungku berdebar cepat ketika mendengar suara Revan. Apa yang akan Revan pikirkan ketika melihatku seperti ini? batinku. Aku menoleh ke arah Revan. Langkah Revan begitu cepat, sepatunya berdentum keras di lantai. Tanpa perkataan apapun, seketika dia langsung berjalan menerobos jarak di antara aku dan Revan. Satu tangannya langsung terentang, seolah sedang membuat batas antara aku dan Revan. Aku terhuyung setengah langkah. Kini aku berdiri di balik punggung Revan, membuatku kesulitan untuk melihat wajah Farel dan hanya bisa melihat betapa lebarnya punggung Revan. "Apa yang sedang kamu lakukan sama Alia?" tanya Revan, suaranya tenang. Aku tidak dapat melihat seperti apa ekspresinya ketika mengucapkan itu. Aku menahan napas. Jantungku berdebar begitu

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Farel dan Masa Lalu

    "Farel ini beda banget sama Revan," lanjut ibunya, menyesap air putih sebelum kembali bicara. "Revan dari kecil udah keliatan bakatnya, ngikutin jejak ayahnya. Rajin, disiplin. Farel mah... maunya bebas aja gitu. Waktu kuliah juga begitu. Padahal kalau mau, bisa aja dia masuk firma keluarga." Ayahnya hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Cukup untuk menunjukkan dia sependapat dengan kekecewaan istrinya. Aku mengangguk sopan, memaksa diri fokus pada obrolan. Tapi di ujung meja, aku bisa merasakan tatapan Farel menempel di wajahku, diam-diam. Aku tidak berani menoleh balik. Tidak perlu. Aku hafal betul rasanya ditatap seperti itu. Dulu, di kos sempit yang hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar, dia sering menatapku persis seperti ini sebelum akhirnya mendekat, menyentuh rambutku, membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa sampai lupa segalanya. Sekarang tatapan yang sama duduk di seberang meja, dan aku hanya bisa berpura-pura

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Pertemuan

    Chat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.*Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada.Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai.Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang."Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok.Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?""Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik.""Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai mem

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Keputusan Bulat

    Mobil berhenti di ujung jalan yang sama, tempat aku dijemput tadi. Aku turun pelan, merapikan gaun pinjaman yang sudah agak kusut."Makasih ya, buat makan malamnya," kataku, mencoba tersenyum, meski pikiran berkecamuk.Revan menatapku dari balik kaca mobil yang terbuka setengah, tidak terlihat kecewa atau memaksa meski aku baru saja menolaknya di restoran tadi. "Nggak apa-apa. Kamu pikirin lagi aja, Alia. Aku nggak akan maksa."Aku mengangguk pelan, lega karena dia tidak marah."Tapi kalau kamu tetap mau nolak," lanjutnya, suaranya tetap tenang, "paling nggak hubungi aku ya. Jangan didiemin kayak semalam.""Iya," bisikku. "Aku janji kali ini.""Kabarin aku kalau udah siap," katanya, lalu tersenyum tipis sebelum kaca mobil kembali naik. Mobil hitam itu melaju menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.Aku berdiri sebentar, menatap kepergian mobilnya, dadaku masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Dikenalkan ke keluarga. Bantuan besar. Semua

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Tawaran Revan

    Suara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon.Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan.Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja.Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin.Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya."Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak."Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar.Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali.Revan: Semangat ker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status