Elvano akhirnya tersenyum, senyum yang tidak sering muncul di wajahnya yang biasanya tegas dan tertutup.
“Itu baru saudara sejati, Rafka,” katanya, suaranya tenang namun sarat makna, seperti sebuah restu diam-diam.
Sementara itu, di kamar bernuansa lavender milik Veronika, lampu meja menyala redup. Aroma teh chamomile menggantung di udara, menenangkan tapi tak cukup menepis kegelisahan di dada gadis itu.
Veronika duduk bersila di atas ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk ke arah Nadira yang duduk tenang di sofa kecil dekat jendela.
Malam sudah larut, tapi rahasia justru mengalir deras saat kota mulai terlelap.
Dengan suara rendah tapi penuh semangat, Veronika menceritakan semuanya. Kata demi kata yang ia dengar malam itu, ia rekam dengan saksama di buku hariannya.
Setiap dialog, setiap nada suara, bahkan bisikan samar, semuanya ia tulis karena takut lenyap ditelan waktu.
“Kalau kamu nggak percaya, aku bisa kasih lihat bukunya,” ujarny
Tapi… kenyataannya, dia ke Bali demi Ghani.Pikiran itu terus-menerus menggelayuti benak Mahesa, seperti kabut pagi yang enggan sirna meski matahari sudah tinggi.Apa Nadira benar-benar sudah berubah arah hatinya?Ia menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar menangkap apa pun. Dadanya sesak oleh bayangan-bayangan yang tak bisa dijelaskan.Semakin dipikir, semakin tak tenang. Jari-jarinya menggenggam lengan kursi kerja, lalu melepaskannya pelan seolah sedang menahan sesuatu yang mendesak keluar.“Aku mau kamu pesenin tiket paling cepat ke Bali,” ucapnya, nada suaranya padat, nyaris tanpa emosi.“Cahyo biar nyusul, beli tiket sendiri.”Rafael menatap layar ponsel sambil bicara pelan, setengah hati, “Masih mau kerja sama sama Bu Mardhiyah?”Mahesa melirik, dingin. “Menurut kamu aku tipe orang yang gampang nyerah?”Nada bicaranya seolah lebih dari sekadar menjawab. Itu pengakuan. Pernyataan perang. “Selama m
Usai makan malam, Hadi kembali ke hotel dengan langkah berat namun tenang, seolah tubuhnya berjalan sendiri tanpa perintah dari kepala.Malam di luar lembap, menyisakan embun tipis di bahu jasnya. Bau laut samar-samar terbawa angin, bercampur aroma tanah yang belum lama tersiram hujan.Tapi semua itu segera menguap saat ia memasuki lobi hotel.Ia baru saja hendak naik lift ketika seorang staf menyapanya dengan sopan, menyerahkan kartu akses baru dalam map kulit hitam berlogo emas.“Kamar Anda telah diperbarui, Pak Hadi. Sekarang Anda ditempatkan di Lantai 12, kamar 1203.”Alisnya mengerut. Perubahan kamar? Ia tidak meminta apa-apa. Namun rasa penasaran mendorongnya naik, dan saat pintu kamar mewah itu terbuka, Hadi berdiri di ambang dengan napas terhenti sesaat.Kamar itu lapang, temaram dengan pencahayaan hangat yang memeluk dinding krem dan furnitur kayu beraksen emas tua.Jendela besar menghadap laut malam yang gelap dan berkilau.
Hadi duduk mematung di balik kerumunan kru, wajahnya terpatuk bayangan sendiri. Keringat dingin merembes di pelipis, bukan karena terik siang di Buleleng, tapi karena apa yang baru saja terjadi.Sebagai stuntman, dia harusnya raja dalam adegan aksi, tapi selama ini ia hanya pelengkap, pembungkus luka aktor utama yang tetap bersinar.Hari itu, semua berubah.Adegan itu seharusnya sederhana: karakter Cameron Lawson menarik Dangelo agar selamat dari tembakan, lalu keduanya jatuh berguling dari lereng curam.Bukit itu, dengan semak-semak lebat dan akar-akar pohon tua yang mencuat liar, sudah disiapkan dengan hati-hati, kamera ditempatkan dari sudut dramatis, kabut buatan disemprotkan pelan dari mesin tersembunyi di balik rimbun.Tapi bukan efek visual yang menciptakan ketegangan sore itu, melainkan kenyataan.Ghani, sang pemeran utama, melayang lebih cepat dari yang seharusnya. Hadi menariknya terlalu kuat. Atau, mungkin bukan “terlalu”—mungkin
Nadira berseloroh sambil tertawa miris, "Soalnya ibu saya pikir saya jelek, jadi semua harapan ditaruh ke Gilang."Oman meledak dalam tawa yang nyaring, lepas tanpa beban, seperti seorang sahabat lama yang baru saja dikenang dengan cerita masa kecil."Hahaha! Kamu dulu lucu banget, seperti boneka."Nadira menyipitkan mata, alisnya naik setengah senti, dahi berkerut halus. "Oman..."Nada tegurannya samar, tapi cukup untuk menghentikan tawa Oman. Ia segera meralat, cepat dan penuh senyum."Tentu saja kamu masih lucu sekarang. Cuma... versi yang lebih nyebelin."Tawa mereka meletik lagi, pelan dan lebih hangat. Sejenak, udara di sekeliling terasa ringan, hampir seperti percikan mentari di tengah pagi yang berkabut.Namun suasana itu seketika buyar saat langkah kaki mendekat. Dua sosok muncul dari balik tirai tenda produksi.Hadi dan agennya.Lelaki berjas gelap dengan rambut klimis yang terlalu mengilap itu menyunggingkan s
Rekaman kamera pengawas tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada gerakan mencurigakan, tidak ada sosok yang tampak menyimpang dari skenario.Semuanya bersih, terlalu bersih. Padahal desas-desus sudah beredar pelan, seperti bisik angin yang membawa bau amis sebelum badai.Hadi, bintang utama sekaligus “titipan” produser, tetap berdiri di posisi yang aman. Terlalu banyak orang tahu permainan macam apa yang sedang dimainkan, tapi tak satu pun berani bicara.Dalam industri ini, keheningan jauh lebih berharga daripada kejujuran.Prinsip yang tak tertulis pun berlaku: jangan cari masalah kalau tak ada bukti kuat. Maka ketika Ghani—pemeran Dangelo—terpeleset secara tidak wajar dan harus dilarikan ke rumah sakit di Denpasar, semua hanya mengangguk pelan, lalu kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa.Padahal langkah mereka semua kini diselimuti bayangan kemungkinan: peran Dangelo bisa digantikan dalam waktu dekat.Sore itu, langit Bali mengga
"Dia bermain-main dengan terlalu banyak orang... Sepertinya dia sudah siap keluar dari industri ini."Kalimat itu menggantung di udara, tajam seperti embusan angin yang membawa firasat buruk. Dipa menatap Nadira dengan mata yang menyipit, mencoba menangkap sesuatu dari nada suara atau sorot matanya yang bisa menjelaskan semuanya.Tapi wajah Nadira tampak seperti topeng, rapat dan dingin. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengucapkan sesuatu seberat itu."Kenapa kamu bilang begitu?" Suara Dipa keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan, nyaris berbisik.Namun ketegangan dalam nada bicaranya tidak bisa disembunyikan. Ada sesuatu yang menggigit di dadanya, naluri yang berkata bahwa semua ini pasti berkaitan dengan Ghani, kakaknya.Naluri yang tidak membutuhkannya menjadi detektif untuk tahu ada yang salah.Nadira memalingkan wajahnya, menatap jalanan lengang di luar jendela kafe tempat mereka duduk.Matanya menerawang, seolah