Compartir

Mantan Suami, Terlambat Menyesal!
Mantan Suami, Terlambat Menyesal!
Autor: Mega Raras

Bab 1

Autor: Mega Raras
Tiga tahun setelah dibuang oleh Janson Gideon ke Kota Hofra, Valeria Bikman untuk pertama kalinya menghubungi pria itu lewat telepon.

Di telepon, wanita itu menceritakan semua kondisi ibunya yang baru saja disampaikan oleh dokter.

Infeksi darah, kondisi ibunya kritis, dan nyawanya bisa terancam kapan saja.

Oleh karena itu, Valeria harus segera pulang ke Kota Belona.

Siapa sangka, Janson yang mendengarnya, justru sama sekali tidak peduli. Pria itu hanya membalas dengan dingin dari telepon, "Valeria, kamu bukan dokter."

Makna di balik kalimat itu sangat jelas, kepulangan Valeria pun tidak akan ada gunanya.

Valeria tentu tahu dirinya bukan dokter dan tidak bisa menyembuhkan orang lain.

Namun, wanita itu adalah ibunya. Menghadapi kejadian seperti ini, dia hanya ingin mendampingi ibunya.

Jadi, meski selama ini Valeria selalu patuh dan tidak pernah membantah Janson, saat ini dia memberanikan diri untuk berkata, "Aku mau pulang untuk menemani ibuku. Tenang saja, aku cuma minta izin beberapa hari dan nggak akan mengganggu pekerjaanku."

Mungkin tidak menyangka wanita itu akan bersikeras, Janson di seberang telepon sempat terdiam sejenak. Bagaimanapun juga, di hadapannya, Valeria tidak pernah berani mengucapkan kata "tidak".

Setelah menghening sejenak, pria itu kembali berkata dengan nada yang jauh lebih dingin dari sebelumnya, "Sekarang 'kan ibumu belum mati."

Kalimat itu terlalu kejam. Meski sudah terbiasa dengan kata-kata dingin Janson, Valeria tetap sulit mencernanya saat itu. "Kamu nggak boleh ngomong begitu!"

Namun, Janson sama sekali tidak peduli pada kemarahannya. Pria itu justru melontarkan kalimat dingin penuh ketidaksabaran, "Sadar diri dengan posisimu. Kamu nggak berhak bicara seperti ini padaku."

Sama seperti momen apa pun selama tiga tahun terakhir, pria itu tidak peduli pada perasaan Valeria, tidak peduli pada pemikirannya, apalagi pada dirinya sebagai manusia.

Hubungan mereka, daripada disebut suami istri, lebih cocok disebut sebagai orang asing.

Namun, Valeria tidak mengerti. Jelas-jelas pria itu sendiri yang dulu berinisiatif mengajaknya menikah, bahkan setelah Valeria mengalami musibah tragis itu.

Bahkan setelah mengetahui bahwa dirinya tidak bisa memiliki keturunan, pria itu pula yang mengusulkan untuk mengadopsi anak.

Dada Valeria terasa sesak dan sakit. Dia menelan habis rasa tertekannya dan mencoba bicara sekali lagi, "Janson, anggap saja aku mohon padamu. Aku ...."

"Cukup!" Sebelum kalimatnya selesai, Janson memotong kata-kata Valeria. Pria di seberang telepon itu seolah sudah mencapai batas kesabarannya. "Valeria, kamu tahu sifatku. Masalah ini sudah kuputuskan. Kalau mau kembali ke Kota Belona, kamu harus mundur dari Perusahaan Gideon!"

Setelah mengatakan itu, Janson menutup telepon.

Mendengar suara nada sibuk dari ponselnya, hati Valeria terasa sangat sakit hingga hampir tak bisa bernapas.

Tiga tahun dibuang ke Kota Hofra, dia tidak pernah mengambil libur sehari pun dan mencurahkan seluruh tenaga serta waktunya untuk bekerja. Valeria tidak hanya memimpin Perusahaan Gideon mengukuhkan posisi di Kota Hofra, tetapi juga mengembangkan berbagai paten bioteknologi dan teknologi baru.

Valeria mengira, kalaupun tidak mengingat hubungan suami istri, setidaknya pria itu menghargai kontribusi pekerjaannya.

Namun kini tampaknya, dialah yang terlalu percaya diri.

Jika begitu, lebih baik dia mengajukan pengunduran diri sekalian.

Valeria membuka sistem, isi formulir, lalu mengajukan permohonan pengunduran diri, semuanya diselesaikan dalam satu helaan napas.

Setelah menyelesaikan itu semua, Valeria memesan tiket pesawat malam menuju Kota Belona.

Pukul enam pagi, pesawat mendarat di Kota Belona.

Setibanya di rumah sakit, dokter menjelaskan kondisi ibunya secara terperinci.

Leukemia akut yang datang mendadak, penyebabnya belum diketahui. Meskipun kondisi ibunya dapat dikendalikan untuk sementara waktu, keadaannya masih sangat berbahaya. Penanganan selanjutnya memerlukan serangkaian tindakan seperti kemoterapi dan transplantasi. Mengenai biayanya, setidaknya harus menyiapkan 4 miliar.

Melihat sosok ibunya yang pucat dan kurus di bangsal rumah sakit, mata Valeria terasa panas dan pedih.

Sebenarnya, dia bukan putri kandung Merry Katarina dan Brian Bikman, melainkan anak yang diadopsi sejak kecil. Namun selama bertahun-tahun, Merry selalu memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Dalam ingatan Valeria, ibunya tampak selalu menderita. Tahun-tahun awal menderita demi membesarkannya, lalu menderita karena utang judi Brian. Bahkan penyakit Merry kali ini, tetangga yang secara tidak sengaja menemukannya pingsan baru memanggilkan ambulans.

Valeria tidak berani membayangkan, apa jadinya jika tetangganya saat itu tidak menemukan ibunya.

Karena ini adalah ruang perawatan steril, dokter tidak mengizinkan Valeria menemani ibunya terlalu lama. Setelah menyampaikan serangkaian hal yang perlu diperhatikan, dokter mengingatkannya untuk menyiapkan uang. Bagaimanapun juga, penyakit ini tidak bisa lepas dari dukungan finansial.

Duduk di kursi panjang rumah sakit, Valeria menghitung secara singkat tabungannya selama beberapa tahun ini. Meski hidup hemat dan tidak konsumtif sama sekali, karena gajinya tidak tinggi, total tabungannya hanya ada 600 juta.

Dibandingkan dengan 4 miliar, jumlah itu sangat jauh dari cukup.

Uang sebanyak itu, Valeria tidak punya cara lain untuk mendapatkannya.

Setelah mengurus keperluan rumah sakit, dia naik taksi menuju Leston Hills.

Kawasan perumahan ini adalah tempat vila Janson berada. Selain saat menikah dulu, ini adalah kedua kalinya Valeria menginjakkan kaki di sini.

Asisten rumah tangga yang membukakan pintu tidak mengenalnya dan mengatakan harus melapor ke dalam terlebih dahulu.

Dari balik tirai kristal, Valeria mendengar gelak tawa riang dari dalam ruangan, ada suara wanita dan anak-anak. Suara wanitanya tidak familier, tetapi anak kecil itu, sepertinya adalah Jasper Gideon, anak yang diadopsi Janson.

Mengingat anak itu, hati Valeria menjadi lembut.

Meski bukan darah dagingnya sendiri, belum pernah bertemu secara langsung dan sebelumnya hanya melihat lewat foto, sebagai ibu di atas kertas, naluri keibuan Valeria tetap muncul.

Baru saja berpikir nanti harus membelikan beberapa hadiah untuk anak itu, gelak tawa di dalam rumah mendadak berhenti. Kemudian, asisten rumah tangga itu datang untuk membawanya masuk. Baru saja melangkah ke ruang tamu, Valeria melihat tiga orang duduk di sofa.

Janson, ada seorang wanita berpakaian anggun nan mewah, serta Jasper.

Janson mengenakan setelan jas gelap dipadu dasi berwarna senada, rambutnya disisir agak ke belakang. Alisnya tebal, matanya tajam, dengan garis wajah yang tegas. Seluruh tubuhnya memancarkan aura seorang penguasa. Dalam jangka waktu tiga tahun, dia menjadi lebih dewasa dan jauh lebih dominan.

Hanya saja saat melihat Valeria masuk, pria itu sama sekali tidak berniat menyapa. Pandangannya tetap tertuju pada ponsel, bahkan tanpa mengangkat kepala sedikit pun. Ada banyak pemberitahuan sistem di ponselnya. Tanpa melihatnya satu per satu, dia langsung memilih opsi menyetujui semua dengan sekali tekan.

Wanita di sampingnya juga hanya diam dan mengamatinya dengan tatapan dingin. Pandangannya dingin tetapi tidak menyiratkan keheranan, menandakan wanita itu mengenalnya.

Justru Jasper, yang duduk di sebelah wanita itu yang berbicara, "Mama, siapa orang ini? Kuno sekali, badannya juga gemuk. Apa dia teman Mama dan Papa? Bukannya biasanya Papa dan Mama mengajariku kalau berteman harus lihat kasta? Kenapa kalian punya teman begini?"

Kata-kata yang keluar dari mulut anak kecil adalah yang paling jujur, sekaligus paling menyakitkan.

Valeria merasa sangat canggung. Selama beberapa tahun ini, karena tuntutan pekerjaan, dia sering lembur dan makan tidak teratur. Hal itu membuat kesehatannya bermasalah hingga berat badannya melonjak puluhan kilogram dibanding sebelumnya.

Namun dibandingkan hal itu, yang membuatnya lebih terkejut adalah panggilan "Mama" yang baru saja diucapkan oleh Jasper.

Jika anak itu memanggil wanita di sampingnya dengan sebutan "Mama", lalu siapa dirinya?

Saat Valeria hendak berbicara, wanita di samping Jasper bereaksi lebih dulu. Dengan lembut dan sabar, dia mengelus kepala Jasper. "Jasper, bukannya sudah kubilang? Aku bukan mamamu, panggil aku Tante. Dia itu baru mamamu."

Setelah berkata seperti itu, dia menunjuk ke arah Valeria.

Wajah Jasper seketika menunjukkan ekspresi jijik. Dia melipat tangan di dada tinggi-tinggi dan dengan nada angkuh berkata, "Huh! Dia bukan mamaku! Aku nggak mau ibu-ibu tua yang jelek dan gemuk ini jadi mamaku! Usir dia!"

Begitu kata-kata itu diucapkan, suasana seketika membeku. Wanita itu tidak berniat mencairkan ketegangan, melainkan menatap Valeria dengan pandangan provokatif.

Tepat saat Valeria hendak berbicara, Janson yang sejak tadi diam mendadak membuka suara, "Isabela, bawa Jasper ke atas."

Nada lembut seperti itu belum pernah pria itu gunakan padanya.

Pahit merayapi hati Valeria. Dia akhirnya paham bahwa wanita di depannya ini pasti adik Janson, putri angkat Keluarga Gideon yang bernama Isabela.

Saat dia dan Janson menikah dulu, Isabela tidak hadir. Oleh karena itu, Valeria selalu tahu keberadaan orang ini, tetapi tidak pernah bertemu langsung.

Baru hari ini bertemu, dia menyadari bahwa aura Isabela sangat mirip dengan Janson. Sama-sama dingin, acuh tak acuh, dan tidak mudah didekati. Hanya saja raut wajahnya justru sangat mirip dengan Jasper yang ada di sampingnya.

Isabela sangat menuruti kata-kata Janson. Dia segera membawa Jasper naik ke lantai atas.

Setelah mereka menjauh, barulah pandangan Janson beralih menatapnya. Seketika, mata Valeria bertabrakan dengan mata Janson.

Pada saat yang sama, ponsel Valeria menerima notifikasi sistem, memberitahukan bahwa permohonan pengunduran dirinya telah disetujui.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status