Compartir

Bab 5

Autor: Mega Raras
Saat Valeria muncul di perumahan Leston Hills lagi, asisten rumah tangga di sana tampak tertegun melihat kedatangannya. "Untuk apa kamu ke sini?"

Dibandingkan dengan sikapnya tadi pagi, kali ini asisten rumah tangga itu bersikap jauh lebih kasar dan waspada, dia jelas-jelas telah menerima instruksi dari seseorang.

Berbeda dengannya, Valeria justru tampak jauh lebih tenang. "Ini rumahku, kenapa aku nggak boleh ke sini?"

"Rumahmu? Sejak kapan?" Asisten rumah tangga itu tertawa sinis. "Di rumah ini, aku cuma tahu pemilik sahnya cuma Tuan Muda Janson dan Nona Isabela. Kamu ini penipu dari mana, berani-beraninya ngaku yang punya tempat ini?"

Sambil berbicara, asisten rumah tangga itu berniat menutup pintu. "Cepat pergi! Kalau nggak, aku panggil satpam sekarang juga!"

Valeria menjulurkan tangannya, menahan daun pintu agar tidak tertutup. Suaranya terdengar datar namun tajam. "Kamu bisa bicara seberani ini, pasti Isabela yang sudah cerita banyak tentang aku padamu. Kalau begitu, apa dia juga cerita kalau aku ini orangnya temperamental, kasar, dan kalau main fisik nggak peduli aturan?"

Setelah berbicara, Valeria sengaja mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi untuk menakut-nakuti wanita itu.

Benar saja, asisten rumah tangga itu langsung ketakutan. Wajahnya seketika pucat pasi.

Valeria menatapnya dingin. Dia sendiri tidak menyangka wanita itu begitu mudah digertak. Hanya dengan beberapa kalimat asal saja, mentalnya langsung ciut. Sepertinya Isabela memang sudah sangat sering menjelek-jelekkan dirinya di depan wanita ini.

"Buka pintunya. Aku cuma mau ambil barang-barangku sendiri. Setelah selesai, aku akan langsung pergi."

Jika bukan karena terpaksa, dia pun tidak akan sudi menginjakkan kaki lagi di tempat seperti ini.

Dulu, dia menikah dengan Janson dengan penuh harapan, membayangkan akan menua bersama pria itu. Karena itulah dia membawa barang-barang yang paling berharga dan paling dia sayangi ke rumah ini. Album foto, kenang-kenangan, serta berbagai hadiah yang dikumpulkannya sejak kecil hingga dewasa.

Sekarang, karena Valeria memutuskan untuk pergi, tentu saja dia harus membawa serta seluruh kenangan itu.

Mata Valeria dan asisten rumah tangga itu bertatapan beberapa saat. Setelah ragu sejenak, wanita itu membukakan pintu.

Begitu menginjakkan kaki di dalam, Valeria langsung melangkah menuju lantai dua.

Saat menikah dulu, dia mengira akan menempati kamar utama, sehingga seluruh barang pribadinya disimpan rapi di dalam laci-laci kamar tersebut.

Namun, saat membuka pintu kamar hari ini, tata letak kamar utama sudah berubah total. Furnitur yang dulu dia pilih dengan cermat telah diganti seluruhnya, dan barang-barang yang dia simpan di dalam laci pun menghilang.

"Di mana barang-barang yang ada di dalam sini?" tanya Valeria sambil menunjuk ke arah laci, menoleh ke asisten rumah tangga yang mengikutinya dari belakang.

Wanita itu terus membuntutinya sejak Valeria masuk, mengawasi setiap gerak-geriknya seolah takut Valeria akan mencuri sesuatu.

"Mana saya tahu?" jawab asisten rumah tangga itu acuh tak acuh dengan nada meremehkan.

"Nggak tahu?" Valeria terkekeh dingin. "Oke, kalau begitu berarti kamu yang ambil. Aku akan telepon polisi sekarang!"

Valeria langsung mengeluarkan ponselnya dan bersiap memanggil nomor darurat.

Melihat sikap tegas Valeria, asisten rumah tangga itu tidak punya pilihan lain. Sambil mengutuk pelan di dalam hati, dia akhirnya mengantar Valeria menuju ruang loteng.

Loteng itu adalah ruangan sempit tanpa ventilasi yang memadai, terasa pengap dan seperti ruang bawah tanah yang suram.

Reaksi pertama Valeria begitu melangkah masuk adalah rasa sesak, disertai bau apek dan jamur yang menusuk hidung.

Dia melihat sekeliling dan menemukan barang-barangnya telah diletakkan begitu saja di atas lantai secara berantakan. Sebagian besar sudah rusak, dan sisanya yang masih utuh telah tertutup lapisan debu yang tebal.

Tanpa perlu bertanya, Valeria sudah tahu siapa pelakunya. Dia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tetap tenang, lalu mulai membereskan barang-barangnya dengan cepat.

Selesai merapikan barang dan turun dari loteng, Valeria berpapasan dengan Jasper yang baru saja bangun tidur.

Begitu melihat Valeria, bocah itu langsung bersikap seperti kucing yang siap menyerang. Jasper mengepalkan tinjunya dan meludah ke arah Valeria. "Dasar gemuk! Dasar jelek! Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?"

Jasper bisa memiliki perangai seperti ini, Valeria sangat memahami alasannya.

Anak mencerminkan orang tuanya, apalagi kedua orang tua bocah ini memang bersikap sama buruknya.

Valeria tidak berniat melayani anak kecil itu, dia hanya melirik Jasper sekilas lalu bersiap melanjutkan langkahnya.

Namun siapa sangka, Jasper yang melihatnya diam saja malah mengira Valeria takut padanya. Bocah itu langsung berlari menghampirinya, mulai memukul dan menendang tubuh Valeria. "Mamaku bilang, binatang itu sama dengan majikannya! Kamu sama seperti anjing bodohmu itu, sama-sama murahan! Aku mau pukul kamu sampai mati! Mati kamu!"

Jika Jasper tidak mengungkit hal itu, mungkin Valeria masih bisa menahannya. Namun begitu kata-kata itu keluar dari mulut bocah itu, amarah Valeria seketika meledak.

Dia meletakkan barang-barangnya ke samping, memandang anak itu tajam, lalu menarik lengan Jasper dengan satu tangan. Tangan satunya lagi memukul bokong bocah itu. Membalaskan dendam lama dan baru sekaligus!

Plak! Plak!

Dua pukulan keras mendarat telak.

"Masih kecil sudah kurang ajar begini, apa nggak ada yang mengajarimu tata krama? Kalau begitu, biar hari ini aku yang mengajarimu!"

Valeria menggunakan segenap tenaganya. Setelah dua pukulan keras itu, Jasper tidak berani lagi memaki Valeria. Bocah itu langsung meraung dan menangis histeris.

Melihat hal itu, asisten rumah tangga bergegas berlari dan memeluk Jasper dengan raut wajah iba. "Kenapa kamu malah memukul anak kecil? Tunggu sampai Tuan Muda Janson dan Nona Sisabela pulang, aku pasti akan melaporkanmu! Lihat saja, mereka akan menghukummu nanti!"

"Benar! Laporkan ke Papa!" Saat merasa ada yang membelanya, Jasper kembali bersikap angkuh. "Aku mau bilang ke Papa, biar Papa memukulmu sampai mati!"

"Terserah kalian," jawab Valeria santai sambil menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu, lalu mengangkat kembali barang-barangnya dan bersiap pergi.

Saat melewati ruang tamu, sudut matanya menangkap bingkai foto yang tergantung di dinding. Sebuah foto bersama, Janson, Isabela, dan Jasper. Mereka bertiga saling merapat penuh kehangatan, tampak sangat bahagia seperti keluarga.

Valeria mengangkat tangannya, melepas foto itu dari dinding, lalu mengamatinya baik-baik.

Suara Jasper kembali melengking dari belakang. "Jangan ambil foto itu! Kamu nggak boleh pegang barang-barang di rumahku!"

"Oh, ya?" Valeria menatap bocah itu sambil tersenyum tipis. Seketika itu juga, dia melepaskan genggaman tangannya.

Prang!

Bingkai foto itu jatuh menghantam lantai dengan keras, hancur berkeping-keping.

"Kalau lapor ke papamu nanti, bilang yang ini juga."

Jeritan melengking Jasper terdengar bergaung di belakangnya. Valeria tidak peduli sedikit pun. Dia menendang pecahan kaca di dekat kakinya, lalu melangkah keluar dari rumah itu.

Serpihan kaca yang hancur di lantai saat ini benar-benar mencerminkan kehidupan pernikahannya dan kondisi hidupnya sekarang.

Hancur berantakan dan di puncak keputusasaan.

Namun, mau bagaimana lagi. Beberapa hal di dunia ini harus hancur dulu, sebelum bisa dibangun ulang. Jika ingin terlahir kembali, seseorang harus menghancurkan masa lalunya terlebih dahulu.

Keluar dari Leston Hills, Valeria menekan sebuah nomor telepon di ponselnya.

Sebuah nomor yang tidak pernah dia hubungi selama tiga tahun ini. Nomor yang dulu sempat dihapus dari daftar kontaknya, dan seseorang yang dia pikir tidak akan pernah mau menyapanya lagi seumur hidup.

Namun di luar dugaan, panggilan itu tersambung tak lama kemudian. Hanya saja, suara di seberang sana terdengar sangat dingin. "Halo."

"Halo, ini aku, Valeria."

"Aku tahu. Ada apa?"

"Helen." Suara Valeria mulai serak, ada getaran emosi yang tertahan di tenggorokannya. "Aku mau cerai."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status