LOGINCaramel Attanaya Raharja POV
Sebenarnya aku malas bertemu dengan Elang lagi karena aku belum bisa menata perasaanku sendiri sejak semalam. Aku masih sibuk untuk memikirkan kata yang pas atas apa yang aku rasakan kepadanya. Setelah aku analisa lebih jauh, sebenarnya yang aku takutkan bukan dirinya yang memiliki anak di luar nikah dengan mantan pacarnya, namun
Elang Mahaputra Adikara POVHari minggu ini aku dan Caramel sudah ada di acara resepsi pernikahan dokter Robert. Di sini aku banyak bertemu keluarga Caramel bahkan teman-teman sepupunya. Tidak pernah aku sangka jika dokter yang se-macho ini punya tiga sahabat wanita sedangkan istrinya terlihat baik-baik saja saat ketiga teman suaminya sering skinship di atas pelaminan. Selain istrinya dokter Robert yang hebat adalah para suami teman-temannya itu termasuk mas Juna. Bisa-bisanya mas Juna juga tidak cemburu sama sekali. Kalo aku sih akan lain jalan ceritanya jika istriku sedekat itu dengan laki-laki di luar keluarganya. "Hebat ya, Mas lo bisa santai lihat bini lo di atas pelaminan lagi foto-foto begitu sama dokter Robert.""Ngapain gue cemburu sama si Robert. Orang Robert aja sudah bilang mau sampai matahari terbit dari
Caramel Attanaya Raharja POVSetelah beberapa hari mengabaikan sinyal dari tubuhku jika aku perlu istirahat, akhirnya aku tumbang juga. Aku bersyukur karena setidaknya saat aku tumbang, kami sudah berada di Jogja. Andai masih berada di Jakarta, aku yakin Elang akan membatalkan semua rencana kami ini. Sampai saat ini bahkan aku masih berusaha untuk menutupi semua yang sedang aku rasakan mulai dari perut yang masih tetap terasa kembung, sendawa terus menerus dan badan rasanya tidak bertenaga. Kini aku membuka kedua mataku kala Elang membangunkan aku. Saat aku membuka kedua mataku, kursi-kursi yang ada di sekitarku tampak sudah diduduki lebih banyak ibu hamil dan beberapa pria yang aku yakin para suami siaga. "Wake up, Mel... dokt
Elang Mahaputra Adikara POVSiang ini aku kembali berada di dalam kamar pribadi Caramel yang ada di rumah orangtuanya. Setiap kali aku berada di sini, rasanya mataku iritasi berat karena warna pink yang ada di mana-mana. Pernah aku menyarankan kepada Caramel untuk mendekorasi ulang kamarnya sehingga layak disebut sebagai kamar pasangan bukan kamar gadis berusia 20 tahunan. Responnya? ia justru mengomeliku karena menurutnya buat apa buang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Apalagi kamar ini jarang kami gunakan jika tidak sedang berada di Jogja. Kelakuan Caramel ini berhasil membuatku berkeinginan untuk memiliki rumah di Jogja meskipun tidak terlalu besar. Setidaknya jika kami pulang ke Jogja, kami bisa pulang ke rumah kami sendiri. Tentu saja aku tidak mau membeli rumah di dekat rumah me
Caramel Attanaya Raharja POVSetelah menyandera Elang dari kesibukannya selama semingguan, akhirnya kami harus kembali ke setelan pabrik. Elang dengan kesibukannya di kantor sedangkan aku dengan kesibukanku sebagai ibu rumahtangga dengan segala macam perintilannya. Tidak terasa juga sudah waktunya aku untuk mendaftar ke sekolah dasar yang akan Lean masuki tahun depan. Setelah melewati beberapa macam pemilihan sekolah, trial dan mempelajari lingkungan sekolah, akhirnya kami berencana memasukkan Lean ke salah satu sekolah swasta internasional sesuai dengan keinginan Elang namun juga tetap mempertimbangkan apa yang aku inginkan untuk Lean dapatkan di sekolahnya kelak. Seperti Hari ini, setelah aku selesai mengurus semua administrasi pembayaran, aku mengajak Lean untuk menuju ke kolam renang temp
Elang Mahaputra Adikara POVBanyak ucapan selamat serta doa yang aku terima dari orang-orang terdekatku baik di sosial media hingga telepon pribadiku. Orangtuaku pun tidak ketinggalan untuk mengucapkan selamat kepada kami berdua. Ada rasa syukur yang aku rasakan karena beberapa bulan ini Mama sama sekali tidak pernah menanyakan tentang kapan Caramel akan memberikannya cucu. Ini amat sangat membantu mental Caramel bahkan diriku untuk tetap waras dalam menjalani program kehamilan ini karena minim tekanan dari keluarga. Kini saat pagi hari setelah kami sarapan di balkon kamar sambil menatap pantai pasir putih yang ada di depan mata kami, aku mengeluarkan sesuatu yang sudah aku persiapkan sejak beberapa waktu lalu sebelum kami berangkat ke Belitung. Memang ini tidak sebanding dengan paket liburan
Caramel Attanaya Raharja POVKarena waktu masih cukup siang saat kami meninggalkan tempat wisata Batu Alam Mentas, kali ini driver kami mengajak kami mengunjungi sebuah tempat yang benama Museum Badau Belitung. Memang sih museum ini baru pertama kali aku dengar di telingaku dan rasanya tidak ada salahnya untuk coba mengunjungi tempat itu karena lokasinya masih berada di Badau yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami saat ini. Saat kami sampai di sana, suasananya juga tidak terlalu ramai. Tiket masuknya juga tergolong sangat murah sekali. Tanpa banyak mengulur waktu lagi, kami segera memasuki tempat ini dan mejelajahi setiap sudutnya. Ternyata Museum Badau adalah museum yang memamerkan peninggalan kerajaan Baddau di masa lampau. Meskipun kerajaan ini sudah tidak berdiri lagi, tetapi b
Elang Mahaputra Adikara POVAku tidak mengira jika pada akhirnya rasa kesalku pada Caramel tadi bisa menguap begitu saja saat aku bertemu dengan keluarga besarnya. Seumur hidupku, aku baru satu kali menemui keluarga sehangat keluarga besar Caramel ini. Entah kenapa bukannya ingin mengubur semua ras
Caramel Attanaya Raharja POVBagai kerbau yang dicolok hidungnya, kali ini aku menurut saja saat Elang sudah menuntunku menuju ke arah tas kami berada. Saat sampai di sana ia segera mengambil handuk mikrofiber milik Edel yang berwarna pink dan ia juga mengambil sabun cair beraroma strawberry milik
Elang Mahaputra Adikara POVAku memandangi nomer telepon Caramel sambil sesekali tersenyum. Aku tersenyum bahagia karena pada akhirnya justru Lean yang bisa menemukan perempuan itu. Seakan Tuhan sedang memberiku kebahagiaan yang bertubi-tubi kali ini karena selain sudah berhasil bertemu dengannya l
Caramel Attanaya Raharja POVApa aku tidak salah dengar kali ini? Benarkah apa yang dikatakan Elang barusan kepadaku? Jika benar tentu saja aku sudah terlalu overthinking hingga berpikir yang tidak-tidak tentang Elang. Seharusnya aku bisa lebih sabar menghadapi semua situasi ini apalagi aku sudah b