LOGIN"Putuskan saja pacarmu, sekarang!" Feris menatap Neyra lekat, sebelum menambahkan "Ingat, kamu berhutang banyak hal padaku dan itu syarat dariku." Hanya dalam keputusan satu malam yang malang dan paling menyesakkan dalam hidup Neyra, merubah semua tatanan hidupnya, ia terpaksa menjadi kekasih gelap Feris yang merupakan mantan selingkuhannya sesuatu yang paling ia sesali dan hindari. Terlebih permainan semakin serius saat mereka terpergok bercinta dan dipaksa menikah demi nama baik keluarga Sastrodirjo. Namun Lika liku pernikahan mereka semakin rumit saat alasan mereka bersama tak sekuat pasangan lain, orang ketiga dan menyatukan dua kepala yang saling memendam amarah, bukan hal yang mudah bukan? #Perselingkuhan #Benci jadi cinta #Tantangan pernikahan #Posesif #Pria dominan #Bos/CEO
View More“Tentu aku paham! Dan sedari awal cuma aku yang harus selalu memahami ego kamu dan harga diri keluarga kamu ‘kan?!” sentak Neyra berteriak dengan suara bergetar menahan tangisnya.
“Kamu bahas itu lagi! Aku udah muak-”
“Sama! Ok! Aku pergi!” ujar Neyra berbalik dan betapa terkejutnya ia menemukan Feris yang tengah berjalan ke arahnya, menatapnya dalam.
Neyra memalingkan wajahnya, saat ia dilewati Feris dan wanita cantik yang bergelayut manja di lengannya.
Detik selanjutnya, ia merasa amat malu, dadanya terasa sesak. Khawatir ada yang memperhatikan Neyra menghembuskan nafasnya perlahan, merasa lebih baik ia menoleh ke belakang.
Sekali lagi ia dibuat terkejut, karena ternyata Feris yang berdiri di depan lift tengah berbicara pada wanita cantik disebelahnya.
Neyra menggigit bibirnya gelisah, bertemu lagi dengan Feris adalah sebuah keajaiban karena circle pertemanan mereka jelas berbeda. Sekarang atau tidak sama sekali! Ia harus mencoba.
“Feris…”
Hanya Feris yang menoleh, seolah ia bertanya dengan tatapan datarnya.
Neyra menelan ludahnya, lalu ia mengangguk kecil. “Boleh minta waktumu sebentar? Ada… sesuatu yang ingin kukatakan.”
Wanita cantik itu sengaja mengeratkan pelukannya dan mendekatkan kepala mereka. “Feris, mereka sedang menunggu, kita tak punya banyak waktu.”
Feris menatap Neyra yang berdiri sedang menggigit bibirnya canggung.
“Ada sesuatu yang penting… aku ingin minta tolong.”
“Dan kami tidak punya waktu, benar ‘kan, Fer?” tanya wanita itu menoleh pada Feris yang masih tak memalingkan wajahnya dari Neyra.
“Karena ini sangat mendadak, dan aku nggak punya banyak waktu! Hah… aku pasti sudah kehilangan akal karena sudah gegabah meminta padanya,” saut Neyra memandang Feris gamang.
“Pergilah!”
“Apa?!” tanya mereka berdua serentak dengan nada berbeda.
Feris menunduk demi membalas tatap Mehra, “Pergilah ke atas dan temui mereka sendiri, aku ada sedikit urusan.”
Tanpa hati Feris melepaskan genggaman Mehra dan menyuruh Mehra segera pergi dengan tatapannya.
Wajah Mehra tersentak tak percaya, ia ingin menolak namun urung melihat tangan Feris terangkat, sesuatu yang ia mengerti dan ia tak butuh diusir dua kali, tanpa kata ia memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
Hanya butuh beberapa langkah kepergian Mehra, Feris memulai bertanya, “Siapa yang memilih bajumu?”
“Apa? Kenapa tiba-tiba? maksudku, bukan urusanmu!”
Feris mendengus kasar, ia memasukkan tangannya ke saku dan menatap lurus Neyra. “Jadi sesuatu penting apa yang ingin kamu katakan?”
“Bagaimana kalau kita bicara di restoran dekat sini, karena ini agak sedikit panjang.”
“Tentang apa?”
Neyra memandang Feris menimbang “Apa aku boleh minta nomor telepon Mas Wira sekarang?”
Sontak wajah Feris mengeras, tak menyangka jika Neyra akan selancang itu. Di detik selanjutnya ia mendengus tipis.
“Kamu bisa cari sendiri,” balas Feris melangkah pergi namun sekali lagi perkataan Neyra mengekangnya.
“Adik lelakiku, terjerat kasus. Malam ini juga dia butuh pengacara. Lawannya sangat tangguh kali ini dan aku ingin meminta tolong pada sahabatmu yang pengacara itu untuk membela adikku. Aku tahu adikku mengambil peran dalam masalah itu tapi aku juga yakin jika adikku nggak sepenuhnya bersalah.”
“Jadi kamu berencana memakai jasa Wira, eh?” tanya Feris mengejek.
Neyra menggigit bibirnya resah. “Aku cukup tahu diri untuk itu, maka dari itu aku…. Ingin meminta tolong sama kamu… tolong bantu bicara sama dia untuk membantuku sekarang sebelum kasus ini diproses, untuk pembayarannya biar jadi urusan aku dengannya atau aku minta siapapun saja kontak pengacara yang kamu kenal handal, karena aku nggak tahu bagaimana caranya. Waktu kami nggak banyak, mereka seolah mempercepat membawa masalah ini ke persidangan, aku…”
Ucapan Neyra makin menelan dan emosinya makin tak terkontrol ditandai dengan matanya yang sudah berkaca-kaca dan beberapa kali ia menggigit bibirnya resah. Beruntung jarak antara tamu yang lainnya cukup jauh, tak cukup mendapatkan perhatian.
“Apa yang bisa kamu berikan padaku sebagai imbalannya?”
“Apa?... Oh maksudku… aku akan berusaha membayarnya dengan-”
“Apapun, apa kamu bisa memberikan aku apapun yang aku inginkan?” potong Feris menyeringai tipis.
Dan Neyra tahu, jika ini adalah satu-satu jalan pintas baginya. Meski degup jantungnya berdetak lebih cepat ia tetap harus menjawab “Akan aku usahakan-”
“Kita bicara di tempatku!”
Feris menangkap pergelangan tangan Neyra dan membawa wanita Neyra keluar melewati lobby, tak cukup lama Feris membuka pintu mobil Toyota Camry hitam yang telah sampai di depan mereka.
Sementara Neyra menggigit bibir bagian dalamnya dengan gugup.
Kedua tangannya yang berada di sisi saling meremas dan mulai berkeringat. Tubuhnya menegang, mempertanyakan keputusannya. Apakah ini keputusan terbaiknya? Apakah ini sepadan? Ia cukup memahami apa yang diinginkan oleh Feris darinya. Maka Neyra meyakinkan dirinya sendiri.
Ya, semua ini sepadan dan resiko yang harus ia terima, perlakuan spontan serta keputusan singkatnya lah yang membuat ia bertanya kembali apakah ia bisa?
Namun, sudah berbagai cara ia dan adiknya mencari cara di tengah waktu yang sedikit ini ditambah penolakan dari kekasihnya membuat ia hampir menyerah, dan bayang-bayang masa depan adiknya serta kesedihan ibunyalah yang paling menyiksanya.
*****
Dan inilah jalan pintas yang telah ia pilih. Tentu saja ia tahu apa yang diinginkan oleh Feris darinya di tempat ini. Perasaannya campur aduk dan wajahnya, ia bahkan tak ingin menatap pantulan wajahnya karena malu pada dirinya sendiri.
"Ayo!" Feris turun lebih dulu setelah memberi instruksi pada supir pribadinya. lalu mengulurkan tangan untuk membantu Neyra turun. Keduanya berjalan bersisian memasuki lobi apartemen yang sangat mewah baginya.
Sesampainya disana mereka kembali memasuki lift masih dalam keheningan.
Feris melirik panggilan dari Mehra yang langsung ditolak olehnya, ia menyadari jika Neyra sempat menoleh pada layar gawainya, sebelum ia memimpin keluar dari lift dan berhenti di kamar yang dituju.
Feris memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku jasnya, tak butuh gangguan lain untuk kesenangannya. Ia mengamati Neyra yang mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang luas. Wajahnya memerah ketika pandangannya kedua matanya berhenti di tempat tidur yang luas.
"Kamu mau membersihkan diri lebih dulu atau kita langsung saja?" Feris melepaskan kemeja slim fit dan dasi yang kemudian diletakkan di sofa, tanpa melepaskan pandangan dari Neyra yang hanya berdiri canggung di tengah ruangan.
Pertanyaan tersebut mengalihkan tatapan Neyra dari tempat tidur dan wajahnya memerah merasakan tatapan Feris yang begitu intens. “Aku masih terkejut dengan apa yang masih kamu mau dari aku…. Maksudku… aku pikir masih banyak hal cara untuk-”
“Apa kamu mau menjadi karyawan bengkel tanpa gaji selama satu tahun penuh? Akan aku bebaskan kamu memilih untuk penempatannya, kamu mau itu?
“Apa?!”
“Ini kesempatan terakhir, jadi apa pilihanmu!”
Neyra menghela napas berat. Mereka berdua tahu jika Neyra tak memiliki keahlian itu, ‘kan! "B-boleh aku mandi lebih dulu?" tanyanya.
Feris tersenyum di salah satu ujung bibirnya. "Tentu saja."
Neyra pun menyeberangi ruangan dengan jalur melengkung, sengaja menghindari berpapasan dengan Feris yang bersandar di balik pintu dengan kedua tangan bersilang dada.
"Kupikir kamu perlu diingatkan," ucap Feris sebelum Neyra menyentuh gagang pintu kamar mandi.
"Aku nggak suka pintu kamar mandi yang dikunci."
Neyra membeku untuk sesaat, dan tanpa sepatah kata pun, wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa mengunci pintunya seperti yang diinginkan oleh Feris.
Di dalam kamar mandi, Neyra segera melucuti pakaiannya dan berjalan ke balik shower. Mengguyur kepalanya dengan air hangat agar tubuhnya yang tegang sedikit rileks. Kepalanya sedikit terdongak, membuatkan air shower menerpa seluruh permukaan wajahnya. Matanya terpejam dengan ingatan yang kembali terputar di benaknya.
Flashback
'Aku nggak bisa melanjutkan ini semua, maaf?'
‘Apa kamu bilang?!’
‘Aku masih berpacaran sama adik kamu! Dan kita nggak pantas mencurangi dia…ternyata aku nggak bisa. Kita cukup sampai disini ya, Fer. Aku pergi.”
Neyra mengingat perpisahan mereka yang masih begitu jelas melekat di ingatannya. Kemarahan, kekecewaan beradu dengan tangisannya.
Bahkan dada Neyra masih ngilu setiap kali mengingat kemarahan tersebut. Matanya terbuka dan menundukkan kepala dan mengusap air matanya kemudian napasnya terengah dengan berat, bersama Feris ia pernah menjadi perempuan naif yang terbakar api, melanggar prinsipnya sendiri, dan lihatlah sekarang ia seolah menawarkan dirinya untuk terbakar bersama. Cih… ternyata dirinya memang perempuan bermuka dua!
Saat Neyra mengusap air yang jatuh mengguyur wajahnya, sebuah lengan memeluknya dari belakang. Mendekap tubuhnya yang telanjang.
"Arghhh…. Feris! Kenapa kamu masuk-”
“Setelah apa yang diperbuat olehnya di belakangmu?!”“Dan apa masalahmu?”“Masalah ku? Bukankah seharusnya kamu yang mempermasalahkannya? Dia mencurangimu dengan berselingkuh di belakangmu, well dia sedang mengulangi tabiat aslinya dengan tokoh yang sama hanya pemerannya yang tertukar.Rahang mengetat di serta tatapan tajam yang diberikan Feris tak mampu membuat Mehra berhenti. “Tiga bulan lagi, kamu benar akan menceraikannya, kan Fer?” "Jadi benar kamu harus ditegaskan, aku hanya menganggapmu sebagai teman lamaku dan partner kerjaku, dan harus berapa kali aku bilang, aku tak suka siapapun ikut campur. Setelah ini aku tak ingin dengar pertanyaan omong kosong lagi terlebih darimu.” Mehra tercengang mendengar nada dingin dan peringatan pada ucapan Feris. Lalu mencoba mencari arti lain di manik Feris dan berakhir sia-sia. Ketajaman dalam tatapan Feris menunjukkan bahwa pria itu serius dan hanya ada satu arti dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Kupikir ... kupikir kita bisa
Neyra tersentak, matanya membola lurus ke arah Feris. Lagi-lagi seperti ini Feris dan egonya setinggi langit. Namun kali ini ia ingin sekali lagi menunjukkan kepada Feris bahwa ia tak mau menuruti kata-kata pria itu. Ia tahu, ia harus menuruti keinginan Feris. Karena mereka masih dalam kesepakatan. Akan tetapi, ia tak bisa menahan diri untuk membangkang. Dia bukan lagi boneka yang bisa seenaknya Feris perintah. Ia tak terima Feris menyepelekannya. Mempermainkannya sesuka hati pria itu lalu dibuang seperti kain lap yang tak berguna. Kalaupun ia tidak berdaya dengan tindasan Feris, paling tidak ia akan memberontak untuk sedikit menyusahkan pria itu.Feris menggeram. Penentangan Neyra terdengar seperti gendang peperangan yang siap ditabuh. Jika wanita itu ingin permainan, mari kita tunjukkan siapa pemimpin permainan yang sebenarnya. Tangan Feris mengambil bingkai berukuran kecil disampingnya lalu melemparnya ke dinding hampir mengenai tubuh Neyra berdiri. PRANGGG…Neyra membungkuk, kedu
“Dua bulan lagi diceraikan? Apa Maksudmu Mehra?” Mehra tersenyum meremehkan sembari menatap wajah Neyra yang pias bahkan tubuhnya hanya mematung perlahan menunduk. “Upss… apa kamu juga belum tahu, Ney? maksudku bukannya mamanya Feris atau Feris sudah memberitahumu? atau Karenina mungkin, aku tahu dari Feris kalian sudah beberapa kali bertemu,”“Ney? Apa benar begitu?” tanya Regas memburu.Neyra mendongak dan tersenyum kering. “Aku nggak nyaman membicarakan urusan rumah tangga pada orang lain seperti kalian dan kenapa sih kalian harus mempedulikan urusan rumah tangga orang lain, seperti udah nggak punya urusan sendiri saja,”Neyra menandandaskan minumannya dalam satu tegakkan, tak peduli dengan gerakannya yang sembrono. Dan saat itulah ponsel nya berbunyi menunjukkan nama Feris lah yang jadi pemanggilnya.“Feris,… sepertinya dia sudah melihat foto kalian berdua yang aku kirim padanya,” seru Mehra setelah mengintip ponsel Neyra.“Apa kau bilang? Foto kami?”Dan Mehra hanya tersenyum, i
“Aku bilang nggak bisa! Aku takut keguguran! Arrgghh…”“Keguguran?” saut Feris mengambang. "Ckkk… Lepas..." Panggilan Neyra terpotong oleh bibir Feris yang segera membungkamnya. Dan hati, Neyra menyumpahi Karenina yang membawa pria itu pulang dalam kondisi mabuk seperti ini.Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Neyra berusaha menyingkirkan tubuh Feris dari atasnya. Tetapi melawan kekuatan pria Feris jelas bukan ide yang bagus. Hasrat pria itu sudah tak terbendung lagi. Bahkan ia tak bisa melonggarkan cekalan Feris di kedua tangannya.Pria itu melucuti pakaian keduanya dan melemparnya ke sembarang arah. Dan saat Feris melepaskan bibirnya, berteriak meminta tolong juga ide yang lebih tolol lagi. Feris adalah suaminya sendiri.Pada akhirnya, Neyra tetap tak berdaya di hadapan keinginan Feris. Napas pria itu semakin menggebu, tak pernah puas. Esok pagi, Neyra bangun terlambat meski turun dari tempat lebih dulu. Ia lekas membersihkan badannya, tepat ketika keluar dari bilik, Feris mel
Menggeleng tegas, Feris berkata "I don't need sorry, I need to punish you."Nada bicaranya membuat tubuh Neyra merinding seketika. la lalu beralih pada tangannya yang dicengkeram. Pria itu memang tidak menyakitinya. Tapi jari-jari yang melingkari lengannya membuatnya bergidik cemas. la cukup dekat
Tatapan dingin Feris membuat pelayan yang sedang sial itu segera terbirit menjauh.“Hai, Fer.” sapa Max mengajak bersalaman ala pria. “Aku yang menyapanya lebih dulu dan bertanya keberadaanmu dan yah kami berbincang sedikit.”&ldqu
“Maksudmu perempuan naif yang nggak punya power? Tentu saja kamu harus menikahi perempuan yang cantik dan naif supaya bisa membuatku cemburu. Tapi kamu salah. Aku nggak akan kalahFerakan terprovokasi lagi. Aku tahu alasanmu menikahinya hanya untuk mngisi kekosongan kuengisi kekosongan. Dia nggak l
Miranda mengedikkan dagunya, “Meskipun memiliki banyak mantan kekasih, Feris dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran perempuan. Banyak temannya yang bilang ditambah tak pernah ada yang melihat Feris membawa wanitanya ke rumah, seingatku hanya ada satu wanita yang pernah itupun karen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.