LOGINElang Mahaputra Adikara POV
Aku tidak tahu bagaimana bisa aku selancang ini menciumnya, namun aku sudah tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi. Aku rasa kata-kata tidak akan bisa untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan kepadanya. Lagu yang paling tepat untuk kisah kami memang lagu yang aku mainkan itu. Sejak aku mendengarnya menyanyikan lagu itu saat ia
Caramel Attanaya Raharja POVIni adalah hari keempat aku melahirkan dan semua orangtua kami sudah datang semuanya di rumah sakit. Aku kira kehadiran mereka semua akan membuatku bisa beristirahat dengan tenang tapi yang ada justru sebaliknya. Meskipun membantu tapi saat anak-anakku tidak ada di sini, orangtua kami justru mengobrol tiada henti yang membuatku sulit untuk tidur dengan nyenyak. Aku heran kenapa si Elang justru bisa tidur pulas di kursi tunggu yang ada di dalam ruang perawatanku ini. Kini aku memilih pura-pura tidur sambil mendengarkan pembicaraan orangtua kami. "Akikah tetap harus dilakukan, bu Maria. Meskipun mereka tinggal di sini, kita akan tetap melakukannya di Jakarta. Saya sudah minta tolong sama asisten saya untuk mengurus semua acara ini."
Elang Mahaputra Adikara POVLemas tapi lega itulah yang aku rasakan kali ini setelah selama 50 menit menemani Caramel di ruang persalinan. Lima puluh menit terlama dalam hidupku dengan perasaan yang sulit aku ungkapan dengan kata-kata. Ada hal yang aku syukuri kali ini karena saat Caramel melahirkan hanya akulah yang menemaninya. Tidak ada orangtua kami disini. Ini justru membuatku tenang dan jauh lebih fokus untuk menemani Caramel. Karena aku tidak sanggup menghadapi empat orang lansia yang sedang panik dengan kondisi anak serta menantu mereka. Apalagi jika mereka tahu bukaan Caramel saat sampai di rumah sakit sudah mencapai bukaan 6.Aku benar-benar berterimakasih kepada Tuhan karena memberikan kesehatan kepada anak dan istriku. Di saat jarang sekali ada seorang ibu hamil mengandung bayi kem
Caramel Atttanaya Raharja POVLima hari setelah acara tujuh bulanan kehamilanku, akhirnya aku sudah sampai di Amerika. Yah... rasanya secepat itu dan aku masih tidak percaya kami bisa sampai di sini tanpa ada masalah sama sekali meskipun aku sedang mengandung anak kembar. Selama di Amerika, kami tidak tinggal di New York atau Washington DC melainkan kami tinggal di San Francisco. Dengan seperti ini, maka Mama dan Papa tidak akan tinggal di negara bagian yang sama dengan kami. Karena mereka akan tinggal di rumah mereka sendiri yang berada di Chicago. Mereka akan datang ke San Francisco saat aku sudah akan melahirkan. Aku tidak mempermasalahkan hal ini karena dengan begini suamiku akan merasa nyaman di rumah. Ia bebas menjadi dirinya sendiri karena tidak tinggal seatap dengan mertuanya. Meskipun Elang tidak pernah menolak untuk tinggal bersama orangt
Elang Mahaputra Adikara POVSetelah acara mitoni selesai, teman-temanku masih berada di rumahku bersama keluarga Caramel yang masih sibuk beberes semua barang-barang mereka sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Bandung. Sebenarnya aku masih tidak tega kepada Caramel karena harus mengikutiku ke Amerika tetapi tidak ada pilihan lain. Jika aku di Indonesia maka prospek investasi dari beberapa investor akan hilang dan aku pun tidak akan bisa fokus karena aku tipikal manusia overthinking jika istriku tidak ada di dekatku dalam waktu yang cukup lama. "Gue kasihan sama Lean. Dia bakalan di Jakarta sama Tantenya yang gila," kata Wilson yang membuatku menghela napas panjang."Kalo lo kasihan, coba deh lo ajak aja si Lean tinggal baren
Caramel Attanaya Raharja POVHari ini suasana di rumah cukup ramai karena dari pagi sampai siang ini kami akan menyelenggarakan acara mitoni dengan adat jawa. Acara kali ini tentu saja kami serahkan ke Mbak Luna untuk mengatur semuanya. Aku dan Elang cukup terima beresnya saja. Aku bersyukur orangtua kami bisa menerima keputusan kami yang ingin mengadakan acara tujuh bulanan di rumah kami saja. Hanya saja setelah acara hari ini aku dan Elang akan terbang ke Amerika. Elang ingin aku melahirkan di negara itu seperti Mama melahirkan aku dan Vanilla dulu. Sejujurnya ini terasa berat, namun tetap saja aku tidak bisa menolak apalagi pekerjaan Elang beberapa waktu kedepan akan cukup banyak di negeri paman sam itu. Daripada aku berpisah dengannya selama tiga bulan dan kemungkinan aku lahiran sendiri tanpa didampingi olehnya, lebih baik aku ikut saja ke san
Elang Mahaputra Adikara POVMalam ini aku dan Caramel memilih duduk di balkon kamar kami yang ada di lantai dua setelah pulang dari acara makan malam keluargaku. Aku menemaninya duduk di sini karena ia ingin melihat bintang-bintang yang menurutnya begitu cantik malam hari ini. Selama kami melihat bintang-bintang ini, Caramel memilih menyandarkan kepalanya di pundakku. Awalnya sih biasa saja tapi lama-lama pegal juga. Sayangnya aku juga tidak mau mengatakan hal ini kepadanya. Lebih dari itu, aku tidak mau hal ini segera berakhir begitu saja."Lang?""Apa?""Kalo anak kita nanti laki-laki, boleh enggak aku yang kasih nama."Aku te
Caramel Attanaya Raharja POVBuntu, itulah yang aku rasakan saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membantu kedua orangtuaku menyelesaikan semua ini sek
Caramel Attanaya Raharja POVKali ini aku lebih banyak berbicara dengan Lean daripada dengan Elang. Bukan tanpa sebab aku melakukan hal itu. Semua karena perkat
Elang Mahaputra Adikara POVSeharian ini aku berada di rumah orangtua Caramel hanya bersama Lean dan Mak Par. Dari mak Par, aku mendapatkan banyak informasi men
Elang Mahaputra Adikara POVAda pepatah mengatakan jika kamu tahu cara untuk maju, maka jangan pernah kamu berpikir untuk mundur. Itulah yang sedang aku terapka







