Share

Penolakan Kaiso

🌺 Happy Reading 🌺

"Apakah kalian sudah lama menunggu?" tanya ayah kurenai yang melihat tamunya sedang duduk di sofa ruang tamunya.

"Ah, tidak begitu lama kok, Zaiko. Kami pun baru sampai. Benar, kan, Sayang?" ucapnya sambil bertanya kepada anaknya, Kaiso.

"Iya, Om, kami baru saja sampai," ucap kaiso dengan memaksa senyum di wajahnya.

Terlihat Kaiso sangatlah terpaksa berada di dalam ruangan ini.

"Baiklah, silakan langsung ke ruang makan saja, Met," ucap ayah Kurenai mengajak tamunya langsung dinner terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah perjodohan.

"Amoera dan anak-anak saya pun juga sudah di sana, menunggu kalian," ucapnya lagi.

"Baiklah, ayo, Sayang, kita dinner dulu," ajak Meta sambil menarik tangan anaknya itu.

Kaiso pov

***************

Setelah sampai, aku pun memarkirkan mobilku terlebih dahulu lalu memasuki rumah untuk menemui mamahku.

"Mah, mah," panggilku dengan suara yang menggema.

"Apa, sih, Sayang, panggil Mamah seperti itu? Udah macam di hutan saja kamu ini," ucap mamah melihatku yang sudah berdiri di depannya.

"Mah, bisa tidak, sih, dibatalin pertemuan malam ini? Sumpah demi apapun, Kaiso capek, Mah, habis pulang kerja, banyak meeting pula di kantor tadi," ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan berbaring di atas sofa.

"Heleh, alasan saja kamu! sedangkan jika kamu bersama Arine, meskipun letih seperti apapun, kamu tetap saja pergi menemani dia belanja sqmpainya dia puas," ucap mamah dengan tatapan intimidasinya.

"Bukan alasan, mah, tapi ini seriusan tau " ucapku sambil mencari posisi yang enak untuk tubuhku di atas sofa.

"Tidak bisa, Sayang, malam ini sebenarnya bukan hanya pertemuan biasa yang kami lakukan, melainkan mamah ingin menjodohkanmu dengan anak pertama dari keluarga Victorus. Dan kamu tidak ada pilihan lain untuk tidak menerima keputusan mamah ini," ucap mamah tegas kepadaku.

"Ya nggak bisa seperti itu dong, Mah! Mamah tahu aku punya Arine, Mah. Aku nggak bisa menikah dengan wanita lain kecuali dia, Mah," ucapku frustrasi dengan keputusan sepihak yang mamah buat.

"Sudah mamah bilang, kamu tidak ada pilihan lain selain menerima perjodohan ini! Jika tidak, Mamah akan mengahapus nama kamu dari ahli waris dan akan mencari anak angkat untuk membantu mamah mengurus perusahaan papah kamu," ucap mamah tegas.

"Mah, nggak bisa gitu dong! Selama ini, Kaiso yang menjalankan perusahaan itu hingga berkembang seperti ini. Mamah nggak bisa membuat keputusan memberikan perusahaan kepda orang baru dan mendepakku begitubsaja hanya karwna lantaran perjodohan ini, Mah," ucapku sambil mengacak rambut.

"Sudah Mamah bilang sama kamu, Mamah lebih rela perusahaan diurus oleh orang baru dibandingkan diurus dengan kamu yang pasti tidak lama lagi akan bangkrut karena kamu yang selalu menghamburkan uang untuk pacar sialan kamu itu," ucap mamah sambil menatapku.

"Tapi, Mah, Kaiso sangat mencintai dia! Kaiso rela uang Kaiso habis untuk dia yang penting dia bahagia, Mah," ucapku meyakinkan mamah.

"Dasar bodoh, kamu pikir apakah jika kamu tidak punya apa-apa, dia masih mau bertahan sama kamu? Pikirkan baik-baik, Kaiso! Keputusan ada di tangan kamu!" ucap mamah yang tidak mau dibantah.

"Mamah selalu berikan apa yang kamu mau, karena kamu anak satu-satunya yang Mamah punya. Mamah mau kamu menikah dengan wanita pilihan Mamah. Wanita yang baik-baik, yang punya sopan santun, nggak seperti pacar kamu itu yang tahunya menghabiskan uang saja, tapi tidak memiliki etika kehidupan sama sekali," ucap mamahku lagi.

"Sekarang, kalo kamu tidak mau menerima perjodohan ini, silakan tinggalkan yang kamu punya saat ini! Dan kamu boleh menikah dengan pacar kamu itu, tapi, ingat, jangan pernah kamu menggunakan nama REJJESTIND di belakang nama kamu! Karena Mamah nggak sudi mempunyai keturunan dari perempuan seperti dia," ucap mamahku tegas.

"Astaga, ini kalo aku tolak perjodohan bisa bahaya, apalagi Arine yang akan meninggalkanku jika aku tidak memiliki apapun. Tuhan, baiknya kuterima saja, dan di saat setelah menikah nanti aku akan membuat perjanjian dengan wanita itu agar aku masih bisa berhubungan dengan Arine. Ya sepertinya seperi ini saja, sisanya biar aku menjelaskan semuanya pada Arine nanti setelah dia mengetahuinya," ucapku dalam hati.

"Huft, baiklah, Mah, Kaiso akan menerima perjodohan yang telah Mamah buat ini," ucapku sambil memegang kedua tangan mamah guna meyakinkannya.

"Benarkah itu? Apakah kamu serius, Sayang? Kamu sedang tidak lagi bercanda, kan?" ucap mamah penuh tanya kepadaku.

"Tidak, Mah. Kaiso serius akan menerima perjodohan ini seperti yang Mamah inginkan," ucapku meyakinkan mamah lagi.

"Kaiso tahu selama ini Kaiso banyak menyusahkan Mamah, dan yah Kaiso akan melakukan ini demi membuat Mamah bahagia," ucapku lagi dengan senyuman walaupun terpaksa.

"Terima kasih, Sayang, Mamah senang mendengarnya, Mamah bahagia sekarang akhirnya kamu nurut sama Mama," ucap mamahku dengan senyum yang lebar terpancar di wajahnya.

"Sebegitu bahagianya Mamah akan menerima pejodohan ini , tapi bagaimana jika Mamah tahu niat jahatku ini," ucapku dalam hati.

"Tapi, Nak, ketika kamu menikah dengannya, jangan kamu sakiti hati dia. Segera putuskan hubunganmu dengan Arine! Dia wanita yang baik, Sayang, jadi jangan kecewakan dia," ucap mamah mendikteku.

"Iya, Mah, nanti aku akan putuskan hubunganku dengan Arine," ucapku tegas agar mamah percaya kepadaku.

"Oh Tuhan, terima kasih karena telah membuat anakku Kaiso menerima semua ini," ucap mamah mengeluarkan aura kebahagiaannya.

"Ya sudah kalo seperti itu, mari kita siap-siap dulu, Mah, jangan sampai kita terlambat dan membuat Om Zaiko dan keluarganya menunggu kedatangan kita," ucapku sambil berdiri.

"Hm iya, Sayang, Mamah juga ingin bersiap-siap sekarang, kamu dandan yang tampan yah," ucap mamah.

"Iya, Mah, lagian Kaiso emang sudah tampan dari lahir, bukan?" ucapku percaya diri.

"Hehe... iya, Sayang, karena kamu kan keturunan dari Rejjestind dan memilik papah yang sangat tampan " ucap mamah sambil mencubit pipiku.

"Mamah yakin Papah sekarang bahagia sekarang di sana karena kamu menerima semua ini," ucap mamah dengan raut wajah datarnya.

"Hm, sudah yah, Mah, mari kita siap-siap sekarang," ujar ku memecahkan lamunan mamah.

Karena aku tahu semenjak papah meninggal hanya kesedihan yang mamah rasakan dan ini pertama kali aku bisa melihat kebahagiaan yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya. Aku jadi semakin ingin melihat senyuman dan kebahagiaan itu dengan cara menerima perjodohan ini.

Di sebuah rumah di sudut ruangan makan terlihat kedua keluarga telah duduk menikmati dinner bersama, di sana terlihat keluarga lengkap dari keluarga Victorus dan Rejjestind untuk membahas masalah perjodohan yang akan dilakukan kedua belah pihak keluarga itu. Dan tercipta keheningan karena keluarga mereka terbiasa untuk tidak berbicara di saat makan, dan akan berbincang setelah semua selesai makan.

Setelah menyelesaikan makan malam bersama, mereka semua pun langsung menuju ruang keluarga guna membahas masalah ini.

"Bagaimana, Zaiko, Amoera, dengan permintaan yang saya ajukan kemarin? Apakah Kurenai mau menerima Kaiso untuk jadi suaminya?" tanya mamah Kaiso langsung to the point ke permasalahan memecahkan keheningan yang ada.

"Kurenai, kenalkan ini anak Tante, namanya Kaiso dan Tante ingin menjodohkan kamu dengan dia, Nak, Kaiso anaknya baik, Sayang, dan bertanggung jawab dan dia pun sekarang telah memegang kendali perusahaan dari Alm. Om Darren, Sayang," ucap mamah Kaiso mengenalkan Kaiso kepada Kurenai.

"Iya, Sayang, inilah Kaiso, pria yang tadi Ayah dan Ibu sudah bicarakan ke kamu, Sayang. Dia adalah pria yang akan kami jodohkan denganmu. Apakah jawaban kamu, Nak?" tanya  ayah Kurenai ingin memastikan jawaban Kurenai.

Namun, Kurenai masih hening karena dia merasakan sosok yang tidak dapat dia mengerti di dalam diri Kaiso. Entah mengapa, perasaan dia mengatakan bahwa dia tidak ingin menerima semua ini, tapi dia takut bahwa orang tuanya akan bersedih karena dia menolak.

Di sisi lain, Kaiso tengah menatap ke arah Kurenai. Dia sempat terkagum dengan sosok wanita cantik yang ada di depannya. Pasalnya dari awal bertemu, Kurenai tak pernah kunjung mengangkat kepalanya untuk memandang diri Kaiso. Dia selalu saja tunduk seperti orang yang sama sekali pun tidak mau melihatnya.

"Apakah aku sejelek itu di matanya hingga dia tidak mau melihat wajahku ini? Dan lalu kenapa dia masih diam dan tidak mau menjawab pertanyaan dari mamah? Apakah dia bisu?" tanyanya membatin pada dirinya sendiri.

"Perkenalkan, nama saya Kaiso Rejjestind," ucap Kaiso sambil menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Kurenai walaupun sebenarnya dia malas untuk melakukan hal itu yang menurutnya membosankan. Tapi dia melakukan demi mencairkan suasana kecanggungan yang ada.

"Kamu tenang aja, saya janji akan bertanggung jawab atas rumah tangga kita. Saya akan menjadi pria yang baik untuk kamu dan untuk ke depannya nanti," ucapnya lagi karena dia melihat Kurenai yang tak kunjung juga menjawab, mungkin karena dia meragukan bahwa Kaiso orang baik atau bukan.

"Hai, saya Kurenai Victorus, anak pertama dari keluarga Victorus," ucap Kurenai yang akhirnya bersuara dan menyambut tangan Kaiso.

Mereka pun saling menjabat tangan dan Kurenai pun mulai mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang akan menjadi suaminya itu.

"Cantik." Satu kata yang terucap dari Kaiso membatin dan tersenyum.

Kurenai pun membalas senyum dari Kaiso dengan senyuman yang tak kalah manis yang bisa membuat siapapun yang memandang pasti akan meleleh.

"Oh no, Kaiso  sadar. Kamu sudah memiliki Arine! Kamu cuman milik Arine. Jangan sampai mengecewakannya karena kamu mencintainya," ucap Kaiso membatin menyadarkan dirinya yang mulai terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Kurenai dan segera melepas jabatan tangan mereka seketika.

"Jadi, bagaimana, Sayang? Tante masih menunggu jawaban kamu," tanya mamah Kaiso yang masih tak kunjung mendapat jawaban dari tujuannya.

"Bagaimna denganmu, Nak Kaiso? Apakah kamu juga sudah menerima perjodohan yang akan dilakukan keluarga kita ini?" tanya ayah Kurenai pada Kaiso yang terus memandang Kurenai. Entah terpesona atau apa, yang jelas mata Kaiso tak bisa beralih untuk tidak memandang wanita cantik itu.

"Ehm... ehm..." Dehaman ayah kurenai yang mengetahui bahwa Kaiso yang tidak menjawabnya tapi malah asik melihat ke arah anak wanitanya, sedangkan yang ditatap hanya diam dan menunduk seakan takut dengan tatapan dari Kaiso.

"Oh iya, Om. Iya, Om, saya telah menerima perjodohan ini, Om. Saya janji akan membahagiakan Kurenai nanti, Om," ucapnya dengan janji yg sebenarnya tidak tulus dengan perkataannya sendiri.

"Lalu, bagaimana denganmu, Sayang?" tanya ibu Kurenai yang terus membelai lembut tangan putrinya, dan dilanjutkan dengan semua mata yang telah memandang wanita itu dengan tatapan menunggu jawaban.

"Huft... yang seperti Renai tadi bilang, Ayah, Ibu, Kurenai akan menerima perjodohan ini asalkan Ayah dan Ibu bahagia. Karena bagi Renai, tidak ada yang lebih berharga dari senyuman dan kebahagiaan kalian. Dan untuk itu, Renai akan menerima perjodohan ini dengan lapang dada," ucapnya terdengar ikhlas dan tenang.

Sontak saja semua yang ada di dalam ruangan itu langsung tersenyum lebar karena Kurenai yang bersedia menerima perjodohan ini.

"Baiklah, perjodahan ini akan kami terima," ucap ayah Kurenai dengan senyuman sambil memegang lembut tangan anaknya.

"Akhirnya doa yang saya panjatkan selama ini dijawab juga," ucap mamah Kaiso yang terlihat mulai meneteskan air mata kebahagiaannya.

"Mamah kenapa menangis? Bukankah mamah harusnya bahagia karena kami menerima perjodohan ini?" ucap Kaiso yang heran melihat mamahnya bukannya bahagia tapi malah melihat mamahnya menangis.

"Dasar anak bodoh, mamah menangis karena mamah merasakan sangat bahagia malam ini, karena keinginan mamah dan almarhum papah kamu dulu akhirnya terwujud untuk menjodohkan kamu dengan Kurenai," ucap mamah terus meneteskan air matanya kala mengingat ini adalah permintaan terakhir dari suaminya sebelum meninggal.

"Udah, Met, Alm Darren pasti bahagia di sana karena melihat keinginannya tergapai sempurna. Ikhlaskanlah dia, karena kebahagiaan mulai menyertaimu sekarang," ucap ibu Kurenai menenangkan sehabatnya itu, karena dia tahu semenjak suaminya, Darren, meninggal dia tak pernah mengeluarkan lagi senyuman indah seperti sekarang ini. Dan ini pertama kali dia mengeluarkan senyuman yang sangat indah malam ini setelah 5 tahun lamanya.

"Sebegitu bahagianyakah mamah dengan perjodohan ini?" tanya Kaiso

membatin pada dirinya.

"Bahkan setelah sekian lama aku tidak melihat senyuman indah itu di wajah mamah. Tapi malam ini karwna kami berdua menerima perjodohan ini malah membuat mamah terlihat sangat bahagia, tapi bagaimana jika mamah mengetahui rencana jahatku kepada Kurenai?" tanyanya membatin pada dirinya.

To Be Continue. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status