เข้าสู่ระบบ"Argh, rasanya aku mau gulung bumi! Dia itu nyebelin banget jahilin aku terus!" wajah Nayla memerah lantaran geram.
Sudah tiga hari Nayla menghadapi candaan Shaka yang terus menaikkan alur panas di wajahnya.
"Artinya dia sayang kamu." Vira memesan dua dimsum dan jus stroberi di kantin kantor, kemudian duduk bergabung dengan Gilang.
Gilang yang sedang memakan ayam goreng sampai tersedak kaget.
"Tapi .... tapi nggak harus setiap hari juga, dong. Setiap kali ada celah dia pasti jahilin aku! Nggak sesuai sama mukanya yang diam sedingin es!" Nayla merengut duduk di sebelah Gilang mengikuti Vira.
Gilang menatap kedua seniornya bergantian. Nasib menjadi junior yang terlalu baik dan menurut pasti akan diajak ghibah.
"Lah, aku kalau punya pasangan jahil malah seneng kali, Mbak. Enak diajak bercanda daripada marah-marah mulu," sabut Gilang santai.
"Diam kamu mulut jigong. Jangan nambah beban perasaan aku." tunjuk Nayla membuat Gilang bergidik. "Emangnya rasa suka bisa tumbuh dengan candaan yang bikin aku mau gigit jari?! Ah, dia emang aneh sejak lahir!"
Vira berdecak sabar, "Sekarang aku tanya. Kamu punya pacar?"
Nayla menggeleng.
"Punya Crush?"
Nayla menggeleng lagi.
"Punya gebetan yang ngebet mau ngelamar kamu?"
Jawaban Nayla masih sama.
"Yaudah berarti terima aja si Shaka. Dia ganteng, karir mapan, kalian sama-sama kenal sejak kecil dan nggak semua cewek bisa seberuntung kamu buat dapatin si Shaka." Vira memukul meja makan sampai seluruh penghuni kantin menoleh ke arahnya.
Nayla jadi meminta maaf pada semua orang lewat senyuman.
"Masalahnya aku nggak ada rasa sama dia." merebut dimsum Vira dan ayam goreng Gilang begitu saja.
Gilang ternganga ayamnya hilang.
"Nay, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu. Banyak yang nikah tanpa dasar cinta, tapi ujung-ujungnya mereka awet, tuh, sampai tua," tutur Vira pelan.
"Kamu pikir hidup aku sama kayak drama?" Nayla berpangku tangan lemas.
Pikiran Nayla berkelana melihat lalu-lalang para karyawan yang sibuk memilih makan siang. Ada yang muda, tua, paruh baya, paling banyak yang sudah berkeluarga dan memiliki banyak anak. Setidaknya kehidupan terus berlanjut untuk mereka. Sedangkan dirinya berbeda.
Mungkinkah hidupnya akan berhenti sampai di titik ini bersama Shaka?
"Soal mantannya ... kamu nggak nanya lebih lanjut?" Vira membuyarkan lamunan Nayla.
"Enggak, buat apa."
"Hati-hati, Mbak Nay, kalau suaminya direbut gimana?" celetuk Gilang.
"Bocah bau kencur jangan sok nasehatin. Cari pacar sana biar tau gimana rasanya jadi aku." ledek Nayla ke Gilang.
"Ih, maaf, ya, aku udah punya gebetan, hehe." Gilang cengar-cengir.
Nayla saling lirik sama Vira, "Siapa? Anak sini, ya?"
Gilang mengangguk, "Udah cantik, baik, suka bersih-bersih, tapi aku belum tau namanya."
"Cie, cinta dalam diam ceritanya?" goda Nayla.
"Biarin aja yang penting nggak kayak Mbak Nayla yang nggak mau jatuh cinta sama suaminya sendiri," sindir Gilang tak mau kalah.
Nayla langsung terdiam.
"Hahaha, kena mental. Udah buruan makan keburu jam istirahat habis," kata Vira.
Rasanya ingin Nayla cincang Gilang sekarang juga andai mereka tidak berada di tempat keramaian.
Setelah kejadian pulang kerja waktu itu, Shaka menyuruh Nayla untuk meminta jemput dirinya mengingat jarak Bekasi dengan Jakarta lumayan jauh. Seperti saat ini dia membereskan seluruh isi mejanya dan menunggu jemputan Shaka.
"Perhatian-perhatian! Ada pengumuman baru dari bos! Buruan buka grup sekarang!"
Mendadak Gilang heboh setelah keluar dari ruangan pemimpin untuk menyerahkan laporan harian. Seketika Nayla mengecek grup chat perusahannya yang memang terjadi kehebohan.
"Apa?! Kita bakalan ada proyek besar-besaran buat mempromosikan produk baru? Oh, yang serum anti penuaan sekaligus mampu membuat wajah glowing dalam sebulan itu?" pekik Nayla.
Gilang langsung menghampiri Nayla sampai hampir terpeleset.
"Bukan cuma itu aja! Kita bakal tour promosi di Jakarta!"
"Hah?! Semuanya ikut?!" Nayla ikut teriak.
"Iya semuanya!" Gilang mengangguk ekstra sampai rambutnya rontok.
"Kapan dimulai?" Nayla menepis udara di depan mata Gilang.
"Ditetapkan satu minggu kemudian. Jadi semua diharapkan bersiap dan menyelesaikan pekerjaan semaksimal mungkin sampai acara tersebut dilaksanakan. Bakal ada banyak bonus menanti. Kabarnya kita juga ambil Brand Ambassador dari model ternama yang lagi Booming di majalah kecantikan. Astaga, aku nggak sabar buat ketemu sama modelnya!" mata Gilang berbinar sementara mata Nayla hijau penuh dengan uang.
"Bonus?! Wah, nggak sabar banget nungguin bonus! Eh, tour promosi maksudnya." cengir Nayla terlalu semangat.
Di dalam perjalanan Nayla senyum-senyum sendiri sehingga Shaka heran. Biasanya Nayla akan tenang jika sudah berada bersama Shaka.
"Kamu kesurupan?"
Nayla menoleh cepat, "Kamu kali kesurupan."
"Aku nggak senyum-senyum mengerikan kayak kamu."
Untungnya jalanan lancar tidak ada kendala seperti biasanya.
"Kantor aku bakal ada agenda besar minggu depan. Kita mau tour promosi besar-besaran di Jakarta. Aaa, aku seneng banget soalnya bakal dapat banyak bonus!" mata Nayla mengkilap.
Senyum Shaka tersungging. "Beneran? Kalau gitu aku nggak perlu jemput kamu."
"Ck, ngomong aja capek. Udah kubilang bisa pulang sendiri naik ojol."
"Kamu pulangnya hampir malam, Nay, takutnya kenapa-napa. Kalau kecelakaan kayak waktu itu gimana? Belum lagi rawan begal sama penculikan," tutur Shaka panjang.
Nayla berkedip pelan mendengarkan ocehan itu.
"Shaka ... ini perasaan aku doang apa gimana kalau kamu itu agak cerewet sejak kita nikah. Iya, 'kan?" goda Nayla ingin mencolek pipi Shaka.
Shaka melirik Nayla sebentar, "Ketularan kamu!"
Nayla tergelak pelan, "Terserah, lah, tapi kamu lucu. Emm, aku cuma tertarik sama bonusnya, sih, nggak ke acaranya. Kalau bukan karena tuntutan kerja aku pasti nggak bakal ikut."
"Ikut aja sekalian gabung sama karyawan lain biar traumamu terobati."
"Oh, tidak akan terjadi karena aku hanya berteman sama Vira dan si junior Gilang aja. Lainnya palsu semua." Nayla membuat tanda silang dengan tangan.
Shaka menoleh cukup lama memperhatikan Nayla yang terus tersenyum dengan mudah mengatakan hal itu. Namun, bagi Shaka itu terlalu pahit.
"Nayla," panggil Shaka.
"Hmm?" Nayla menatapnya.
"Separah apa dirimu saat kutinggal dulu?"
Garis manis di bibir Nayla seketika hancur. Dia tidak mengira jika Shaka akan mempertanyakan masa lalunya di saat dia tidak menghiraukan kedekatan Shaka dengan mantan kekasihnya.
"Kamu yakin mau tau?"
Shaka bisa merasakan getaran dari suara Nayla yang berubah. Gadis itu menunduk merubah atmosfer.
"Kalau kamu cari di kantor polisi sama cacatan psikiater, kamu bakal nemuin nama aku."
Shaka tersentak sampai mulutnya sedikit terbuka.
"Selebihnya aku cuma mau mikirin bonus sekarang, hehe. Gajinya lumayan besar, jadi aku harus kerja keras buat nuntasin kerjaan besok. Semangat!" mengepalkan tangan dengan wajah secerah mentari tak sanggup meredam keterkejutan Shaka.
Wajahnya sampai berkeringat membayangkan hal-hal yang tidak ingin dia bayangkan. Shaka menunduk memikirkan semuanya.
"Separah itu, kah, mental kamu, Nayla?"
Suara rendah Shaka menenangkan kepalan tangan Nayla hingga gadis itu kembali terdiam.
"Kerusakannya tidak bisa diperbaiki lagi," nadanya kian melirih.
Shaka menatapnya dengan pandangan lembut nan tajam yang tidak bisa Nayla mengerti.
"Jika hanya aku yang bisa kamu percaya, silahkan. Dambakan aku sesukamu. Pakai aku sesuka hatimu, jika itu obat terbaik untukmu."
Aliran darah Nayla seketika membeku. Dia terhipnotis oleh sepasang mata itu. Andai mereka bukan berada di dalam mobil pasti tatapan itu akan berlangsung sangat lama.
Keduanya terpaksa harus bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa meskipun sulit menyangkal jika detak jantung Nayla lebih cepat dari kecepatan mobil sekarang.
Lenguhan di kedua lengan kokoh membuat tidur Nayla semakin pulas. Shaka hanya bisa mengulas senyum sambil menggendongnya memasuki rumah hingga membaringkannya di ranjang. Pelan-pelan, memastikan Nayla tidak akan bangun dalam pergerakan sekecil apapun. Dia sangat memperlakukannya lemah lembut seolah-olah Nayla adalah boneka yang bisa patah. "Sssttt, tenanglah. Kita sudah sampai di rumah," gumam laki-laki itu di balik senyumnya. Ketika dia hendak berdiri tegak, tangan Nayla meraih pergelangan tangannya dan menarik Shaka hingga mendekat. Jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Shaka terkejut, matanya berkedip menatap wajah Nayla yang masih terpejam erat. Gadis itu melenguh dalam tidurnya. "Jangan tinggalkan aku, Shaka," kemudian dia melantur. Shaka terkesiap luar dalam dan bingung harus bereaksi seperti apa. Dia tersenyum, menatap wajah Nayla lembut dan membelai pipinya."Dalam mimpi pun kamu tidak bisa melepaskan aku. Segitu takutnya kamu kembali kehilangan aku." Perlahan-lahan
"Ngomong-ngomong, Nayla, kamu sama Shaka lengket banget apa kalian udah ...," Vira menggantung ucapannya lagi, tetapi kali ini ada senyum licik di wajahnya."Eee, udah apa?"Nayla mendorong Vira agar mundur sedikit karena dia benar-benar terpojok sekarang. "Ck, udah itu lah masa nggak tau, sih." alis Vira turun-naik. Nayla seketika melotot, "Kamu gila, ya?!" "Haha, udah aku duga kamu paham. Nggak usah malu ngaku aja. Udah apa belum?" senyum Vira menyebalkan membuat Nayla berdecak."Bukan urusan kamu. Lagian ngapain bahas itu, sih, bikin malu tau." "Ih, kamu nggak seru, ih. Sejak kapan hari kamu cerita kalau kalian udah ciuman, aku makin kepo tau. Pasti kalian udah menciptakan momen-momen romantis di tengah kehangatan bulan, 'kan?" goda Vira lagi. "Vira! Apa, sih, jangan ngomong begitu lagi," Nayla kesal. Pipinya memerah membuat Vira tergelak.Memalingkan wajah sempat melihat pantulan diri sendiri di cermin dan segera memalingkan diri tidak mau melihat wajah malunya yang kentara je
Sofa di sudut gedung dekat dengan meja penuh hidangan manis menjadi tempat ternyaman mereka saat ini. Setelah menyapa sang manajer dan para petinggi perusahaan, Nayla hanya ingin memenuhi mulutnya dengan makanan dan berbincang ringan bersama Shaka. Vira dan Gilang sampai muak melihat mereka di pojokan. "Astaga, kalau cuma seperti itu doang bisa kali dilakukan di rumah. Kenapa malah datang ke sini? Kue besarnya juga belum muncul buat dipotong. Apa jangan-jangan Nayla mau menghabiskan kue ulang tahunnya juga?" Vira geleng-geleng kepala padahal dia sendiri juga sedang makan kue kecil. Gilang berdecak, "Aku habis marahin mas Shaka, ternyata efeknya nggak tanggung-tanggung. Tangan mereka nggak lepas sedikitpun tau." Vira memberikan kuenya secara paksa pada Gilang, "Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus rebut Nayla!" Gilang ingin menghentikannya, tetapi Vira sudah terlanjur ingin melabrak Nayla dan Shaka."Aduh, tamatlah sudah." Gilang menepuk dahinya lagi."Yang ini manis banget tau. Kam
Setelah sekian lama berusaha akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Mereka tidak mempermasalahkannya, hanya saja bekerja di tempat yang berbeda membuat mereka harus terpisah beberapa jam lagi dalam sehari. Nayla menjadi administrator di sebuah pabrik kertas, sedangkan Shaka juga administrator di bidang properti. Soal gaji tentu Shaka lebih tinggi. Namun, bukan betapa sulit ya pekerjaan dan lingkungan baru itu, melainkan betapa lamanya waktu satu menit seakan satu hari penuh untuk berlalu. Mereka tidak bisa berpisah terlalu lama. Setiap kali pulang mereka selalu berpelukan dan lebih lengket. Bersantai bersama bahkan tidak ingin tidur dan tidak mau mengulang hari esok untuk berpisah kembali, tapi mereka harus bekerja untuk mendapatkan uang. Hari ini terlalu panas. Nayla beristirahat di sebuah teras cafe sambil menguyah es batu yang berada di dalam segelas jus. "Ih, aku ikut kesel banget kenapa perusahaan kita nggak mau nerima kamu lagi? Padahal kinerja kam
"Oh, kamu masih ingat di mana lokasi Enna menculik Nayla di hutan?" tanya Shaka menghebohkan Gilang lagi. "Sampai mati pun nggak akan aku lupa. Hutan itu dalam kawasan perlindungan polisi sekarang. Mendingan nggak usah ke sana atau bakal kena masalah," kata Gilang. "Gimana kamu bisa tau aku mau ke sana?" Shaka mengernyit. "Ck, tercetak jelas di dahimu, Mas, kalau kamu mau balas dendam dengan caramu sendiri. Aku masih ingat kalau Mbak Nayla pernah bilang kamu psiko." dengan entengnya Gilang membongkar isi pikiran Shaka sambil makan kue. Kemudian, Shaka tergelak puas membuat Gilang dan Nayla bingung, "Sungguh pria yang luar biasa. Beruntung banget Nayla punya teman kayak kamu sedangkan selama hidupnya dia nggak punya teman, hahaha." Gilang meringis lagi dengan kue yang menyumbat mulutnya sambil beringsut ke sisi Nayla dan berbisik, "Suamimu ... gila?" Nayla mengangguk dan menggeleng, "Nggak tau. Aku juga nggak tau." Namun, Nayla juga tidak menduga jika kehadirannya pertama kali d
Mulutnya berbuih, mangap seperti ikan kesetrum listrik. "Gilang! Gilang, aduh, kenapa kamu pingsan? Shaka, cepat bantuin dia." Nayla panik membantu Gilang berdiri, tapi Gilang terlalu berat. Shaka berdecak sembari melipat tangan di dada, "Dia cuma pura-pura." Nayla menoleh kaget, "Ha? Pura-pura?" Lalu, kembali menatap Gilang, "Kamu pura-pura, ya? Bangun, nggak!" menampar pipi Gilang dan akhirnya Gilang sadar mengaduh kesakitan. "Aduh, sakit tau, Mbak! Jahat banget, sih." Gilang cemberut mengusap pipinya. Kemudian, menatap Nayla dan Shaka bergantian lagi membuatnya pura-pura pingsan kembali, "Astaga, aku pasti salah lihat. Kenapa kalian berdua ada di rumahku?" "Aaaa! Gilang pingsan lagi!" Nayla menampar pipi Gilang lagi dan kini laki-laki itu tidak mau sadar. Terpaksa cara terakhir adalah menyeret kakinya masuk dan membiarkannya tergeletak di depan kursi ruang tamu. "Hahh, merepotkan. Baru kali ini aku lihat tuan rumah pingsan lihat tamunya. Emang ya aku selangkah itu apa? Hah?







