分享

Bab 15

作者: Pein
last update publish date: 2026-08-05 06:43:06

Keesokan paginya, Arman berkeliling menyusuri setiap sudut Laboratorium BioGen. Bangunan penelitian itu memang dipenuhi berbagai kerusakan akibat kiamat, tetapi struktur utamanya masih kokoh.

Setelah mengamati beberapa ruangan, pandangannya akhirnya tertuju pada sebuah rumah kaca khusus penelitian tanaman.

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Tempat ini sangat cocok dijadikan lahan pertanian," gumamnya sambil menatap deretan rak berisi berbagai tanaman penelitian.

"Sayangnya, semua itu hanya
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 102

    Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 101

    Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 100

    Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 99

    Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 98

    Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 97

    Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status