LOGIN"Malik, tolong puaskan istriku!" Diceraikan karena "terlalu besar" dan miskin, Malik menelan pahitnya hidup sebagai duda terbuang. Terdesak ekonomi, Malik akhirnya menerima penawaran gila Aris—sahabatnya yang menderita disfungsi ereksi parah—untuk memberikan kepuasan ranjang pada Sheila, sang istri. Siapa sangka, begitu sang duda melepaskan "senjata rahasianya", Sheila yang tadinya memandang sebelah mata justru terjebak dalam kecanduan yang tak terobati!
View More"Malik, tolong puaskan istriku!"
Malik terkejut. "Ris! Apa-apaan kamu?!" Dua orang pria yang sedang duduk saling berhadapan di balkon sekolah, dengan rokok yang dipegang Aris yang sejak tadi diisapnya kini ia matikan dengan menginjaknya. Malik yang masih syok hanya bisa menatap Aris dengan tatapan heran dan tak percaya. Bagaimana bisa seorang sahabat semasa SMA setelah bertahun-tahun lamanya tak bertemu kini dia berkata seperti itu di hadapannya. "Aku menderita disfungsi ereksi parah, Lik, dan hidupku divonis tak akan lama lagi, bahkan aku juga mengalami Kelainan jantung bawaan, yang membuat pasokan darah ke alat vital menjadi tidak stabil," ucap Aris yang semakin membuat Malik terperangah. "Pelan-pelan, Ris, ngomongnya. Ada apa sebenarnya?" ucap Malik menepuk bahu Aris seolah menguatkan dan mengklaim jika Aris, sahabat lamanya itu, mengigau karena kebanyakan minum. "Woy, malah berduaan di balkon, sini maju kita ngopi lagi!" teriak Aji yang mengadakan reuni sekolah ini. Yap, Malik saat ini sedang mengikuti acara reuni besar-besaran. Setelah beberapa tahun tak saling bertemu, kini semua temannya berkumpul termasuk Aris, sahabat baiknya itu. "Nanti nyusul!" jawab Malik, senyum samar khasnya membuat pria yang memanggilnya tadi mengibaskan tangannya merasa itu hanyalah omong kosong. "Bagaimana, Lik?" tanya Aris lagi mengalihkan kembali fokus pria itu. "Jangan gila, Ris, kamu ngomong apa?" "Aku sudah jelaskan tadi, Lik, umurku tak panjang lagi. Bahkan di sisa hidupku, aku tak pernah membuat puas istriku, Lik!" curhat Aris pada Malik seolah mencurahkan rasa sesak yang selama ini ia tahan sendirian. "Kamu juga baru saja menyandang status duda, kan, Lik?" tanya Aris membuat Malik langsung menoleh. Bahkan untuk saat ini tak ada yang tahu tentang statusnya yang baru saja menyandang status duda itu. "Pasti kamu merindukan belaian, kan? Atau setidaknya kehangatan seorang perempuan?" Aris menatap langsung ke arah wajah Malik yang benar-benar kebingungan itu. "Kamu bisa pakai tubuh istriku. Dia juga kurang puas dariku, bahkan setiap kali kami selesai melakukannya wajahnya selalu masam, Lik, aku merasa sangat gagal!" Ingatan Malik seketika terlempar pada saat dirinya dan Maya masih menjadi sepasang suami istri. Di mana Malik memiliki tenaga dan alat vital yang begitu besar. Maya sering kali merasa kewalahan setiap melayani dirinya hingga akhirnya sang istri merasa tak kuat bahkan sampai menggugat cerai pria tersebut. 'Kita resmi cerai! Aku tak sudi lagi denganmu. Selain miskin, kamu itu aneh!' Itulah pesan terakhir yang dikirim Maya, setelah dirinya resmi menyandang status duda. Padahal dulu, Malik berjuang keras agar bisa menikahi perempuan idamannya itu, tapi ternyata Maya tak bisa menerimanya apa adanya. Malik selalu merutuki dirinya sendiri, ia selalu menganggap dirinya tak normal bahkan kerap kali membenci dirinya sendiri. "Ini gara-gara kamu, Jon, Maya jadi kabur!" rutuknya sambil menepuk pelan miliknya, setiap kali teringat wajah mantan istrinya yang masih saja terngiang di kepalanya bagaikan kaset rusak itu. "Ini permintaan terakhir aku, Lik, aku gak tahu minta tolong ke siapa lagi," suara Aris sukses membuyarkan lamunannya itu. Sebelum sesaat mereka saling mengobrol di balkon, acara masih baik-baik saja, hingga Malik yang memutuskan untuk pergi ke balkon meminta izin dengan beralasan merokok sebentar, padahal alasan sebenarnya, Malik terlalu muak terus-terusan diejek oleh semua teman SMAnya. Malik memang selalu dibully sejak masa SMA, karena mereka semua tahu Malik memiliki ukuran alat vital yang berbeda dari yang lain. Hingga beberapa menit datanglah Aris menghampiri, mengobrol sebentar melepas rindu dan tanpa diduga Aris meluncurkan perkataan itu yang sukses membuat Malik gundah gulana. "Ini istriku... kamu pasti suka!" Glek. Duda itu langsung menelan ludah dengan susah payah. Di dalam layar ponsel itu seorang perempuan yang hanya memakai bra ketat, yang seolah tak bisa menampung buah dada yang berukuran begitu besar itu, sebesar buah semangka. "Kamu... Ris..." Malik benar-benar tercekat. "Cantik, bukan? Kamu pasti ingin menikmati tubuhnya, kan, setelah melihatnya?" tutur Aris begitu lancar melayangkan perkataan itu.Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu."Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit."Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu."Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang.Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut."Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.Pemuda bern
"Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan
Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya."Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher."Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila.Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyusup k
Malik maupun Sheila melengguh panjang. Tubuh Malik yang lelah serta pikirannya yang dipenuhi beban seolah benar-benar membutuhkan pelepasan yang hebat malam ini.Tanpa membuang waktu, Malik membalikkan tubuh Sheila kembali terlentang. Ia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulus Sheila. Perempuan itu melengkungkan tubuhnya, merinding merasakan sentuhan, hisapan, dan jilatan halus yang membakar dari bibir Malik."Engghh... Malik..." erang Sheila pasrah. Tangannya terangkat menjambak pelan rambut tebal Malik saat bibir pria itu merayap makin turun, menyusuri paha dalamnya dengan lembut penuh perasaan.Malik seolah meluapkan seluruh rasa lelah dan beban pikiran yang menghantamnya selama beberapa hari terakhir ke dalam setiap sentuhannya. Ia mulai menjulurkan lidahnya, memanjakan pusat keintiman Sheila yang sudah membasah.Sheila mengerang makin keras dalam kenikmatan yang membubung tinggi. Tubuhnya terangkat ke atas, paha mulusnya menjepit kepala Malik yang ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore