MasukRenggangnya rumah tangga akibat bentrok jadwal kerja membawa Arya ke dinamika tak terduga di klinik, di mana mertua dan rekan kerjanya berlomba memberikan perhatian serta perlakuan istimewa.
Lihat lebih banyak"Singkirkan tanganmu, Arya! Kamu pikir aku ini apa? Mesin yang harus selalu siap melayani keinginan biologismu di sela-sela jam jaga?!" bentak Sonia keras.
Wajah cantik wanita berusia dua puluh lima tahun itu memerah menahan amarah, menepis kasar kedua tangan suaminya yang baru saja mencoba memeluknya. "Kita jarang punya waktu berdua, Sonia. Aku cuma—" "Cuma apa? Memuaskan hasratmu?!" potong Sonia sengit, dadanya naik-turun dengan cepat di balik kemeja dinasnya. "Aku lelah berurusan dengan pasien IGD seharian, dan kamu malah menambah bebanku dengan tuntutan konyol ini!" Mengabaikan amarah istrinya, Arya mendekat. Tubuh Sonia terdorong mundur hingga punggungnya menabrak loker besi di ruang istirahat eksklusif Klinik Estetika Neva. Bibir Arya menekan bibir Sonia kuat-kuat. Tangan Arya membuka kancing kemeja dinas putih milik Sonia satu per satu. "Tunggu, Arya! Bisa pelan sedikit tidak? Seragamku bisa kusut!" desis Sonia dengan nada jengkel, mendorong dada suaminya agak menjauh di sela ciuman mereka. "Jadwal jaga malam kita selalu bentrok bulan ini, aku tak mau menyia-nyiakan waktu berdua kita!" balas Arya cepat. Sonia mendecak kesal dan menepis tangan Arya yang mencoba merengkuhnya lagi. "Aku tahu. Tapi kamu tidak lihat tempat? Kalau ada orang yang dengar, aku yang malu!" omel Sonia dengan dahi berkerut tajam. Tepat ketika tangan Arya bergerak merengkuh pinggang Sonia, suara melengking terdengar. Bip! Bip! Bip! Lampu merah dari pager medis di saku jas Sonia berkedip cepat. Gerakan mereka berdua berhenti seketika. Sonia merogoh sakunya dan melihat layar pager tersebut. Wajah wanita itu berubah tegang dan memerah karena kesal "Ada apa?" tanya Arya menarik tangannya mundur. "Kecelakaan beruntun. Pasien trauma ganda masuk ke ruang bedah sekarang," jawab Sonia panik. Sonia buru-buru mengancingkan kembali kemeja dinasnya. Arya mengusap wajahnya kasar, mencoba meredakan detak jantungnya. "Kamu harus pergi sekarang?" tanya Arya dengan nada datar. Sonia mendengus kasar sambil menenteng jas dokternya. "Sialan! Memang tidak pernah bisa tenang. Minggir, Arya, dr. Handoko butuh asisten bedah segera," ucap Sonia dingin. Wanita itu mendorong bahu Arya sekilas. "Sudahlah, gairahku sudah hilang. Jangan tunggu aku pulang besok pagi," ketus Sonia. Langkah kaki Sonia menjauh, meninggalkan Arya sendirian di ruang kedap suara itu. Napas Arya masih berat, paru-parunya menuntut oksigen lebih. Dia menunduk dan melihat celana kain hitamnya. Ada tonjolan keras yang tercetak jelas, menekan resleting celananya hingga terasa sesak. Arya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit. "Sial," umpat Arya pelan. Gairah yang menggantung membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Pria itu melonggarkan sabuk kulitnya, memberi ruang agar rasa sesaknya berkurang. Baru saja Arya menutup mata, suara gagang pintu diputar terdengar. Klek. Pintu ruangan terbuka perlahan, menampilkan sosok wanita paruh baya bersetelan jas putih. Prof. Linda melangkah masuk dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai. Wanita itu memiliki postur tubuh yang terawat, jauh lebih bugar dari wanita seusianya. Rambut hitamnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya. Mata Linda menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti di tubuh Arya. Tatapan wanita itu langsung terkunci pada area bawah perut menantunya. "Sonia baru saja lari ke ruang bedah," ucap Linda memecah keheningan. Arya membuka matanya dan segera menegakkan posisi duduknya. "Iya, Dok. Ada kecelakaan darurat," balas Arya cepat. Linda tersenyum tipis. "Saat kita berdua, panggil aku Ibu, Arya. Jangan terlalu kaku," tegur Linda santai. Linda berjalan mendekat ke arah sofa. Wangi parfum beraroma mawar langsung menyergap penciuman Arya. Aroma itu menutupi bau obat-obatan khas klinik. "Maaf, Bu. Saya kira ada perawat lain di luar," ucap Arya beralasan. Linda berdiri tepat di depan Arya. Jarak lutut mereka hanya terpisah beberapa sentimeter. "Kamu terlihat berantakan," komentar Linda menatap kemeja Arya yang kusut. "Jadwal saya cukup padat hari ini," jawab Arya singkat. Linda menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Meskipun umurnya sudah empat puluh lima tahun, namun kulitnya masih kencang. Dia bahkan terlihat sepuluh tahun lebih muda. "Bukan karena jadwal. Tapi karena hal lain yang belum tuntas, benar?" selidik Linda. Mata wanita itu melirik ke arah tonjolan di balik celana Arya. Arya menyilangkan kakinya, berusaha menutupi kondisinya. "Saya cuma butuh istirahat sebentar, Bu," elak Arya mengalihkan pandangannya ke arah meja kaca. Linda justru tertawa pelan mendengar alasan menantunya. Suara tawanya terdengar merdu namun memiliki ketegasan seorang pemimpin. Wanita itu berbalik dan berjalan pelan menuju pintu. Klik. Linda menggeser tuas pengunci pintu ruang istirahat itu. Suara kunci besi yang mengunci celah pintu terdengar sangat nyaring. Arya menelan ludah, jakunnya naik turun dengan cepat. Pria itu mengerutkan dahi, menatap mertuanya dengan tatapan bertanya, sekaligus sungkan. "Kenapa pintunya dikunci, Bu? I-ini masih jam kerja," tanya Arya dengan suara yang mendadak serak, tangannya tanpa sadar meremas pinggiran sofa karena tegang, bukannya mengangkat bahunya. Linda tidak menjawab. Dia kembali melangkah mendekati Arya, mengikis sisa jarak di antara mereka berdua. Aroma parfum mawar itu kini terasa makin pekat di hidung Arya. Linda menundukkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Arya. Tangan kanan Linda bergerak perlahan, menyusup ke balik kemeja Arya yang kusut. Kulit telapak tangan Linda yang halus bersentuhan langsung dengan perut Arya. Napas Arya seketika tertahan dan otot perutnya mengejang keras saat tangan mertuanya itu terus bergerak turun. Tubuh Arya mulai gemetar halus. Akal sehatnya berteriak panik menyuruhnya menepis tangan itu, karena wanita di depannya adalah direktur klinik sekaligus ibu mertuanya sendiri. Namun, rasa sesak di bawah sana justru membuatnya menginginkan sentuhan itu. Suhu tubuh Linda terasa hangat, membakar kulit Arya secara langsung. Jari-jari lentik Linda menyentuh ujung sabuk kulit Arya. "I-ibu... tolong jangan...," lirih Arya bimbang. Pria itu mengangkat tangannya seolah ingin menolak otoritas sang direktur, namun jemarinya justru hanya diam menggantung, tunduk pada godaan terlarang itu. Tanpa basa-basi, Linda menarik perlahan resleting celana menantunya yang sudah menegang maksimal itu ke bawah. "Sonia mungkin membuangmu begitu saja, Arya. Tapi Ibu tahu persis bagaimana cara merawat aset paling berharga di klinik ini," bisik Linda dengan suara rendah yang menggetarkan. "Sekarang diam, dan biarkan Ibu yang menuntaskannya."Linda memutar gagang pintu kamar utamanya secara perlahan agar engselnya tidak berdecit sedikit pun.Dia melangkah keluar menyusuri lorong lantai dua yang gelap gulita.Langkah kakinya berjalan tanpa suara di atas karpet tebal tanpa memakai alas kaki.Wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat.Linda menempelkan telinga kanannya ke permukaan daun pintu berbahan kayu jati tersebut.Di atas ranjang kamar tamu, Manda merangkak naik menindih perut Arya.Gadis itu mencoba mengambil kendali permainan dari posisi atas."Biar aku tunjukkan staminaku jauh lebih kuat dari Mama," tantang Manda percaya diri.Kedua tangannya menekan bahu Arya agar pria itu tetap telentang di kasur."Aku bisa membuat Kakak lebih puas dari perempuan mana pun di rumah ini," tambahnya lagi.Namun, Arya sama sekali tidak membiarkan Manda memimpin malam ini.Kedua tangan pria itu melesat mencengkeram pinggul gadis tersebut.Arya membalikkan posisi mereka berdua dalam satu entaka
Arya dengan sangat jelas menangkap sebuah siluet bayangan sepasang kaki menutupi sumber cahaya tersebut.Seseorang sedang berdiri mematung menempel di luar pintu kamarnya.Otak Arya langsung tahu persis siapa pemilik bayangan kaki itu.Satu-satunya penghuni lain yang masih terbangun di lantai dua rumah ini hanyalah ibu mertuanya.Sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai dingin yang penuh perhitungan.Bukannya memelankan gerakan pinggulnya, Arya justru melepaskan telapak tangannya dari mulut Manda.Pria itu sengaja membebaskan bibir adik iparnya untuk bersuara lepas.Dia menghujamkan tubuhnya berkali-kali lipat lebih keras menumbuk gadis itu tanpa sisa.Brak! Brak! Brak!Kepala ranjang berbahan kayu solid itu berderit sangat nyaring dan berirama cepat.Ujung kayunya beradu keras membentur dinding kamar setiap kali Arya mengentak tubuhnya ke depan.Kehilangan tangan yang membekap mulutnya, pertahanan vokal Manda langsung jebol berantakan.Gadis itu tidak sanggup la
Tangan Manda langsung menarik turun tali tipis gaun tidur satin merahnya.Kain licin itu merosot cepat melewati lekuk pinggulnya tanpa halangan.Pakaian terakhir itu jatuh menumpuk ke atas karpet lantai kamar tamu.Gadis itu berdiri tegak memamerkan tubuh mudanya tanpa sehelai benang pun di hadapan Arya."Kamu lambat, Kak," desak Manda dengan nada tidak sabar.Dia melangkah maju merapatkan tubuhnya ke depan.Kulit dadanya yang panas menempel langsung pada permukaan kemeja pria itu."Biar aku yang bantu buka bajumu," bisik gadis itu menuntut.Jari-jarinya bergerak tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja Arya dari kerah atas.Namun, gerakan tangan gadis itu tiba-tiba melambat saat mencapai kancing ketiga.Kening Manda berkerut samar menatap kain di depannya.Telapak tangannya menyentuh dada bidang Arya, lalu meraba menyamping hingga ke bagian punggung kakak iparnya.Ada sesuatu yang terasa sangat tidak beres dari fisik pria di depannya ini."Kok punggung Kakak aga
Tubuh Linda menegang kaku mendengar suara ketukan keras dari balik pintu berbahan kayu jati tersebut.Kepanikan luar biasa langsung menyergap dada wanita paruh baya itu.Dia meronta menggerakkan pinggulnya ke depan secara refleks.Kedua tangan Linda bertumpu pada kasur, lalu berusaha mendorong perut Arya ke belakang agar menantunya itu segera berhenti bergerak."Lepas, Arya," bisik Linda panik.Keringat dingin mulai bercampur dengan keringat gairahnya."Manda ada di luar, dia bisa dengar suara ranjang ini."Arya sama sekali tidak membiarkan mertuanya mundur satu inci pun dari posisinya semula.Tangan kanan pria itu melesat cepat membekap mulut Linda rapat-rapat."Mmphh!"Linda memberontak tertahan di bawah telapak tangan yang menutupi separuh wajahnya.Tangan kiri Arya mengunci erat pinggang wanita itu dari belakang agar tidak bisa menghindar ke mana pun.Dia justru memacu pinggulnya semakin dalam menembus pertahanan mertuanya tanpa ampun.Tumbukan terakhir itu terjadi sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan