MasukMendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.
Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k
Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam
Setelah selesai menjelaskan seluruh hal yang berkaitan dengan perawatan ayam kepada mereka, Arman tidak langsung beristirahat. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum semua fasilitas di sekitar kandang benar-benar dapat digunakan. Arman berjalan menuju halaman yang berada tidak jauh dari kandang ayam. Dia membawa beberapa batang paralon yang sebelumnya sudah disiapkan dari Toko Sistem. Satu per satu paralon tersebut mulai dipasangnya. Arman membuat jalur air yang menghubungkan halaman dengan mesin pompa yang berada di bagian belakang laboratorium. Pemasangannya dilakukan dengan teliti, mulai dari mencari pipa yang bocor, menyambungkan setiap bagian, hingga memastikan tidak ada sambungan yang longgar. Yulia dan beberapa orang lainnya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Mereka sebenarnya ingin membantu, tetapi Arman sudah mengatakan bahwa pekerjaan tersebut cukup rumit dan dia akan mengurusnya sendiri. Setelah seluruh paralon terpasang, Arman memeriksa
Yulia kembali mendekati kandang ayam yang baru saja selesai dibangun. Dari balik pagar, dia memperhatikan ayam-ayam yang kini mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Beberapa ayam tampak sibuk mematuk tanah, sementara yang lainnya bergerombol di pojokan. Suara kokok sesekali terdengar di antara bangunan-bangunan yang berdiri di dalam kompleks perlindungan mereka. Pemandangan sederhana itu terasa begitu berharga bagi Yulia, apalagi jumlah ayam yang mereka miliki bukan hanya beberapa ekor. Ada puluhan ayam petelur yang kini memiliki tempat tinggal sendiri. Arman yang melihat Yulia berdiri cukup lama di depan kandang akhirnya keluar dari sana. Dia berjalan mendekat dan berdiri di samping wanita itu. Tatapannya ikut tertuju pada ayam-ayam yang bergerak kesana kemari. "Mulai sekarang, kita tidak akan kekurangan telur lagi." Suara Arman terdengar tenang, tetapi kalimat sederhana itu membuat hati Yulia bergetar. Dia menoleh kepada Arman. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Bukan k
Yulia jelas saja terkejut. Sejak mengetahui kemampuan Arman, selama ini dia selalu mengira bahwa kekuatan pertukaran yang dimiliki pria itu hanya berlaku untuk benda-benda mati. Makanan, peralatan, kendaraan, bangunan, senjata, hingga berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup memang bisa diperoleh Arman melalui kemampuan pertukarannya.Namun, Yulia tidak pernah membayangkan kalau kemampuan tersebut ternyata juga bisa digunakan untuk menukar makhluk hidup.Melihat ekspresi terkejut di wajah Yulia, Arman hanya mengulas sebuah senyum kecil.Dia kemudian mengangkat tangannya dan mengetuk lembut hidung wanita tersebut. "Benar, aku bisa menukar makhluk hidup."Yulia menatap Arman dengan tatapan kagum, beberapa saat keduanya hanya saling menatap.Yulia masih menatap Arman. Semakin lama, tatapan kagum di matanya justru berubah menjadi tatapan curiga.Keningnya perlahan berkerut. "Tunggu dulu..."Arman mengangkat alis. "Ada apa?"Ekspresi Yulia tiba-tiba menjadi serius. "Kala







