Share

2

Author: Dao Yue
last update publish date: 2026-07-15 18:40:13

“Halah kebanyakan omong kamu. Berlutut mengemis? Ngemis uang apa ngemis cinta? Siapa juga yang doyan ama tukang bakso? Modal tampang juga ga seberapa, duit yang penting jaman sekarang!” seru sepupu Raka menghina.

“Iya, dikira kenyang makan muka doang. Tuh buktinya istrinya selingkuh, belagu amat pake sumpah segala,” timpal janda muda yang seksi dan terkenal di desa itu.

“Cih, pergi sana. Bawa gerobak bututmu itu!” sergah Yudha sambil meludah.

Gerimis mulai datang, Andre memungut semua barang-barang miliknya yang dilempar begitu saja di halaman. Usai menyimpan ke dalam gerobak, lelaki itu mendorong gerobaknya diiringi sorakan yang menghina atas sumpah dan juga kemiskinannya.

Tangannya menggenggam erat kayu pegangan gerobaknya dan mendorongnya dengan penuh rasa dendam dan sakit hati mendalam.

Hujan deras datang, dia tetap mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu dan berencana menuju pinggiran desa. Tidak peduli tubuh basah kuyup, lelaki itu mendorong gerobaknya. Sesekali suara gemeretak gigi terdengar, ketika angin bertiup kencang dan membuatnya kedinginan. Rasa sakit karena kehilangan segalanya, istri, tempat tinggal dan juga harga dirinya yang diinjak-injak, membuat Andre bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya harus sukses.

“Kayaknya kalo ujung desa kejauhan. Di sana juga ga begitu banyak pembeli, kayaknya aku ngontrak ke tempat Bu Ram aja lah, toh harga sewanya sama,” gumam Andre.

Petir kembali menggelegar, hujan semakin deras saja. Andre mempercepat langkah mencari tempat berteduh, satu-satunya tempat adalah sebuah rumah kosong yang dianggap angker. Pohon angsana dengan batang besar berdiri kokoh di sana, sudah enam warga yang mati bunuh diri di sana. 

Banyak warga yang melihat penampakan orang gantung diri di sana dan berteriak minta tolong. Suasana semakin seram karena listrik padam, sehingga lampu jalan yang biasa menerangi, mati total.

“Haih, cuma ini satu-satunya tempat berteduh,” gerutu Andre kesal.

Andre mendorong gerobaknya hingga ke teras, agar tidak basah. Kayu gerobaknya bus lapuk lebih cepat jika terus terkena air, Andre menghela napas panjang, duduk di lantai berdebu dengan meletakkan tangan di lututnya.

“Udah kena musibah istri selingkuh, dimaki, diejek. Eh … malah ujan, sekarang berteduh di rumah banyak setannya.” Andre menatap langit yang sesekali mengeluarkan cahaya petir.

“Dah lah, mending aku ganti baju. Kalo masuk angin ga bisa jualan,” cakap Andre.

Menggunakan senter ponsel tuanya, Andre berhasil memilih pakaian kering yang akan dia kenakan. Ketika akan mengganti pakaian di teras, lelaki itu mengurungkan niatnya.

“Kalo tiba-tiba lampu nyala pas aku ganti baju kan gawat, bisa disangka gila aku,” kata Andre kepada dirinya.

Lelaki itu memberanikan diri masuk, karena pintu utama setengah terbuka. Andre masuk dan mengganti pakaian, ketika selesai mengenakan celana, dia mendengar suara berbisik dan desahan.

‘Aneh, masa rumah serem begini ada suara begitu? Jangan-jangan memang ada yang mesum,’ pikir Andre.

“Aaah, masukin semua. Enak banget,” ucap wanita itu, tetapi cukup bisa didengar oleh Andre.

“Goyangan Tante enak banget, nih aku masukin semua,” balas lelaki itu dengan suara bergetar. 

“Bukannya itu suara Bu Seruni? Mertuaku selingkuh sama Nandar? Itu kan tunangan adik Rumala,” gumam Andre.

Derasnya hujan menenggelamkan suara racauan mereka berdua, yang cukup menggema. Lelaki itu berpikir, toh dia akan bercerai dengan Rumala, untuk apa ikut campur? Tidak ada alasan baginya untuk mencegah perbuatan melanggar norma tersebut.  

Andre merasa risih, lalu dengan langkah tergesa memutuskan untuk pergi dari sana, lalu menyalakan senternya menuju pintu utama.

Meski Andre menutupi terangnya cahaya senter ponselnya, tetapi cukup untuk memberitahu bahwa ada orang lain selain sepasang manusia yang sedang mengejar hasrat tersebut.

“Hei, siapa itu? Ga tau aturan ngintip!” sergah lelaki muda tersebut.

“Diam di situ!” hardik Seruni.

“Aduh gawat ….pake acara ketauan segala.” Andre diam mematung di tempatnya.

Tidak sampai lima menit, sepasang manusia yang hasratnya tidak selesai itu berdiri di depan Andre, dengan wajah memerah tentunya.

“Kirain siapa, taunya si mantu miskin ga tau diri yang ngintip,” ejek Seruni.

“Bu, saya ga ngintip. Kebetulan neduh di sini,” balas Andre sopan.

“Mau peras aku? Mimpi aja sana! Awas aja kalo kamu berani ngadu, kamu tau sendiri akibatnya,” ancam Seruni.

Andre malas meladeni ocehan ibu mertuanya, dia berdiri di teras dan menatap langit. Hujan tidak lagi terlalu deras, hanya rinai saja.

Lelaki itu bergegas menuju bagian bawah pohon, lalu membawa gerobaknya pergi dari sana.

“Orang kaya memang aneh, dia yang ketauan zina, malah aku yang diancam,” gerutu Andre sambil berlalu.

Aliran listrik masih padam, berbekal dari senter ponselnya Andre menyusuri jalan sepi dan sedikit becek. Menuju gang yang dia tuju dengan mengambil jalan pintas.

Andre kini sudah berada di sebuah bangunan yang paling besar di sekitarnya, meski sebuah gang, tetapi jalan utamanya sekitar empat meter. Satu-satunya kediaman yang menyala terang karena menggunakan bohlam emergency.

“Bu Ram … Bu ….” Andre memanggil pemilik rumah sambil mengetuk pintu.

Terdengar suara sahutan dari dalam, pintu dibuka sebagian dan tampak pemilik rumah menggelung rambutnya asal.

Pakaian tidur tipis menerawang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh, dan juga anggota tubuh di balik pakaian itu dengan jelas. Dada membusung tanpa pengaman, juga mengenakan pakaian dalam yang dikenal model g-string. Membuat Andre menelan ludahnya dan tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana.

“Heh, Andre! Mau apa kamu ke rumah saya?” tanya Bu Ram alias Bu Ramli sambil melotot.

“Ma-maaf Bu Ram. Saya mau nyewa kontrakan, kalo ga salah kemaren saya liat ada yang kosong,” jawab Andre sambil menundukkan kepalanya.

“Ga ada yang kosong. Baru diisi tadi sore, kalo kamu mau … kios di depan sebelum masuk gang kosong. Aku kasih murah,” sahut Bu Ram ketus.

Ingin rasanya dia menolak, kios itu kosong sudah lima tahun. Penyewa terakhir dibunuh oleh sekelompok orang misterius, lelaki itu bergidik ngeri. Namun, dia tidak punya pilihan lain, karena sebenarnya tempat itu cukup strategis untuk berjualan bakso tanpa harus lelah berkeliling.

“Gapapa lah, Bu. Berapa sewanya? Saya cuma bisa bayar 300 ribu, sisanya buat modal jualan, Bu,” lontar Andre.

Bu Ram setuju dengan harga sewa yang diajukan Andre, lalu memberi kunci kios tersebut. Lelaki itu menggunakan uang sewa rumah sebelumnya, dan menyisakan setengahnya. Tidak termasuk uang penjualan hari ini.

“Itu ga termasuk listrik sama perbaikan. Kalo ada yang rusak dikit, betulin aja sendiri,” pungkas Bu Ram sambil menutup pintu dengan wajah masam.

Andre menuju kios tersebut, tepat ketika membuka rolling door, aroma pengap, bau debu dan aroma tidak sedap menguar. Listrik kembali menyala terang, Andre masuk ke dalam kamar yang berdebu dan penuh sarang laba-laba.

Usai membereskan selama dua jam, kini kios tersebut tampak bersih meski belum sepenuhnya. Andre membersihkan area kamar terlebih dahulu, agar bisa beristirahat.

Lelaki itu mengibaskan kasur tipis sambil membuka jendela. Sebuah benda jatuh dari arah dalam kasur yang tamak dilubangi dengan tergesa.

“Kalung? Unik banget, kayak jawara jaman dulu,” gumam Andre sambil memungut sebuah kalung tali hitam dengan kain kotak hitam sebagai liontin, menyatu dengan kalung.

”Loh, kok mendadak ada aroma aneh? Perasaan tadi gak gini.” Andre mengendus udara mencari sumber aroma tersebut.

Ketika melewati cermin, Andre memakai kalung tersebut sambil tersenyum. Namun, perlahan senyum sirna ketika dia menyadari sesuatu pada cermin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemikat Para Gadis Desa   139

    Tangannya memeluk punggung Andre, kuku-kukunya menekan kulit.Andre merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, hingga pernikahan dengan Rumala dan berbagi kehangatan dengan wanita lain, tidak ada yang masih perawan.Lelaki itu menggerakkan pinggang lebih dalam sedikit, mengubah sudut. Mayang tersentak, desahan menjadi lebih nyaring. “Ngghh … kamu sempit, ahh … enak,” racau Andre.“Aaah, lebih dalam lagi, Mas. Agak cepat, enak banget,” balas Mayang.“Kamu basah banget, sayang,” bisik Andre di telinga Mayang, suaranya serak oleh gairah. “Abis punya kamu enak, gede, berotot. Aaah, enak banget,” sahut Mayang.Andre mempercepat gerakan pinggulnya sedikit, tetapi tetap lembut. Setiap hentakan diiringi suara basah yang pelan dan desahan Mayang yang terus menerus. Andre menurunkan kepala, menghisap payudara Mayang lagi sambil terus bergerak. Mayang membusungkan dada, kaki-kakinya melingkar di pinggang Andre, menariknya lebih dalam.“Mas … lebih dalam, ssssh … ahh … ahh …,

  • Pemikat Para Gadis Desa   138

    “Kamu mau rasa geli tapi enak?” tanya Andre.Mayang mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Andre menunduk, mengecup paha dalam Mayang, naik perlahan ke pusat kehangatannya. Lidahnya menyentuh celah yang sudah basah.Mayang tersentak, pinggangnya terangkat.“Ahhh … Mas, itu geli, tapi … enak,” racau Mayang, lalu memggigit bibirnya.Andre tersenyum di antara paha istrinya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas, fokus di titik yang membuat Mayang menggeliat hebat. Lidahnya bergerak memutar, lalu menghisap lembut. Mayang merintih, jarinya mencengkeram rambut Andre, lalu menekan kepala suaminya.“Ngghh … ahh … ahh … Mas. Jangan berhenti, enak banget,” ucap Mayang, suaranya sudah tidak stabil.Desahan keluar terus-menerus, semakin keras. Andre memasukkan satu jari dengan sangat hati-hati, merasakan betapa ketatnya kawah milik Mayang.Mayang mengerang, tubuhnya menegang.“Ssssh.” Mayang mendesis bak ular.“Sakit?” tanya Andre, menghentikan gerakan sejenak.“Sa-sakit,” jawab Mayang, napasn

  • Pemikat Para Gadis Desa   137

    Beberapa minggu setelah peristiwa di bukit, Andre bersama Chef Aris yang diminta sebagai wakil orang tua, Fian dan seluruh karyawannya membawa seserahan, termasuk Maman dan Sadri turut serta, iring- iringan itu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Mayang, dengan maksud melamar putri tunggal mereka.Meski kekayaannya saat ini belum sepadan dengan kemewahan keluarga Mayang, kedua orang tua Mayang menyambutnya dengan sangat hangat, setelah melihat potensi besar bisnis kuliner dan rempah Nusantara yang dikembangkannya."Kami tidak hanya melihat harta yang kamu miliki hari ini, Andre, tapi kami melihat niat tulus dan potensi besar di dalam dirimu untuk menjaga putri kami," sahut ayah Mayang sambil menjabat erat tangan Andre.“Benar, lagipula … bisnis sudah mulai merambah ke internasional, setidaknya Mayang gak kelaparan,” timpak ibunya Mayang.Pesona dan aura yang terpancar dari Andre, terasa begitu menyenangkan dan tidak bisa ditolak.Peleburan energi pengasihan kalung Bumi Swarga,

  • Pemikat Para Gadis Desa   136

    Andre terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi dahinya.Pria itu terduduk di tepi tempat tidur, meraba kalung Bumi Swarga yang mengantung di dadanya, kini memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih hangat dan menenangkan ketimbang biasanya."Sudah waktunya ... leluhurku harus kembali dengan tenang, kadian terkurung begini," bisik Andre pada dirinya sendiri.Andre menggenggam erat liontin tersebut, teringat wajah Ki Jaga dan beberapa pengawal bayangan. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, tetapi … mereka juga tidak seharusnya hidup di zaman yang tidak seharusnya. “Ki Jaga, semua pengawal … terima kasih sudah melindungiku selama ini. Semoga kalian pergi dengan tenang, aku gak akan melupakan kalian,” ucap Andre lirih.Begitu fajar menyingsing, Andre langsung meluncur menuju apartemen Mayang, untuk memberitahukan segalanya.Pria itu tidak ingin ada lagi rahasia di antara mereka, khawatir Mayang salah paham.Andre pamit kepada Mayang sebelum

  • Pemikat Para Gadis Desa   135

    Malam itu, usai membereskan segala urusan tambak bersama Raka, Andre kembali melaju menembus pekatnya jalanan menuju pusat kota.Rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, membuat pria itu langsung terlelap begitu merebahkan diri di atas tempat tidur kamarnya."Andre ... kemarilah, wahai keturunanku," panggil Pangeran Narendra.Sebuah suara berwibawa yang menggema lembut di dalam alam bawah sadar Andre, merasuk ke dalam lautan mimpi.Begitu Andre membuka mata di alam mimpinya, lelaki itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput luas yang diselimuti kabut tipis keemasan, menghadap sosok Pangeran Narendra yang berdiri gagah dengan jubah kebesarannya. "Pangeran Narendra ... apakah ini benar-benar Anda yang memanggil saya malam ini?" tanyak Andre sambil menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.Pangeran Narendra tersenyum hangat, menatap Andre dengan tatapan mata yang memancarkan rasa bangga. "Aku, Ki Jaga, serta seluruh pasukan dari zamanku, akhirnya sebentar lagi bisa

  • Pemikat Para Gadis Desa   134

    “Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status