INICIAR SESIÓN“Halah kebanyakan omong kamu. Berlutut mengemis? Ngemis uang apa ngemis cinta? Siapa juga yang doyan ama tukang bakso? Modal tampang juga ga seberapa, duit yang penting jaman sekarang!” seru sepupu Raka menghina.
“Iya, dikira kenyang makan muka doang. Tuh buktinya istrinya selingkuh, belagu amat pake sumpah segala,” timpal janda muda yang seksi dan terkenal di desa itu.
“Cih, pergi sana. Bawa gerobak bututmu itu!” sergah Yudha sambil meludah.
Gerimis mulai datang, Andre memungut semua barang-barang miliknya yang dilempar begitu saja di halaman. Usai menyimpan ke dalam gerobak, lelaki itu mendorong gerobaknya diiringi sorakan yang menghina atas sumpah dan juga kemiskinannya.
Tangannya menggenggam erat kayu pegangan gerobaknya dan mendorongnya dengan penuh rasa dendam dan sakit hati mendalam.
Hujan deras datang, dia tetap mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu dan berencana menuju pinggiran desa. Tidak peduli tubuh basah kuyup, lelaki itu mendorong gerobaknya. Sesekali suara gemeretak gigi terdengar, ketika angin bertiup kencang dan membuatnya kedinginan. Rasa sakit karena kehilangan segalanya, istri, tempat tinggal dan juga harga dirinya yang diinjak-injak, membuat Andre bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya harus sukses.
“Kayaknya kalo ujung desa kejauhan. Di sana juga ga begitu banyak pembeli, kayaknya aku ngontrak ke tempat Bu Ram aja lah, toh harga sewanya sama,” gumam Andre.
Petir kembali menggelegar, hujan semakin deras saja. Andre mempercepat langkah mencari tempat berteduh, satu-satunya tempat adalah sebuah rumah kosong yang dianggap angker. Pohon angsana dengan batang besar berdiri kokoh di sana, sudah enam warga yang mati bunuh diri di sana.
Banyak warga yang melihat penampakan orang gantung diri di sana dan berteriak minta tolong. Suasana semakin seram karena listrik padam, sehingga lampu jalan yang biasa menerangi, mati total.
“Haih, cuma ini satu-satunya tempat berteduh,” gerutu Andre kesal.
Andre mendorong gerobaknya hingga ke teras, agar tidak basah. Kayu gerobaknya bus lapuk lebih cepat jika terus terkena air, Andre menghela napas panjang, duduk di lantai berdebu dengan meletakkan tangan di lututnya.
“Udah kena musibah istri selingkuh, dimaki, diejek. Eh … malah ujan, sekarang berteduh di rumah banyak setannya.” Andre menatap langit yang sesekali mengeluarkan cahaya petir.
“Dah lah, mending aku ganti baju. Kalo masuk angin ga bisa jualan,” cakap Andre.
Menggunakan senter ponsel tuanya, Andre berhasil memilih pakaian kering yang akan dia kenakan. Ketika akan mengganti pakaian di teras, lelaki itu mengurungkan niatnya.
“Kalo tiba-tiba lampu nyala pas aku ganti baju kan gawat, bisa disangka gila aku,” kata Andre kepada dirinya.
Lelaki itu memberanikan diri masuk, karena pintu utama setengah terbuka. Andre masuk dan mengganti pakaian, ketika selesai mengenakan celana, dia mendengar suara berbisik dan desahan.
‘Aneh, masa rumah serem begini ada suara begitu? Jangan-jangan memang ada yang mesum,’ pikir Andre.
“Aaah, masukin semua. Enak banget,” ucap wanita itu, tetapi cukup bisa didengar oleh Andre.
“Goyangan Tante enak banget, nih aku masukin semua,” balas lelaki itu dengan suara bergetar.
“Bukannya itu suara Bu Seruni? Mertuaku selingkuh sama Nandar? Itu kan tunangan adik Rumala,” gumam Andre.
Derasnya hujan menenggelamkan suara racauan mereka berdua, yang cukup menggema. Lelaki itu berpikir, toh dia akan bercerai dengan Rumala, untuk apa ikut campur? Tidak ada alasan baginya untuk mencegah perbuatan melanggar norma tersebut.
Andre merasa risih, lalu dengan langkah tergesa memutuskan untuk pergi dari sana, lalu menyalakan senternya menuju pintu utama.
Meski Andre menutupi terangnya cahaya senter ponselnya, tetapi cukup untuk memberitahu bahwa ada orang lain selain sepasang manusia yang sedang mengejar hasrat tersebut.
“Hei, siapa itu? Ga tau aturan ngintip!” sergah lelaki muda tersebut.
“Diam di situ!” hardik Seruni.
“Aduh gawat ….pake acara ketauan segala.” Andre diam mematung di tempatnya.
Tidak sampai lima menit, sepasang manusia yang hasratnya tidak selesai itu berdiri di depan Andre, dengan wajah memerah tentunya.
“Kirain siapa, taunya si mantu miskin ga tau diri yang ngintip,” ejek Seruni.
“Bu, saya ga ngintip. Kebetulan neduh di sini,” balas Andre sopan.
“Mau peras aku? Mimpi aja sana! Awas aja kalo kamu berani ngadu, kamu tau sendiri akibatnya,” ancam Seruni.
Andre malas meladeni ocehan ibu mertuanya, dia berdiri di teras dan menatap langit. Hujan tidak lagi terlalu deras, hanya rinai saja.
Lelaki itu bergegas menuju bagian bawah pohon, lalu membawa gerobaknya pergi dari sana.
“Orang kaya memang aneh, dia yang ketauan zina, malah aku yang diancam,” gerutu Andre sambil berlalu.
Aliran listrik masih padam, berbekal dari senter ponselnya Andre menyusuri jalan sepi dan sedikit becek. Menuju gang yang dia tuju dengan mengambil jalan pintas.
Andre kini sudah berada di sebuah bangunan yang paling besar di sekitarnya, meski sebuah gang, tetapi jalan utamanya sekitar empat meter. Satu-satunya kediaman yang menyala terang karena menggunakan bohlam emergency.
“Bu Ram … Bu ….” Andre memanggil pemilik rumah sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara sahutan dari dalam, pintu dibuka sebagian dan tampak pemilik rumah menggelung rambutnya asal.
Pakaian tidur tipis menerawang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh, dan juga anggota tubuh di balik pakaian itu dengan jelas. Dada membusung tanpa pengaman, juga mengenakan pakaian dalam yang dikenal model g-string. Membuat Andre menelan ludahnya dan tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana.
“Heh, Andre! Mau apa kamu ke rumah saya?” tanya Bu Ram alias Bu Ramli sambil melotot.
“Ma-maaf Bu Ram. Saya mau nyewa kontrakan, kalo ga salah kemaren saya liat ada yang kosong,” jawab Andre sambil menundukkan kepalanya.
“Ga ada yang kosong. Baru diisi tadi sore, kalo kamu mau … kios di depan sebelum masuk gang kosong. Aku kasih murah,” sahut Bu Ram ketus.
Ingin rasanya dia menolak, kios itu kosong sudah lima tahun. Penyewa terakhir dibunuh oleh sekelompok orang misterius, lelaki itu bergidik ngeri. Namun, dia tidak punya pilihan lain, karena sebenarnya tempat itu cukup strategis untuk berjualan bakso tanpa harus lelah berkeliling.
“Gapapa lah, Bu. Berapa sewanya? Saya cuma bisa bayar 300 ribu, sisanya buat modal jualan, Bu,” lontar Andre.
Bu Ram setuju dengan harga sewa yang diajukan Andre, lalu memberi kunci kios tersebut. Lelaki itu menggunakan uang sewa rumah sebelumnya, dan menyisakan setengahnya. Tidak termasuk uang penjualan hari ini.
“Itu ga termasuk listrik sama perbaikan. Kalo ada yang rusak dikit, betulin aja sendiri,” pungkas Bu Ram sambil menutup pintu dengan wajah masam.
Andre menuju kios tersebut, tepat ketika membuka rolling door, aroma pengap, bau debu dan aroma tidak sedap menguar. Listrik kembali menyala terang, Andre masuk ke dalam kamar yang berdebu dan penuh sarang laba-laba.
Usai membereskan selama dua jam, kini kios tersebut tampak bersih meski belum sepenuhnya. Andre membersihkan area kamar terlebih dahulu, agar bisa beristirahat.
Lelaki itu mengibaskan kasur tipis sambil membuka jendela. Sebuah benda jatuh dari arah dalam kasur yang tamak dilubangi dengan tergesa.
“Kalung? Unik banget, kayak jawara jaman dulu,” gumam Andre sambil memungut sebuah kalung tali hitam dengan kain kotak hitam sebagai liontin, menyatu dengan kalung.
”Loh, kok mendadak ada aroma aneh? Perasaan tadi gak gini.” Andre mengendus udara mencari sumber aroma tersebut.
Ketika melewati cermin, Andre memakai kalung tersebut sambil tersenyum. Namun, perlahan senyum sirna ketika dia menyadari sesuatu pada cermin.
"Perbedaan kasta di antara kami begitu tinggi, kayak tembok raksasa," sambung Mayang dengan suara yang bergetar halus. "Keluargaku yang bergerak di industri properti raksasa tentu punya ekspektasi tinggi. Aku tahu, kalo aku maksakl perasaanku, keluargaku pasti merendahkan pria itu, menginjak-injak harga dirinya, atau bahkan menghancurkan usahanya yang baru merintis.""Jadi ... apa yang kamu lakukan waktu itu?" tanya Andre, merasa penasaran dengan kisah Mayang."Aku milih mencintainya dalam diam," tutur Mayang.Wanita itu menatap mata Andre dengan tatapan yang amat dalam, pandangan yang menyimpan ribuan kata yang tidak sanggup diucapkannya secara jujur."Aku menahan seluruh rasa ini di dalam dada. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, membantunya secara senyap tiap kali dia butuh dorongan, dan melempar senyum seolah aku ini cuma teman bisnis yang baik," lanjut Mayang dengan air mata yang menetes pelan di pipinya."Lalu, bagaimana nasib pria itu sekarang?" tanya Andre lagi, tanpa men
Malam itu Andre merasa sedih, menyimpan rasa sakit hatinya dalam diam.Sejak hari itu, Andre fokus ke bisnis Bakso Rempah Swarga. Mengawasi arus keuangan, belanja pasokan rempah dan rutin memeriksa rasa apakah ada yang berubah atau tidak.Itu dia lakukan untuk usaha yang di desa, luka di hatinya ditutupi dan tidak meratapi nasib.‘Masa lalu untuk dikenang, diceritakan atau tidak, itu keputusan hati,’ pikir Andre saat itu. Rutinitas setiap harinya, mulai dari fajar hingga larut malam, Andre terus memantau dapur, memperbaiki sistem pelayanan, serta memperluas jaringan distribusi bahan baku bersama tim bentukan Chef Aris.Sikap Andre berubah menjadi dingin terhadap wanita, termasuk Bu Ram dan Bu Citra yang kerap mencarinya.Wanita yang terpesona dengan Andre semakin banyak saja jumlahnya, tetapi karena sikap dinginnya, beberapa mundur“Tuan muda, apakah ada yang pergerakan yang mencurigakan?” tanya Ki Jaga.“Tidak ada, Ki. Sekilas ini buat aku jadi lega, tapi … ini terlalu tenang. Pasti
Di teras samping rumah, Melinda sedang duduk sendirian menatap gaun pengantin putih yang tergantung di kapstok.Wajahnya pucat pasi, dan matanya sembab memerah bekas menangis sepanjang malam.Saat mendengar suara lelaki kaki yang familiar, Melinda mendongak. Matanya membelalak lebar melihat Andre berdiri tegap di hadapannya dengan tatapan mata yang dingin dan hati yang terluka."Mas ... Andre," bisik Melinda gagap.“Maaf, Mas. Aku ga tepati janji.”Air mata Melinda seketika menetes membasahi pipinya.Andre hanya berdiri tegak, merapikan kemejanya dan menyunggingkan senyum tipis, senyum paling pahit penuh kehancuran, yang pernah dia berikan kepada Melinda sepanjang hidupnya."Selamat ya, Melinda," ujar Andre dengan suara sedih yang tertahan. "Aku dengar kabar bahagianya dari warga. Selamat atas pernikahanmu yang akan diadakan lusa nanti dengan Dokter Bayu."Melinda beranjak dari kursinya, melangkah cepat mendekati Andre dengan jemari gemetaran. "Mas Andre, aku mohon dengarkan aku dul
Tanpa terasa tiga bulan berlalu, usaha Bakso Rempah Bumi Swarga, baik di ruko jalan utama desa maupun di gedung tiga lantai pusat Kota, berkembang pesat luar biasa. Menajemen keuangan dan operasional diatur secara profesional, sehingga semua perhitungan dan juga arah usaha semakin matang dan matang, tertata rapi membuat keuntungannya terus melimpah. Namun, di tengah kesuksesan finansial dan ketenangan dari kejaran musuh yang memilih menahan diri, hati Andre justru dihinggapi rasa hampa yang makin menyiksa.“Udah lebih dua bulan Melinda ga balas pesan aku, apa dia baik-baik aja? Mungkin lagi sibuk,” gumam Andre.Kota dengan segala hiruk pikuknya malah membuat Andre merasa sunyi di hatinya. Bayangan wajah Melinda yang lembut, senyum tulusnya ketika di tepi danau desa, serta aroma angin sore di kampung halaman terus menari-nari di dalam ingatan Andre.Kerinduan yang sudah tidak tertahankan itu mendorong Andre mengambil keputusan untuk kembali ke desa beberapa hari itu juga, menitipkan
Malam pun larut, jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika pengunjung terakhir selesai menikmati hidangan dan melangkah keluar dari ruko. Lampu-lampu jalan di luar mulai menyala terang, memantulkan bayangan gedung tiga lantai yang megah itu.Setelah Mayang, Bu Ram, Chef Aris, pamit pulang lebih awal.Saat Andre baru saja memutar kunci pintu utama dan hendak mematikan lampu teras luar, tiga pasang langkah kaki berat terdengar berderap mendekat dari arah trotoar yang remang-remang.Tiga orang pria tinggi tegap berpakaian jubah kulit hitam berdiri melingkari teras ruko Andre.Pria yang berdiri di tengah memiliki bekas luka bakar memanjang dari pelipis hingga lehernya."Maaf, tempat kami sudah tutup untuk hari ini. Silakan kembali besok pagi," kata Andre sopan.Andre berdiri tegap menatap ketiga pria asing tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun.Pria berbekas luka bakar itu melangkah satu tapak ke depan. Tatapan matanya tajam bak belati, menatap lurus ke arah Andre dengan nada suara ya
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kawasan ruko utara pusat kota yang biasanya dipadati lalu lintas kendaraan, mendadak dipenuhi oleh deretan papan bunga ucapan selamat yang berada di sepanjang trotoar. Di depan ruko tiga lantai yang berdiri megah, spanduk memajang nama tempat usaha Andre secara terang-terangan Bakso Rempah Swarga.“Tuan muda, apa sebaiknya dilakukan ganti saja namanya. Ini membahayakan Anda,” usul Ki Jaga.“Ki Jaga, hidup mati ada di tangan Tuhan. Usahaku terkenal karena resep ini, maka aku harus tau diri untuk menyertakan dari mana resep ini berasal,” tolak Andre halus.Meskipun Ki Jaga sudah berkali-kali memperingatkan, bahwa menggunakan nama itu sama saja dengan menabuh genderang perang bagi para pemburu dari Kerajaan Durji, Andre sama sekali tidak gentar.Andre dengan tegas menolak mengganti nama atau bersembunyi di balik identitas palsu. Bagi Andre, nama itu bukan cuma merek dagang, melainkan lambang kehormatan, identitas, dan tempatnya berpijak.Jika mus







