مشاركة

3

مؤلف: Dao Yue
last update تاريخ النشر: 2026-07-15 18:46:00

Apa yang dilihat Andre membuatnya mengucek matanya dua kali. Pantulan wajahnya di cermin seperti bukan dirinya, kulitnya tampak cerah, wajah yang biasanya kusam dan lelah tidak tampak sama sekali. Ketampanannya tampak begitu menonjol, bahkan dia merasakan getaran aneh pada tubuhnya.

Indera penciumannya menangkap aroma rempah sederhana, tetapi terasa begitu nikmat. Padahal, tidak ada yang memasak di malam gelap seperti ini. Andre meraba wajahnya, dia bisa merasakan tangan kasarnya yang kapalan menyentuh wajahnya.

“Aku gak tau kalo aku bisa seganteng ini. Ah … ini karena aku halu, kecapean. Mending tidur mumpung dingin.” Andre menutup pintu kios usai memasukkan gerobaknya.

Tidak butuh waktu lama bagi Andre untuk terlelap, bukan tidak memikirkan nasib, tetapi dia merasa begitu mengantuk dan tidak bisa melawannya. Tubuh lelaki itu terlelap di tumpukan pakaian pemilik sebelumnya.

Perlahan tubuhnya terjadi perubahan menyeluruh, kulitnya menjadi lebih terang. Tidak gelap seperti biasanya, napas lelaki itu terengah dengan mata terpejam. Terseret dalam sebuah mimpi yang seolah-olah nyata.

“Kamu … siapa?” tanya Andre.

“Ratusan tahun aku menunggu, akhirnya menemukan orang tepat. Lelaki yang terluka karena pengkhianatan yang sama denganku.”

“Di dalam kalung itu aku menuangkan semua ilmu pengasihan dan rasa milikku. Nama kalung itu Bumi Swarga, itu akan membuat wanita manapun menyerahkan dirinya secara sukarela tanpa kau memintanya, juga di dalamnya ada resep luar biasa untuk makanan para raja terdahulu,” terang lelaki berpakaian bangsawan jaman dulu.

“Bumi Swarga? Pengasihan? Rasa? Maksudnya?” tanya Andre lagi alih-alih menjawab.

Bukannya menjawab, lelaki itu menempelkan jari telunjuknya ke dahi Andre. Suara dengungan ribuan lebah terdengar jelas, aroma masakan, rempah, bisa dirasakan. Lelaki itu merasakan ada getaran dan sensasi yang pada aliran darah dan juga tubuhnya. Dadanya terasa begitu sesak dan sulit bernapas, otaknya serasa akan meledak, dia memejamkan matanya.

Tepat saat lelaki itu menarik jari telunjuknya, Andre tersentak dan membuka matanya dengan napas terengah. Kemudian menatap keadaan sekeliling, tidak ada siapapun di sana selain dirinya yang terengah.

Andre tidak bisa tidur, lelaki itu memilih membersihkan kiosnya secara menyeluruh agar bersih. Tanpa terasa subuh menjelang, Andre memilih untuk ke pasar untuk membeli bahan baksonya.

“Seperapat kilo aja dagingnya? Biasa beli setengah kilo, Ndre. Trus tumben beli tulang iga sama lemak lebih banyak,” kata pemilik kios langganan Andre, lalu menyerahkan kantong plastik dan menyebutkan harga pesanannya.

“Lagi ada masalah, Pak Jaya. Jadi harus irit,” sahut Andre sambil membayar.

Andre kemudian meninggalkan lapak penjual daging usai mengucapkan terima kasih.

“Andre!” panggil Jaya lagi.

“Iya, Pak? Kurang uangnya?” tanya Andre sambil mendekat.

“Bukan. Ini … kamu ambil aja sisa potongan kaki sapi ini. Eh … bagus kalung kamu, dapet dari mana?” tanya Jaya dengan wajah penasaran.

“Bagus dari mana? Keliatan jadul gini,” jawab Andre sekenanya.

“Hmmm, dijual gak? Tuker sama toko di depan sana, sekalian aku isi deh sama perlengkapan toko plus mobil pick up satu,” tawar Jaya.

“Ada-ada aja Pak Jaya. Saya beli bumbu dulu, Pak,” balas Andre.

“Serius ini, Ndre. Kalo mau jual, kasih tau!” seru Jaya.

“Siap,” sahut Andre.

Andre kemudian membeli beberapa bumbu rempah, yang dia ingat dari aroma yang dia cium tadi malam. Penjual yang biasanya ketus, kini begitu ramah kepadanya, bahkan memberi potongan harga.

Beberapa pengunjung pasar bahkan sengaja menabrak dirinya ketika berpapasan, bahkan bersikap genit.

‘Kenapa orang di pasar pada aneh? Apa mimpi itu beneran? Efek kalung ini sehebat itu? Ga mungkin, ini cuma kebetulan aja,’ pikir Andre.

Andre menjalani aktivitasnya seperti biasa, meracik bumbu dan kuah bakso yang kaya rasa akan rempah. Kemudian dengan gesit memotong daging yang dia beli dan menggilingnya dengan alat sederhana miliknya. 

Aroma nikmat menguar, Andre menata mangkuk di gerobaknya dan menyusun bakso yang sudah dia masak dan menata beberapa pelengkap lainnya.

“Mandi dulu lah, biar ga bau,” gumam Andre.

Sepuluh menit kemudian dia sudah duduk di samping gerobaknya dan mulai memukul mangkuk baksonya dengan sendok. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.

“Loh, sekarang mangkal di sini?” tanya seorang ibu langganan Andre.

“Iya, Bu. Sekarang saya tinggal di sini,” jawab Andre ramah.

“Oh iya. Kamu kan diusir kemaren, pesen dua mangkok. Kayak biasa, ya,” kata pembeli tersebut.

Andre kemudian membuat pesanan dengan cepat, lalu menyerahkan kepada pembelinya.

“Waah, lebih wangi. Kayaknya enak nih.” Wanita itu menyerahkan sejumlah uang kepada Andre.

“Pake resep baru,” tukas Andre.

Tidak lama kemudian beberapa orang yang lewat berhenti, dan membeli bakso Andre. Lelaki itu tampak begitu sibuk, dan dalam waktu empat puluh menit tersisa dua porsi lagi.

Bu Ram datang dan melihat kios yang ditempati Andre, wajahnya tampak masam dan menatap sinis kepada Andre. Seolah-olah memiliki dendam yang sudah lama saja.

“Udah abis?” tanya Bu Ram datar.

“Masih ada dua porsi lagi, Bu Ram. Tapi yang saya jual satu aja, soalnya saya belum makan,” jawab Andre sopan.

“Ya udah, bungkus aja buat saya dua porsi,” cetus Bu Ram.

Andre mengalah dan menyiapkan pesanan, kemudian menyerahkan sambil tersenyum.

Bu Ram membayar dan berlalu begitu saja, Andre menghela napas dan memasukkan gerobaknya ke dalam kios.

Andre kemudian memilih untuk ke pasar, membeli beberapa tikar dan juga kayu untuk membuat meja kecil. Hal ini dia lakukan karena banyak pembeli yang menyarankan agar bisa makan di tempat saja.

‘Untuk sementara lesehan aja dulu, nanti kalo udah maju baru bikin meja sama kursi. Aku juga harus nambah daging buat besok,’ batin Andre usai menghubungi ojek langganannya.

Kini Andre sudah berada di pasar, dia memilih makan siang sebelum membeli perlengkapan yang dia butuhkan. Ketika melewati toko yang mulai sepi, Andre mendengar teriakan seorang wanita.

Lelaki itu menyendengkan telinganya, dan mencari sumber suara.

“Jangan teriak, atau aku bakal nekat,” ancam lelaki itu.

Seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tahun tampak ketakutan, tubuhnya didorong ke dinding kios di dekat pasar ikan yang sudah sepi tidak ada penjual.

Lelaki itu membuka tampak terburu-buru menurunkan resleting celananya, sementara tangan yang lainnya menarik paksa rok gadis itu hingga terkoyak. 

“Arini? Hei, ngapain kalian? Lepaskan dia!” sergah Andre dengan berani.

Sontak saja lelaki tersebut terkejut dan menoleh ke arah sumber suara, melihat ada kesempatan, gadis tersebut meronta melepaskan diri dan segera berlari meninggalkan lelaki yang mengancamnya. Kemudian memeluk Andre ketakutan.

“Pergi sana, ganggu aja!” seru lelaki tersebut kalap, dan melayangkan bogem mentah ke arah wajah Andre.

Andre mendorong tubuh gadis itu ke samping, hingga tubuhnya tersungkur dan kepalanya terbentur tiang kayu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas, Baksomu Ngangenin   56

    Malam pun larut, jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika pengunjung terakhir selesai menikmati hidangan dan melangkah keluar dari ruko. Lampu-lampu jalan di luar mulai menyala terang, memantulkan bayangan gedung tiga lantai yang megah itu.Setelah Mayang, Bu Ram, Chef Aris, pamit pulang lebih awal.Saat Andre baru saja memutar kunci pintu utama dan hendak mematikan lampu teras luar, tiga pasang langkah kaki berat terdengar berderap mendekat dari arah trotoar yang remang-remang.Tiga orang pria tinggi tegap berpakaian jubah kulit hitam berdiri melingkari teras ruko Andre.Pria yang berdiri di tengah memiliki bekas luka bakar memanjang dari pelipis hingga lehernya."Maaf, tempat kami sudah tutup untuk hari ini. Silakan kembali besok pagi," kata Andre sopan.Andre berdiri tegap menatap ketiga pria asing tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun.Pria berbekas luka bakar itu melangkah satu tapak ke depan. Tatapan matanya tajam bak belati, menatap lurus ke arah Andre dengan nada suara ya

  • Mas, Baksomu Ngangenin   55

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kawasan ruko utara pusat kota yang biasanya dipadati lalu lintas kendaraan, mendadak dipenuhi oleh deretan papan bunga ucapan selamat yang berada di sepanjang trotoar. Di depan ruko tiga lantai yang berdiri megah, spanduk memajang nama tempat usaha Andre secara terang-terangan Bakso Rempah Swarga.“Tuan muda, apa sebaiknya dilakukan ganti saja namanya. Ini membahayakan Anda,” usul Ki Jaga.“Ki Jaga, hidup mati ada di tangan Tuhan. Usahaku terkenal karena resep ini, maka aku harus tau diri untuk menyertakan dari mana resep ini berasal,” tolak Andre halus.Meskipun Ki Jaga sudah berkali-kali memperingatkan, bahwa menggunakan nama itu sama saja dengan menabuh genderang perang bagi para pemburu dari Kerajaan Durji, Andre sama sekali tidak gentar.Andre dengan tegas menolak mengganti nama atau bersembunyi di balik identitas palsu. Bagi Andre, nama itu bukan cuma merek dagang, melainkan lambang kehormatan, identitas, dan tempatnya berpijak.Jika mus

  • Mas, Baksomu Ngangenin   54

    Setelah membungkuk hormat sekali lagi, Ki Jaga melangkah mundur perlahan. Tubuh tua bertongkat kayu itu menyatu dengan kegelapan malam di seberang jalan, hilang tanpa menyisakan jejak langkah sedikitpun sebuah keahlian bergerak cepat yang hanya dimiliki oleh ahli beladiri tingkat tinggi.Andre berdiri sendirian di pelataran rukonya yang lapang. “Gila, ternyata ilmu jaman dulu itu gak bohong. Tau-tau udah ngilang aja itu aki-aki,” gumam Andre.Angin malam kota bertiup pelan, membawa aroma udara perkotaan yang dingin. Namun, di dalam tubuh Andre, aliran energi spiritual mengalir makin deras, menyatu sempurna dengan pusat tenaga dalamnya.Andre mengalihkan pandangannya ke arah toko kosmetik kecil di seberang jalan. Di balik pintu kaca yang tertutup rapat, Rumala tampak sedang duduk sendirian meratapi nasibnya yang malang. Andre merasakan ada yang familiar di seberang sana, lalu menggeleng karena tidak tahu ada apa di sana. Lelaki itu teringat pesan Ki Jaga agar berhati-hati.‘Kenapa a

  • Mas, Baksomu Ngangenin   53

    Ki Jaga menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan beban ribuan tahun yang teramat berat, yang terpaksa dia sebut puluhan tahun agar tidak membingungkan.Lelaki tua itu menatap Andre lekat-lekat, mencoba mencari cara, bagaimana menjelaskan takdir rumit ini tanpa membuat kepala pria muda di hadapannya meledak karena bingung."Tuan Muda tidak perlu punya salah secara pribadi untuk diburu oleh mereka," ucap Ki Jaga dengan suara pelan. "Di mata Kerajaan Durji, fakta bahwa Tuan Muda bernapas, menguasai resep rahasia, dan memiliki kalung pusaka Bumi Swarga … itu sudah cukup menjadi sebuah kesalahan fatal yang harus dimusnahkan."Andre memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Informasi yang baru saja dilontarkan Ki Jaga terasa seperti hantaman besi di dadanya.Dari seorang pedagang bakso yang berjuang dari bawah di desa, kini mendadak diseret ke dalam sejarah kelam pertumpahan darah raja-raja masa lalu."Tunggu dulu, Ki," potong Andre, mencoba mencerna alur berpikir pria tua

  • Mas, Baksomu Ngangenin   52

    Pria tua bertongkat naga itu gemetaran hebat. Matanya yang membendung air mata menatap lekat-lekat garis rahang Andre, seolah memutar kembali memori puluhan tahun silam yang hilang."Benar ... tidak salah lagi. Garis mata ini, dan getaran energi spiritual dari pusaka di dalam baju itu," bisik pria tua itu dengan suara parau yang sarat akan kerinduan mendalam.Andre mengerutkan dahi, melangkah mundur setengah langkah sambil memegang bagian dadanya tempat kalung pusaka Bumi Swarga berada. Rasa asing sekaligus familiar mendadak memenuhi tubuh dan juga pikirannya."Maaf, Pak. Anda salah orang. Nama saya Andre, bukan Narendra," tegas Andre dengan nada suara yang tetap tenang.Pria tua itu menggelengkan kepala dengan cepat, menolak mentah-mentah penyangkalan Andre.Lelaki itu bertumpu pada tongkat kayunya, lalu secara mengejutkan membungkukkan badan sangat dalam di hadapan Andre, sebuah penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada seorang penguasa."Nama hamba Ki Jagasekala, Tuan Muda

  • Mas, Baksomu Ngangenin   51

    Proses penandatanganan akta jual beli ruko tiga lantai di pusat Kota berlangsung cepat dan mulus. Berkat bantuan perusahaan milik keluarga Mayang, seluruh dokumen kepemilikan bangunan strategis di kawasan utara kota itu resmi beralih atas nama Andre. Dengan dana tunai hasil keuntungan Ruko jalan utama dan uang ganti rugi dari Kalingga, Andre melunasi gedung tersebut tanpa perlu berutang sepeser pun ke bank.Satu minggu berselang, aroma cat baru dan wangi rempah segar memenuhi lantai dasar ruko tiga lantai tersebut. Andre memilih mengadakan acara syukuran secara sederhana namun hangat untuk menandai dimulainya babak baru Bakso Rempah Bumi Swarga di pusat Kota.Di dalam ruangan yang telah ditata rapi, hadir orang-orang terdekat yang selama ini menjadi pilar perjalanannya. Mayang tampil sangat anggun dengan gaun elegan, berdiri berdampingan dengan Chef Aris yang mengenakan kemeja batik modern. Bu Ram hadir membawa karangan bunga besar, mengobrol akrab dengan Bu Citra dan Airin yang tam

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status