LOGINApa yang dilihat Andre membuatnya mengucek matanya dua kali. Pantulan wajahnya di cermin seperti bukan dirinya, kulitnya tampak cerah, wajah yang biasanya kusam dan lelah tidak tampak sama sekali. Ketampanannya tampak begitu menonjol, bahkan dia merasakan getaran aneh pada tubuhnya.
Indera penciumannya menangkap aroma rempah sederhana, tetapi terasa begitu nikmat. Padahal, tidak ada yang memasak di malam gelap seperti ini. Andre meraba wajahnya, dia bisa merasakan tangan kasarnya yang kapalan menyentuh wajahnya.
“Aku gak tau kalo aku bisa seganteng ini. Ah … ini karena aku halu, kecapean. Mending tidur mumpung dingin.” Andre menutup pintu kios usai memasukkan gerobaknya.
Tidak butuh waktu lama bagi Andre untuk terlelap, bukan tidak memikirkan nasib, tetapi dia merasa begitu mengantuk dan tidak bisa melawannya. Tubuh lelaki itu terlelap di tumpukan pakaian pemilik sebelumnya.
Perlahan tubuhnya terjadi perubahan menyeluruh, kulitnya menjadi lebih terang. Tidak gelap seperti biasanya, napas lelaki itu terengah dengan mata terpejam. Terseret dalam sebuah mimpi yang seolah-olah nyata.
“Kamu … siapa?” tanya Andre.
“Ratusan tahun aku menunggu, akhirnya menemukan orang tepat. Lelaki yang terluka karena pengkhianatan yang sama denganku.”
“Di dalam kalung itu aku menuangkan semua ilmu pengasihan dan rasa milikku. Nama kalung itu Bumi Swarga, itu akan membuat wanita manapun menyerahkan dirinya secara sukarela tanpa kau memintanya, juga di dalamnya ada resep luar biasa untuk makanan para raja terdahulu,” terang lelaki berpakaian bangsawan jaman dulu.
“Bumi Swarga? Pengasihan? Rasa? Maksudnya?” tanya Andre lagi alih-alih menjawab.
Bukannya menjawab, lelaki itu menempelkan jari telunjuknya ke dahi Andre. Suara dengungan ribuan lebah terdengar jelas, aroma masakan, rempah, bisa dirasakan. Lelaki itu merasakan ada getaran dan sensasi yang pada aliran darah dan juga tubuhnya. Dadanya terasa begitu sesak dan sulit bernapas, otaknya serasa akan meledak, dia memejamkan matanya.
Tepat saat lelaki itu menarik jari telunjuknya, Andre tersentak dan membuka matanya dengan napas terengah. Kemudian menatap keadaan sekeliling, tidak ada siapapun di sana selain dirinya yang terengah.
Andre tidak bisa tidur, lelaki itu memilih membersihkan kiosnya secara menyeluruh agar bersih. Tanpa terasa subuh menjelang, Andre memilih untuk ke pasar untuk membeli bahan baksonya.
“Seperapat kilo aja dagingnya? Biasa beli setengah kilo, Ndre. Trus tumben beli tulang iga sama lemak lebih banyak,” kata pemilik kios langganan Andre, lalu menyerahkan kantong plastik dan menyebutkan harga pesanannya.
“Lagi ada masalah, Pak Jaya. Jadi harus irit,” sahut Andre sambil membayar.
Andre kemudian meninggalkan lapak penjual daging usai mengucapkan terima kasih.
“Andre!” panggil Jaya lagi.
“Iya, Pak? Kurang uangnya?” tanya Andre sambil mendekat.
“Bukan. Ini … kamu ambil aja sisa potongan kaki sapi ini. Eh … bagus kalung kamu, dapet dari mana?” tanya Jaya dengan wajah penasaran.
“Bagus dari mana? Keliatan jadul gini,” jawab Andre sekenanya.
“Hmmm, dijual gak? Tuker sama toko di depan sana, sekalian aku isi deh sama perlengkapan toko plus mobil pick up satu,” tawar Jaya.
“Ada-ada aja Pak Jaya. Saya beli bumbu dulu, Pak,” balas Andre.
“Serius ini, Ndre. Kalo mau jual, kasih tau!” seru Jaya.
“Siap,” sahut Andre.
Andre kemudian membeli beberapa bumbu rempah, yang dia ingat dari aroma yang dia cium tadi malam. Penjual yang biasanya ketus, kini begitu ramah kepadanya, bahkan memberi potongan harga.
Beberapa pengunjung pasar bahkan sengaja menabrak dirinya ketika berpapasan, bahkan bersikap genit.
‘Kenapa orang di pasar pada aneh? Apa mimpi itu beneran? Efek kalung ini sehebat itu? Ga mungkin, ini cuma kebetulan aja,’ pikir Andre.
Andre menjalani aktivitasnya seperti biasa, meracik bumbu dan kuah bakso yang kaya rasa akan rempah. Kemudian dengan gesit memotong daging yang dia beli dan menggilingnya dengan alat sederhana miliknya.
Aroma nikmat menguar, Andre menata mangkuk di gerobaknya dan menyusun bakso yang sudah dia masak dan menata beberapa pelengkap lainnya.
“Mandi dulu lah, biar ga bau,” gumam Andre.
Sepuluh menit kemudian dia sudah duduk di samping gerobaknya dan mulai memukul mangkuk baksonya dengan sendok. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
“Loh, sekarang mangkal di sini?” tanya seorang ibu langganan Andre.
“Iya, Bu. Sekarang saya tinggal di sini,” jawab Andre ramah.
“Oh iya. Kamu kan diusir kemaren, pesen dua mangkok. Kayak biasa, ya,” kata pembeli tersebut.
Andre kemudian membuat pesanan dengan cepat, lalu menyerahkan kepada pembelinya.
“Waah, lebih wangi. Kayaknya enak nih.” Wanita itu menyerahkan sejumlah uang kepada Andre.
“Pake resep baru,” tukas Andre.
Tidak lama kemudian beberapa orang yang lewat berhenti, dan membeli bakso Andre. Lelaki itu tampak begitu sibuk, dan dalam waktu empat puluh menit tersisa dua porsi lagi.
Bu Ram datang dan melihat kios yang ditempati Andre, wajahnya tampak masam dan menatap sinis kepada Andre. Seolah-olah memiliki dendam yang sudah lama saja.
“Udah abis?” tanya Bu Ram datar.
“Masih ada dua porsi lagi, Bu Ram. Tapi yang saya jual satu aja, soalnya saya belum makan,” jawab Andre sopan.
“Ya udah, bungkus aja buat saya dua porsi,” cetus Bu Ram.
Andre mengalah dan menyiapkan pesanan, kemudian menyerahkan sambil tersenyum.
Bu Ram membayar dan berlalu begitu saja, Andre menghela napas dan memasukkan gerobaknya ke dalam kios.
Andre kemudian memilih untuk ke pasar, membeli beberapa tikar dan juga kayu untuk membuat meja kecil. Hal ini dia lakukan karena banyak pembeli yang menyarankan agar bisa makan di tempat saja.
‘Untuk sementara lesehan aja dulu, nanti kalo udah maju baru bikin meja sama kursi. Aku juga harus nambah daging buat besok,’ batin Andre usai menghubungi ojek langganannya.
Kini Andre sudah berada di pasar, dia memilih makan siang sebelum membeli perlengkapan yang dia butuhkan. Ketika melewati toko yang mulai sepi, Andre mendengar teriakan seorang wanita.
Lelaki itu menyendengkan telinganya, dan mencari sumber suara.
“Jangan teriak, atau aku bakal nekat,” ancam lelaki itu.
Seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tahun tampak ketakutan, tubuhnya didorong ke dinding kios di dekat pasar ikan yang sudah sepi tidak ada penjual.
Lelaki itu membuka tampak terburu-buru menurunkan resleting celananya, sementara tangan yang lainnya menarik paksa rok gadis itu hingga terkoyak.
“Arini? Hei, ngapain kalian? Lepaskan dia!” sergah Andre dengan berani.
Sontak saja lelaki tersebut terkejut dan menoleh ke arah sumber suara, melihat ada kesempatan, gadis tersebut meronta melepaskan diri dan segera berlari meninggalkan lelaki yang mengancamnya. Kemudian memeluk Andre ketakutan.
“Pergi sana, ganggu aja!” seru lelaki tersebut kalap, dan melayangkan bogem mentah ke arah wajah Andre.
Andre mendorong tubuh gadis itu ke samping, hingga tubuhnya tersungkur dan kepalanya terbentur tiang kayu.
Tangannya memeluk punggung Andre, kuku-kukunya menekan kulit.Andre merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, hingga pernikahan dengan Rumala dan berbagi kehangatan dengan wanita lain, tidak ada yang masih perawan.Lelaki itu menggerakkan pinggang lebih dalam sedikit, mengubah sudut. Mayang tersentak, desahan menjadi lebih nyaring. “Ngghh … kamu sempit, ahh … enak,” racau Andre.“Aaah, lebih dalam lagi, Mas. Agak cepat, enak banget,” balas Mayang.“Kamu basah banget, sayang,” bisik Andre di telinga Mayang, suaranya serak oleh gairah. “Abis punya kamu enak, gede, berotot. Aaah, enak banget,” sahut Mayang.Andre mempercepat gerakan pinggulnya sedikit, tetapi tetap lembut. Setiap hentakan diiringi suara basah yang pelan dan desahan Mayang yang terus menerus. Andre menurunkan kepala, menghisap payudara Mayang lagi sambil terus bergerak. Mayang membusungkan dada, kaki-kakinya melingkar di pinggang Andre, menariknya lebih dalam.“Mas … lebih dalam, ssssh … ahh … ahh …,
“Kamu mau rasa geli tapi enak?” tanya Andre.Mayang mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Andre menunduk, mengecup paha dalam Mayang, naik perlahan ke pusat kehangatannya. Lidahnya menyentuh celah yang sudah basah.Mayang tersentak, pinggangnya terangkat.“Ahhh … Mas, itu geli, tapi … enak,” racau Mayang, lalu memggigit bibirnya.Andre tersenyum di antara paha istrinya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas, fokus di titik yang membuat Mayang menggeliat hebat. Lidahnya bergerak memutar, lalu menghisap lembut. Mayang merintih, jarinya mencengkeram rambut Andre, lalu menekan kepala suaminya.“Ngghh … ahh … ahh … Mas. Jangan berhenti, enak banget,” ucap Mayang, suaranya sudah tidak stabil.Desahan keluar terus-menerus, semakin keras. Andre memasukkan satu jari dengan sangat hati-hati, merasakan betapa ketatnya kawah milik Mayang.Mayang mengerang, tubuhnya menegang.“Ssssh.” Mayang mendesis bak ular.“Sakit?” tanya Andre, menghentikan gerakan sejenak.“Sa-sakit,” jawab Mayang, napasn
Beberapa minggu setelah peristiwa di bukit, Andre bersama Chef Aris yang diminta sebagai wakil orang tua, Fian dan seluruh karyawannya membawa seserahan, termasuk Maman dan Sadri turut serta, iring- iringan itu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Mayang, dengan maksud melamar putri tunggal mereka.Meski kekayaannya saat ini belum sepadan dengan kemewahan keluarga Mayang, kedua orang tua Mayang menyambutnya dengan sangat hangat, setelah melihat potensi besar bisnis kuliner dan rempah Nusantara yang dikembangkannya."Kami tidak hanya melihat harta yang kamu miliki hari ini, Andre, tapi kami melihat niat tulus dan potensi besar di dalam dirimu untuk menjaga putri kami," sahut ayah Mayang sambil menjabat erat tangan Andre.“Benar, lagipula … bisnis sudah mulai merambah ke internasional, setidaknya Mayang gak kelaparan,” timpak ibunya Mayang.Pesona dan aura yang terpancar dari Andre, terasa begitu menyenangkan dan tidak bisa ditolak.Peleburan energi pengasihan kalung Bumi Swarga,
Andre terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi dahinya.Pria itu terduduk di tepi tempat tidur, meraba kalung Bumi Swarga yang mengantung di dadanya, kini memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih hangat dan menenangkan ketimbang biasanya."Sudah waktunya ... leluhurku harus kembali dengan tenang, kadian terkurung begini," bisik Andre pada dirinya sendiri.Andre menggenggam erat liontin tersebut, teringat wajah Ki Jaga dan beberapa pengawal bayangan. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, tetapi … mereka juga tidak seharusnya hidup di zaman yang tidak seharusnya. “Ki Jaga, semua pengawal … terima kasih sudah melindungiku selama ini. Semoga kalian pergi dengan tenang, aku gak akan melupakan kalian,” ucap Andre lirih.Begitu fajar menyingsing, Andre langsung meluncur menuju apartemen Mayang, untuk memberitahukan segalanya.Pria itu tidak ingin ada lagi rahasia di antara mereka, khawatir Mayang salah paham.Andre pamit kepada Mayang sebelum
Malam itu, usai membereskan segala urusan tambak bersama Raka, Andre kembali melaju menembus pekatnya jalanan menuju pusat kota.Rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, membuat pria itu langsung terlelap begitu merebahkan diri di atas tempat tidur kamarnya."Andre ... kemarilah, wahai keturunanku," panggil Pangeran Narendra.Sebuah suara berwibawa yang menggema lembut di dalam alam bawah sadar Andre, merasuk ke dalam lautan mimpi.Begitu Andre membuka mata di alam mimpinya, lelaki itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput luas yang diselimuti kabut tipis keemasan, menghadap sosok Pangeran Narendra yang berdiri gagah dengan jubah kebesarannya. "Pangeran Narendra ... apakah ini benar-benar Anda yang memanggil saya malam ini?" tanyak Andre sambil menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.Pangeran Narendra tersenyum hangat, menatap Andre dengan tatapan mata yang memancarkan rasa bangga. "Aku, Ki Jaga, serta seluruh pasukan dari zamanku, akhirnya sebentar lagi bisa
“Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke







