LOGIN
"Ahh, iya Raka, di situ, enak banget, mmpphh ...," racau Rumala setengah berbisik.
"Cepat, katakan, lebih enak mana punyaku atau punya suamimu yang pedagang bakso itu?" sahut lelaki yang sekarang sudah di posisi atas.
"I-iya, enak punya kamu, enak banget, terus, jangan berhenti ... mmph, iyaa, teruskan di sana, keluarkan dalam aja, biar benihku bagus," balas Rumala.
Sang pria kemudian mempercepat tempo. "Ahh, a-aku ...."
"Mmphh ...," desah Rumala.
Terdengar suara perempuan yang familiar di telinga Andre saat dia masuk rumah. Dia sengaja pulang kerja lebih awal, semata untuk memberi kejutan istrinya karena baksonya hari ini laris-manis dan diborong seseorang.
Lelaki itu mengintip dari balik pintu, betapa terkejutnya dia melihat Rumala, istrinya, sedang berselingkuh dengan Raka, anak kepala desa.
Selanjutnya tidak ada suara percakapan lagi, hanya suara desah dan napas tertahan yang terdengar. Begitu menggairahkan, suara cecap ciuman terdengar, diiringi suara derit ranjang dengan ritme yang berbeda.
“Kamu itu cuma bisa nidurin aku sampe puas kayak barang gratisan baru pulang, kapan nikahin aku? Aku gak mau tinggal sama tukang bakso itu, bau tau gak,” keluh Rumala.
Raka yang baru saja melepas miliknya, hanya terkekeh. “Sabar, kita masih butuh dia walaupun dia bau dan jelek. Kalo dulu ga ada dia, mana bisa nama baikmu tetap terjaga padahal waktu itu kamu hamil anakku.”
‘Kenapa? Kenapa … kamu keliatan begitu menikmati sama Raka? Kalo sama aku kamu malah males-malesan dan gak pernah bergairah,’ batin Andre dengan hati hancur.
Usai menyaksikan pergumulan panas tersebut, kini Andre tidak lagi mampu menahan rasa kecewa dan sakit hati yang begitu mendalam, lelaki itu bersiap melabrak pasangan yang sedang berzina itu.
Prang!
Suara gelas jatuh ke lantai terdengar keras, Andre mundur karena terkejut dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terjengkang di serpihan gelas yang berderai di lantai, sehingga menimbulkan suara terpekik kesakitan.
“Siapa? Ngintip, ya!” sergah Raka spontan.
Beberapa ibu-ibu tetangga, yang sedang berkumpul di teras rumah seketika saling tatap dan menyerbu kediaman Andre, ketika mendengar suara Raka begitu familiar, yang seharusnya tidak berada di sana.
Andre berusaha bangkit sambil meringis, telapak tangannya tertusuk ranting kering dan pinggangnya terasa sakit karena jatuh terjengkang. juga tertusuk ranting. Sementara itu di dalam kamar, Raka dan Rumala bergegas memakai pakaian mereka karena beberapa ibu-ibu merangsek masuk dan berteriak-teriak.
Dalam sekejap, rumah sewa milik ayahnya Rumala menjadi ramai. Andre duduk di tengah halaman, dikelilingi oleh warga dengan mertua, Rumala, Raka dan ayahnya di hadapannya.
Keadaan yang seharusnya dia yang menjadi korban yang dirugikan, malah dirinya yang seolah-olah sedang diadili karena perbuatan menjijikkan melanggar norma, yang dilakukan oleh Rumala dan Raka.
“Dasar ga becus jadi suami. Kamu udah numpang di rumah sewa punya aku, jagain anakku aja gak bisa!” seru Yudha, ayahnya Rumala.
“Cih, apa kubilang … Andre itu gak cocok sama Mala, pantesnya sama Raka,” celetuk salah satu janda muda yang berpakaian ketat.
“Halah, modal muka ganteng doang. Itu burungnya pasti loyo, pasti gara-gara itu makanya Mala selingkuh,” timpal seorang gadis cantik sepupu Raka.
“Iya. Raka anak orang kaya, masa depan terjamin … gak kayak orang lain yang jadi tukang bakso keliling. Masa depan suram,” ejek salah satu janda dengan dandanan menor.
Andre hanya tertunduk lesu, kepala tertunduk dengan benak yang sedang sedang berperang dengan logikanya.
“Tunggu … bukannya saya yang seharusnya marah? Kenapa malah saya yang dihina dan disalahkan? Kan bukan salah saya!” protes Andre dengan penuh keberanian.
Bukannya mendapatkan simpati, Andre malah mendapatkan hujatan bertubi-tubi. Mereka menghina profesi dan kemiskinan lelaki itu, mendengar itu semua wajah lelaki itu perlahan memerah.
Telinganya tidak lagi mampu menahan hinaan itu, dia berdiri sambil mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh dengan gelombang emosi, egonya terusik, tetapi kepalanya memaksa untuk tetap tenang.
“Rumala, dari awal aku sudah bilang, kalo kamu gak bahagia, tinggal bilang dan kita bisa pisah baik-baik. Kenapa harus mencoreng nama aku dengan selingkuh sama anak Pak Kades?” tanya Andre dengan suara bergetar.
“Andre … harusnya sebagai lelaki kau itu ngerti kalo istri gak puas, gak pernah bisa bahagia, matamu buta apa gimana, hah!” sergah Raka.
“Diam kamu, aku nanya istriku, bukan kamu,” balas Andre.
“Kau bau keringat, bau aroma bakso dan debu tiap pulang. Mana betah aku, kamu aja yang ga peka,” sahut Rumala santai.
“Cuma pedagang bakso keliling, memangnya uangnya berapa? Rumala memang pantas denganku, aku bisa kasih dia segalanya. Uang dan kehangatan di ranjang,” timpal Raka sinis.
Rumala menggenggam jemari Raka dan menatap selingkuhannya itu dengan tatapan mesra dan penuh cinta. Andre terkesiap, dia sama sekali tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya. Bahkan ketika mereka menikah, tidak ada tatapan hangat seperti itu.
Wanita itu menggandeng Raka, berjalan ke arah Andre dan berdiri tepat di sisi lelaki itu dengan arah berlawanan.
“Andre, coba kamu pikir … kenapa aku gadis yang paling cantik di desa ini, anak orang kaya mau nikah sama kamu enam bulan yang lalu?”
“Dengar, aku nikah sama kamu buat nutupi kehamilan aku. Untungnya anak itu gugur sendiri. Asal kamu tau, itu hasil perbuatanku sama Raka. Kamu sering tanya kenapa aku gak bergairah? Aku jijik sama laki-laki miskin, yang gak perkasa di ranjang,” bisik Rumala.
Andre tersentak dan menoleh dengan wajah memerah, dia menatap lekat istrinya dengan penuh amarah.
“Aku? Lemah? Bukannya kamu mendesah dan teriak minta ampun waktu di bawah? Menjijikkan katamu? Kamu aja menggeliat kayak cacing,” balas Andre berbisik.
“Bukannya aku harus pura-pura biar kamu percaya kalo aku cinta sama kamu? Kalo aku puas, untuk apa aku selingkuh sama Raka? Lucu sekali.” Rumala tersenyum dan meninggalkan tempat itu bersama Raka.
Di tengah perasaan yang berkecamuk, Andre merasa dunia ini berputar cepat, membuatnya limbung dan mundur satu langkah. Bagaimana bisa dia tertipu dengan Rumala? Sikapnya dibuat seolah rapuh dan begitu mencintainya. Membuatnya selalu bersemangat menjual bakso demi membayar sewa rumah dan memenuhi keinginan istrinya, tidak peduli panas dan hujan, dia bahkan rela pulang larut malam demi dagangannya habis dan memberikan seluruh keuntungan dagangannya kepada istrinya tanpa meminta untuk kebutuhannya.
Yudha, mertua Andre melempar seluruh pakaian ke arah Andre, juga beberapa barang sambil mengomel dengan penuh hinaan.
“Kamu itu cuma numpang di rumah sewa ku ini, alah sok jadi korban segala. Pergi sana, bawa barang-barang busuk kamu ini!” hardik Yudha.
Andre tertawa sinis, dia teringat kerja keras selama ini demi bisa membayar sewa tepat waktu setiap bulan, dan kini mertuanya itu mengatakan bahwa dia hanya menumpang. Belum lagi bayangan istrinya yang memberikan tubuhnya secara gratis kepada lelaki lain, yang adalah putra Pak Kades.
Langit menjadi gelap pekat, angin berhembus kencang. suara guntur terdengar dari kejauhan.
“Aku bersumpah, kalian semua di sini akan berlutut dan mengemis cinta kepadaku. Terutama kalian menghinaku!” seru Andre dengan suara lantang.
Seketika petir menggelegar mengejutkan semua yang hadir di sana, seolah-olah turut mengamini sumpah Andre.
Andre yang ditemani Mayang sudah selesai memeriksa pembukuan dan stok di seluruh cabang, kini mereka berada di dalam ruko yang tidak tertutup sempurna. Seluruh anggota Andre sudah pulang, menyisakan mereka berdua yang berdiskusi tentang bagaimana mengembangkan bisnis ke depannya.“Kamu banyak berkembang, loh. Dalam dua setengah tahun bisa sebesar ini, lama-lama bisa jadi raja kuliner kamu di sini,” puji Mayang tulus.“Kamu bisa aja mujinya, kalo ga dibantu kamu sama Bu Ram, mana bisa begini aku,” sahut Andre.Mayang bangkit dari duduknya, lalu pamit pulang. Andre berdiri dan menarik pergelangan tangan Mayang.“Mayang … terima kasih,” ucap Andre lembut.Tubuh mereka terlalu dekat, membuat Mayang menjadi salah tingkah dan wajah bersemu merah.Andre mencondongkan kepalanya lebih dekat, hingga bisa merasakan setiap hembusan nafas dari hidung bagir wanita cantik itu.Andre menatap bibir Mayang, lalu mengecupnya pelan. Wanita itu terkejut dan membelalakkan matanya, tetapi tubuhnya tidak me
Yudi, koki senior turut mencicip masakan Andre. Dirinya sependapat dengan Fian, bahkan menurutnya ini kaya rasa dengan takaran yang tepat. Lelaki itu yang kini makin kagum pada Andre, lalu dengan serius mencatat tiap detail racikan tersebut.Kelak, menu ini akan menjadi tanggung jawab Yudi. Termasuk ketika membuka cabang nanti, Yudi lah yang akan turun tangan. "Luar biasa, Mas Andre, teknik pemanggangan pelan ini bikin minyak rempahnya meresap sampai ke dalam tulang!" seru Yudi kegirangan.“Itulah kekayaan masakan negara kita,” sahut Andre.Dika yang bertugas menyiapkan marinasi bahan tidak mau ketinggalan menyumbang keahlian barunya. "Untuk kuah sotonya, sangrai kemiri dan kunyitnya sudah saya sesuaikan dengan standar jam lima pagi tadi, Mas," celetuk Dika dengan sigap.Andre menepuk bahu kedua staf koki terdepannya itu dengan rasa bangga yang luar biasa. "Bagus, kalian berdua sudah paham betul standar kualitas yang saya mau di setiap piring pelanggan," puji Andre penuh kehangata
Tubuh Andre merasakan getaran aneh, tetapi lelaki itu tampak tenang dan berusaha meredam gejolak energi di dalam tubuhnya.Andre mengepalkan tangan, lalu tersenyum tanpa terlihat sedang berjuang menekan energi itu agar tidak keluar.Ki Juang harus melakukan sesuatu, tiba-tiba listrik padam dan Raja Durji melepas pelukannya dari Andre.“Apa ini? Kenapa mati!” teriak Raja Durji.Ki Jaga tahu betul kelemahan Raja Durji, sejak dulu … lelaki itu takut dengan kegelapan total.Suasana menjadi riuh, sekejap kemudian lampu kembali menyala.‘Selamat aku kali ini,’ pikir Andre. Andre menghembuskan napas perlahan, meregangkan jemarinya yang sempat kaku karena terkepal dan menekan energi agar tidak bergetar sedikit pun.‘Aneh, sok berkuasa gitu kok takut sama gelap gulita. Ternyata … semua ada titik lemahnya dan itu ga disangka-sangka,” pikir Andre sambil melirik Raja Durji yang masih mengusap dadanya akibat panik. "Aku masih mengawasimu," ucap Raja Durji pelan.Andre turun dari panggung sambil
‘Kuperingatkan kau, jangan muncul. Aku bisa tanpamu,’ pikir Andre menekan energi kalung itu.Tujuan Andre adalah agar energi itu tidak terpancing, dan membiarkan Raja Durji bingung karena tidak ada jejak energi sama sekali dari tubuhnya.Seluruh kilatan lampu kamera mendadak mengarah pada Andre, saat pria bertubuh tegap dengan wajah tampan itu menaiki panggung.Andre berdiri sejajar dengan Raja Durji, saling berhadapan di bawah sorotan lampu terang yang menyorot tajam.Raja Durji mendekatkan mikrofonnya ke mulut, tersenyum licik seraya menyerahkan tropi emas tersebut "Selamat, Anak Muda. Tapi bisakah kamu menjelaskan kepada seluruh media di sini ... bagaimana usaha kecilmu bisa mendapatkan pasokan bahan mentah segar ketika seluruh pasar induk sedang mengalami krisis?" tanya Raja Durji.‘Cih, pertanyaan jebakan,’ pikir Andre.Jebakan itu dilemparkan secara terbuka di depan publik, Raja Durji mencoba menggiring opini bahwa Andre menggunakan jalur ilegal atau penggelapan bahan baku untu
Raja Durji menggerakkan tangannya yang ditutupi jubah, berniat menancapkan tiga jari berkuku hitamnya langsung ke dada Andre."Tindakanmu ini … bisa dibilang sebagai pelecehan," bisik Andre dengan nada sangat tenang, tanpa sedikit pun menggeser posisi berdirinya.Raja Durji menarik kembali tangannya dengan gemetar karena menahan amarah, matanya mendelik, berbanding terbalik dengan Andre yang begitu tenang. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik kerumunan manusia ini selamanya, Bocah?" sahut Raja Durji."Aku tidak pernah bersembunyi, untuk apa aku bersembunyi? Jika memang aku punya sesuatu yang kau cari, maka untuk apa aku datang,” balas Andre seraya menyunggingkan senyum "Sombong sekali kau! Tanpa pusaka itu, kamu cuma serangga yang bisa aku remukkan kapan saja," geram Raja Durji dengan tatapan yang makin tajam."Kalau begitu remukkan sekarang. Kenapa cuma banyak bicara dari tadi? Apa kau menemukan benda yang kau cari di tubuhku? Kau bisa mati tersambar petir jika seenaknya," tand
Bagas menepuk tangannya pelan, menyunggingkan senyum seolah-olah kagum atas jawaban Andre, padahal … itu adalah cara Bagas untuk menghina.Mereka yang berbisnis puluhan tahun dengan Bagas paham betul sikap ini, memilih diam dan tidak berbicara kecuali diminta.Mereka begitu takut kepada Bagas, padahal kedudukan mereka lebih tinggi. "Wah ... tidak disangka, pedagang bakso bisa mengerti hal sebesar ini. Negeri kita memang hebat," sindir Bagas dengan nada sinis.Andre menyesap minumannya santai, menatap Bagas sambil tersenyum ramah."Negeri ini memang hebat karena orang kecil seperti saya sibuk bekerja di lapangan, sementara orang berjas mahal biasanya sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan saat pasar kacau," balas Andre dengan nada bicara yang begitu tenang.“Maksudmu?” tanya Bagas.“Orang hebat seperti Pak Bagas tentu mengerti ucapan tukang bakso ini,” jawab Andre santai.Beberapa pengusaha dan investor di sekitar meja mulai berbisik-bisik, tertarik dengan perbincangan yang mendadak







