Share

Pemikat Para Gadis Desa
Pemikat Para Gadis Desa
Author: Dao Yue

1

Author: Dao Yue
last update publish date: 2026-07-15 18:35:49

"Ahh, iya Raka, di situ, enak banget, mmpphh ...," racau Rumala setengah berbisik.

"Cepat, katakan, lebih enak mana punyaku atau punya suamimu yang pedagang bakso itu?" sahut lelaki yang sekarang sudah di posisi atas.

"I-iya, enak punya kamu, enak banget, terus, jangan berhenti ... mmph, iyaa, teruskan di sana, keluarkan dalam aja, biar benihku bagus," balas Rumala.

Sang pria kemudian mempercepat tempo. "Ahh, a-aku ...."

"Mmphh ...," desah Rumala. 

Terdengar suara perempuan yang familiar di telinga Andre saat dia masuk rumah. Dia sengaja pulang kerja lebih awal, semata untuk memberi kejutan istrinya karena baksonya hari ini laris-manis dan diborong seseorang.

Lelaki itu mengintip dari balik pintu, betapa terkejutnya dia melihat Rumala, istrinya, sedang berselingkuh dengan Raka, anak kepala desa.

Selanjutnya tidak ada suara percakapan lagi, hanya suara desah dan napas tertahan yang terdengar. Begitu menggairahkan, suara cecap ciuman terdengar, diiringi suara derit ranjang dengan ritme yang berbeda.

“Kamu itu cuma bisa nidurin aku sampe puas kayak barang gratisan baru pulang, kapan nikahin aku? Aku gak mau tinggal sama tukang bakso itu, bau tau gak,” keluh Rumala.

Raka yang baru saja melepas miliknya, hanya terkekeh. “Sabar, kita masih butuh dia walaupun dia bau dan jelek. Kalo dulu ga ada dia, mana bisa nama baikmu tetap terjaga padahal waktu itu kamu hamil anakku.”

‘Kenapa? Kenapa … kamu keliatan begitu menikmati sama Raka? Kalo sama aku kamu malah males-malesan dan gak pernah bergairah,’ batin Andre dengan hati hancur.

Usai menyaksikan pergumulan panas tersebut, kini Andre tidak lagi mampu menahan rasa kecewa dan sakit hati yang begitu mendalam, lelaki itu bersiap  melabrak pasangan yang sedang berzina itu. 

Prang!

Suara gelas jatuh ke lantai terdengar keras, Andre mundur karena terkejut dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terjengkang di serpihan gelas yang berderai di lantai, sehingga menimbulkan suara terpekik kesakitan.

“Siapa? Ngintip, ya!” sergah Raka spontan.

Beberapa ibu-ibu tetangga, yang sedang berkumpul di teras rumah seketika saling tatap dan menyerbu kediaman Andre, ketika mendengar suara Raka begitu familiar, yang seharusnya tidak berada di sana.

Andre berusaha bangkit sambil meringis, telapak tangannya tertusuk ranting kering dan pinggangnya terasa sakit karena jatuh terjengkang. juga tertusuk ranting. Sementara itu di dalam kamar, Raka dan Rumala bergegas memakai pakaian mereka karena beberapa ibu-ibu merangsek masuk dan berteriak-teriak.

Dalam sekejap, rumah sewa milik ayahnya Rumala menjadi ramai. Andre duduk di tengah halaman, dikelilingi oleh warga dengan mertua, Rumala, Raka dan ayahnya di hadapannya.

Keadaan yang seharusnya dia yang menjadi korban yang dirugikan, malah dirinya yang seolah-olah sedang diadili karena perbuatan menjijikkan melanggar norma, yang dilakukan oleh Rumala dan Raka.

“Dasar ga becus jadi suami. Kamu udah numpang di rumah sewa punya aku, jagain anakku aja gak bisa!” seru Yudha, ayahnya Rumala.

“Cih, apa kubilang … Andre itu gak cocok sama Mala, pantesnya sama Raka,” celetuk salah satu janda muda yang berpakaian ketat.

“Halah, modal muka ganteng doang. Itu burungnya pasti loyo, pasti gara-gara itu makanya Mala selingkuh,” timpal seorang gadis cantik sepupu Raka.

“Iya. Raka anak orang kaya, masa depan terjamin … gak kayak orang lain yang jadi tukang bakso keliling. Masa depan suram,” ejek salah satu janda dengan dandanan menor.

Andre hanya tertunduk lesu, kepala tertunduk dengan benak yang sedang sedang berperang dengan logikanya.

“Tunggu … bukannya saya yang seharusnya marah? Kenapa malah saya yang dihina dan disalahkan? Kan bukan salah saya!” protes Andre dengan penuh keberanian.

Bukannya mendapatkan simpati, Andre malah mendapatkan hujatan bertubi-tubi. Mereka menghina profesi dan kemiskinan lelaki itu, mendengar itu semua wajah lelaki itu perlahan memerah.

Telinganya tidak lagi mampu menahan hinaan itu, dia berdiri sambil mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh dengan gelombang emosi, egonya terusik, tetapi kepalanya memaksa untuk tetap tenang.

“Rumala, dari awal aku sudah bilang, kalo kamu gak bahagia, tinggal bilang dan kita bisa pisah baik-baik. Kenapa harus mencoreng nama aku dengan selingkuh sama anak Pak Kades?” tanya Andre dengan suara bergetar.

“Andre … harusnya sebagai lelaki kau itu ngerti kalo istri gak puas, gak pernah bisa bahagia, matamu buta apa gimana, hah!” sergah Raka.

“Diam kamu, aku nanya istriku, bukan kamu,” balas Andre.

“Kau bau keringat, bau aroma bakso dan debu tiap pulang. Mana betah aku, kamu aja yang ga peka,” sahut Rumala santai.

“Cuma pedagang bakso keliling, memangnya uangnya berapa? Rumala memang pantas denganku, aku bisa kasih dia segalanya. Uang dan kehangatan di ranjang,” timpal Raka sinis.

Rumala menggenggam jemari Raka dan menatap selingkuhannya itu dengan tatapan mesra dan penuh cinta. Andre terkesiap, dia sama sekali tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya. Bahkan ketika mereka menikah, tidak ada tatapan hangat seperti itu.

Wanita itu menggandeng Raka, berjalan ke arah Andre dan berdiri tepat di sisi lelaki itu dengan arah berlawanan.

“Andre, coba kamu pikir … kenapa aku gadis yang paling cantik di desa ini, anak orang kaya mau nikah sama kamu enam bulan yang lalu?”

“Dengar, aku nikah sama kamu buat nutupi kehamilan aku. Untungnya anak itu gugur sendiri. Asal kamu tau, itu hasil perbuatanku sama Raka. Kamu sering tanya kenapa aku gak bergairah? Aku jijik sama laki-laki miskin, yang gak perkasa di ranjang,” bisik Rumala.

Andre tersentak dan menoleh dengan wajah memerah, dia menatap lekat istrinya dengan penuh amarah.

“Aku? Lemah? Bukannya kamu mendesah dan teriak minta ampun waktu di bawah? Menjijikkan katamu? Kamu aja menggeliat kayak cacing,” balas Andre berbisik.

“Bukannya aku harus pura-pura biar kamu percaya kalo aku cinta sama kamu? Kalo aku puas, untuk apa aku selingkuh sama Raka? Lucu sekali.” Rumala tersenyum dan meninggalkan tempat itu bersama Raka.

Di tengah perasaan yang berkecamuk, Andre merasa dunia ini berputar cepat, membuatnya limbung dan mundur satu langkah. Bagaimana bisa dia tertipu dengan Rumala? Sikapnya dibuat seolah rapuh dan begitu mencintainya. Membuatnya selalu bersemangat menjual bakso demi membayar sewa rumah dan memenuhi keinginan istrinya, tidak peduli panas dan hujan, dia bahkan rela pulang larut malam demi dagangannya habis dan memberikan seluruh keuntungan dagangannya kepada istrinya tanpa meminta untuk kebutuhannya.

Yudha, mertua Andre melempar seluruh pakaian ke arah Andre, juga beberapa barang sambil mengomel dengan penuh hinaan.

“Kamu itu cuma numpang di rumah sewa ku ini, alah sok jadi korban segala. Pergi sana, bawa barang-barang busuk kamu ini!” hardik Yudha.

Andre tertawa sinis, dia teringat kerja keras selama ini demi bisa membayar sewa tepat waktu setiap bulan, dan kini mertuanya itu mengatakan bahwa dia hanya menumpang. Belum lagi bayangan istrinya yang memberikan tubuhnya secara gratis kepada lelaki lain, yang adalah putra Pak Kades. 

Langit menjadi gelap pekat, angin berhembus kencang. suara guntur terdengar dari kejauhan.

“Aku bersumpah, kalian semua di sini akan berlutut dan mengemis cinta kepadaku. Terutama kalian menghinaku!” seru Andre dengan suara lantang.

Seketika petir menggelegar mengejutkan semua yang hadir di sana, seolah-olah turut mengamini sumpah Andre.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemikat Para Gadis Desa   139

    Tangannya memeluk punggung Andre, kuku-kukunya menekan kulit.Andre merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, hingga pernikahan dengan Rumala dan berbagi kehangatan dengan wanita lain, tidak ada yang masih perawan.Lelaki itu menggerakkan pinggang lebih dalam sedikit, mengubah sudut. Mayang tersentak, desahan menjadi lebih nyaring. “Ngghh … kamu sempit, ahh … enak,” racau Andre.“Aaah, lebih dalam lagi, Mas. Agak cepat, enak banget,” balas Mayang.“Kamu basah banget, sayang,” bisik Andre di telinga Mayang, suaranya serak oleh gairah. “Abis punya kamu enak, gede, berotot. Aaah, enak banget,” sahut Mayang.Andre mempercepat gerakan pinggulnya sedikit, tetapi tetap lembut. Setiap hentakan diiringi suara basah yang pelan dan desahan Mayang yang terus menerus. Andre menurunkan kepala, menghisap payudara Mayang lagi sambil terus bergerak. Mayang membusungkan dada, kaki-kakinya melingkar di pinggang Andre, menariknya lebih dalam.“Mas … lebih dalam, ssssh … ahh … ahh …,

  • Pemikat Para Gadis Desa   138

    “Kamu mau rasa geli tapi enak?” tanya Andre.Mayang mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Andre menunduk, mengecup paha dalam Mayang, naik perlahan ke pusat kehangatannya. Lidahnya menyentuh celah yang sudah basah.Mayang tersentak, pinggangnya terangkat.“Ahhh … Mas, itu geli, tapi … enak,” racau Mayang, lalu memggigit bibirnya.Andre tersenyum di antara paha istrinya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas, fokus di titik yang membuat Mayang menggeliat hebat. Lidahnya bergerak memutar, lalu menghisap lembut. Mayang merintih, jarinya mencengkeram rambut Andre, lalu menekan kepala suaminya.“Ngghh … ahh … ahh … Mas. Jangan berhenti, enak banget,” ucap Mayang, suaranya sudah tidak stabil.Desahan keluar terus-menerus, semakin keras. Andre memasukkan satu jari dengan sangat hati-hati, merasakan betapa ketatnya kawah milik Mayang.Mayang mengerang, tubuhnya menegang.“Ssssh.” Mayang mendesis bak ular.“Sakit?” tanya Andre, menghentikan gerakan sejenak.“Sa-sakit,” jawab Mayang, napasn

  • Pemikat Para Gadis Desa   137

    Beberapa minggu setelah peristiwa di bukit, Andre bersama Chef Aris yang diminta sebagai wakil orang tua, Fian dan seluruh karyawannya membawa seserahan, termasuk Maman dan Sadri turut serta, iring- iringan itu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Mayang, dengan maksud melamar putri tunggal mereka.Meski kekayaannya saat ini belum sepadan dengan kemewahan keluarga Mayang, kedua orang tua Mayang menyambutnya dengan sangat hangat, setelah melihat potensi besar bisnis kuliner dan rempah Nusantara yang dikembangkannya."Kami tidak hanya melihat harta yang kamu miliki hari ini, Andre, tapi kami melihat niat tulus dan potensi besar di dalam dirimu untuk menjaga putri kami," sahut ayah Mayang sambil menjabat erat tangan Andre.“Benar, lagipula … bisnis sudah mulai merambah ke internasional, setidaknya Mayang gak kelaparan,” timpak ibunya Mayang.Pesona dan aura yang terpancar dari Andre, terasa begitu menyenangkan dan tidak bisa ditolak.Peleburan energi pengasihan kalung Bumi Swarga,

  • Pemikat Para Gadis Desa   136

    Andre terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi dahinya.Pria itu terduduk di tepi tempat tidur, meraba kalung Bumi Swarga yang mengantung di dadanya, kini memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih hangat dan menenangkan ketimbang biasanya."Sudah waktunya ... leluhurku harus kembali dengan tenang, kadian terkurung begini," bisik Andre pada dirinya sendiri.Andre menggenggam erat liontin tersebut, teringat wajah Ki Jaga dan beberapa pengawal bayangan. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, tetapi … mereka juga tidak seharusnya hidup di zaman yang tidak seharusnya. “Ki Jaga, semua pengawal … terima kasih sudah melindungiku selama ini. Semoga kalian pergi dengan tenang, aku gak akan melupakan kalian,” ucap Andre lirih.Begitu fajar menyingsing, Andre langsung meluncur menuju apartemen Mayang, untuk memberitahukan segalanya.Pria itu tidak ingin ada lagi rahasia di antara mereka, khawatir Mayang salah paham.Andre pamit kepada Mayang sebelum

  • Pemikat Para Gadis Desa   135

    Malam itu, usai membereskan segala urusan tambak bersama Raka, Andre kembali melaju menembus pekatnya jalanan menuju pusat kota.Rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, membuat pria itu langsung terlelap begitu merebahkan diri di atas tempat tidur kamarnya."Andre ... kemarilah, wahai keturunanku," panggil Pangeran Narendra.Sebuah suara berwibawa yang menggema lembut di dalam alam bawah sadar Andre, merasuk ke dalam lautan mimpi.Begitu Andre membuka mata di alam mimpinya, lelaki itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput luas yang diselimuti kabut tipis keemasan, menghadap sosok Pangeran Narendra yang berdiri gagah dengan jubah kebesarannya. "Pangeran Narendra ... apakah ini benar-benar Anda yang memanggil saya malam ini?" tanyak Andre sambil menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.Pangeran Narendra tersenyum hangat, menatap Andre dengan tatapan mata yang memancarkan rasa bangga. "Aku, Ki Jaga, serta seluruh pasukan dari zamanku, akhirnya sebentar lagi bisa

  • Pemikat Para Gadis Desa   134

    “Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status