Share

Astaga Dirga

last update Last Updated: 2025-10-05 19:58:57
Nadine berhenti tepat di depan rumah Dirga. Rumah itu terlihat temaram di area halaman. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu, berusaha menenangkan debar jantung yang makin keras.

Tok. Tok. Tok.

Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Dari dalam, muncullah Dirga.

"Siapa ya?"

Pria itu berdiri dengan keadaan topless dan hanya mengenakan boxer ketat yang membuat miliknya sedikit menonjol. Rambut Dirga tampak basah, beberapa tetes air mengalir turun di pelipis hingga ke rahangnya. Bau sabun mandi seketika menyergap hidung Nadine.

Perempuan itu mematung. Penampilan Dirga yang baru saja selesai mandi berhasil membuatnya menahan nafas selama beberapa saat.

Sorot mata Dirga sedikit terkejut melihat siapa yang datang. Namun bibirnya perlahan melengkung, menampakkan senyum hangat yang tak kalah menegangkan. “Nadine? Ada apa?” suaranya rendah, agak serak, mungkin karena baru selesai mandi. “Tumben ke sini malem-malem. Ada ular lagi ya?" tanyanya setengah menggoda.

Nadine me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kecurigaan

    Dirga menatap ke luar jendela mobil sejenak. Sorot matanya mengeras, rahangnya mengatup rapat seperti sedang menahan sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak insiden tadi.“Nad…” panggilnya pelan, namun nadanya berat.Nadine mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan perubahan sikap Dirga. “Iya, Ga? Kenapa?” Ia balik menatap pria itu usai menghapus air matanya.Dirga menghembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Nadine lurus. “Aku ngerasa, kejadian tadi itu gak wajar.”Alis Nadine langsung berkerut. “Gak wajar gimana maksudnya?”“Pengendara motor tadi,” jawab Dirga perlahan, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Kayaknya itu sengaja.”Nadine terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Itu mustahil, Ga. Akunya aja yang gak nengok kanan kiri karena sibuk telfon.”“Iya. Kamu emang ceroboh,” sahut Dirga cepat. “Tapi aku juga tau bedanya orang lengah sama orang yang memang niat nabrak.”Ia sedikit memiringkan badan, tatapannya tajam penuh keyakinan. “Tapi aku yakin banget, Ga.”"Ya m

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Apa Yang Terjadi?

    Setelah Amanda dan Bu Wijaya pergi, Bu Darma hanya bisa termenung di ruang tamu yang mendadak terasa sunyi. Pandangannya kosong menatap lantai, pikirannya berkelana jauh memikirkan nasib Nadine.Beberapa menit berlalu. Ia masih duduk di posisi yang sama, jemarinya saling bertaut gelisah.“Mungkin mereka berdua cuma menggertaknya,” gumam Bu Darma lirih, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Nadine pasti baik-baik saja.”Namun rasa resah itu tak kunjung reda. Jantungnya justru berdetak semakin cepat, firasat buruk terus mengusik. Akhirnya, ia meraih ponselnya dan menekan nama Nadine.Tak lama, panggilan tersambung.“Halo, Ma? Ada apa?”Begitu mendengar suara Nadine yang terdengar ringan dan normal, napas Bu Darma langsung terasa lebih lega. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur.“Gak ada apa-apa, Nad,” jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha terdengar santai. “Mama cuma mau tahu kabar kamu aja.”“Aku baik kok, Ma. Ini baru pulang kerja. Mama sendiri gimana?”“Mama juga

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tamu Tak Diundang

    Bu Darma terpaku beberapa detik ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Bu Wijaya berdiri paling depan dengan raut wajah tenang yang dibuat-buat, sementara Amanda berdiri setengah langkah di belakangnya—tatapannya tajam, dingin, dan sama sekali tak menunjukkan penyesalan. “Kalian mau apa?” tanya Bu Darma akhirnya, suaranya terdengar waspada. Dan itu wajar, karena dua orang itu yang membuat nasib putrinya menderita. “Kami ke sini untuk membicarakan perihal Nadine dan Rhevan,” jawab Bu Wijaya lugas. Ia menatap besannya itu dengan wajah tenang. Pandangan Bu Darma langsung beralih ke Amanda. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sama dari video yang sempat menggemparkan media. Wajah yang juga sering diceritakan Nadine dengan nada getir. Sebenarnya ia ingin langsung menutup pintu. Namun status Bu Wijaya sebagai besannya membuat langkahnya tertahan. “Silakan masuk,” ucapnya pelan, meski hatinya menolak tapi ia mencoba untuk tetap sopan. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. S

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hubungan Spesial

    Sore menjelang. Langit mulai berwarna jingga ketika Nadine, Sarah, dan Dea melangkah keluar dari gedung perusahaan setelah jam kerja berakhir.Beberapa hari terakhir, Nadine memang sudah tidak lagi ditempatkan di area proyek. Ia kembali bekerja seperti biasa di kantor pusat—dan hari ini terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia kira.“Mba! Tuh jemputan kamu udah standby,” seru Sarah sambil menunjuk ke arah depan dengan dagu terangkat.Mendengar itu, Nadine refleks mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung tertuju ke sosok Dirga yang berdiri santai di samping mobil, punggungnya bersandar di kap, satu tangan memegang ponsel.“Dirga?” Nadine bergumam kaget.“Duh, Mba,” sahut Sarah sambil tertawa kecil. “Nggak usah pura-pura kaget deh. Kayak baru pertama kali dijemput aja.”Dea ikut mengangguk setuju, senyum jahil tersungging di wajahnya.“Kayaknya Pak Dirga suka deh sama kamu,” tambah Sarah tanpa beban.Belum sempat Nadine membantah, sebuah suara tajam menyela dari belakang.“Minggir!”

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sama-sama Licik

    “Jujur saja ya, Manda,” ucap Bu Wijaya akhirnya dengan nada lelah. Tatapannya kosong, menembus kaca depan mobil yang terus melaju. “Tante juga nggak nyangka Nadine sekeras kepala itu. Padahal dulu dia termasuk istri penurut. Makanya Tante berani minta tolong ke dia supaya bebaskan Rhevan.” Amanda yang duduk di kursi belakang menyandarkan tubuhnya santai. Bibirnya melengkung tipis, matanya justru menyiratkan sesuatu yang lain—bukan simpati, melainkan perhitungan. “Ya Tante kan cuma tahu luarnya saja,” balas Amanda pelan, namun tajam. Nada suaranya terdengar seolah bijak. “Tapi dalam hatinya, kita nggak pernah tahu Nadine itu seperti apa.” Bu Wijaya mengernyit, lalu menoleh ke belakang. “Maksud kamu gimana?” Amanda sedikit mencondongkan tubuh ke depan, suaranya direndahkan, seolah takut ada orang lain yang mendengar. “Nadine itu perempuan yang suka membantah, tahu, Tan,” ucapnya penuh keyakinan. “Nggak mau denger nasihat Mas Rhevan. Munafik. Dan… nggak pernah bikin Mas Rhevan puas

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tolong Bantu Mama

    “Nadine…” panggil Bu Wijaya dengan begitu lesu.Nadine mengamati wanita di depannya dengan ekspresi yang sedikit gelap. Sorot matanya nampak tegas, seolah ia tidak mudah digoyahkan oleh apa pun.“Mama,” panggil Nadine akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih basah. “Aku mau Mama dengar baik-baik.”Bu Wijaya mengangkat wajahnya. Harapan kecil kembali menyala di matanya.“Aku nggak akan mencabut laporan itu,” lanjut Nadine tegas. “Keputusanku sudah bulat.”“Nadine—” Bu Wijaya kembali mendekat, suaranya nyaris memohon. “Mama mohon…”Nadine menggeleng pelan, memotong ucapan itu. “Bukan karena aku dendam sama Mas Rhevan,” katanya, suaranya bergetar tipis tapi jelas, “atau mau menghancurkan hidupnya.”Ia menatap Bu Wijaya lurus, tanpa menghindar.“Tapi karena aku mau keadilan, Ma.”Bu Wijaya terisak lebih keras. “Tapi Rhevan—”“Mama sayang kan sama Mas Rhevan?” sahut Nasine cepat. “Kalau memang Mama sayang sama dia, biarkan saja dia menjalani hukuman ini. Itu untuk memberinya pelajara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status