Masuk“Jujur saja ya, Manda,” ucap Bu Wijaya akhirnya dengan nada lelah. Tatapannya kosong, menembus kaca depan mobil yang terus melaju. “Tante juga nggak nyangka Nadine sekeras kepala itu. Padahal dulu dia termasuk istri penurut. Makanya Tante berani minta tolong ke dia supaya bebaskan Rhevan.” Amanda yang duduk di kursi belakang menyandarkan tubuhnya santai. Bibirnya melengkung tipis, matanya justru menyiratkan sesuatu yang lain—bukan simpati, melainkan perhitungan. “Ya Tante kan cuma tahu luarnya saja,” balas Amanda pelan, namun tajam. Nada suaranya terdengar seolah bijak. “Tapi dalam hatinya, kita nggak pernah tahu Nadine itu seperti apa.” Bu Wijaya mengernyit, lalu menoleh ke belakang. “Maksud kamu gimana?” Amanda sedikit mencondongkan tubuh ke depan, suaranya direndahkan, seolah takut ada orang lain yang mendengar. “Nadine itu perempuan yang suka membantah, tahu, Tan,” ucapnya penuh keyakinan. “Nggak mau denger nasihat Mas Rhevan. Munafik. Dan… nggak pernah bikin Mas Rhevan puas
“Nadine…” panggil Bu Wijaya dengan begitu lesu.Nadine mengamati wanita di depannya dengan ekspresi yang sedikit gelap. Sorot matanya nampak tegas, seolah ia tidak mudah digoyahkan oleh apa pun.“Mama,” panggil Nadine akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih basah. “Aku mau Mama dengar baik-baik.”Bu Wijaya mengangkat wajahnya. Harapan kecil kembali menyala di matanya.“Aku nggak akan mencabut laporan itu,” lanjut Nadine tegas. “Keputusanku sudah bulat.”“Nadine—” Bu Wijaya kembali mendekat, suaranya nyaris memohon. “Mama mohon…”Nadine menggeleng pelan, memotong ucapan itu. “Bukan karena aku dendam sama Mas Rhevan,” katanya, suaranya bergetar tipis tapi jelas, “atau mau menghancurkan hidupnya.”Ia menatap Bu Wijaya lurus, tanpa menghindar.“Tapi karena aku mau keadilan, Ma.”Bu Wijaya terisak lebih keras. “Tapi Rhevan—”“Mama sayang kan sama Mas Rhevan?” sahut Nasine cepat. “Kalau memang Mama sayang sama dia, biarkan saja dia menjalani hukuman ini. Itu untuk memberinya pelajara
Nadine terkejut saat melihat Dirga justru tertidur di sofa ruang tamu. Langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri mematung, menatap tubuh pria itu yang terlelap dengan posisi setengah menyamping, satu lengan menutupi wajahnya.Perlahan, Nadine mendekat. Gerakannya nyaris tak bersuara, seolah takut mengganggu ketenangan yang jarang Dirga miliki.Niatnya membangunkan pria itu langsung menguap begitu ia benar-benar menyadari—Dirga sudah terlalu banyak berkorban untuknya.Dari sejak ia terbaring lemah di rumah sakit.Menemaninya bertemu pengacara. Mencarikan rumah agar ia punya tempat tinggal yang aman. Hingga sekarang.Bibir Nadine melengkung tipis. Senyumnya pahit, matanya justru terasa panas. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah Dirga yang terlihat begitu tenang saat tidur—berbanding terbalik dengan hari-harinya yang selalu sibuk memikirkan Nadine.“Maaf ya, Ga…” gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku udah terlalu banyak bikin kamu repot.”Tak ada jawaban. Dirga tetap
Nadine baru saja mengeluarkan beberapa ikat sayuran dari dalam kulkas ketika pandangannya menangkap sosok Dirga berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu bersandar santai, lengannya terlipat di dada, menatapnya tanpa bicara. Nadine tersenyum kecil. “Eh, Ga?” sapanya ringan sambil mengangkat satu kantong plastik. “Daripada berdiri di situ, mending bantuin aku masak.” Dirga yang semula hanya mengamati, langsung menegakkan tubuhnya. Ia melangkah masuk ke dapur, mendekat. “Kamu mau masak apa?” tanyanya sambil melirik bahan-bahan di meja. “Sop ayam aja,” jawab Nadine singkat. Dirga mengangguk. “Oke. Aku bantuin kupas wortel sama kentangnya.” Ia mengambil alih sayuran yang Nadine pegang. Nadine menyerahkan talenan dan pisau. “Ini ya. Makasih.” “Sama-sama,” balas Dirga pelan. Mereka mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara air mengalir, pisau memotong, dan bunyi panci sesekali bertabrakan—semuanya terasa biasa. Namun di balik itu, ada keheningan canggung yang sama-sama mereka r
“Dirga, ka— umph!” Seruan Nadine terputus saat Dirga tiba-tiba menunduk dan mengecup bibirnya. Bukan ciuman yang tergesa-gesa. Bukan pula sekadar kecupan singkat. Ciuman itu lembut—namun penuh tuntutan. Seolah Dirga menahan diri untuk tidak mengambil lebih, tapi juga enggan benar-benar melepaskan. Nadine membeku seketika. Hangat napas Dirga menyelimuti wajahnya. Tekanan pelan di bibirnya terasa nyata. Bahkan detak jantung pria itu—yang berdegup cepat dan kuat—terasa jelas menabrak dadanya. Kepalanya kosong, pikirannya seolah berhenti bekerja. “Dirga—” gumamnya teredam di antara jarak yang terlalu dekat. Refleks, Nadine mengangkat kedua tangannya dan mendorong bahu Dirga. Ia mencoba bangkit dari pangkuan itu, namun lengan Dirga yang melingkar di pinggangnya justru menahan—tidak kasar, tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuat Nadine tak bisa ke mana-mana. “Dirga… lepas,” pintanya di sela napas yang tersengal. Dirga berhenti. Ia menarik wajahnya sedikit, menghentikan c
Nadine naik ke lantai dua setelah pamit pada Dirga. Langkahnya melambat saat ia berdiri di depan kamar yang nyaris sebulan terakhir ditempati Rhevan dan Amanda. Hanya dengan mengingatnya saja, dadanya sudah terasa sesak.Ia menghela napas kesal sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk. Namun langkahnya terhenti. Nadine terperangah.Kamar itu… sama sekali berbeda.Perabotan lama sudah tak ada. Lemari dipindahkan. Warna sprei diganti. Tata letaknya terasa lebih lapang—lebih bersih, lebih hangat, dan sama sekali tidak menyisakan jejak dua orang yang paling ingin ia lupakan.“I-ini?” Nadine bergumam, suaranya nyaris berbisik.“Itu aku yang ubah,” jawab sebuah suara dari belakang.Nadine refleks menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu, kedua tangannya bersedekap santai, sorot matanya mengamati reaksi Nadine dengan saksama.“Kamu?” tanya Nadine pelan, masih belum sepenuhnya percaya.Dirga mengangguk. “Iya.”“Aku kira Amanda atau Mas Rhevan yang ganti,” ucap Nadine jujur.Dirga mendengus pe







