MasukKembali Nadine memastikan apa yang ia lihat sekarang. Akankan ia salah lihat-tapi-mereka benar-benar pergi ke tempat ini. Tempat penuh dengan kenangan yang menyakitkan.
Mencari jawaban pasti, Nadine menatap tajam Dirga yang masih sibuk dengan kemudinya. “Apa maksud kamu?” nada bicara Nadine bergetar. Dadanya sesak berusaha tegar namun pikirannya berlarian kesana kemari. “Jangan dulu berprasangka buruk. Kita kesini hanya untuk melihat rumahku yang–”Kembali Nadine memastikan apa yang ia lihat sekarang. Akankan ia salah lihat-tapi-mereka benar-benar pergi ke tempat ini. Tempat penuh dengan kenangan yang menyakitkan. Mencari jawaban pasti, Nadine menatap tajam Dirga yang masih sibuk dengan kemudinya. “Apa maksud kamu?” nada bicara Nadine bergetar. Dadanya sesak berusaha tegar namun pikirannya berlarian kesana kemari. “Jangan dulu berprasangka buruk. Kita kesini hanya untuk melihat rumahku yang–” “Enggak!” Nadine lebih dulu menyela. “Pokoknya enggak! Aku enggak mau tinggal disini!” Nadine menambah lagi dengan gelengan kepalanya yang tak kalah setuju. Matanya memanas, berkaca-kaca dengan bibir semakin bergetar. “K-kamu tahu ‘kan? Gimana susahnya aku berjuang sembuh dari ini? Lebih baik kita tinggal di appartment saja!” tegas Nadine dengan sedikit penekanan. Hembusan nafas Nadine tak teratur. Ia memohon dari segala amarahnya dan berusaha menahan perih. Dirga
“Aku tahu maksud kamu. Ayo kita lakukan saja sekarang, bagaimana?” Nadine hanya bersedekap melihat suaminya yang mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Tentu karena merasa menang. Kini mereka, Nadine-dan juga Dirga- sudah tak diselimuti apapun. Dirga dengan segala pikirannya sudah liar kesana kemari. Nadine juga sudah bisa lihat senyumnya yang penuh makna. Pun milik suaminya ini mulai menegang. Padahal niat Nadine bukan untuk meleburkan hasratnya, melainkan untuk mandi bersama saja-ya, hanya itu! Deru nafas Dirga sudah memburu. Membuncah lagi tak sabar. Hasratnya sudah di ujung tanduk, siap untuk menuntaskan segalanya sekarang juga. Namun, tepat saat hendak menarik lebih dekat, matanya menangkap sesuatu yang membuat dunianya berhenti persekian detik. Semburat merah perlahan luruh. Terbawa aliran air diantara sela kaki Nadine. Mematung dan membeku. Harapannya hancur karena realita tamu bulanan Nadine yang t
“I-ini? Kamu seriusan lagi dapet, Sayang?” tanya Dirga tampak putus asa sekali. Nadine meleos. Ia membuang mukanya dari depan Dirga. Bingung harus merespon seperti apa? Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Nadine hanya bisa menyeringaikan giginya yang rapih. Pupus. Dirga terduduk lemas tak bersemangat. Disisi lain Nadine berusaha menahan tawanya, namun di sisi lainnya dia juga kasihan. Tak tega lihat suaminya yang sudah berharap besar akan mendapatkan pelayanan full service. “Em… i-iya. Ma-maaf ya. Kamu marah?” gugup Nadine karena takut dimarahi. Nadine menghampiri suaminya perlahan. Ia mengintip muka dari sela leher dan punggung. Sudah bisa dipastikan Dirga menekuk mukanya. Tangan Nadine melingkar di perut Dirga, kepalanya disimpan di bahu Dirga. “Maaf ya…,” lagi tambah Nadine karena merasa tak enak. Menghela nafas panjang Dirga mengakui apa yang ditahannya sedari tadi. “Padahal
“Selamat ya, Nadine. Akhirnya setelah sekian purnama ya,” goda Mba Clara seiring mengecup pipi kiri dan kanannya. Nadine tersipu. Ulas senyum bahagia tak bisa disembunyikan dari parasnya yang cantik-malah semakin cantik di hari pernikahannya. “Pokoknya selamat senam malam sepuasnya,” tambah lagi Dea-rekan kantor Nadine secara bergantian menyalami rekan sejawatnya ini. Kikikan suara kali ini menimpali jawaban mereka. “Ih, apa sih Mba? Kamu ini bisa aja! Tapi, makasih banyak loh kalian udah nyempetin datang.” Mereka hanya mengangguk tak masalah. Sekali lagi pelukan hangat diberikan sebagai tanda turut bahagia. “Sekali lagi selamat ya, Nadine Dirga! Aku bener-bener seneng akhirnya perjuangan kalian enggak sia-sia! Langgeng sampai tua nanti, deh!” ucap Mba Sarah yang berada paling terakhir kemudian berlalu. Dirga hanya terkekeh mendengarnya. “Iya, amin. Makasih, ya!” tambah Dirga dan Mba Sarah hanya mengacungkan jempol sambil berlalu dari tempat pelaminan. Sesaat setelah berlalu
“LEPASIN!” Amanda meronta. Air matanya bercampur dengan keringat. “Aku nggak kuat… aku nggak kuat!”Tangannya gemetar hebat. Akhirnya, suntikan itu kembali diberikan. Perlahan, tubuh Amanda melemah. Tangisnya mereda, berubah jadi isakan kecil, lalu hanya napas yang tersisa. Matanya perlahan tertutup. Dan lagi-lagi, Ia terlelap dalam dunia yang tidak ia pilih. Hari-hari berlalu. Kondisi Amanda bukannya membaik. Justru semakin hilang arah. Ia jadi lebih sering diam. Kalau pun berbicara, ucapannya pun jadi tidak jelas. Kadang hanya mengulang satu kalimat yang sama berulang-ulang. “Kalau aku bisa ulang semuanya…” “Kalau aku bisa ulang…” Kadang ia tertawa sendiri. Kadang tiba-tiba menangis tanpa suara. Kadang mengancam orang-orang yang menurutnya sama seperti Dimas. Kadang menatap orang lain tapi seperti tidak benar-benar melihatnya. Suatu sore, seorang perawat baru berdiri di depan pintu kamar Amanda. Ia melihat perempuan itu duduk di lantai. Memeluk lututnya. Bergoyang pelan ke d
Hari-hari pertama di rumah sakit jiwa berjalan tanpa arah. Amanda lebih banyak diam. Duduk di sudut ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong. Kadang menatap jendela berjam-jam tanpa bergerak, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Perawat yang datang hanya bisa saling pandang. “Itu penghuni baru ya?" "Iya. Katanya sih stres karena uang miliknya diambil pacarnya,” bisik salah satu dari mereka. "Ya ampun, kasian banget." "Nggak usah kasihan tau, toh uang yang dia ambil itu juga hasil dari ngambil punya mantan suaminya." "Hah? Serius?" Perawat itu mengangguk. "Iya." "Ihh. Itu sih karma namanya." *** Hari ketiga. Bukannya membaiik, kondisi Amanda justru sebaliknya. Amanda tiba-tiba tertawa. Awalnya pelan. Lalu semakin keras. Hingga satu ruangan bisa mendengarnya. “Hahaha… hahaha…” Ia berdiri di atas ranjang, rambutnya berantakan, matanya berbinar aneh. “Aku kaya!” katanya dengan suara penuh kebanggaan. “Kalian semua lihat ini nggak?! Ini semua punyaku!” Tangann
Begitu pintu rumah terbuka, Nadine melangkah masuk dengan wajah setenang mungkin. Gerakannya terukur, napasnya stabil—seolah tak ada apa pun yang terjadi di luar sana. Padahal dadanya bergejolak hebat, dipenuhi amarah yang ia tekan rapat-rapat. Di ruang tamu, Rhevan sedang selonjoran di sofa, sat
Nadine berniat ke dapur hanya untuk mengambil minum. Namun baru beberapa langkah keluar kamar, tubuhnya langsung membeku.Di ruang dapur yang remang, ia bisa menangkap bayangan Rhevan dan Amanda yang sedang bercinta di area dapur.“Anghhh... Mas!” Amanda yang sudah polos itu mendesah di bawah tubuh
“Pak Rhevan…” Direktur utama perusahaan lebih dulu bicara bahkan tanpa mempersilahkan pria itu untuk duduk terlebih dahulu. “Kami memanggil Anda terkait video yang beredar luas di publik sejak kemarin,” ucapnya tegas. “Mungkin memang itu terjadi di luar jam kerja, namun video itu berdampak langsung
Namun kedua matanya seketika melebar saat melihat pemandangan yang tidak ia duga sebelumnya. Di mana Rhevan dan Amanda duduk saling memangku sambil berciuman mesrah.Bibir Rhevan menempel di bibir Amanda, lidah bertemu lidah, desah napas dan saliva bercampur memenuhi ruangan itu. Ciuman itu berlang







